Cinta Untuk Gaby

Cinta Untuk Gaby
Di Lupakan


__ADS_3

“Pak Martin, saya sudah putuskan akan menikahi Gaby besok pagi.”


Pak Martin merasa bingung sendiri kenapa Sean ingin cepat-cepat menikahi putrinya Gaby? Pria paruh baya itu pun melempar pandangan kearah sang istri untuk meminta pendapat, namun hanya gelengan yang ia dapat.


“Begini tuan Sean, apa setidaknya kita menunggu kesehatan Gaby pulih dahulu. Mungkin seminggu lagi, bagaimana?” ucap Pak Martin meminta waktu kepada Sean untuk mengulur waktu.


Sean nampak berfikir sejenak, mungkin ada benarnya usul dari calon mertuanya itu.


“Baiklah, tapi lebih baik Gaby di rawat di mansionku saja. Aku berjanji akan merawat Gaby sebaik mungkin,” pinta Sean kemudian.


“Baiklah.”


Sean pun berlalu meninggalkan pasangan suami istri itu. Ganes memilih pulang ke hotel penginapan karena masih kesal dengan sikap ayahnya yang seolah-olah seperti menjual Gaby kepada orang kaya.


Namun ia juga tidak mampu berbuat banyak, karena ayahnya yang lebih berkuasa. Bahkan suaminya Galih saja kerja di perusahaan sang ayah. Mau tak mau ia juga harus mengikuti skenario yang sudah berjalan.


“Ayah! Kenapa biarkan Gaby tinggal bersama tuan Sean?” tanya Bu Murni yang sebenarnya sudah merasa geram.


“Tidak ada pilihan lain buk, sedari awal sudah ada perjanjian. Lagian tuan Sean sepertinya baik dan terlihat mencintai anak kita.”


“Lalu bagaimana dengan Ello yah?” tanya Bu Murni lagi.


“Biarkan saja, pemuda itu hampir merusak keharmonisan keluarga kita. Ayah tidak bisa membiarkan ia masuk kembali apalagi sampai mengganggu rumah tangga Ganes dengan Galih lagi.”

__ADS_1


Bu Murni pun mengangguk menyetujui pernyataan Pak Martin suaminya.


Tidak ada pilihan lagi Bu Murni dan Pak Martin hanya bisa pasrah dengan keadaan. Karena berkat Sean juga, Gaby bisa kembali siuman. Berkat Sean juga perusahaannya yang sedang mengalami krisis bisa stabil kembali karena mendapat suntikan dana dari pemuda itu.


*


*


“Apa?! Gaby sudah sadar? Syukurlah, apa ia menanyakanku?”


“.....”


“Tidak? Maksudmu? Gaby hilang ingatan? bagaimana bisa?” pekik Ello setengah tak percaya.


Tanpa mendengarkan penjelasan orang di seberang, Ello menutup sambungannya begitu saja. Pemuda itu masih tak percaya, mana mungkin Gaby bisa melupakannya begitu saja.


Keesokan harinya, Ello datang ke rumah sakit untuk memastikan sendiri mengenai keadaan Gaby. Ello sampai harus meminjamkan almamater dokter milik temannya agar ia bisa masuk ke dalam ruangan Gaby.


Seorang suster memberi kabar bahwa keluarga Gaby sedang pulang sebentar dan memintanya untuk menjaga sang putri. Kesempatan ini tidak boleh Ello sia-siakan, berbekal atribut kedokteran yang ia pinjam dari teman, menggunakan kacamata serta masker.


Ello dengan yakin memasuki kamar rawat Gaby. Sementara suster yang di tugaskan untuk menjaga Gaby menunggu di luar ruangan untul berjaga-jaga.


“Gaby, aku datang,” panggil Ello seraya meraih punggung tangan gadis itu dan mengecupnya.

__ADS_1


Gaby pun membuka kedua kelopak matanya, lalu menatap terkejut kearah seorang pria yang memakai atribut kedokteran itu.


“Si..siapa kamu?!” tunjuk Gaby dengan waspada.


“Gaby, ini aku Ello kekasihmu calon suamimu. Ayah dari anak yang kamu kandung,” ujar Ello menjelaskan.


“Tidak! Calon suamiku bukan kamu! Kamu pasti bohong, calon suamiku bernama Sean bukan Ello!”


Kenapa Gaby bisa berkata seperti itu? Atau jangan-jangan....


“Gaby, apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa melupakanku? Padahal kita baru saja menjalin kasih dan terbuka satu sama lain?” cerca Ello dengan raut wajah pias.


“Pergi kamu! Kamu bukan calon suamiku. Apalagi Ayah dari anakku adalah Sean bukan kamu!” gertak Gaby berusaha mengusir Ello.


Lalu tanpa Ello duga Gaby menekan tombol darurat sehingga sebuah lampu alarm menyala. Sudah Ello pastikan, sebentar lagi dokter dan juga perawat bagian patrol akan berdatangan.


Dan ia harus segera pergi dari ruangan itu, kalau tidak urusannya bisa panjang jika sampai terdengar ke direktur rumah sakit. Dan pasti sang kakek akan mengomelinya dari matahari terbit hingga sunset muncul.


“Gaby, aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu Gaby. Aku berharap semoga kamu segera mengingat kenangan tentang kita kembali,” ujar Ello dengan sedih.


Tanpa terasa buliran air asin itu menetes membasahi wajah pemuda tampan beralis tebal itu. Seumur hidup ia tidak pernah menangis, bahkan saat ia di tinggal nikah oleh Ganes kakak Gaby mantan sahabatnya pun Ello tidak bisa menangis. Berbeda dengan Gaby.


Dan benar saja, segerombolan dokter bersama suster berbondong-bondong menuju kamar rawat Gaby. Di belakang mereka ternyata ada Sean dan keluarga Gaby. Beruntung Ello sudah keluar ruangan itu, bukannya Ello takut menghadapi Sean, namun ia hanya takut jika namanya semakin tidak baik di hadapan keluarga Gaby.

__ADS_1


“Awas kau Sean, aku akan membuat peritungan denganmu!” geram Ello seraya menggempalkan tinju hingga buku-buku jarinya memutih.


Bersambung....


__ADS_2