
“Dan itu semua gara-gara kehadiranmu yang semakin memperburuk hubungan kami Gab, kau yang membuat Ello jadi membenciku! Jadi bisakah kita memulai permainannya sekarang?” ucap Gloria sambil tersenyum menyeringai.
Wanita psikopat itu mulai memain-mainkan belatinya kembali sambil sesekali menjilatinya. Sorot matanya menatap lapar ke arah Gaby, seolah ingin menguliti wanita hamil itu dengan pisau belati yang ia genggam.
Dari tempatnya, Gaby sudah menggigil menatap aura pembunuh dari dalam diri Gloria. Baru saja ia lepas dari sarang harimau, kini ia malah terperangkap di tengah lautan bersama wanita psikopat akut.
“Glor, cobalah berfikir jernih dahulu. Jangan lakukan itu please! Aku akan membantumu membalaskan dendam untuk Ello. Percayalah!” tawar Gaby.
Meski sebenarnya Gaby tak yakin ia bisa membantu Gloria untuk membalaskan dendamnya atau tidak. Mengingat Ello adalah ayah dari pada janin yang ia kandung saat ini.
Gloria pun menghentikan seringainya, lalu memandang kearah Gaby dengan intens. Mengulurkan lengannya untuk mencengkram rahang Gaby kembali.
“Apa kau yakin mau membalaskan dendamku kepada Ello? Apa kau tak menyesal, jika akhirnya ku minta kau untuk membunuh ayah dari anakmu itu Gaby?” tanya Gloria dengan nada penuh penekanan.
Tubuh Gaby sudah gemetar ketakutan. Namun ia harus berusaha kuat menahan tekanan dari Gloria. Meski keringat dingin bercucuran membasahi pelipisnya. Ia harus lebih pintar bernegosiasi dengan orang psikopat di hadapannya.
“A..aku yakin Glor. Aaku..akan bantu balaskan dendammu untuk Ello,” sahut Gaby terbata-bata.
Gloria pun tertawa terbahak-bahak, seolah Gaby baru saja mengatakan sesuatu hal yang lucu baginya. Lalu tiba-tiba, Gloria memukul meja yang ada di samping Gaby dengan sangat keras bersamaan Gloria berhenti tertawa.
__ADS_1
Bruuuakk!
“Kau fikir aku bodoh! Hah! Kau fikir aku bodoh Gaby! Mana mungkin kau mau membalaskan dendamku dengan mengorbankan cintamu kepada Ello untukku? Tapi aku tahu cara membuat Ello merasakan hancur sehancurnya diriku! Ya aku tahu!” ucap Gloria penuh seringai lagi.
“Aku akan membuatmu kehilangan janinmu. Dengan begitu Ello pasti akan sangat terpukul. Haa..haa...!”
Deg!
Jantung Gaby berdetak kencang. Darah dalam nadinya berdesir kuat. Gaby memeluk erat-erat perutnya yang sudah nampak membuncit. Gaby merasa ketakutan akan ancaman Gloria, apalagi wanita psikopat itu menggunakan pisau belati di tangannya.
Saat Gloria akan mendekat, Gaby sudah bersiap untuk menanti serangan dari Gloria. Dari belakang, tangannya nampak meraba-raba sesuatu seperti tongkat. Beruntung, Gloria tidak memperhatikan bahwa ikatan tangannya sudah terlepas sedari tadi.
Begitu Gloria sudah berjarak dua langkah darinya, dengan yakin Gaby mengayunkan tongkat yang ia temukan kearah Gloria hingga tubuh Gloria terhuyung ke belakang lalu jatuh. Dan pisau belati itu terlepas dari genggaman wanita itu.
“Aakh!”
Kesempatan itu tak Gaby sia-siakan, Gaby langsung berlari dari ruangan yang ada di kapal itu. Menuruni tangga dengan cepat lalu berusaha mencari tempat sembunyi.
Saat Gaby mencari tempat sembunyi di area dek kapal itu, betapa terkejutnya Gaby saat melihat dua orang laki-laki mati terbujur kaku dengan bersimbah darah. Sepertinya itu adalah nahkoda kapal yang membawa mereka sampai di tengah laut ini.
__ADS_1
“Astaga! Sepertinya Gloria benar-benar sudah gila! Aku harus segera bersembunyi!”
Gaby terus berlari sampai di ujung kapal bagian belakang. Netranya menyapu segala arah, untuk mencari tempat sembunyi. Di Bagian itu banyak sekali drum-drum yang terbuat dari kayu. Biasanya di pakai untuk wadah hasil ikan nelayan. Dan benar, baunya sungguh sangat anyir bekas dari ikan laut . Tidak ada pilihan lain, Gaby pun mencoba sembunyi di wadah itu.
“Gaby...hallo Gaby? Sekarang kau mengajakku untuk bermain petak umpet kah? Baiklah, aku akan mencarimu mulai sekarang. Tapi jangan kabur lagi ya kalau tertangkap. Karena aku akan menghabisimu sekarang juga!” ancam Gloria dengan senyum menyeringainya.
Dari celah tempatnya, Gaby mampu melihat Gloria mulai membuka drum-drum itu satu persatu. Gaby membungkam mulutnya sendiri agar tidak kelepasan suara.
Namun dengan cepat, tiba-tiba saja Gloria dapat menemukan dengan mudah Gaby di tempat persembunyiannya.
“Kena kau! Ternyata kau di sini ya Gaby!”
Gloria pun langsung menjambak rambut panjang Gaby dan menariknya untuk keluar dari drum itu. Gaby yang sudah tertangkap terpaksa mengikuti keinginan Gloria.
“Akh! Ampun Glor, sakit! Tolong lepaskan!” rintih Gaby menahan sakit.
“Kau fikir aku bodoh! Tidak tidak akan ku lepaskan lagi!”
Gloria pun menyeret Gaby keluar dan hendak membawanya ke lantai dua kembali. Namun tiba-tiba ada suara menghardiknya.
__ADS_1
“Lepaskan Gaby Glor! Kau sudah terkepung!”
Bersambung..