Cinta Untuk Gaby

Cinta Untuk Gaby
Melahirkan


__ADS_3

“Aakh! Sakit!”


Gaby nampak merintih menahan sakit pada area perutnya yang membuncit. Serta rasa yang begitu menekan pada area kandung kemihnya.


“Sayang, kamu kenapa? Apa kamu ingin melahirkan?” tanya Ello dengan rasa penuh khawatir.


“Sepertinya begitu El, perutku rasanya sangat mulas. Dan ada rasa sesuatu yang ingin keluar di bawah sana. akh!”


“Sayang, bertahanlah. Aku akan panggilkan petugas ambulance!” Ello pun nampak mengotak ngatik ponselnya. Sedangkan Gaby tengah duduk di kursi tempat makan pinggir jalan itu.


“Ada apa mas? Istrinya kenapa?” tanya sang penjual.


“Istri saya mau melahirkan pak, apa ada rumah sakit terdekat daerah sini?”


“Kalau rumah sakit besar jauh mas, yang terdekat sedang dalam perbaikan. Tapi kalau klinik persalinan bidan ada. Mas tinggal ke depan terus belok ke kanan. Itu sudah sampai,” tutur penjual makanan pinggir jalan itu.


“Baik pak, terima kasih banyak atas informasinya.”


Ello pun bergegas membawa tubuh Gaby ke dalam mobil. Lalu menyalakan mesin dan melajukannya dengan cepat.


“El, kita mau ke..ma..na?” tanya Gaby terbata.


“Kita ke klinik terdekat saja ya yang, rumah sakit jauh dari daerah sini. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Kamu masih kuatkan?”


Gaby mengangguk lemah. Karena wanita itu tengah menahan rasa kontraksi yang semakin lama datang teratur.


Fyuuh..fyuuh

__ADS_1


“El, apa melahirkan itu sakit?”


“Tentu saja sakit, namun itu hanya sesaat. Setelah melihat malaikat kecil kita terlahir ke dunia, rasa sakit itu akan berangsur menghilang,” jawab Ello mencoba menenangkan perasaan khawatir istrinya.


“Kamu jangan khawatir yang, semuanya akan baik-baik saja. Berfikirlah rileks dan aturlah nafas sebaik mungkin.”


“Baik.”


Gaby mulai melakukan apa yang sudah Ello instruksikan. Dan benar, Gaby pun bisa menyesuaikan tubuhnya dengan rasa sakit itu.


Ello pun melajukan mobilnya ke arah tujuan yang penjual makanan tadi arahkan. Sesuai palang jalanan yang ia baca, akhirnya mobil Ello sampai di klinik pribadi itu.


Sebelum mengangkat tubuh Gaby, Ello di kejutkan dengan banyaknya cairan lendir serta darah yang merembes dari celah kedua kaki istrinya. Sepertinya air ketuban Gaby sudah pecah sedari tadi.


Ello mempergegas langkahnya menuju rumah klinik itu agar istrinya segera mendapat pelayanan petugas medis. Tak lama pintu pun terbuka menampilkan seorang dokter wanita muda yang wajahnya seperti tidak asing bagi Ello.


“Sinta!”


Keduanya sama-sama terkejut. Ada kisahnya yang sempat terjadi di antara mereka. Namun kini keselamatan wanita yang ada di pangkuannya saat ini lebih penting.


“Sinta, tolong istriku!”


“Ba..baiklah! baringkan istrimu di brankar sana. Aku dan asistenku akan segera menanganinya.”


“Tapi, apakah aku boleh ikut?” tanya Ello membujuk.


“Sebaiknya kamu menunggu saja di luar Cello, dan berdoalah demi keselamatan anak istrimu. Dan aku akan lakukan sebisa mungkin.”

__ADS_1


Ello pun menurut apa yang di ucapkan wanita teman lamanya itu. Menunggu di kursi tunggu sambil berdoa agar persalinan istrinya Gaby berjalan dengan lancar. Tak lupa, Ello pula mengabari keluarga Gaby juga yang lebih berhak tau keadaan putrinya.


Menit demi menit pun berlalu. Ello tak kuasa mendengar teriak Gaby dari dalam ruang bersalin. Memang sudah sedari awal, istrinya Gaby bersikukuh ingin melahirkan secara normal. Karena Gaby ingin merasakan sakitnya perjuangan menjadi seorang ibu. Dan Ello hanya bisa berharap, semoga Tuhan memberi keselamatan anak serta istrinya.


Tak lama terdengar suara tangisan bayi membuat Ello terlonjak dari tempat duduknya.


Ooeekk


Ooeekk


“Sinta, bagaimana anakku?” tanya Ello dari pintu keluar.


Sinta pun keluar dengan raut wajah penuh khawatir. Seperti tengah terjadi sesuatu di dalam sana.


“Selamat putrimu terlahir cantik dan sempurna tanpa kekurangan apa pun Cello. Aku menghangatkannya di dalam inkubator karena kulitnya sedikit kuning. Namun untuk istrimu, sepertinya kehilangan banyak darah aku...”


“Apa?! kenapa kau tidak bilang dari tadi!” Ello pun memotong ucapan Sinta dengan cepat begitu mendengar Gaby mengalami kehilangan banyak darah.


Ello pun menyerobot tubuh Sinta lalu menghampiri Gaby yang sepertinya tengah tak sadarkan diri. Sambil membawa kantong infus, Ello membopong tubuh Gaby untuk di bawa ke rumah sakit besar.


Sebelum berlalu, Ello sempatkan untuk menitipkan putrinya kepada Sinta sebelum keluarganya datang.


“Aku titip putriku padamu Sin, sebentar lagi keluargaku akan datang kemari.”


“Baiklah, aku akan menjaganya sebaik mungkin,” sahut Sinta menyakinkan.


Ello pun bergegas melajukan roda empatnya kembali membelah ramainya jalan raya. Sedangkan Sinta menatap kepergian mobil Ello dengan perasaan yang sulit di artikan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2