
Hampir 2 menit lamanya mereka saling menatap satu sama lain seolah waktu berhenti berputar. Dan anehnya, kedua sejoli itu tak menyadarinya meski sama-sama merasakan.
“Biar aku saja yang menempelkannya!” ketus Gaby begitu melepas tangannya dari pemuda itu lalu meraih kepala stetoskop itu untuk menempelkan pada area tubuhnya sendiri.
Gaby benar-benar bersikap senormal mungkin di hadapan Ello, seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka semalam.
Namun retina Ello membesar saat ekor matanya menangkap pemandangan yang ia sangat pahami sebagai lelaki dewasa. Saat melihat noda merah keunguan yang tercetak jelas pada tengkuk gadis itu. Ya semua orang sudah tahu, kalau bukan akibat kerokan ya begitulah.
Cckk..Muda mudi jaman sekarang memang benar-benar pergaulannya di luar batas. Belum menikah saja sudah bikin stempel-stempelan yang meresahkan macam petugas kecamatan saja.
Cibir Ello dalam hati. Padahal sebenarnya stempel tanda cinta pada tubuh Gaby itu berasal darinya. Alkohol benar-benar membabat habis kesadaran pemuda itu semalaman.
Sebagai seorang jomblo Ello bukannya tak laku, pemuda beralis tebal itu hanya seorang yang pemilih. Pernah ia memiliki kekasih saat kuliah kedokteran di negeri Singapura. Namun kandas begitu saja, karena Ello tak benar-benar mencintai gadis itu.
Ello hanya menjadikan gadis itu sebagai pelarian saja untuk melupakan perasaannya terhadap Ganes yang berstatus sahabatnya kala itu.
Menyadari Ello menatap kearah tengkuk dan juga bahunya, reflek Gaby menutupinya kembali dengan syal miliknya.
“Matanya nggak usah jelalatan kayak gitu kali! Buruan periksa!” sentak Gaby yang merasa risih akn tatapan yang Ello lemparkan kearahnya.
“Eh...maaf!”
Perasaan Gaby dulu adalah gadis yang manis kenapa sekarang jadi galak ya?
Entah dari pertemuan pertama mereka. Kesan pertama Gaby selalu bersikap ketus kearahnya. Seolah pesona Ello tak berpengaruh kepada gadis itu. Padahal di kampusnya dulu, Ello termasuk mahasiswa paling terpopuler.
Banyak para gadis yang mengantri menjadi kekasih atau pun istrinya dan rela jadi yang kedua. Namun satu pun tak ada yang bisa menggetarkan hatinya seperti saat Ello bersama Ganes.
Ello memeriksa kondisi fisik Gaby, dengan Gaby yang menempelkan stetoskop itu ke area dadanya. Tak lama pemeriksaan itu pun usai.
“Sudah cukup! Berdasarkan hasil pemeriksaan barusan. Demam yang kamu alami merupakan respon yang wajar bagi tubuh saat ada suatu benda asing memasuki tubuh kita. Semisal bakteri atau virus.”
Ya dan virusnya itu kamu dokter mesyum! Pekik Gaby dalam hati.
”Apa kamu baru saja melakukan vaksinasi booster?” tanya Ello dengan santai seperti biasanya saat ia menangani pasien-pasiennya.
“Iya dan itu sangat menyakitkan membuatku terluka luar dan dalam!” ketus Gaby lagi.
Gaby tetap mempertahankan egonya. Gadis itu tidak ingin Ello tahu bahwa gadis yang semalam pemuda itu gagahi adalah dirinya. Cinta Gaby hanya untuk Galih dan tidak ada tempat untuk pria lain di hatinya.
Ello mengernyitkan dahinya. Menatap bingung kearah Gaby. Setahu Ello suntik vaksin itu tidak begitu sakit hanya seperti di gigit semut merah itu saja.
__ADS_1
“Hmm..sebaiknya, kamu kurangi bermesraan dengan pacarmu selagi sakit. Stempel-stempel seperti itu akan membuat aliran darahmu membeku dan itu sangat membahayakan bagi kesehatan,” ujar Ello yang menyinggung tanda merah keunguan milik Gaby.
Pasti Ello melihat tanda kissmark ini! Asal kamu tahu tanda ini itu dari kamu bege!
Teriak Gaby dalam hati sambil mencak-mencak tak karuhan. Rasanya ingin mencukur habis alis yang dikisar diameternya hampir 1cm itu.
Gaby pun menatap garang kearah Ello membuat pemuda itu bergidik ngeri. Meski wajah gadis itu tetap cantik walau pun dalam keadaan cemberut atau pun marah.
Glek!
“Eh..maksudku, ya banyaklah beristirahat semoga cepat sembuh. Dan aku akan meresepkan beberapa vitamin dan daya tahan tubuh untukmu.”
Gaby pun terdiam tak menyahuti. Gadis itu membuang muka kearah lain enggan untuk menatap Ello lagi. Hatinya terlalu sakit saat tahu, pria yang semalam sudah merenggut mahkotanya benar-benar tidak mengingat apa pun.
Karena tak mendapat tanggapan dari Gaby. Ello pun memilih undur diri.
“Kalau begitu aku pulang, semoga cepat sembuh.”
*
*
“Bagaimana keadaan Gaby El?” tanya Ganes yang meringsek maju tepat saat pemuda itu baru menutup pintu kamar Gaby.
“Iya bagaimana keadaan Gaby nak El? Apakah perlu di rawat di rumah sakit?” timpal Bu Murni dengan cemas.
Ello pun menggeleng pelan.
“Tante Murni yang tenang saja ya, demam Gaby hanya demam biasa pada umumnya. Panas yang dirasakan tubuh Gaby itu sebagai bentuk daya tahan tubuh sedang bekerja, saya sudah siapkan resepnya beberapa vitamin, penurun panas dan antibiotik harap di tebus segera ke apotik.”
Ello pun menyerahkan selembar kertas resep kepada Bu Murni. Sebenarnya ada hal yang ingin Ello pastikan terlebih dahulu kepada Ganes, namun tatapan permusuhan dari suaminya Galih membuat Ello harus mengurungkan niatnya itu.
“Sudah malam, saya harus pamit tante, om, Ganes dan Galih. Semoga Gaby cepat sembuh.”
“Terima kasih nak Ello.”
“Sama-sama.”
Ello harus cepat-cepat berlalu dari tempat itu, kalau tidak pertahanan dirinya akan ambrol jika terus melihat kemesraan Ganes bersama Galih.
*
__ADS_1
*
Sampainya di apartemen Ello menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang king size milik pemuda itu. Ello jadi teringat sentuhan kulitnya bersama Gaby tadi. Rasanya sentuhan itu sangatlah tidak asing lagi. Kapan dan dimana?
Jangan-jangan mimpi kemarin itu bukanlah bunga tidur semata tetapi.....
Ello pun melototkan keduanya bola matanya saat menyadari sesuatu. Ya suara rintihan itu sangat mirip dengan suara Gaby. Ello pun menggeleng pelan, tidak mungkin ia melakukannya dengan Gaby? Dan untuk apa pula Gaby datang ke apartemennya?
Ello memeriksa sprei yang ia gunakan pada hari itu masih teronggok cantik di atas keranjang khusus pakaian kotor.
Dengan nafas memburu, Ello mulai memilin setiap inci demi inci ujung sprei mencari sesuatu yang bisa menjadikan bukti bahwa ia benar-benar sudah memperawani anak orang.
Jika itu hanya mimpi, sudah pasti tidak ada. Namun jika benar-benar ia sudah memperawani anak gadis orang, itu tandanya tidak baik-baik saja. Bisa-bisa Ello di jadikan kornet oleh kakeknya.
Tiba-tiba nafas Ello tercekat saat menemukan sebuah noda yang menjadi bukti konkritnya sebagai tersangka sudah memperawani anak orang.
“Tidak mungkin!”
Ello pun beranjak ke pos satpam yang bertugas menjaga apartemennya. Meminta si petugas satpam itu untuk memeriksa dari layar monitor.
“Pak Boim! Tolong saya minta rekaman cctv 2 hari yang lalu tepatnya waktu malam hari. Dari depan gerbang sini sampai depan pintu apartemen saya,” pinta Ello dengan suara sedikit bergetar.
“Baik mas Ello.”
“Dan Tolong copykan ke dalam flash ini,” pinta Ello lagi sambil menyerahkan sebuah flashdisk kepada satpam itu.
Ello pun menjadi gugup. Seluruh telapak tangannya nampak basah karena berkeringat. Jika benar gadis yang sudah ia perawani itu adalah Gaby, berarti stempel-stempel nakal itu adalah hasil karya seni dari bibir tak berperikemanusiaan miliknya.
Ello meraup kasar seluruh permukaan wajahnya. Menyugar rambutnya yang tak begitu panjang ke belakang beberapa kali.
“Ini mas Ello copy-annya, sudah saya copas sesuai permintaan mas Ello,” ucap pak satpam membuyarkan lamunan Ello.
“Eh! Iya terima kasih pak Boim.”
“Siap mas.”
Ello pun buru-buru menuju kamar apartemennya. Mengambil sebuah macbook dan menekan tombol on. Macbook pun menyala, dengan perasaan tak menentu Ello mulai menancapkan benda kecil dengan fungsi penyimpanan itu ke lubang usb pada macbook miliknya.
USB pun terhubung, dengan tangan gemetar Ello mulai menekan icon untuk membuka rekaman-rekaman itu.
Jantung Ello berpacu kuat saat melihat bayangan Gaby tertangkap kamera pengawas yang terletak di pos satpam. Meski nampak remang-remang tapi Ello yakin itu Gaby. Dan rekaman selanjutnya bikin hati Ello mencelos.
__ADS_1
”Gilak! Gara-gara mabok gue sampai tidak sadar sudah melakukan itu sama Gaby! Bahkan gue tidak ingat apa pun. Selain cuma ingat rasanya saja!”
TBC...