Cinta Untuk Gaby

Cinta Untuk Gaby
Luka Sendirian


__ADS_3

Gaby termenung dalam kesendirian. Menatap atap langit-langit platfom kamarnya yang bercorakkan awan. Entah apa yang ada difikiran gadis berwajah chubby tersebut. Ia hanya merasa takut jika suatu hal yang buruk terjadi pada dirinya, ya seperti yang kalian ketahui buah dari hubungan anak adam dan juga hawa bagaimana.


Gaby menyadari apa yang ia perbuat mungkin memang salah. Mungkin nampak jahat bagi sebagian orang. Tapi gadis itu tidak ada pilihan lain. Karena tidak mungkin ia harus menikah dengan orang yang tidak Gaby cintai sedangkan ia memiliki seorang kekasih.


“Gaby.”


Suara Galih mengalihkan atensi gadis itu dari atap langit-langit kamarnya yang bercorak awan. Galih dan Ganes sudah kembali membuat kesepakatan, jika Gaby terbukti hamil maka Galih akan bertanggung jawab dan menikahi gadis itu.


Sedangkan Ganes memilih seolah tidak mengetahui apa pun. Rahasia itu hanya akan menjadi rahasia mereka saja. Sedangkan kedua orang tua mereka tidak tahu apa-apa.


“Gaby, kakak minta maaf. Tadi kakak benar-benar khilaf dan tidak sadar telah melakukannya terhadapmu,” ucap Galih dengan sangat menyesal.


Gaby lebih tahu segalanya dari pemuda itu hanya tersenyum pahit. Meski hatinya terluka, ia berusaha untuk tetap tersenyum agar semua orang tahu bahwa ia baik-baik saja.


Dan lebih menyakitkan, Gaby sendiri mendengar bagaimana tadi Galih mengigau menyebut nama sang kakak Ganes di sela-sela tidurnya.


Rasanya begitu sakit, di nodai orang yang mencintai kakaknya. Dan kini kekasihnya sendiri juga mencintai orang yang sama. Apakah tidak ada cinta yang tulus untuk dirinya?


“Tidak apa-apa kak. Gaby juga tidak akan menuntut pertanggung jawaban kak Galih.”


Gaby berusaha untuk tetap tersenyum getir. Meski rongga dadanya terasa sesak. Hatinya sudah tercacah-cacah. Namun akal sehatnya masih bekerja dengan baik.


Harapan untuk menjerat hati pemuda tampan yang menjadi kekasihnya itu seakan luruh setelah mengetahui kenyataan perasaan pemuda itu terhadapnya seperti apa.


Biarlah, biar luka ini hanya menjadi lukanya tersendiri.


Tiba-tiba sebuah serpihan ingatan melintas dalam fikirannya. Memberikan efek dengungan yang menyakitkan pada kepalanya.


“Akh!”


“Gaby! Kamu tidak apa-apa? Dokter akan segera kesini bersabarlah,” ucap Galih merasa cemas.


Entah Galih merasa Gaby sedikit berbeda. Gadis itu hanya tersenyum saja menanggapi permintaan maafnya. Membuat rasa bersalah Galih semakin amat besar terhadap gadis itu.


Tak lama dokter pun datang bersama kedua orang tua gadis itu dan juga istrinya.


Dari tempatnya, Ganes hanya bisa sedih terhadap sang adik. Sesekali cairan bening itu mengalir membasahi wajah cantiknya. Namun segera ia hapus, agar tidak ada yang tahu bahwa ia sedang menangis.

__ADS_1


Entah bagaimana jadinya jika ayah dan ibunya sampai tahu. Kenapa pula bisa ia dan adiknya harus terperangkap cinta yang merumitkan seperti ini? Hanya takdir yang tahu.


“Gaby, dokter akan periksa keadaanmu sebentar ya nak,” sela Bu Murni sambil membelai lembut surai sang anak.


Gaby hanya menurut, namun pandangan netra matanya mendadak menatap nyalang kearah pemuda yang berdiri tak jauh dari ranjang tidurnya.


Bukan hanya Gaby yang menatap tajam bagaikan elang yang bertemu mangsanya, dari tempat Galih berdiri pun juga melakukan hal yang sama.


“Silahkan nak El periksa anak saya, dari pagi ia demam tinggi dan merasa kedinginan,” tutur Bu Murni menjelaskan kepada dokter yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri.


Gaby rasanya enggan untuk bertemu pemuda beralis tebal tersebut. Namun ia juga tidak mungkin mengelak tanpa sebuah alasan yang tepat.


Gaby membuang arah saat pemuda beralis tebal itu menatap kearahnya sambil tersenyum.


Menyebalkan! Setelah apa yang kamu lakukan terhadapku semalam, kamu masih bisa tersenyum dengan watados seperti itu? Apa alkohol sudah membuat penglihatanmu rabun dan amnesia? Tapi syukurlah, karena aku juga tidak akan meminta pertanggung jawaban darimu.


“Gaby, kita bertemu kembali.” sapa Ello sambil tersenyum khas pemuda tersebut.


Gaby pun masih tetap mempertahankan gestur wajahnya. Berusaha menghindari tatapan pemuda beralis tebal itu.


Gaby merasa terpojok. Tidak mungkin ia melepaskan syal dan selimut yang membelit tubuhnya.


“Tapi kalian semua harus keluar,” pinta Gaby mengajukan syarat.


Tak ingin Gaby berubah fikiran, Bu Murni menarik lengan suami dan juga anak pertamanya untuk keluar kamar dan di ikuti Galih di belakang mereka.


Galih pun langsung menarik lengan sang istri dan membawanya ke sudut ruangan lain.


“Nes, apakah kamu yang sudah memanggil dokter pebinor itu?” tekan Galih menatap intens kearah sang istri.


Galih nampak seperti suami yang posesif, dengan menyebut Ello sebagai lelaki pebinor.


“Maafkan aku mas, ini hari libur tidak ada dokter yang bisa di panggil ke rumah kecuali Ello,” jawab Ganes dengan hati-hati.


Galih pun membenarkan ucapan istrinya. Namun tetap sama saja, ia tak rela jika istrinya masih berhubungan dengan sahabat lamanya itu.


“Mas hanya tidak ingin kamu sering menghubunginya Nes, atau kesepakatan kita akan batal. Karena Gaby bilang tidak akan menuntut pertanggung jawabanku,” ungkap Galih.

__ADS_1


“Apa, kenapa mas? Bukan kah Gaby akan senang jika bisa menikah denganmu mas?”


“Mas juga tidak tahu Nes, mas merasa sikap Gaby berbeda. Mas jadi merasa bersalah.”


Tidak ada pilihan lain, Ganes harus menuruti permintaan suaminya. Sandiwara yang sudah mereka buat terlanjur jauh dan semakin rumit karena kejadian tidak terduga antara suami dan juga adiknya.


Bahkan mengancam kebahagiaannya sendiri. Ganes juga tidak bisa menyalahkan sang suami karena sedari awal memang dirinya yang meminta.


*


*


Selama di dalam Gaby masih membuang muka kearah lain. Sungguh melihat tampang wajah tampan dengan alis tebalnya itu membuat Gaby merasa risih, mengingat semalam yang terjadi pada mereka berdua.


“Gab, tolong buka syal dan selimutnya ya?” pinta Ello dengan sabar.


Gaby memberengut kesal. Melempar tatapan penuh kebencian kearah pemuda beralis tebal itu. Tapi gerakannya mengikuti apa yang pemuda itu minta secara perlahan.


Kenapa Gaby nampak begitu membenciku ya? Memangnya apa salahku?


Batin Ello bertanya-tanya pada diri sendiri. Pasalnya Ello tak merasa mempunyai salah apa pun pada gadis itu.


Sudah ku duga. Laki-laki ini memang amnesia. Hah, Semua laki-laki memang sama dasar dokter gadungan! Hanya kak Galih yang berbeda.


Monolog Gaby dalam hati.


“Maaf ya, aku mulai periksa.”


Ello pun mengulurkan tangan untuk menempelkan stetoskop pada tubuh Gaby untuk mengetahui kondisi kesehatan gadis itu.


Namun gerakannya langsung dicegah oleh Gaby. Keduanya pun sama-sama tersentak akan sentuhan dari kulit mereka yang saling bergesekan.


Ello merasa seperti pernah menyentuh kulit sehalus milik Gaby dan seketika membuat jantung Ello berdebar-debar. Sedangkan Gaby merasa ada suatu gelanyar yang aneh pada dirinya saat menyentuh lengan berotot pria tersebut.


Ingatannya masih jernih, bagaimana telapak tangan halus namun berotot itu menyentuh anggota tubuhnya. Namun Gaby membencinya, karena pria itu sudah merenggut masa depan yang selama ia jaga.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2