
“Cello, tenanglah istrimu akan baik-baik saja.”
Suara itu mampu mengalihkan atensi Ello, lalu menatap nyalang ke arah wanita yang kini tengah memangku putrinya.
“Kemarikan anakku!” sentak Ello seraya merebut sang putri dari pangkuan wanita lain. Rasanya Ello tak rela putrinya di pangku oleh wanita yang bukan ibunya si jabang bayi. Sedangkan sang ibunya sedang berjuang melawan maut di dalam sana.
Lalu Ello pun menyerahkan sang putri kepada neneknya alias ibu dari pada Gaby yaitu Bu Murni. Semenjak Gaby hamil tua, kedua orang tua Gaby yaitu Pak Martin dan Bu Murni sengaja bermalam lebih awal di Singapore sekedar untuk memastikan putrinya baik-baik saja.
“Bu, tolong bawa baby G ke ruang khusus bayi. Di sana nanti ada dokter yang akan menanganinya. Ello nitip baby G dulu ya bu,” ucap Ello dengan lembut. Berbeda saat Ello meminta baby G dari tangan wanita yang sudah menolongnya.
“Baiklah nak Ello, kamu tenang saja. Kami akan menjaga baby G dengan baik. Tolong kami juga titip Gaby, jika Gaby sudah sadar segera kabari ibu dan ayah ya nak,” sahut Bu Murni.
Tak lama, dua orang perawat membawa beberapa kantong berwarna merah kehitaman. Sudah di pastikan itu adalah darah untuk istrinya Gaby.
“Kami sudah dapat darahnya tuan, kami akan segera melakukan donornya sekarang.”
Ello pun mengangguk tanda mengijinkan kepada sang perawat itu untuk melakukan tindakan medis selanjutnya. Tentu saja dengan pantauan dokter yang sudah lebih dulu berada di dalam ruangan itu.
Ello pun hanya bisa memandang ke dalam melalui pintu kaca yang tertutup setengahnya, dengan perasaan gelisah. Tak pedulikan kini wanita yang sudah membawa putrinya duduk memandang kearahnya.
Setiap wanita itu seperti ingin membuka mulut hendak berbicara, Ello pun memalingkan wajahnya ke arah lain. Dan lebih fokus melihat perkembangan sang istri daripada memperdulikan wanita lain yang sebenarnya Ello sendiri enggan berjumpa kembali.
Cello..apa kamu benar-benar masih marah padaku? ucap wanita itu dalam hati.
Proses pemindahan darah Gaby masih berlangsung, dan dengan sabar Ello terus memantau perkembangan sang istri. Ello tidak ingin kehilangan pandangan barang sedetik pun waktunya dari Gaby.
Pintu ruangan itu pun terbuka, dokter sudah boleh memperbolehkan Ello untuk masuk ke dalam menemui istrinya.
__ADS_1
“Tuan Ello, anda sudah boleh masuk. Tapi anda jangan menyentuh selangnya karena transfusi darah masih berlangsung.”
“Saya mengerti dok, karena saya juga seorang dokter,” balas Ello dengan tersenyum.
“Oh..begitu, baiklah saya permisi kalau begitu.”
“Silahkan.”
Sebenarnya dokter itu ingin berbincang-bincang sebentar dengan Ello, namun keadaan sedang tidak memungkinkan. Ia harus menangani pasien lain di tempat itu.
Ello pun memutuskan masuk dengan membuka pintu perlahan. Menyamarkan bunyi sepatunya agar tidak membuat gaduh di dalam. Namun tiba-tiba saja pintu ruangan itu kembali terbuka dan menampakkan wanita yang sedari tadi membuntutinya.
“Untuk apa kamu masuk Sin?!” tanya Ello dengan ketus.
“Istrimu juga pasienku, setidaknya aku juga harus memastikan keadaannya sudah benar-benar baik apa belum.”
Ello pun membiarkan Sinta masuk ke dalam ruangan itu. Sebenarnya Ello masih kesal, kenapa Sinta membiarkan istrinya sampai kehabisan darah seperti itu. Tidak kah wanita itu tahu, darah Gaby itu sangat langka dan susah di temui pendonornya.
“Cello, aku minta maaf. Maaf atas kelalaianku yang tidak bisa menghentikan pendarahan pada istrimu. Aku....”
“Cukup Sin! aku tak ingin mendengar penjelasan apa pun darimu!” potong Ello.
“Padahal kamu bisa menyuntikkan apa pun yang bisa menghentikan pendarahan itu. Apa kamu tahu? darah Gaby itu sangat langka!”
“Maaf Cello, aku benar-benar tidak tahu,” ucap Sinta dengan nada penuh penyesalan.
Keadaan ruangan itu pun kembali hening. Hanya terdengar suara monitor yang berdetak menandakan bahwa nyawa Gaby masih tertahan di tubuhnya.
__ADS_1
Waktu terus berjalan, hingga tanpa terasa Ello tertidur di samping brankar Gaby. Saat Ello tertidur, jari jemari Gaby dalam genggaman Ello mulai bergerak. Dan itu membuat Ello tersentak dari tidurnya.
“Sayang, syukurlah kamu sudah sadar. Bagaimana keadaanmu? Apa rasanya masih sakit?” tanya Ello dengan khawatir.
“Coba bilang bagian mana yang sakit yang, biar aku juga ikut merasakannnya,” imbuhnya.
Gaby pun menggeleng lemah sambil tersenyum. Wajah cantik itu kini nampak pucat pasi. Ello pun memeluk tubuh ringkih sang istri secara perlahan, lalu menciumi puncak kepala istrinya berulang kali. Tak peduli, wanita di pojok ruangan itu melihat kemesraannya secara live.
“Dad, mana anak kita? Apakah dia cantik apa ganteng?” tanya Gaby lirih hampir tidak terdengar.
“Putri kita cantik secantik mommynya yaitu kamu yank. Kamu tenang saja ya sayang, baby G sudah bersama kakek neneknya. Kamu jangan khawatir, kamu harus fokus untuk sembuh agar kita bisa merawat baby G bersama-sama.”
Gaby pun mengangguk lemah. Lalu setalahnya, Gaby berkata yang begitu mengejutkan.
“Daddy Gracello, bolehkan aku meminta tolong padamu? Ini mengenai masa depan baby G.”
“Tentu saja, tidak perlu kamu meminta tolong padaku. Aku adalah suamimu. Sudah seharusnya kewajibanku untuk menjaga dan melindungi kalian. Kamu dan juga putri kita. Dan aku pastikan, masa depan baby G lebih cerah daripada daddy-nya ini.”
Gaby pun kembali tersenyum mendengar rasa percaya diri Ello yang akhir-akhir ini kelewat batas.
“Bukan itu maksudku...”
“Katakan sayang, apa maksudmu?” desak Ello lagi.
“Apa kamu bisa merawat baby G seorang diri tanpaku?”
Bersambung ...
__ADS_1