
“Tuan..tuan muda, maaf sebelumnya. Ada pasien saya yang memiliki darah langka yang sama seperti tuan muda. Apakah tuan muda Sean berkenan mendonorkan darah anda untuk pasien saya? Keluarganya bersedia membayar mahal atas kebaikan tuan Sean,” jelas dokter Edwin yang sedikit gugup akan tatapan dari mata elang milik Sean.
Sean pun menunda aksi untuk menghisap nikotin miliknya. Lalu melempar tatapan menusuk kearah dokter paruh baya itu.
“Lalu apa urusannya denganku?! Kau fikir aku peduli?! Cih! Aku tidak butuh uang mereka, uangku sudah banyak jadi enyahlah dari hadapanku sekarang!” gertak Sean penuh emosi.
Pemuda itu baru mengingat, dulu ia pernah mengalami hal yang sama saat kecelakaan. Namun begitu sulit mencari pendonor yang sama mengingat golongan darahnya termasuk golongan darah yang langka dan istimewa.
“Tuan maafkan saya, saya tidak akan memungut biaya apa pun nanti jika tuan berkenan menolong pasien saya. Kasihan pasien saya sedang mengandung, dan kehidupan di dalamnya membutuhkan asupan dari ibunya. Jika ibunya tidak segera menemukan pendonor, maka janin itu akan mati. Dan kemungkinan ibunya pun akan turut mengalami hal yang sama,” tutur dokter Edwin berusaha membujuk Sean agar hati pemuda itu sedikit luluh.
Sean pun nampak berfikir sejenak, selama hidupnya ia memang belum pernah berbuat yang berarti untuk orang lain. Bahkan di seperempat abad hidupnya saat ini, hanya bisa menyusahkan kedua orang tuanya saja.
“Katakan, berapa nominal yang akan keluarganya bayarkan kepadaku?” tanya Sean yang sebenarnya tak menginginkan jumlah nominal itu. Karena uangnya sendiri tidak bakal habis tujuh turunan sekali pun.
“Mereka akan membayar 3 Miliyar untuk tiap kantong darah yang akan tuan donorkan nanti.”
“Lumayan juga, jadi penasaran siapa mereka??” tanya Sean seraya mendelik kearah dokter Edwin.
Sean termasuk kalangan crazy rich. Dan di negara singa putih ini juga ia tahu siapa saja yang memiliki harta yang melimpah selain dirinya. Selain Ello dan Gio sepupunya.
Dokter Edwin pun nampak berfikir sejenak. Ia tidak mungkin memberi tahu identitas Ello yang merupakan rekan sejawat. Dan itu juga menyalahi kode etik dunia kedokteran. Yaitu memberi identitas pasien tanpa ijin. Sedangkan Ello sudah memeringatinya untuk menutupi identitas sebenarnya, takut Sean tak sudi melakukannya.
“Maaf tuan, saya tidak bisa memberi tahunya kepada anda. Karena ini permintaan dari keluarga pasien.”
“Brengsek! Lalu aku harus bagaimana, memberikan darahku secara cuma-cuma? Tanpa tahu siapa mereka? Aku yakin mereka bukan dari kalangan orang biasa karena berani membayarku segitu mahalnya.”
__ADS_1
“Pergilah! Jika kau tau mau memberi tahuku. Lagian yang butuh mereka bukan aku!” ketus Sean.
Dokter Edwin pun merasa kebingungan dan bimbang. Satu sisi ia ingin memberitahu Sean agar hati pemuda itu cepat luluh, namun di satu sisi rekan sejawatnya itu sudah memberikan peringatan.
“Penjaga! Bawa dokter tua ini dari mansionku! Aku tak peduli dengan profesi dokternya, dokter di negara ini banyak yang lebih kompeten dari pada dia!”
“Siap tuan muda!”
“Tuan..tuan muda sebentar, baiklah saya akan memberitahu anda siapa pasien saya. Tapi tidak sekarang, tuan muda harus ikut saya ke rumah sakit dan melihat kondisi pasien itu sendiri,” tawar dokter Edwin.
“Hem, baiklah.”
“Segera jadwalkan pertemuannya, sekarang pergilah! Mengganggu saja!” gerutu Sean.
Setelah kepergian dokter paruh baya itu, Sean nampak merenung karena teringat sesuatu. Ibunya dulu meninggal karena mengalami hal yang sama seperti pasien yang masih di rahasiakan oleh dokter Edwin itu.
Meski Sean orang yang buruk, namun jika itu menyangkut masa lalunya. Sisi kemanusiaan pemuda itu keluar begitu saja. Ini seperti mengulang kembali kisah masa lalunya.
Dimana sang ibu meninggal saat mengandung sang adik dimana kala itu ia masih berumur lima tahun. Sedangkan sang ibu membutuhkan donor darah yang langka, namun kala itu ia masih berumur lima tahun tentu tidak memenuhi syarat untuk melakukan donor darah.
Akhirnya ibu Sean pun meninggal dunia. Dan setelah ibunya meninggal, sang ayah menikah kembali dengan orang Singapore dan kini memilih menetap di Singapore yang merupakan negara asal sang ayah.
*
*
__ADS_1
Di depan ruangan rawat Gaby, tangan Ello nampak bergetar hebat saat mencoba menghubungi nomor telepon Ganes selaku keluarga terdekat Gaby. Dan sudah lama pula Ello tak pernah menghubungi Ganes, semenjak Ello kembali ke Singapore untuk mengantar kakeknya operasi asam urat kronis dulu.
Jantung Ello bergetar hebat, antara takut dan gugup secara bersamaan. Bagaimana pun Ganes sempat menghuni ruang hatinya cukup lama, meski rasa itu sedikit demi sedikit terkikis karena hadirnya Gaby dalam hidup Ello.
Tuuuuuut!
Tuuuuttt!
Terdengar nada saluran yang tersambung dari seberang. Lalu tak berselang lama, panggilan itu pun di angkat oleh seseorang.
“Hallo, dengan siapa ya?” tanya suara dari seberang yang sudah Ello hafal di luar kepala. Tentu saja itu suara Ganes, suara wanita lemah lembut dan penuh dengan keibuan itu.
“Ha..hallo?” balas Ello terbata.
Baru saja berhadapan suara dengan Ganes, keringat membasahi pelipis pemuda itu. Bagaimana kalau seluruh keluarga Gaby hadir di hadapannya secara langsung?
“ Siapa sayang? Nomor baru ya? Ini sepertinya dari luar negeri. Coba ajak bicara lagi, barangkali penting.” Terdengar suara Galih menimpali percakapannya bersama Ganes.
“Halo, maaf dengan siapa? Kalau tidak penting saya akan menutupnya.” ucap Ganes kemudian.
Lalu Ello buru-buru menimpali ucapan Ganes sebelum wanita itu benar-benar menutup sambungan telepon mereka.
“Halo, Ganes ini aku Ello. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa Gaby sedang sakit di sini.”
Bersambung...
__ADS_1