
“Ganes!” teriak Ello yang baru saja terbangun.
Ello memijat kepalanya yang masih terasa pening akibat pengaruh alkohol sisa semalam. Semalam Ello merasa seperti bermimpi melakukan hubungan terlarang bersama Ganes. Ello masih ingat isakan-isakan tangis Ganes saat meminta untuk di lepaskan.
“Apa benar semalam gue hanya bermimpi? Tapi rasanya nampak begitu nyata. Mustahil jika yang semalam benar-benar Ganes! Sepertinya lo mulai gila El terlalu memikirkan istri orang! Sh***! ” gumam Ello yang mengira hal yang terjadi semalam hanyalah mimpi belaka.
Kepulangan Ello ke tanah air membuat pemuda beralis tebal itu membuat perasaan yang lama terkubur untuk sang sahabat, kembali mencuat dari dasar hatinya.
Ello pun beranjak dari ranjang pembaringannya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Berharap air bisa menghapus sisa-sisa alkohol yang melekat pada tubuhnya.
Cerita singkat tentang Ello dan Ganes.
Ello dan Ganes sudah berteman semenjak duduk di bangku sekolah menengah. Semakin lama hubungan mereka semakin dekat dengan mengatas namakan persahabatan.
Dan semakin beranjak remaja, keduanya belum menyadari jika ada rasa di dalam persahabatan mereka. Karena kedua sama-sama menyangkal rasa itu dan menganggap hanya sebatas rasa kagum semata. Karena tak ingin kehilangan hubungan persahabatan mereka.
Hingga hubungan persahabatan Ganes dan Ello harus terurai, karena Ello harus meneruskan pendidikan di negeri Jiran demi melanjutkan cita-citanya sebagai seorang dokter.
Dan lagi, kala itu Ganes sudah berpacaran dengan Galih. Jadi Ello merasa tenang saat akan meninggalkan gadis yang menyandang sahabatnya itu.
Waktu pun berputar, tak terasa sudah 5 tahun berlalu. Ello mendengar kabar bahwa Ganes akan segera menikah. Hati Ello pun merasa hancur. Lalu pemuda beralis tebal itu mengurus surat kepindahannya tugas untuk pulang ke tanah air. Karena bertepatan dengan kakek Ello yang tengah sakit dan menyuruh pemuda itu untuk pulang ke tanah air.
*
*
“Ibuk! Bagaimana keadaan Gaby buk? Apa sudah telepon dokter?” tanya Ganes beruntun begitu baru mendapat telepon dari ayahnya, Ganes dan Galih langsung mendatangi kediaman orang tuanya.
Bu Murni pun meraih bahu putri sulungnya dan mengajaknya menjauh dari Galih dan suaminya.
“Nes, ibuk tidak tahu lagi harus bagaimana menjelaskan kepadamu,” ungkap Bu Murni dengan cemas.
__ADS_1
“Ibuk mau menjelaskan apa sama Ganes? Bilang aja buk? Apa ini ada hubungannya sama Gaby?”
Bu Murni pun mengangguk lemah.
“Sebenarnya ibuk menyesal sudah mengijinkan Galih menjadi pacar pura-pura Gaby, dan sekarang Gaby sangat menginginkan Galih Nes. Ibuk tak enak hati untuk memintanya kepadamu,” jujur Bu Murni.
Ganes pun meraih telapak tangan ibunya dan menggenggamnya erat.
“Ibuk, semua ini Ganes yang memulai. Ganes yang membiarkan mas Galih menjadi kekasih pura-pura Gaby demi mengembalikan ingatan Gaby tentang kita buk. Karena Ganes sangat menyayangi Gaby lebih dari diri Ganes sendiri. Ganes akan membujuk mas Galih kembali,” balas Ganes dengan yakin.
“Nes, ibuk hanya tak ingin karena sandiwara ini jadi bahan masalah dalam rumah tanggamu bersama Galih. Bagaimana pun seharusnya usai menikah, kalian berbulan madu nak dan menghabiskan waktu bersama.”
“Ibuk tenang saja, mas Galih pasti mau kok membantu kita lagi. Hanya sampai Gaby bisa mengingat ibuk, ayah dan juga Ganes kembali. Masalah kami, ibuk tidak perlu khawatir,” ucap Ganes sambil tersenyum.
“Syukur kalau begitu.Tolong Nes, tolong minta Galih bujuk Gaby untuk makan dan memeriksakan diri ke dokter. Ibuk tidak tahu lagi harus membujuk Gaby bagaimana lagi. Ibuk khawatir panas Gaby semakin tinggi.”
“Baik buk.”
*
*
“Mas, tolong bujuk Gaby untuk makan dan periksa ke dokter ya,” pinta Ganes dengan memelas.
“Baiklah, ini semua mas lakukan hanya demi kamu Ganes.”
Ganes pun mengangguk gembira.
“Terima kasih banyak mas.”
Lalu Galih pun menghampiri Gaby yang tidur membelakanginya.
__ADS_1
“Gaby, ini saya Galih.”
“Kak Galih!” pekik Gaby yang langsung membalikkan badannya.
Rasanya Gaby ingin meloncat dari tempat tidurnya ke pelukan pria dewasa nan tampan yang seminggu penuh tidak mengunjunginya itu.
Namun gerakannya terhentikan, mengingat keadaan tubuhnya yang sedang melemah. Bahkan Gaby kini merasakan hawa dingin begitu menyergap tubuhnya.
“Kak Galih, terima kasih sudah datang,” sapa Gaby dengan lemah.
Galih pun melirik kearah Ganes dan kedua mertuanya, dan di balas anggukan oleh ketiga orang itu. Mereka berharap Galih mau membujuk Gaby untuk berobat, karena wajah Gaby terlihat nampak pucat bagaikan kapas.
Pria tampan itu berjalan perlahan menghampiri ranjang Gaby dam duduk di tepian ranjang gadis itu.
“Kamu sakit apa Gab? Wajahmu begitu pucat, periksa ke dokter ya?” tanya Galih dengan lembut seperti biasanya.
Gaby pun menggeleng pelan.
Suara Galih yang lembut selalu bisa membuat hati Gaby merasa damai dan nyaman. Gaby menemukan sosok kakak dan pelindung dari dalam diri Galih.
“Gaby, tidak apa-apa kak. Mungkin kesehatan Gaby belum sepenuhnya pulih,” ucap Gaby tersenyum getir menyembunyikan sesuatu yang tidak keluarganya ketahui.
Gadis periang itu tengah menyembunyikan kelukaan hatinya. Luka lahir dan juga luka batin yang bingung harus ia ungkapkan kepada siapa.
Tiba-tiba Gaby mengaduh menahan sakit di kepalanya.
“Akh, kak kepalaku sakit!”
“Lebih baik, kamu istirahat saja Gaby jangan di paksakan untuk banyak bicara. Kakak akan menunggumu disini,” ucap Galih lembut sambil tersenyum tulus kearah Gaby.
Ya sedari dulu Galih memang seperti itu. Selalu berbicara lemah lembut kepada gadis itu. Selalu perhatian kepada Gaby, Bahkan semenjak gadis itu duduk di bangku Sekolah Menengah. Menjadikan sosok kakak pengganti untuk Gaby.
__ADS_1
Tak lama Gaby pun tertidur. Dan Galih membiarkan tangannya jadi bantalan gadis itu. Sedangkan Ganes dan keduanya memilih keluar dari kamar Gaby.
Sebagai istri, Ganes percaya tidak akan terjadi apa-apa dengan suami dan juga adiknya jika ia biarkan sebentar. Karena Ganes tahu, bahwa suaminya Galih sangat mencintainya.