Cinta Untuk Gaby

Cinta Untuk Gaby
Bab 36


__ADS_3

“Astaga! Gaby apa yang kamu lakukan?!”


Ello terkejut bukan main saat Gaby tiba-tiba saja menjatuhkan bokongnya tepat di atas bola lato-latonya.


“Berikan aku satu kecupan sayang, maka aku akan membiarkanmu pergi,” ucap Gaby sambil memonyongkan bibirnya minta di kecup oleh Ello.


“Astaga! Kenapa efeknya bisa separah ini? Gaby sadar ini aku Ello!” sahut Ello berusaha menyadarkan Gaby yang sudah di penuhi kabut gairah sehingga tak mengingat siapa lawannya.


Beruntung tadi sepertinya Gaby pingsan saat bersama Sean. Mungkin obat itu tengah menyesuaikan diri dengan tubuh Gaby dan kini obat itu telah benar-benar bereaksi.


“Ayolah cium aku sayang! Cium!”


“Gaby cukup! Aku akan membawamu ke klinik, kamu duduk saja di tempatmu ya.”


Ello pun mengangkat tubuh Gaby dan mendudukkan gadis itu pada kursi joknya. Tak lupa Ello mengaitkan sabuk pengaman milik Gaby agar gadis itu tidak melakukan hal yang nekat seperti tadi.


Lalu Ello pun melajukan kemudinya dengan cepat keluar dari basemant hotel keluarganya. Lalu segera melesat menuju klinik dimana ia tengah membuka praktik dokter umum di sela-sela kesibukannya menjalankan perusahaan keluarga.


Sepanjang perjalanan kepala Ello sudah terasa pening akibat Gaby terus saja menggodanya. Bukan hanya kepala atas Ello saja yang pusing, namun bola lato-lato miliknya juga pusing luar biasa. Sebagai lelaki normal, siapa yang bisa bertahan saat di goda terus menerus begini?


Gaby tengah meraba-raba dada bidangnya sambil membasahi bibirnya lalu menggigitnya kecil. Perlakuan kecil Gaby begitu nampak sensual di mata Ello membuat Ello susah untuk berfikir jernih.


“Astaga Gaby!”

__ADS_1


Ello sudah tidak tahan lagi. Sekujur tubuhnya meremang karena perlakuan nakal yang Gaby lakukan kepadanya.


Akhirnya Ello pun menepikan kendaraan roda empatnya, lalu tanpa berfikir lagi Ello segera melepaskan dasi yang melekat pada kerah kemejanya. Dan membelitkan dasi itu pada kedua tangan Gaby agar gadis itu tidak menggodanya terus menerus.


“Apa yang kamu lakukan? Kamu jahat! Harusnya kamu mencumbuku bukan malah mengikatku. Lepaskan! Dasar laki-laki impoten!” teriak Gaby sambil meronta-ronta.


“Sabar Gaby sebentar lagi kita akan sampai klinikku, bertahanlah.”


“Aku sudah tidak tahan! Lepaskan! Aku ingin mencari laki-laki yang lain saja, dasar kamu laki-laki payah! impoten..huhuuu,” maki Gaby masih dengan terus meronta-ronta.


Mendengar kalimat ejekan dari Gaby membuat amarah dalam diri Ello bangkit seketika.


“Sabar Ello, Gaby dalam pengaruh obat. Jika tidak aku sudah menerkammu saat ini juga Gaby untuk membuktikan bahwa aku ini laki-laki kuat dan tidak impoten seperti yang kamu bilang barusan.”


Apalagi sekarang gadis itu tengah membusung-busungkan dadanya. Dan Menggerak-gerakan kakinya untuk bisa menyentuh anggota tubuh Ello yang lain.


Ello curiga, sepertinya Gaby sudah meneguk terlalu banyak minuman yang mengandung serbuk obat yang Ello perkirakan berjenis Flibanserin (Addyi) dalam dosis tinggi. Sejenis obat peningkat gairah wanita. Hingga membuat gadis itu tidak sadar akan perbuatan yang ia lakukan sedari tadi.


Apalagi jenis obat ini mampu bertahan dalam tubuh sang peminum sampai 24 jam lamanya.


Beruntung klinik tempatnya membuka praktik sudah di depan mata. Perasaan Ello berangsur lega karena tidak akan terjebak dalam keadaan Gaby yang seperti itu.


Karena keadaan seperti itu sungguh menyiksa bagi Ello, di suguhi pemandangan yang menggoda namun tidak bisa menyentuhnya sama sekali itu sama saja seperti uji nyali.

__ADS_1


*


*


Ello pun memanggul tubuh Gaby bagaikan karung beras. Karena jika membopong tubuh Gaby, malah membuat gadis itu leluasa menggigit daun telinganya dengan mudah.


“Hei! Laki-laki impoten turunkan aku! Aku ini sexy masa kamu tidak suka denganku. Dasar impoten!” maki Gaby lagi sambil mengerucutkan bibirnya sambil menahan hasrat yang terus bergejolak dalam tubuhnya.


Ello menjatuhkan tubuh Gaby pada brankar pasien di klinik tempatnya membuka praktik.


“Gaby! Sekali lagi kamu mengataiku impoten, maka aku akan membuatmu menyesal. Tetap diam di sini dan jangan nakal!”


Ello pun beranjak ke dalam lemari khusus penyimpanan obat yang ada di ruangan itu. Dan mencoba mencari obat jenis analgesik yaitu golongan obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan nyeri tanpa menghilangkan kesadaran orang.


“Aspirin, Naproxen, Diklofenak, Etodolac, Indometasin, Nabumetone...” Ello mulai mengabsen satu persatu jenis obat analgesik yang terbiasa tersedia di lemari persediaan obatnya. Namun satu pun ia tak menemukan obat jenis itu.


“S*al! Aku lupa berbelanja stok obat buat klinik lagi. Kenapa suster Eva tak memberi tahuku?”


Ello baru mengingat jika persediaan obat kliniknya mulai menipis. Mengingat akhir-akhir ini banyak pasien yang terluka tanpa sebab yang pasti dan berobat ke kliniknya.


“Apa yang harus aku lakukan? Gaby tidak mungkin bisa bertahan terus menerus seperti ini. Karena keadaan ini bisa membuat Gaby dalam bahaya jika reaksi obat itu tidak di salurkan. Tapi...aku bingung.”


Ello pun memandang Gaby yang terus menggeliat bagaikan cacing kepanasan. Bahkan bagian dari gaun Gaby terkesiap naik ke atas dan menampilkan kulit mulus gadis itu. Membuat Ello meneguk salivanya dengan susah payah.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2