Cinta Untuk Gaby

Cinta Untuk Gaby
Bab 41


__ADS_3

Ello melajukan kendaraannya dengan cepat menuju apartemen dimana Gaby tinggal. Tak lupa Ello memakai masker dan kacamata agar orang-orang tidak mengenali wajahnya.


Baru saja Ello di beritahu oleh suster Eva bahwa Gaby sudah pulang ke apartemennya. Jadi Ello langsung menuju apartemen gadis itu.


Sampainya di ambang pintu Gaby, Ello langsung mengetuk pintu kamar Gaby.


Tok!


Tok!


“Gaby, boleh aku minta waktunya sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan?” teriak Ello dari luar.


Namun hening tidak ada jawaban dari dalam. Tapi Ello yakin Gaby ada di dalam kamar apartemennya, terlihat dari sandal mau pun sepatu gadis itu masih pada tempatnya. Itu artinya, Gaby belum beranjak pergi keluar.


“Gaby, ini aku Ello. Aku ingin berbicara sebentar denganmu,” desak Ello lagi.


Sedangkan Gaby yang berada di kamarnya tampak bergeming. Nafasnya naik turun tak beraturan seraya menatap sebuah alat tes kehamilan yang menampilkan tanda ❤️ pada layar berlapis kaca plastik itu.


Ya Gaby menggunakan alat tes kehamilan digital. Namun bukan Gaby tak bisa membaca apa artinya hasil tes itu. Hanya saja Gaby belum yakin akan hasil itu sendiri.


“Ini nggak mungkin! Ini alat pasti rusak apa eror! Nggak mungkin aku..aku.” Ucapan Gaby tercekat di tenggorokannya dan tak mampu meneruskan.


*


*


Gaby pun menangis tertahan. Meski tanpa suara tapi air matanya luruh tak terbendung. Suara ketukan pintu dari luar yang sedari tadi Gaby biarkan, akhirnya Gaby buka agar suara ketukan itu tidak mengganggu kamar penghuni apartemen lain.


Namun sebelum membuka pintu itu, Gaby menyeka air matanya terlebih dahulu. Karena Gaby tahu, siapa orang yang di balik pintu itu ialah orang yang sudah merusak masa depannya.


Pintu pun terbuka, menampilkan wajah Ello yang di landa rasa penuh khawatir.

__ADS_1


“Gaby kamu tidak apa-apa? Kamu habis menangis?” tanya Ello seraya ingin menyentuh wajah gadis itu namun Gaby segera menepisnya.


Plaakk!!


Sebuah tamparan mendarat sempurna di bingkai wajah tampan Ello. Pemuda itu hanya bisa meringis menahan rasa nyeri dan panas yang menjalar di area wajahnya.


“Bukan urusanmu! Katakan, kenapa kamu datang kemari?!” tanya Gaby dengan ketus.


“Gaby, aku ingin kita berbicara namun tidak di depan pintu seperti ini.”


Gaby pun terpaksa membiarkan Ello masuk ke dalam apartemennya.


“Masuklah!”


Ello pun mengekori Gaby yang lebih dulu masuk ke dalam. Retina hitamnya menyapu sekeliling kamar Gaby yang nampak rapi.


“Silahkan duduk.”


“Katakan, apa yang ingin kamu katakan El? Lalu setelah itu segera pergi dari sini!” ketus Gaby lagi.


Ello menarik nafas dalam-dalam untuk memulai obrolan dengan gadis itu. Ello tahu, pasti Gaby tidak suka dan akan marah jika ia mengungkit kembali masalah mereka yang terjadi di tanah air tepatnya apartemen Ello.


“Gaby, semenjak hari itu. Jika di hitung sudah hampir 2 bulan berlalu. Apakah kamu....”


“Aku hamil El!” potong Gaby cepat.


Mendengar sahutan Gaby cepat membuat Ello menelan suaranya kembali. Entah ia bingung harus berekpresi bagaimana, senang atau sedihkah? Senang jika mengetahui Gaby benar-benar hamil anaknya, namun sedih karena sepertinya gadis itu masih menaruh benci terhadapnya.


“Gaby aku akan bertanggung jawab.” final Ello.


“Jangan bercanda El, kamu dan aku itu tidaklah sama. Strata kita berbeda, kamu dari keluarga konglomerat sedangkan aku dari kalangan biasa. Dan apakah baik dari keluargamu atau keluargaku bisa menerima anak ini? Aku takut El..aku takut!” Suara Gaby bergetar menahan air mata yang kembali luruh.

__ADS_1


“Gaby, aku akan tetap bertanggung jawab.”


“Lupakan tanggung jawab itu El! Aku akan mengurusnya sendiri. Karena aku tidak akan menghabiskan waktuku dengan orang yang tidak mencintaiku. Kalau tanggung jawabmu atas dasar anak ini. Lupakan saja!” sentak Gaby.


“Sekarang keluarlah! Keluar dari apartemenku!” teriak Gaby marah.


“Gaby, aku mencintaimu!” teriak Ello saat Gaby hendak menutup pintu apartemen.


Seketika Gaby menghentikan gerakannya yang akan menutup pintu.


“Kamu pasti bohong El! Di hatimu hanya ada kakakku Ganes, dan lagi kamu akan menikah dengan kekasihmu Gloria. Kamu bilang mencintaiku? Hah! Bogis!”


Gaby menghapus sisa-sisa air matanya yang mulai mengering. Amarahnya meradang karena merasa Ello sudah mempermainkan hatinya.


“Tapi aku sungguh-sungguh Gaby, semenjak hari itu perasaan itu tiba-tiba saja muncul. Dan semakin kuat saat kau menolaknya, sedangkan Gloria ia hanya mantan kekasihku. Aku sudah tak mencintainya.”


“El aku pusing, lebih baik kamu pergi. Aku ingin istirahat.” Kali ini Gaby mengusir Ello dengan cara halus.


“Beristirahatlah, aku akan..hoooeeekk! Hooeeek!”


Tiba-tiba saja rasa mual itu kembali menyerang Ello memuntahkan roti selai yang barusan ia makan.


“Ello! Kamu jorok!”


Ello hanya menyengir lemah.


“Kepalaku juga pusing Gaby, Perutku mual, jadi biar aku istirahat sebentar di sini.”


“Baiklah.”


Mau tak mau Gaby membiarkan Ello beristirahat di apartemennya sampai kesehatan pemuda itu pulih.

__ADS_1


TBC..


__ADS_2