Cinta Untuk Gaby

Cinta Untuk Gaby
Kabar Menyakitkan


__ADS_3

Hampir sepekan sudah Gaby mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Lingkungan yang bersih dan teratur membuat gadis itu merasa betah seperti kampung halamannya sendiri.


Saat Gaby tengah bersantai di apartemennya, tiba-tiba saja ada panggilan video masuk dari kakaknya Ganes.


“Hallo dek, Assalamu'allaikum. Bagaimana kabarmu disana?” tanya Ganes dari saluran seberang.


Dari layar berukuran 7 inc itu Gaby bisa melihat wajah kakaknya bersinar penuh bahagia. Tidak seperti terakhir saat mereka akan berpisah.


“Wa'allaikumsalam kak, alhamdulillah Gaby baik dan sehat. Kakak bagaimana?” tanya balik Gaby seraya tersenyum.


“Kakak juga sehat dek, ada sesuatu yang ingin kakak beritahu kepadamu.”


“Apa kak?”


“Sebentar lagi kamu akan memiliki keponakan! Yey...Doa kan yang aunty Gaby,” ungkap Ganes dengan nada penuh bahagia.


Dari tempatnya Gaby hanya mematung, betapa bahagianya kakaknya Ganes bisa memiliki cinta dan kini pun mengandung buah hati dari pria yang masih ada di hatinya itu.


Tak terasa buliran air asin itu kembali merembes membasahi permukaan wajahnya yang mulus.


“Gaby! Gaby ! Kenapa kamu menangis dek?”


Reflek Gaby pun mendongak pandangannya agar Ganes tak melihat sisinya yang rapuh.


“Ah..tidak kak, Gaby hanya merasa haru saja sebentar lagi akan menjadi aunty. Gaby turut bahagia atas kehamilan kak Ganes.”


“Terima kasih dek, tapi benar kan kamu tidak kenapa-kenapa?”


“Aku baik-baik saja kak, kak Ganes tidak perlu khawatir.”


Gaby pun memaksakan senyum di wajahnya yang chubby itu. Berharap kakaknya Ganes bisa percaya dengan apa yang barusan ia ucapkan.

__ADS_1


“Syukurlah, kakak selalu kefikiran denganmu Gaby. Kamu jarang menghubungi kak, kakak kangen. Masa ibuk doang yang kamu kasih kabar tapi kakak nggak,” protes Ganes.


Sebenarnya bukan tak ingin, tapi hati masih dalam pemulihan mencoba merelakan orang yang kita cintai itu sangatlah sulit.


Gaby hanya tak ingin melihat kemesraan kak Ganes dengan kak Galih, karena hati Gaby belum sepenuh merelakan. Maafkan Gaby kak.


“Gaby masih sibuk mengurus bea siswa Gaby di sini kak, dan membantu paman Coco dan Bibi Ling mengurus usaha restaurannya.”


“Oh..begitu. Apakah mereka memperlakukanmu dengan baik dek?”


Gaby masih butuh waktu untuk menata hati dan fikirannya, mencoba menerima takdir bahwa Galih bukanlah jodohnya melainkan jodoh kakaknya. Dan seperti yang Gaby ucapkan dalam hati, rasa sesak itu kembali muncul saat tiba-tiba Galih muncul dari belakang dan memeluk istrinya.


Gaby pun mengalihkan pandangannya ke arah lain seolah pura-pura tak melihat apa pun.


“Mas lepaskan, ada Gaby tauk. Gaby maaf ya mas Galih memang suka begitu.”


Dari seberang Galih mulai melepaskan rengkuhannya dari sang istri dan itu tak luput dari tatapan mata Gaby yang sengaja mencuri-curi pandang.


“Apanya kak?” Gaby pura-pura bodoh saja.


”Ah tidak, kakak fikir kamu melihatnya. Bagaimana dek apa mereka bersikap baik kepadamu?"


“Paman Co dan Bibi Ling sangat baik sekali kak, Mereka sudah menganggap Gaby seperti anak sendiri, Gaby seraya memiliki keluarga baru di sini.” sahut Gaby penuh antusias.


“Syukurlah, sepertinya kamu betah di sana dek.”


Gaby tidak langsung menyahuti. Bagi gadis chubby itu betah atau tidak betah harus Gaby jalani. Karena Gaby tidak ada cara lain untuk menyalurkan rasa kecewanya itu. Cukup sekali Gaby melakukan hal konyol yang hampir merenggut nyawanya. Beruntung Tuhan masih memberinya kesempatan kedua, maka dari itu Gaby tak ingin menyia-nyiakan hidupnya kembali karena urusan percintaan.


“Kak Ganes sudah dulunya, tadi Bibi Ling memintaku membantunya di restauran. Gaby tutup dulu, Assalamu'allaikum.”


“Wa'allaikumsalam.”

__ADS_1


Tut!


Sebenarnya itu hanya alasan Gaby saja yang tak ingin melihat kembali kemesraan sang kakak bersama pria yang masih mempunyai tempat di hatinya.


Begitu melihat bayangan Galih, Gaby buru-buru mengakhiri panggilannya bersama Ganes.


*


*


Gaby termenung menatap keluar dari dalam apartemennya. Menatap Patung Merlion dari jauh. Bangunan yang tinggi dan megah nampak memanjakan pandangan sejauh matanya memandang. Namun pemandangan yang memanjakan mata itu tak mampu menghibur hatinya yang tengah bergemuruh.


Di saat bersamaan layar televisi yang menyala menampilkan sebuah berita yang menambah gemuruh hati Gaby.


“*Kabar mengejutkan datang dari tuan muda kita Gracello Sanders yang akan bertunangan dengan kekasihnya model cantik terkenal Gloria Martin, berhubung beliau ada disini kita langsung tanya pendapat beliau saja ya permisa..”


“Kak Ello, bagaimana perasaan kakak yang sebentar lagi akan bertunangan dengan nona Gloria. Apakah kakak bahagia?”


“Biasa saja*.” balas Ello dengan raut wajah dingin.


“Apakah nona Gloria saat ini tengah hamil, kenapa tiba-tiba kalian ingin bertunangan tanpa acara melamar terlebih dahulu?”


Mendengar pertanyaan wartawan yang nyleneh membuat darah Ello seketika mendidih. Pemuda beralis tebal itu memilih beranjak dari para wartawan itu tanpa berucap sepatah kata pun.


Dari tempatnya Gaby hanya bisa mengumpati Ello yang barusan gadis itu lihat di layar kaca.


“Dasar pembohong! Katamu kamu terus memikirkanku, selain kau seorang dokter mesum kamu juga seorang playboy dasar buaya! Ku fikir hanya aku wanita yang pernah tidur denganmu Ello jelek!”


Gaby pun menekuk lutut dan memeluknya erat. Air mata tak mampu lagi ia bendung. Gaby pun menangis tersedu-sedu di dalam apartemen yang ia huni seorang diri. Meratapi nasib hatinya yang tak semulus jalanan aspal di Singapore


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2