
“Halo, apa?! Gaby hilang!”
Pekik Ello setengah berteriak tak percaya sampai Jay pun ikut terkesiap mendengar kabar mencengangkan itu.
“Apa yang terjadi tuan?” tanya Jay yang kini duduk di kursi kemudi.
“Gaby hilang! Barusan Paman Coco dan Bibi Ling meneleponku Jay. Brengsek! Ulah siapa lagi ini! Berani-beraninya mengganggu Gaby-ku lagi!” umpat Ello dengan geram.
“Tenang tuan, apa kita hubungi tuan muda Sean saja? Takut ini masih berhubungan dengan tuan Sean,” usul Jay kemudian.
“Kamu benar Jay.”
Ello pun segera meraih benda persegi miliknya. Sekali pun sempat terlibat perang dingin namun Ello masih menyimpan nomor ponsel Sean dengan baik.
“Hallo, Sean! Apa Gaby sedang bersamamu?” tanya Ello berhati-hati.
Nampak dari seberang terdengar suara musik menghentak-hentak. Sepertinya Sean tengah berada di sebuah bar.
“.........”
Dan benar saya, akibat suara musik yang begitu keras membuat Sean tak mampu mendengar suara Ello dengan baik.
“Baik lah, kita bertemu saja sekarang, di taman kota!” putus Ello.
Tut!
Di sebuah Bar
“Apa? Aku tak bisa mendengar suaramu?” teriak Sean.
“Baik lah, kita bertemu saja sekarang, di taman kota!”
__ADS_1
Tut!
Ucapan terakhir Ello mampu Sean dengar dengan baik karena bertepatan musik Disko berhenti menghentak.
“Ada apa lagi si alis sichan ini? Berani-beraninya menyuruhku untuk bertemu! Memangnya dia siapa?! Belum puas ku buat babak belur?” Gerutu Sean pada ponsel gengamnya. Meski sedikit kesal karena ada orang yang berani memerintahnya, namun tetap saja Sean pergi dari tempat itu juga.
“Gaston! Ajak beberapa anak buahmu mari ikutlah denganku!”
“Baik tuan Sean!”
Beberapa wanita yang tadinya sedang menemani Sean pun protes karena di tinggal pergi begitu saja.
“Tuan Sean, kenapa pergi begitu saja? Bagaimana dengan tips kami?” protes seorang wanita sexy.
“Ini tips untukmu!” ucap Sean sambil melempar uang banyak ke arah wanita itu. Dan menjadi rebutan oleh beberapa wanita penghibur lainnya.
“Blacky! Pakai saja mereka, daripada mubazir!” ucap Sean lagi.
“Dengan senang hati tuan bos!”
“Apanya bagaimana? Kau lupa bertanya pada siapa? Dasar bodoh! Ada tugas untukmu, mari ikut aku!”
“Maaf, tuan muda Sean,” balas Gaston sambil menunduk.
Kini Sean beserta anak buahnya sudah sampai di tempat dimana Ello tunjuk. Dari seberang nampak Ello berjalan mondar mandir bagaikan setrikaan yang kebanyakan pelicin.
“Hem! Katakan apa maumu?” tanya Sean sambil memasukan tangan dalam saku celananya.
“Sean! Kau tahu Gaby dimana?” tanya Ello sambil meraih kerah kemeja Sean.
“Lepaskan cekalanmu brengsek! Dan bicaralah dengan tenang. Aku sungguh tak tahu dimana Gaby, bukankah Gaby sudah bersamamu?”
__ADS_1
“Apa kau yakin tidak tahu dimana Gaby berada Sean?” tanya Ello lagi setengah tak percaya.
Ello fikir Sean lah yang menculik Gaby. Ternyata Ello sudah salah sangka. Justru Sean tidak tahu apa-apa tentang keberadaan Gaby saat ini.
“Kau fikir aku suka bercyanda El! Aku tak ada waktu untuk hal-hal yang tidak penting !” sanggah Sean sambio menepis lengan Ello.
“Sean, ada yang menculik Gaby di rumah sakit tadi. Ku fikir itu dirimu, maaf aku telah salah sangka padamu Sean. Aku sungguh sangat khawatir dengan Gaby saat ini, apalagi Gaby tengah hamil.”.
“Jangan merengek seperti bayi! Tidak cocok untuk penerus keluarga besar seperti kita El! Memalukan! Lebih baik kita segera cari dimana Gaby berada, kita bisa mengeceknya lewat Cctv pihak rumah sakit,” terang Sean memberi solusi.
“Kau benar Sean! Kali ini kau benar-benar sepupuku!”
“Sial! Ya Memang kemarin kita sedang bermusuhan sih.”
Akhirnya Ello pergi bersama Sean menuju rumah sakit untuk menyelidiki siapa yang berani menculik Gaby. Karena setahu Ello, ia tidak punya musuh mana pun. Baik saingan bisnis maunpun kolega bisnis yang lain. Karena semua sudah di selesaikan secara transfaran.
Ello pun mencoba berbicara kepada direktur rumah sakit mengenai penculikan Gaby. Pihak rumah sakit meminta maaf atas kelalaian para pegawainya. Lalu Ello pun meminta ijin untuk melihat langsung tayangan pada layar cctv. Begitu pula dengan Sean yang sedari tadi hanya memperhatikan saja.
Dari layar cctv nampak terlihat seorang suster mengendap-ngendap di depan pintu kamar Gaby. Lalu dengan mudah masuk ke kamar Gaby, karena kamar setiap pasien tidak di kunci saat siang hari.
“Apa benar suster itu yang menculik Gaby? Siapa dia sebenarnya?” lirih Ello masih memperhatikan tayangan cctv itu.
Hingga tak lama tayangan itu pun menampilkan Gaby bersama suster tersebut. Gaby nampak tertidur atas di kursi roda dengan selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya, sedangkan suster tersebut terlihat mendorong kursi roda itu menuju lift.
“Bedebah! Siapa sebenarnya wanita itu?!” umpat Ello berapi.
Sean yang sedari tadi ikut memperhatikan pun seperti menangkap sesuatu yang pria bertato itu tahu.
“Coba di putar ulang dari belakang, sepertinya aku tahu siapa wanita itu,” ucap Sean.
Pihak rumah sakit pun memutar ulang rekaman cctv itu secara mundur. Baik Sean mau pun Ello mencoba memperhatikan kembali si pelaku.
__ADS_1
“Tidak salah lagi, aku mengenal siapa wanita itu,” gumam Sean dengan yakin.
Bersambung...