Cinta Untuk Gaby

Cinta Untuk Gaby
Sakit


__ADS_3

Sebelum mentari menjemput, Gaby sudah tiba di kediaman keluarganya dan langsung menuju kamar yang terletak di lantai atas.


Beruntung Gaby membawa kunci cadangan, dan mengunci kamarnya sebelum pergi. Pasti ayah dan ibunya mengira ia sudah tertidur.


“Non baru pulang?” tanya bi Surti pembantu di rumah Gaby.


“Ssstt! Bi jangan bilang-bilang ayah sama ibuk ya, Gaby habis dari temen,” sahut Gaby beralasan.


“Ba...baik non.”


Bi Surti tak menaruh curiga apa pun terhadap penampilan Gaby yang nampak berantakkan. Karena Gaby sudah terbiasa terbangun dengan muka bantal dan rambut seperti singa betina.


Gaby pun berlalu meninggalkan bi Surti yang juga berlalu menuju dapur.


Sampainya di dalam kamar, Gaby pun menangis tersedu-sedu mengingat apa yang ia dan dokter itu lakukan kepadanya. Sungguh membuat hati Gaby terluka.


Dibukanya syal milik pemuda itu yang Gaby temukan diatas nakas dan piyama yang melekat pada tubuhnya. Karena terburu-buru, sampai Gaby tak menyadari ada satu barang yang ia kenakan tertinggal di apartemen Ello yaitu ikat rambutnya.


Namun Gaby tak ambil pusing karena ia masih bisa membelinya lagi lebih banyak.


Gaby pun kembali menangis ingat apa yang sudah terjadi semalam. Ia bertekat akan melupakan kejadian ini dan menyimpannya seorang diri. Mengingat waktu Ello menggaulinya, hanya nama Ganes yang pria itu ucapkan membuat hati Gaby kembali teriris.


Entah Gaby semakin membenci nama wanita yang menjadi kakaknya itu. Wanita yang membuatnya merasakan sakit yang tak seharusnya ia rasakan.


Gaby pun menyalakan kran shower dan membiarkan buliran air yang mengucur membasahi sekujur tubuhnya.


Sambil menangis, Gaby pun menggosok-gosok tubuhnya yang semalam tersentuh oleh Ello dan berharap bekas sentuhan pria itu hilang terbawa arus air yang mengalir.


*

__ADS_1


*


Pagi pun datang, pak Martin dan juga istrinya bu Murni sudah bersiap di depan meja makan untuk sarapan bersama.


“Bi tolong panggilkan Gaby ya, ajak sarapan bersama,” pinta bu Murni saat bi Surti menuangkan segelas sari buah dalam gelas di depannya.


“Baik nyonya, permisi.”


Bi Surti pun berjalan menaiki tangga menuju lantai atas dimana kamar Gaby berada. Dengan pelan bi Surti mulai mengetuk kamar Gaby yang tampak sunyi.


“Non Gaby, nyonya dan tuan sudah menunggu non Gaby di meja makan untuk sarapan bersama.”


“Bilang saja, Gaby lagi sakit bi. Tolong antar sarapannya ke kamar saja.”


“Apa non sakit? Apa bibi boleh masuk non?” ijin bi Surti ingin memasuki kamar Gaby.


Dan bi Surti pun masuk ke dalam kamar dan mendapati Gaby tengah meringkuk dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala gadis itu saja.


“Non Gaby sakit apa?” tanya bi Surti sambil meraba kening Gaby yang wajahnya nampak memucat.


“Meriang bi.” (Merindukan kasih sayang kak Galih, lanjut Gaby dalam hati)


Sudah sepekan lebih Gaby tak bertemu dengan Galih, mungkin jika ada Galih bisa membuat Gaby melupakan musibah yang baru saja menimpanya.


“Ya Tuhan, badan non panas sekali. Bibi kompres ya, nyonya dan tuan harus tahu ini non. Permisi.”


Belum sempat Gaby mencegah bi Surti agar tak memberitahu orang tuanya, keburu perempuan paruh baya itu berlalu.


“Yah..bi Surti.” gumam Gaby di balik selimut.

__ADS_1


Sebenarnya Gaby hanya ingin beralibi sakit untuk menutupi apa yang sudah menimpa dirinya, mengingat begitu banyak tanda kissmark yang Ello tinggalkan hampir di setiap inci kulit pada tubuhnya.


Namun kenyataan, Gaby benar-benar sakit. Mungkin karena yang semalam adalah yang pertama bagi Gaby. Dan fisik Gaby yang belum pulih sempurna, sehingga memberikan efek berlebihan hingga gadis itu jatuh sakit.


Setelah bi Surti memberi tahu kepada bu Murni dan pak Martin soal keadaan Gaby, dengan berbondong-bondong pasangan suami istri itu menyatroni kamar putri bungsunya.


“Sayang, kamu sakit nak? Kita panggil dokter kerumah ya?” tawar bu Murni yang mengelus puncak surai sang putri.


Gaby pun mengeleng lemah.


“Gaby ingin kak Galih buk, sudah sepekan kak Galih tak mengunjungi Gaby. Gaby kangen,” ucap Gaby tanpa malu.


Gerakan tangan bu Murni pun terhenti saat mendengar nama Galih, bukannya tak ingin hanya bu Murni sudah tahu masalah yang menantu dan putrinya Ganes hadapi saat ini.


“Emm..besok saja ya, mungkin Galih sedang sibuk bekerja,” sahut bu Murni sambil tersenyum.


“Nggak mau bu, pokoknya Gaby ingin kak Galih ada disini! Titik!”


Gaby pun membalikkan tubuhnya membelakangi bu Murni. Mungkin sandiwara yang Ganes dan Galih buat untuk Gaby menjadi bomerang bagi hubungan mereka sendiri. Kini Gaby semakin ketergantungan dengan Galih. Sedangkan hubungan Galih dan Ganes sedang tidak baik-baik saja. Bu Murni pun menyesal sudah pernah menyetujui ide Ganes kala itu.


Di balik tubuhnya, Gaby menangis tanpa suara. Bibir bawahnya ia gigit untuk menyamarkan isakan-isakan yang mungkin saja terdengar. Bagaimana kalau sampai keluarganya tahu bahwa ia sudah tidak gadis lagi? Dan juga bagaimana hubungannya dengan Galih ke depan?


Bu Murni pun menghampiri sang suami yang nampak selesai menelepon.


“Bagaimana ini yah? Gaby tidak mau ke dokter maunya hanya di temani Galih saja, sedangkan panasnya tinggi sekali. Ibuk jadi khawatir Gaby kenapa-kenapa yah,” ucap Bu Murni dengan nada bergetar.


“Ayah sudah menelepon Ganes dan Galih buk, sebentar lagi mereka akan kesini,” ungkap Pak Martin menenangkan sang istri.


Bukannya tenang, hati Bu Murni tampak semakin risau. Takut sandiwara yang mereka buat sendiri, justru bisa menghancurkan rumah tangga putri pertamanya Ganes bersama Galih.

__ADS_1


__ADS_2