Cinta Untuk Gaby

Cinta Untuk Gaby
Pesan yang Tersirat


__ADS_3

“Apa kamu bisa merawat baby G seorang diri tanpaku?”


Deg!


Jantung Ello berdetak begitu cepat setelah mendengar perkataan Gaby yang terasa ganjil barusan.


“Apa yang kamu bicarakan sayang? Kita akan merawat putri kita bersama-sama sampai kelak dia dewasa dan menikah. Apa kau tak ingin melihat tumbuh kembang putri kita kelak?”


“Bukan itu maksudku dad, hanya saja. Saat ini tubuhku terasa lemah. Tulang-tulang tubuhku terasa patah. Aku tak yakin bisa merawat putri kita atau tidak,” ucap Gaby seraya menitikkan air mata.


“Hei, sayang percayalah. Kamu akan sembuh. Semua wanita yang usai melahirkan pasti merasakan hal yang sama denganmu. Jadi berusahalah untuk sembuh demi putri kita,” kata Ello menyemangati sang istri.


Dugaan Ello sementara, sepertinya sang istri Gaby sedang mengalami baby blues syndrome. Yaitu suatu gangguan suasana hati atau gangguan psikologis yang dapat dialami oleh ibu-ibu muda pasca melahirkan, seperti merasa gundah dan sedih yang berlebihan.

__ADS_1


Gaby pun membenarkan ucapan Ello dan tidak menyangkalnya kembali.


“El...terima kasih selama ini kau sudah ada untukku. Menjagaku, menjaga putri kita. Memberikan apa yang selama ini tidak pernah aku terima dari siapa pun,” ucap Gaby lagi. Dan lagi-lagi ucapan Gaby berhasil membuat Ello tercenung. Seolah ada sesuatu yang tersirat di dalamnya.


“Kamu bilang apa sih yank, justru aku yang harus berterima kasih. Karena kamu mau menerima aku yang lemah ini untuk menjagamu. Bahkan kamu sudah berjuang untuk melawan maut hanya untuk melahirkan putri kita, perjuanganku tidak seberapa di bandingkan perjuanganmu yank. Percayalah, kamu bagaikan air dari surga yang menyirami tanah yang tandus ini,” kelakar Ello di selingi godaan untuk sang istri.


“Uch! Gombal!”


Gaby pun memanyunkan bibir tipisnya kearah Ello. Dan dengan cepat Ello mencium bibir itu dengan penuh perasaan. Lagi-lagi wanita di pojok ruangan itu merasa tertampar. Kehadirannya sudah tidak di harapkan. Dan ia pun memutuskan untuk keluar dari ruangan pasutri yang tengah memadu kasih itu.


Ello terus mencium lembut bibir sang istri. Menggigit sedikit ujung bibir mungil yang sedari tadi tertutup rapat dan membuatnya gemas.


“Kenapa malu-malu mommy, lakukan seperti yang biasa kita lakukan.”

__ADS_1


“Aku malu dad, aku belum sikat gigi,” jawab Gaby polos.


Ello pun terkekeh pelan mendengar pengakuan sang istri yang terdengar begitu jujur. Namun itu justru membuat Ello semakin sayang dengan wanita chubby itu.


Ello pun kembali mendaratkan ciuman-ciuman singkatnya. Namun yang kedua ini sedikit memaksa sehingga akhirnya pemilik bibir mungil itu pun membukakan diri. Membiarkan si pemaksa mengekplor lebih dalam. Memberikan sensasi menggelora dalam nadi.


Ciuman pasangan suami istri itu semakin panas hingga nafas keduanya terengah-engah. Ello hampir saja lupa bahwa istrinya baru saja melahirkan, jika tidak sudah di pastikan akan menghabiskan dua ronde pertama dalam satu waktu. Dan akan melanjutkannya di ronde berikutnya.


“Hah...hah...hah! El...kamu rakus sekali. A..ku sampai tidak bi..sa nafas karena..mu,” ucap Gaby terengah-engah.


“Maafkan aku sayang, habis aku sangat..sangat menyayangimu.”


Gaby pun tersenyum bahagia dalam dekapan suaminya Gracello. Pria beralis tebal yang berhasil merubah hidupnya. Merubah cara pandangnya terhadap seorang pria. Padahal dulu Ello itu masuk daftar hitam sebagai pria idaman seorang Gaby. Namun kini justru pria itu menjadi suaminya, bahkan kini ia sudah melahirkan seorang malaikat kecil.

__ADS_1


“Dad, sepertinya aku masih lelah. Bolehkah aku....”


Bersambung...


__ADS_2