
“Saya bisa menolong Gaby.”
Interupsi seorang pemuda yang baru saja masuk ke dalam ruangan bersama dengan dokter Edwin yang bertugas menangani Gaby beserta anak buah pemuda itu.
Bu Murni dan Pak Martin pun saling pandang satu sama lain. Ganes dan juga suaminya Galih pun melakukan hal yang sama.
“Siapa kamu?” Pak Martin pun mematikan saluran teleponnya yang sedari tadi tidak tersambung-sambung.
Menetap lekat kearah pemuda tampan yang ketampanannya tak jauh berbeda dari Ello. Meski wajahnya seperti habis babak belur, namun tak mampu menutupi garis wajahnya yang memang sudah rupawan sedari lahir seperti halnya Ello . Namun penampilan pemuda itu sedikit agak berantakan. Dengan tindikan di salah satu daun telinganya. Pak Martin pun menatap skeptis kearah pemuda itu.
“Perkenalkan nama saya Sean Seanor.”
Ya pemuda itu memanglah Sean. Meski terlahir dari rahim berbeda, namun ketampanan Sean dan Ello boleh di adu. Ello nampak maskulin, lain dengan Sean. Pemuda itu nampak cool dan berkharisma dengan penampilan bad boy-nya.
“Seanor??” Pak Martin pun mengulang nama akhir Sean sambil menatap tak percaya kearah pemuda itu.
Seanor adalah rekan bisnis sekaligus penyuntik saham terbesar di perusahaannya. Tentu saja Pak Martin merasa terhormat bisa bertemu tuan muda Seanor meski dalam keadaan yang mendesak seperti ini.
“Siapa yah?” timpal Bu Murni yang ikut penasaran. Sedangkan Ganes dan Galih memilih mendengarkan.
__ADS_1
“Cucu dari rekan bisnis kita buk, itu loh yang punya saham 50% dari perusahaan kita. Ayah sendiri tak menyangka langsung bertemu dengan cucu beliau dalam keadaan seperti ini,” lirih Pak Martin setengah berbisik.
Bu Murni pun nampak manggut-manggut mendengar penjelasan suaminya.
“Senang berjumpa dengan anda, bagaimana dengan kakek anda?” tanya Pak Martin basa-basi.
“Anda mengenal kakek saya Adam Seanor?” tanya balik Sean seraya menautkan alisnya. Karena ia sendiri tidak begitu dekat dengan sang kakek. Hidup Sean terlalu bebas tanpa kekangan dari keluarganya.
“Kami adalah rekan bisnis, oiya...tadi apa kata anda tuan? Anda bisa menolong Gaby maksudnya?” ulang Pak Martin kembali.
“Oh..itu kebetulan saya memiliki golongan darah langka yang sama seperti Gaby, dan saya berencana untuk mendonorkannya. Namun ada satu syaratnya yaitu Gaby harus menikah dengan saya. Karena saya mencintainya.”
Senyum Pak Martin dan Bu Murni pun luntur seketika ketika mendengar syarat yang di ajukan oleh tuan muda Sean itu. Seharusnya Pak Martin sudah menyadari sedari awal, keluarga Seanor memang terkenal baik namun sedikit licik.
Bagi mereka semua hal bisnis dan tidak ada yang gratis. Ingin menolak, namun ia pusing sendiri mencari pendonor untuk putrinya. Sedangkan mamanya Lauren sudah meninggal sebulan yang lalu karena stroke.
“Bagaimana?” tekan Sean kearah keluarga Gaby lagi terutama pak Martin.
“Saya tidak setuju!” teriak Ganes sambil mengepalkan kedua tinjunya. Galih pun berusaha menenangkan sang istri meski dalam hati pemuda itu merasakan hal yang sama seperti yang istrinya rasakan.
__ADS_1
Sebagai seorang kakak yang menyayangi sang adik, tentu ia tidak akan menumbalkan adiknya demi apa pun. Jika sudah begini lebih baik adiknya Gaby bersama sahabatnya Ello saja daripada bersama pria yang sama sekali belum keluarganya kenal.
“Ganes jaga ucapanmu!” sentak Pak Martin sambil memelototkan matanya ke arah putri sulungnya. Ganes pun langsung menunduk mendapat tatapan tajam dari ayahnya.
“Saya tidak ingin melihat perdebatan keluarga kalian, jika bapak setuju segera temui dokter Edwin. Pikirkan lah bagaimana keselamatan putri anda nanti, permisi.”
Setelah berucap itu, Sean pun berlalu dari hadapan keluarga Pak Martin di ikuti oleh anak buahnya. Namun sebelum mencapai ambang pintu, Pak Martin mencegah dengan ucapannya yang mengejutkan seluruh keluarganya.
“Saya setuju! Tolong putri saya.”
Sean pun tersenyum samar lalu membalas dengan memerintahkan dokter Edwin untuk menyiapkan alat pendonornya.
“Dokter Edwin kau dengar itu? Siapkan alat-alatnya sekarang, waktu kita tidak banyak Gaby harus segera di tolong!” perintah Sean dengan tegas lalu pemuda itu pun melanjutkan langkahnya kembali meninggalkan ruangan rawat Gaby.
“Ayah! Apa yang ayah lakukan?! Kenapa ayah malah menyetujuinya?” geram Ganes yang kecewa dengan keputusan final sang ayah tanpa memikirkan hal lain ke depannya.
“Ayah terpaksa Ganes, kita tidak ada pilihan lain lagi,” sahut Pak Martin dengan lesu.
Bersambung...
__ADS_1