
Hari mulai sore. Matahari mulai menyingsing di ufuk barat dan tergantikan oleh senja yang begitu memikat.
Galih mengeliatkan tubuhnya, saat merasa sebuah beban menumpu pada sebagian dada bidangnya.
Namun gerakannya terhenti kala merasakan sentuhan kulit tanpa ada sehelai benang pada tubuhnya yang sepertinya tanpa pembatas bernama kain. Sebagai seorang laki-laki normal, tentu instingnya mendadak jernih saat sebuah benda kenyal menempel pada permukaan kulitnya. Karena Galih sangat tahu benda apa itu.
Mata Galih melotot saat menyadari kancing kemejanya terlepas semua, dan seperti apa yang ada di fikirannya.
“Gaby! Astaga! Apa yang kita lakukan! Oh..Tuhan!”
Galih buru-buru beranjak dari ranjang Gaby. Sedangkan gadis itu nampak masih terlelap tanpa terganggu sedikit pun. Bertepatan dengan itu Ganes masuk ke dalam kamar adiknya itu. Karena kamar Gaby memang sengaja tidak di kunci baik dari dalam mau pun dari luar.
Namun tiba-tiba jantung Ganes seakan merosot ke perut mendapati kancing kemeja suaminya Galih terbuka dan pria itu dengan terburu-buru mengaitkan kembali. Dan jangan lupakan, resleting pria tersebut tidak tertutup sempurna. Membuat Ganes sebagai wanita dewasa tentu paham apa yang sebenarnya terjadi tanpa penjelasan sekali pun.
Tanpa menunggu penjelasan Galih, Ganes langsung berbalik arah dan keluar rumah keluarganya menuju mobil yang terparkir di halaman.
“Nes! Tunggu Nes! Mas bisa jelasin semua ini! Ah..S*al!” umpat Galih yang sudah tertinggal jauh dari istrinya karena harus mengancingkan kemejanya satu persatu dan membenarkan resletingnya yang terbuka.
Mau marah kepada siapa tentu Galih sendiri juga bingung. Tidak mungkin Galih memarahi Gaby, karena kemungkinan ia sendiri tanpa sadar sudah melakukannya. Mengingat penyakit Parasomnia pada tubuhnya kembali muncul.
Entah karena apa, semenjak beberapa hari kemarin penyakit parasomnia pria tersebut kembali kambuh. Padahal dokter sudah mendiagnosa sembuh penyakit yang pernah ia derita setengah tahun yang lalu.
Menurut penjelasan medis, Parasomnia adalah sekumpulan gejala tidak menyenangkan yang terjadi saat hendak tidur, sudah terlelap, atau terbangun dari tidur. Gangguan ini bisa berupa gerakan, perilaku, emosi, persepsi, hingga mimpi yang tidak wajar. Meski begitu, pengidap parasomnia tetap dalam keadaan tertidur sepanjang kejadian berlangsung.
__ADS_1
Galih hanya bisa mengacak-ngacak rambutnya frustasi dan mulai mengejar langkah istrinya yang sudah pergi meninggalkan rumah kedua orang tuanya.
Mendengar kegaduhan dari kamar putri bungsunya, Bu Murni dan Pak Martin pun lari tergopoh-gopoh menuju suara Galih yang sedang berteriak.
“Galih apa yang terjadi? Kenapa kamu berteriak memanggil nama Ganes? Memang Ganes kemana?” tanya Bu Murni bertubi-tubi.
“Buk, ayah maafin Galih. Galih akan jelaskan nanti, Galih ingin mengejar Ganes dulu buk. Galih pastikan semua ini hanya salah paham. Galih permisi dulu,” pamit Galih dengan nafas memburu.
Dengan perasaan bingung, Bu Murni dan Pak Martin pun hanya mengangguk tanpa mengerti apa yang di ucapkan oleh anak menantunya.
Dari tempat tidurnya Gaby hanya menangis. Entah harus bagaimana ia harus menyembunyikan noda itu dari keluarganya. Cepat atau lambat kedua orang tuanya pasti akan mengetahuinya.
Tidak ada pilihan lain. Saat tiba-tiba, Gaby menyadari kekasihnya Galih memandang wanita yang bernama Ganes itu dengan pandangan yang berbeda. Di situ Gaby bisa tahu, perasaannya sebagai wanita mengatakan bahwa Galih memiliki ketertarikan kepada sang kakak yang memang memiliki wajah dan perilaku yang sempurna sebagai seorang wanita idaman.
Di dukung dengan hilang dan hadirnya Galih serta Ganes secara bersamaan, membuat Gaby curiga dan ingin mengikat Galih dengan suatu hubungan yang lebih serius. Tanpa Gaby tahu, bahwa Galih sebenarnya adalah suami dari kakaknya Ganes yang berarti kakak iparnya sendiri.
*
*
“Nes! Nes! Dengerin mas dulu Nes! Please.”
Saat Galih baru saja sampai ke apartemen keduanya.
__ADS_1
“Mas mau jelasin apa? Buktinya sudah jelas terlihat, jika kamu juga menginginkan adikku kenapa kamu menikahiku mas? Kenapa?” teriak Ganes.
Ganes tak menyangka, suaminya sendiri yang mengingkari kesepakatan di antara mereka.
“Nes! Please dengerin mas dulu, mas juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi mas yakin ini pasti karena penyakit parasomnia mas kambuh lagi,” ungkap Galih berusaha menyakinkan sang istri.
“Parasomnia? Apa mas yakin? Bukankah penyakit itu di nyatakan sembuh oleh dokter setengah tahun yang lalu mas? Kenapa bisa?” selidik Ganes.
“Mas juga tidak tahu Nes, kamu ingat waktu isi kulkas berantakan kemarin itu sebenarnya bukan karena mas lupa menutup kulkas. Tapi itu memang ulah mas Nes, please percaya sama mas,” mohon Galih dengan mengiba kepercayaan sang istri.
Ganes masih ingat, jika penyakit suaminya itu kembali kambuh. Kemungkinan apa yang terjadi di luar kesadaran suaminya.
“Nanti kita pergi ke dokter untuk membuktikan omongan mas, kalau kamu tidak percaya Nes. Please , jangan benci mas,” pinta Galih menyakinkan.
“Aku tidak tahu mas, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Tapi jika sesuatu terjadi sama Gaby, mas Galih harus bersiap bertanggung jawab. Karena bagaimana pun Gaby itu adikku satu-satunya mas. Ganes tak ingin masa depan Gaby hancur. Disaat itu juga, aku akan melepasmu,” ujar Ganes dengan tatapan kosong.
Galih pun meraih bahu sang istri dan menatap dalam ke bola mata dengan retina berwarna hitam itu.
“Nes, apa yang kamu ucapkan? Kamu sadar tidak? Sampai kapan pun aku tidak menceraikanmu?” sahut Galih tak terima.
Ganes pun menepis tangan Galih dari bahunya. Seolah enggan di sentuh oleh suaminya sendiri.
“Lalu aku harus gimana mas? Mas sudah menodai adikku Gaby, dan aku tidak akan membiarkan masa depan adikku hancur begitu saja. Dilupakan olehnya saja sudah membuat hati ini sakit apalagi melihatnya hancur?” isak Ganes pecah dalam pelukan sang suami.
__ADS_1
Galih mendekap erat tubuh istrinya dan berulang kali mencium puncak kepala Ganes. Pemuda tampan itu menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
“Baik mas akan bertanggung jawab untuk Gaby ke depannya, tapi mas tidak akan pernah menceraikanmu sampai kapan pun Nes.”