
“Turunkan saya tuan, saya baik-baik saja,” pinta Gaby yang sudah mulai sadar terhadap situasi sekitar. Dan merasa risih akan perhatian yang Sean berikan.
Gaby merasa perhatian Sean terlalu berlebihan. Padahal mereka baru saja bertemu, dan Sean tanpa segan memperlihatkan kepeduliannya.
“Gantilah pakaian basahmu, aku sudah memesan baju ganti untukmu. Kalau tidak kamu akan masuk angin,” titah Sean dengan tutur kata yang lembut.
Sean bertekat akan membuat Gaby jatuh ke dalam pelukannya dan memenangkan taruhannya satu juta dollar bersama Gio.
“Tapi...tapi ini dimana tuan?” tanya Gaby gugup.
Berada di tempat asing dan hanya berdua dengan seorang pria dewasa tentu saja kemungkinan hal buruk bisa saja terjadi. Gaby menyilangkan kedua tangannya pada area dada, sebagai perisai jika Sean tiba-tiba menyerangnya seperti modus kebanyakan para pria nakal.
“Jangan panggil aku tuan, panggil saja Sean. Ini kamar hotel gedung ini.”
Melihat tingkah waspada Gaby, seolah Sean mengerti apa yang di fikirkan oleh gadis itu.
“Kamu jangan khawatir, aku tidak akan melukaimu. Tapi apakah aku boleh minta tolong padamu? Bisakah kamu menjadi pasanganku di pesta nanti?”
“Please mau ya? Kebetulan aku sedang tidak ada pasangan,” ujar Sean berusaha menyakinkan Gaby.
“Tapi saya sedang bekerja tuan Sean.”
“Sudah ku bilang, panggil Sean saja, Masalah itu gampang aku sudah meminta ijin kepada bosmu. Jika tidak percaya, coba saja hubungi bosmu.”
“Benarkah?” tanya Gaby menatap skeptis kearah Sean.
Namun gadis itu menurut apa yang Sean ucapkan dengan meraih ponsel dari tasnya dan mencoba menghubungi bibi Ling.
Beruntung Gaby melapisi gawai cerdasnya dengan tas anti air, Sehingga benda itu tidak sampai basah atau pun mati saat masuk ke dalam air.
Tak lama panggilan pun di balas oleh bibi Ling dan membenarkan apa yang Sean ucapkan.
“Sudah ku bilang benarkan? Oke sekarang kamu berganti gaun dan penata rias akan memake over penampilanmu.”
__ADS_1
“Dan aku akan berganti tuxedo dulu sambil menantimu di luar,” imbuh Sean lagi.
Gaby hanya mengangguk patuh. Sepertinya, Sean memang orang baik. Terbukti ialah yang sudah menolongnya saat hampir tenggelam tadi. Gaby tidak sadar, bahwa yang sudah menolongnya dengan memberi nafas buatan adalah Ello. Namun saat membuka mata pertama kali, Sean lah yang Gaby lihat bukan Ello.
Karena sampai saat ini Gaby tidak tahu bahwa Ello hadir dalam acara itu dan memperhatikannya dari jauh.
Sebelum Sean menghilang dibalik pintu, Gaby pun memutus langkah pemuda itu.
“Tuan.”
“Iya.”
“Terima kasih,” ujar Gaby sambil tersenyum tulus.
Deg!
Jantung Sean berdegup kencang saat melihat senyum tulus Gaby. Baru kali ini, hatinya bergetar hanya dengan mendengar kalimat pujian 'terima kasih' yang tulus dari mangsanya.
“Sama-sama.”
Buru-buru Sean menepis perasaan itu. Lagian mana mungkin seorang cassanova sepertinya jatuh cinta kepada seorang gadis kecil. Lalu Sean pun segera berlalu ke ruangan lain.
Usai Sean mengganti pakaian basahnya di kamar yang lain, pemuda berambut ikal itu menunggu Gaby di luar kamar dimana Gaby sedang di make over sambil mencari udara.
Sementara Gaby di rias di dalam kamar hotel tersebut, diluar Sean tengah menerima panggilan dari seseorang.
“Hallo, iya Gio.”
“Kamu dimana Bro?”
“Aku sedang bersama gadis itu, dia sedang di make over. Aku akan menjadikannya pasanganku dalam pesta malam ini.”
“Hah! Sial sepertinya sebentar lagi kamu bakal menang. Aku akui pesona cassanovamu patut di acungi jempol!”
__ADS_1
“Cckkk...Sean di lawan! Oke siapkan satu juta dolarnya, karena malam ini aku bakal mencicipinya!” seru Sean dengan pongah.
Tak lama pintu kamar hotel itu pun terbuka bertepatan Sean mengakhiri panggilannya bersama Gio. Sebuah suara pun mengalihkan atensi Sean dari gawai cerdasnya.
“Hmm..Tuan Sean.”
Sean pun membalikkan badan kearah sumber suara yang sudah memanggilnya dari belakang.
“Iya...”
Sean menggantungkan suaranya di udara saat bola matanya menangkap bayangan Gaby yang terbalut cantik oleh gaun berwarna hitam yang sudah ia pilihkan.
Gaun dengan bahu terbuka, adanya slayer tile yang bertaburkan payet yang nampak berkilau jika bertemu dengan cahaya. Rambut di jepit sebelah dan ujungnya di buat bergelombang, membuat penampilan gadis chubby itu terlihat elegan.
Gaun itu sangat melekat sempurna pada tubuh gadis itu, seolah gaun itu memang sengaja di rancang untuk Gaby karena sesuai dengan bentuk lekuk tubuhnya.
“Perfect!”
“Apa?”
“Ah, tidak! Maksudku kamu sangat cocok dengan gaun itu. Jadi bagaimana kamu siap?”
Gaby pun menganggukan kepalanya sambil berucap.
“Aku siap.”
Lalu Sean pun menekukkan lengannya pada sisi tubuh, dan tanpa komando Gaby pun mengerti apa yang harus ia lakukan. Seperti drama putri dan pangeran yang sering ia tonton. Gaby pun mengalungkan lengannya pada lengan Sean. Dan Sean pun tersenyum lebar.
Jantung Gaby berdebar-debar tapi bukan karena berada di dekat Sean, melainkan karena kini ia berada di kalangan crazy rich seperti yang temannya Ismi ucapkan.
Dalam benak Gaby, tak pernah terbayangkan akan mengikuti acara pesta kalangan konglomerat seperti sekarang. Dan lagi, Gaby takut bertemu kembali dengan Ello.
Ingin menolak, tapi tidak enak hati dengan Sean. Pemuda berambut sedikit ikal itu sudah menyelamatkan nyawanya. Gaby merasa berhutang budi kepada Sean. Setidaknya ia harus membalas kebaikan Sean yang sudah menolongnya.
__ADS_1