
Sampainya Sean di ujung kapal yang lain, Sean mendapati anak buahnya sudah terluka. Rupanya Gloria menembaki mereka dengan membabi buta. Tak jelas bagaimana wanita itu bisa mendapatkan senjata api itu. Yang jelas kini Sean tengah berlindung dibalik peti besi yang ada di depannya.
Sean pun baru ingat jika ia membawa pistol pada saku celananya. Namun sialnya, pistol yang ia simpan di saku celananya ternyata menghilang. Sepertinya pistol yang Gloria pakai adalah pistol miliknya.
“Sial!”
Entah bagaimana bisa Sean yang jago dalam segala hal bisa kalah dengan kelicikan wanita psikopat itu. Tahu begitu ia bunuh saja Gloria. Namun Sean masih ingat, Ello memintanya untuk menangkap Gloria hidup-hidup.
Sean pun memutar otak agar bisa menangkap Gloria hidup-hidup tanpa mendapat luka lagi dari wanita itu. Jujur saja, rasa sakit bekas tusukan saja belum hilang. Sean belum siap untuk terluka kembali.
“Sean, keluarlah! Tangkap aku kalau bisa!” pancing Gloria sambil mengayun-ngayunkan pistol ke segala arah.
“Apa kau tahu? Selama ini aku menyebarkan penyakit kepadamu. Aku mengidap kankers servik dan HIV Aids. Kau yang haus s*x dengan bodohnya memakai tubuhku yang sudah penyakitan ini Sean! Penyakit itu akan menular melalui hubungan badan. Kini kau sudah berpenyakitan sepertiku Sean! Hahaa.” ucap Gloria sambil tertawa.
“Apa?!!” pekik Sean terkejut akan pengakuan yang barusan Gloria buat. Sean pun keluar dari tempat persembunyiannya di balik peti besi.
“Akhirnya kau keluar juga sayang. Sebenarnya sudah lama aku ingin membunuhmu. Karena apa? Karena aku tidak akan membiarkan orang bejat sepertimu dengan mudah memetik manis dari para wanita seperti kami. Kau tahu Sean, dulu aku juga membunuh pelaku memperkosaku dan mengambil seluruh hartanya. Sepertinya aku akan melakukan hal yang sama padamu.”
__ADS_1
“Brengsek! Tidak akan ku biarkan kau mengambil apa pun dariku!”
Sean pun meringsek maju, namun sungguh nasib Sean yang apes. Pria bertatoo itu tertembak dan mendapat luka yang sama di bagian paha yang sudah di tusuk oleh Gloria.
“Akh! Sakit!” rintih Sean menahan 2 rasa yang berbeda. Antara rasa panas dan juga rasa perih yang begitu menusuk daging.
“Apa kau belum sadar nyawamu di ujung tanduk sekarang Sean? Atau kita akhiri saja seluruh permainan ini. Karena aku tak sabar untuk menikmati semua hartamu.”
“Dasar wanita gila! Tak kan ku biarkan kau memilikinya barang seujung kuku pun!”
Sean tidak berkutik, ternyata Gloria lebih licik daripada dugaannya. Salah jika dulu ia menganggap Gloria itu lemah, nyatanya kini wanita itu tak lebih dari malaikat pencabut nyawa.
Seluruh anak buahnya terluka bahkan ada yang meninggal akibat kebrutal yang Gloria buat. Sungguh Sean tertipu dengan sikap Gloria yang penurut selama ini.
“Empat!"
“Tiga!”
__ADS_1
Gloria pun mulai menghitung mundur waktu yang wanita itu buat untuk menekan Sean.
“Dua!”
Niat hati memberi peritungan pada Gloria, kini malah dia sendiri yang terpojok. Mungkinkah ini perumpamaan sebenarnya senjata makan tuan. Ya dia terpojok oleh senjatanya sendiri. Sean pun memejamkan mata bersiap menerima apa pun yang akan terjadi pada tubuhnya nanti.
“Empat!”
Doooorr!
Doooorr!
Terdengar suara tembakan yang memekakkan telinga hingga dua kali. Keadaan pun menjadi hening dan sunyi.
Tidak ada satu pun suara yang terdengar kecuali suara deburan ombak dan suara angin berhembus cepat di atas permukaan air laut. Keadaan tempat itu benar-benar hening tidak ada suara manusia satu pun, usai suara tembakan itu di layangkan.
Bersambung...
__ADS_1