
“Gaby!” pekik Emon. Tentu saja hanya mampu terucap dalam hati.
Setelah cukup lama terpaku melihat kedatangan Gaby, Emon pun mampu menguasai keadaannya kembali.
“Dengan nyonya Gaby? Silahkan duduk,” ucap dokter Emon mempersilahkan Gaby duduk.
“Selamat siang dokter.....?”
“Emon, perkenalkan saya dokter Emon nyonya. Saya dokter baru pengganti dokter Ningrum yang sedang cuti melahirkan,” papar Emon dengan gugup.
Gugup takut Gaby tak mempercayainya atau penyamarannya yang gagal barang kali Gaby bisa mengenali suaranya. Dan gugup, bisa menatap wajah cantik Gaby sedekat ini.
“Oh, saya Gaby dok. Ini kontrol saya yang ke 12 weeks berdasarkan pemeriksaan dokter Ningrum.”
Deg!
Hati Emon/Ello seakan berhenti berdetak. Ello tak menyangka. Ternyata Gaby sudah mengandung selama 2 bulan lebih. Meski gugup, namun Ello tetap mencoba bersikap tenang.
“Begitu, apakah ada keluhan seperti kram atau ada flek mungkin selama tri semester pertama ini?” tanya dokter Emon seraya memakai stetoskopnya dan hendak memeriksa keadaan tubuh Gaby.
Rupa-rupanya, tangan dokter Emon sedikit bergetar. Setelah sekian lama ia tidak bersentuhan kulit dengan Gaby, rasanya kali ini bisa melihat dari dekat wanita yang ia cintai membuat dokter Emon hampir kelingan fokusnya.
“Flek sih tidak, kalau kram sedikit dok. Dok kenapa tangannya bergetar dan dingin sekali?” tanya Gaby saat kulit dokter Emon bersentuhan dengan kulitnya.
“Mungkin..mungkin karena saya kelamaan di ruang ber-AC jadinya kulit saya dingin.”
“Oh..begitu.”
Gaby nampak manggut-manggut mengerti. Penampilan gadis itu nampak lebih berisi dari terakhir mereka bertemu. Pipi yang chubby dan di balut pakaian baby doll nampak membuat Gaby begitu menggemaskan. Jika ini bukan lagi menyamar, rasanya Ello/Emon ingin memeluk erat tubuh Gaby yang sudah berhasil membuatnya candu.
“Oh..iya apakah ada keluhan lain yang nyonya rasakan, mungkin saya bisa membantu?” pancing dokter Emon yang ingin menggali lebih dalam perasaan Gaby.
__ADS_1
“Bagaimana dokter bisa tahu? Maksud saya, belakangan ini saya sering kefikiran sama pria yang mengaku calon suami saya, anehnya saya tidak merasakan apa pun,” tutur Gaby mulai menjelaskan.
Dokter Emon pun semakin tertarik dan berusaha untuk memancing Gaby untuk bercerita lebih kepadanya.
“Lalu apa yang sebenarnya terjadi nyonya, maaf jika saya lancang ingin tahu?” pancing Dokter Emon sambil membetulkan letak kacamatanya yang di rasa kurang pas.
“Sebelumnya saya pernah mengalami koma beberapa hari dok. Akibat kecelakaan yang dulu pernah saya alami, ada luka serius di kepala saya. Saya bisa mengingat keluarga saya, namun entah saya rasa saya melupakan sesuatu tapi keluarga saya tidak ada yang memberitahu saya sama sekali,” lanjut Gaby.
“Maksud anda?” pancing dokter Emon lebih dalam lagi.
Dokter Emon yakin, sebenarnya Gaby merasakan apa yang ia rasakan saat ini.
“Ada sebagian kenangan saya yang hilang, dan saya tidak tahu itu yang mana.”
Bertepatan dengan itu suster Miwon pun masuk untuk memberi tahu pasien selanjutnya.
“Maaf dokter Emon mengganggu waktunya, pasien selanjutnya sudah menunggu,” ujar suster Miwon tanpa dosa.
Dokter Emon pun tampak menggerutu sebal, namun suster Miwon mengabaikannya.
“Maaf nyonya mungkin kita bisa bercerita lebih banyak di luar saja, mungkin saya bisa membantu masalah nyonya ini. Ada nomor yang bisa saya hubungi?” tawar Emon kepada Gaby.
“Ada dok, +658x-xxxx-xxxx.”
“Baik, saya berikan vitamin serta DHA untuk tumbuh kembang janin anda nyonya. Jangan lupa minum susunya. Karena sepertinya ukuran dedenya agak kecil dari ukuran seharusnya,” jelas dokter Emon setelah membaca hasil USG yang ia lakukan tadi.
“Baik dokter Emon, saya permisi terima kasih sudah mau mendengarkan saya.”
“Sama-sama nyonya Gaby, Jika anda membutuhkan bantuan hubungi saja saya. Saya siap kapan pun,” ucap dokter Emon dengan pongah.
“Kalau saya minta waktunya sekarang boleh dok?”
__ADS_1
“Eh..anu itu kan saya lagi jam dinas ini nyonya, nanti saya hubungi selepas ini. Oh..iya dimana calon suami anda itu?” sahut dokter Emon mengalihkan.
“Dia sibuk.”
“Ya sudah, saya permisi dok.”
“Silahkan.”
Dokter Emon pun mengikuti langkah Gaby dari belakang. Sebenarnya hatinya merasa tercabik, bagaimana mungkin ibu hamil seperti Gaby di biarkan kontrol kandungan seorang diri. Itu sangat berbahaya jika suatu hal tak terduga terjadi.
Dan benar saja, suatu kejadian tak terduga menimpa Gaby. Gaby terpeleset oleh sepatunya yang licin dan hampir jatuh ke lantai, beruntung dokter Emon mampu menangkapnya dengan cepat. Sehingga tubuh wanita kesayangannya itu tidak sampai menyentuh lantai keramik yang dingin. Sudah pasti dokter Emon tahu apa yang selanjutnya terjadi.
Sesaat Gaby terpaku akan sentuhan dokter muda di hadapannya itu. Rasanya tidak begitu asing. Dan anehnya lagi, tubuh Gaby merasa nyaman dalam pelukan dokter muda itu.
“Nyonya..nyonya apakah anda baik-baik saja? Apakah ada yang terluka?” tanya dokter Emon penuh khawatir. Raut wajah Emon sudah menegang.
Dan lagi perhatian kecil dokter yang baru Gaby kenal beberapa waktu lalu mampu membuat sudut mata wanita itu mengembun.
Selama ini, pria yang akan menjadi calon suaminya tidak pernah menanyakan keadaannya sama sekali. Bahkan untuk mengantarkan ke dokter pun tidak ada waktu. Pria itu terlalu sibuk. Dan kini ada pria lain mengkhawatirkan keadaannya.
“Saya..saya baik-baik saja, terima kasih sudah menolong saya,” balas Gaby seraya menyeka air matanya yang sempat lolos.
Dokter Emon merasakan ada sesuatu yang janggal dengan Gaby. Lalu dokter culun berkacamata itu nampak menelepon seseorang.
Tak lama sang asisten pun datang, lalu dengan sigap mengantar Gaby untuk pulang.
“Jay, tolong antar Gaby sampai rumahnya,” pesan dokter Emon kepada Jay asisten barunya.
“Baik, tuan muda.”
Dokter Emon pun menatap kepergian mobil yang mengusung wanita pujaan hatinya itu. Hatinya sedikit tercabik saat sempat melihat air mata lolos dari manik mata sang kekasih.
__ADS_1
“Ada apa gerangan yang terjadi denganmu selama hidup bersama Sean Gaby?”
Bersambung..