Cinta Untuk Gaby

Cinta Untuk Gaby
Gaby yang Berubah


__ADS_3

Ello kembali meraup wajahnya kasar. Ia sendiri tak menyangka, jika ialah monster yang sudah merenggut kesucian gadis periang itu.


“Lo brengs*k Ello!” maki Ello pada dirinya sendiri.


Tak sengaja ekor mata Ello menangkap bayangan benda kecil. Sebuah ikat rambut dengan aksesoris kelinci di atasnya.


“Ikat rambut? Apakah ini punya Gaby?”


“Tapi? Kenapa tadi Gaby bersikap biasa saja dan seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita berdua ya?” gumamnya bertanya-tanya.


“Besok, gue harus temui Gaby untuk meminta maaf dan akan bertanggung jawab atas kebrengs*kan gue,” gumam Ello lagi dengan yakin.


Ello merebahkan tubuhnya yang terasa lelah, memikirkan mimpi yang ia kira hanya sebuah bunga tidur. Ternyata benar-benar terjadi dan sudah ia lakukan tanpa sadar di luar kendalinya.


Besok pemuda itu berencana menemui Gaby dan meminta maaf kepada gadis itu. Berharap Gaby bisa memaafkannya dan menerima pertanggung jawabnya.


Setidaknya Ello merasa bersyukur, ternyata wanita itu bukanlah Ganes atau istri orang lainnya. Jika itu Ganes, Ello sendiri tidak tahu harus berbuat seperti apa. Karena pada dasarnya Ganes sudah menjadi istri dari Galih. Bisa-bisa terjadi perang berdarah antara ia dan juga Galih.


*


*


Hari-hari pun berlalu, tak terasa waktu cepat berputar sampai sebulan kemudian. Dan selepas hari itu, sikap Galih benar-benar berubah. Sikapnya menjadi menaruh perhatian lebih kepada Gaby.


Galih rajin datang ke rumah mertuanya usai bekerja dan siap menjadi sopir kemana pun gadis itu ingin beranjak dari rumah. Namun ada yang berbeda, sikap Gaby kepada Galih tak semanja kepada pemuda itu seperti dulu. Tak menuntutnya ini dan itu, serta cenderung lebih pendiam dan lebih dewasa.


“Gab, habis ini kamu mau kemana? Biar kakak antar?” tawar Galih sambil tetap fokus mengendalikan kemudi roda empatnya usai mengantar Gaby membeli


Meski Gaby menolak pertanggung jawabannya, tetap saja menjadi beban hati Galih dan malah membuat hati pemuda itu semakin merasa bersalah kepada adik iparnya itu.


“Pulang saja kak, Gaby akhir-akhir ini suka pusing.”

__ADS_1


Balas Gaby tanpa menoleh kearah Galih yang duduk di sampingnya. Memang benar apa yang di ucapkan oleh Gaby, akhir-akhir ini kepala Gaby lebih sering merasa pusing. Seolah ingatan yang pernah terlupakan olehnya ingin menyeruak keluar, memaksa Gaby untuk mengingat kembali.


Gaby pun menyandarkan kepalanya pada jok mobil yang menempel pada badan mobil.


“Baiklah.”


Tak lama mobil yang di kemudikan Galih sampai di kediaman Pak Martin dan Bu Murni mertuanya.


“Besok-besok tidak usah mengantar Gaby lagi kak, Gaby bisa kemana-kemana sendiri kok. Gaby bukan anak kecil lagi!”


Setelah berucap kata itu kepada Galih, Gaby keluar mobil pemuda itu dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa menoleh kembali kepadanya.


Galih yang ingin beranjak keluar mobil pun hanya bisa termangu di tempat. Rasa bersalahnya kepada Gaby menjadi semakin besar. Apalagi sikap gadis itu yang berubah tak periang seperti dulu lagi.


Setelah Gaby masuk, barulah Galih mengikuti dari belakang. Dari balik tembok, hati Ganes kembali mencelos. Ada rasa cemburu yang tidak bisa ia salurkan melihat suaminya kini menaruh perhatian kepada perempuan lain meski itu adiknya sendiri.


Dan Galih juga bukan tidak perhatian lagi kepadanya, Namun waktu suaminya itu kini lebih fokus dan tersita untuk Gaby adiknya.


Tapi mana bagaimana lagi, Galih harus bertanggung jawab atas apa yang sudah pemuda itu lakukan kepada Gaby. Dan kini baik ia maupun Galih sedang menanti hasil apakah Gaby hamil atau tidak? Jika sampai Gaby hamil, berarti Galih harus menikahi Gaby sesuai kesepakatan awal mereka.


*


*


Gaby bertekat akan menjadi wanita yang kuat yang tidak akan mengeluh. Mendapati 2 pria yang sama-sama mencintai kakaknya Ganes, membuat Gaby tak ingin banyak berharap kepada pria mana pun.


Gaby hanya ingin sebuah ketulusan. Bukan perhatian karena kasihan atau semacamnya. Dan satu lagi kenyataan yang sangat mengguncang jiwa Gaby. Namun, Gaby yang sekarang bukan Gaby yang seperti dulu.


Gaby yang sekarang lebih tenang dalam menyikapi masalah. Keadaan sekitar mengajarkan Gaby untuk bertindak dewasa dari sebelumnya. Gaby lebih bisa mengatur emosi karena rasa sakit yang harus ia rasakan itu. Karena Gaby tahu, penyebab kecelakaan yang ia alami sebulan lalu itu karena apa.


Saat Gaby memejamkan matanya, ponsel cerdas miliknya terus bergetar menandakan ada panggilan masuk yang sedari tadi memanggil nomornya.

__ADS_1


Dengan malas Gaby meraih benda pipih itu dan melihat siapa yang tengah meneleponnya. Meski tanpa memberi nama kontak tersebut, Gaby sudah hafal di luar kepala karena nomor itu yang akhir-akhir ini rajin meneror hari-harinya.


Lalu tanpa perasaan Gaby menekan icon berwarna merah pada layar ponselnya dan otomatis panggilan itu berhenti. Sudah Gaby pastikan tindakannya itu akan memicu belasan pesan singkat penuh perhatian memenuhi kotak masuk pesan miliknya.


Seperti yang sudah Gaby perkirakan, setelah itu belasan pesan masuk membuat ponsel Gaby terus bergetar tanpa henti.


”*Gab, kamu sedang apa? Jangan lupa makan y.”


“Gaby, jaga kesehatanmu.”


“Rasa bersalah ini terus menghantuiku Gaby, maafkan aku.”


“Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu*.”


Gaby hanya menanggapi pesan-pesan singkat dari seseorang itu dengan senyum kegetiran. Entah, hati Gaby hanya menganggap perhatian-perhatian yang orang-orang berikan hanya atas dasar rasa kasihan terhadapnya semata. Bukan sebuah perasaan sesungguhannya.


Pesan singkat itu berasal dari Ello. Sebulan yang lalu Ello mengakui perbuatannya dan menawarkan pertanggung jawaban yang sama seperti kekasihnya Galih. Namun Gaby tolak.


Ponselnya kembali bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk.


“Gaby, please aku ingin kita bertemu. Ada sesuatu hal penting yang ingin aku bicarakan kepadamu.”


Entah Gaby sendiri merasa penasaran apa yang ingin Ello bicarakan kepadanya, tanpa sadar Gaby sudah mengetik sebuah kalimat balasan dan mengirimnya.


“Baiklah, tentukan saja tempatnya.” send-


“Astaga! Aku membalasnya!”


Gaby menepuk dahinya pelan. Kini pesan itu sudah terlanjur terbaca oleh si penerima dan dalam sekejap langsung terbalaskan.


”Kita bertemu di cafe Xxx, aku menunggumu Gaby.”

__ADS_1


Sudah terlanjur membuat janji mau tidak mau Gaby harus menemui Ello, pemuda yang sudah mengambil masa depannya.


TBC...


__ADS_2