
“Inikan foto kamu Glor dengan....”
“Itu dengan mantan manager Gloria ma, kami sudah terbiasa melakukan cipika cipiki seperti itu,” potong Gloria cepat.
Gloria berkomat-kamit dalam hati berharap Mama Lusi mempercayai ucapannya kali ini. Karena foto yang Ello ambil itu nampak dari belakang. Hanya wajah Gloria yang begitu jelas tengah memeluk dengan mesra pria dalam foto sambil cipika cipiki.
“Oh... Mantan manager kamu tah? Mama kira siapa? Masa kamu peluk orang sembarangan kan tidak mungkin.”
Mama Lusi pun nampak terkekeh. Perempuan setengah baya itu masih bisa memaklumi karena selama ini Gloria berkecibung di dunia entertaiment. Sudah pasti hal seperti iti sudah biasa, mengingat Gloria memang ramah kepada siapa saja.
Gloria pun menghela nafasnya dengan lega. Ternyata Mama Lusi masih belum menyadari laki-laki yang ada di foto itu. Mungkin karena perubahan fisik. Sehingga membuat Mama Lusi tidak bisa mengenali mantan suaminya sendiri.
Fyuh! Untung wanita bodoh ini mempercayai alasanku. Ternyata benar-benar bodoh pantas saja mas Andi berpaling. Bagaimana pula ia bisa melupakan postur tubuh suaminya sendiri. Memang sih, sekarang mas Andi jauh lebih berisi ketimbang dulu. Tapi berkat mas Andi, aku bisa menjadi model terkenal...
“What? Mantan Manager? Manager apa ma? Itu papa Andi ma!” sergah Ello yang semakin berang oleh kebohongan yang Gloria buat.
“Mas Andi? Tidak mungkin, Papamu tidak segemuk itu El. Papamu mempunyai badan yang proposional, lalu tidak berkepala plontos seperti itu. Sudahlah, jangan bahas papamu lagi, mama muak!”
Itulah ingatan yang Lusi ingat tentang suaminya. Suaminya Andi yang tampan, dan ketampanannya itu menurun sempurna pada putranya Ello. Kadang Lusi tak ingin melihat Ello, namun Ello adalah putranya sendiri.
Oleh karena itu semasa kecil Ello di asuh oleh kakeknya Mahesa yang tinggal di Indonesia. Karena selama itu, Lusi sedang menjalani perawatan karena depresi yang ia alami akibat perpisahan dan perselingkuhan yang suaminya buat beberapa tahun silam.
__ADS_1
“Tapi ma! Itu beneran papa Andi dan Gloria ma! Kenapa sulit sekali sih membuat mama percaya?” ujar Ello dengan raut wajah kecewa.
“Sudah El, jangan menuduh orang tanpa bukti! Buktimu itu belum kuat untuk membuat mama percaya dengan ucapanmu barusan! Semua ini terdengar konyol!” sanggah Lusi.
Gloria pun tersenyum lebar namun dengan secepat kilat merubah ekpresi wajahnya kembali. Tidak menyangka segitu menginginkanya Lusi menjadikannya sebagai anak menantu. Hingga ia tak mempercayai ucapan putranya sendiri. Gloria merasa beruntung.
“Ma! Ello kecewa sama mama! Ello akan buktiin suatu saat nanti siapa Gloria sebenarnya!”
Setelah berucap itu Ello pun melenggang pergi menuju kamarnya di lantai dua. Lalu menutup pintu kamarnya keras-keras hingga terdengar sampai lantai bawah.
Begitu Ello menghilang di balik pintu, Lusi menghampiri Gloria dan membelai sayang wajah wanita model itu.
“Sudah ya sayang jangan bersedih, mama akan membujuk Ello. Bagaimana pun anak dalam kandunganmu ini harus memiliki ayah, dan Ello yang akan menjadi ayahnya!” tegas Lusi dengan penuh percaya diri.
Lusi pun langsung memeluk tubuh Gloria yang nampak terlihat lemah. Bahkan air matanya sedari tadi tidak berhenti keluar. Tanpa wanita setengah baya itu tahu, ia tengah terperangkap ke dalam tipu daya Gloria. Gadis model yang menjadi menantu idamannya. Gloria pun tersenyum menyeringai.
Terus saja menjadi wanita bodoh, agar aku bisa membodohimu terus menerus...ckk
*
*
__ADS_1
“Yah, bagaimana ini? Gaby harus segera mendapatkan donor darah Rh-null itu. Keadaannya semakin lemah, begitu pula kandungannya,” ucap Ganes dengan terisak.
Sebagai wanita yang sama-sama tengah merasakan hamil, tentu saja Ganes sangat tahu apa yang di rasakan oleh Gaby adiknya. Bahkan di usia kandungannya yang sudah menginjak 4 bulan, Ganes tak ingin berjauh-jauhan dari sang suami.
Apalagi adiknya Gaby yang terbiasa manja dengan keluarga. Ganes tidak sanggup untuk membayangkan jika adiknya itu melewati masa sulit selama hamil seorang diri.
“Ayah juga tidak tahu Nes, Granny Lauren sudah meninggal sebulan lalu. Sedangkan pemilik golongan darah seperti Gaby di keluarga kita hanya dia. Dan kemarin waktu Gaby kecelakaan, Granny Lauren lah yang menyumbangkan darahnya. Ayah akan coba hubungi keluarga kita yang lain, yang masih tinggal di Australia. Kamu jangan membuat ibukmu khawatir Ganes.”
Pak Martin pun mencoba memainkan ponselnya untuk mencari kontak yang bisa ia hubungi. Meski sempat mengalami serangan jantung awal, beruntung selepas kepergian Ello ia segera mendapat perawatan dan kini sudah bisa beraktivitas kembali setelah meminum obat dari dokter.
“Ayah juga harus menjaga kesehatan ayah ingat apa yang di katakan dokter tadi?” tegur Bu Murni sambil mengelap air matanya yang mulai mengering.
“Ibuk tenang saja, ayah baik-baik saja.”
Bagaimana Pak Martin bisa baik-baik saja? sedangkan hatinya sedang di landa kalut akan putri bungsunya yang harus segera mendapat donor danar. Pak Martin tidak bisa berdiam sambil menikmati rasa sakit. Meski dadanya sedikit terasa sesak.
Gaby mempunyai keturunan darah emas atau darah langka Rh-null dari Granny-nya yang merupakan orang Australia. Sedangkan Pak Martin tidak karena mewarisi darah biasa dari ayahnya yang asli orang tanah air.
Disaat semua dalam keadaan resah dan khawatir, tiba-tiba ada seseorang masuk ke dalam ruangan rawat Gaby. Dan di ikuti beberapa orang di belakangnya termasuk dokter Edwin.
“Saya bisa menolong Gaby.”
__ADS_1
...Bersambung......