Cinta Untuk Gaby

Cinta Untuk Gaby
Permintaan Bu Murni


__ADS_3

Di tempat lain Ismi nampak merenung memikirkan keadaan Gaby yang sedang koma di rumah sakit.


“Malang bener nasibmu ya Gaby, ternyata memiliki pasangan yang crazy rich tidak semudah itu. Sepertinya aku harus berubah haluan, ya siapa pun jodohku kelak. Semoga ia bisa menerima aku apa adanya termasuk keluarganya,” gumam Ismi seraya mengelap meja-meja restauran sampai mengkilap sempurna.


Dari seberang Edo mampu mendengar gumaman Ismi rekan kerjanya yang sudah lama bekerja bersama-sama. Sebenarnya Edo memiliki rasa kepada Ismi, namun karena Ismi sering bercerita ingin memiliki pasangan yang high class membuat Edo mundur secara perlahan dan lebih memilih menyimpan rasa itu sendirian


Meski Edo suka mengejek dan menggoda Ismi, siapa sangka di balik sikap usilnya itu Edo selalu memberi perhatian kecil kepada gadis yang sudah lama ia taksir itu.


Bagi Edo tidak masalah jika ia harus menyukai perempuan yang usianya lebih tua darinya. Yang penting ia merasa nyaman. Dan Edo merasakan hal itu di saat bersama dengan Ismi. Baginya, Ismi itu wanita yang lucu.


“I'm hear you! ” Suara Edo seketika memecah lamunan Ismi.


“Edo! Kamu ya, dasar tukang penguping!” kesal Ismi sambil melempar lap bersih kearah pemuda itu.


Hap!


Edo pun menyambut lap itu dengan sigap dan berhasil menangkapnya sebelum lap itu terjatuh ke lantai.


“Sudah jadi rahasia umum seorang Ismi Puspita mendambakan kekasih yang crazy rich bukan? Tapi tidak dapat-dapat..hahahaa,” goda Edo sambil terbahak-bahak melihat ekpresi Ismi yang semakin bermuram durja


“Siapa bilang? Jika aku tidak bisa dapatkan pasangan yang crazy rich , sekali pun cowok di dunia ini habis dan hanya kamu yang tersisa. Aku tidak akan memilihmu, karena aku tidak suka berondong. You're understand? ”


Ismi pun memalingkan wajahnya kearah lain. Sudah banyak ejekan yang ia terima dari teman sejawatnya itu sudah biasa jadi Ismi tidak akan mengambil hati. Kenapa di umurnya yang hampir kepala tiga masih belum menikah? Bahkan pacar satu pun tidak punya.


Meski hati Ismi sebenarnya tengah di landa kesepian, namun gadis itu masih keukeuh dengan misinya untuk mendapatkan laki-laki yang tampan dan tentu kaya raya seperti temannya Gaby. Agar hidupnya kelak tidak merasa kesusahan.


“Oh..yeaa? Coba kita lihat saja nanti apakah ucapanmu itu benar?” sahut Edo dengan santai sambil beranjak mendekati Ismi.

__ADS_1


“Hei bocah! Apa yang ingin kamu lakukan? Kamu ingin merayuku? Hah..rayuanmu receh sekali, tidak mempan buatku..haha.”


Ismi berusaha menyangkal, hatinya ternyata merasakan debaran tak biasa saat di hadapankan dengan Edo dengan jarak sedekat itu.


Ismi terus berjalan mundur ke belakang, tanpa ia sadari ia sudah mendekati anak tangga.


Dan benar saja, Ismi pun terhuyung ke belakang. Lalu dengan sigap lengan kokoh milik Edo, meraih pinggang ramping Ismi dan menariknya ke dalam pelukan pemuda itu.


Deg!


Deg!


Deg!


Ismi pun berusaha menepis rengkuhan Edo, dan memilih pergi meninggalkan pemuda itu tanpa berucap sepatah kata pun.


*


*


Ucapan Ello mengambang di udara, pita suaranya seakan terasa tercekat di tenggorokan. Berulang kali pemuda tampan beralis tebal itu mengelap keringat yang mengucur di pelipisnya


Sedangakan Galih dan juga pak Martin pun masih menanti dengan sabar apa yang akan Ello ucapkan selanjutnya.


“Katakan El, jangan ragu-ragu!” desak Pak Martin.


Paman Coco dan Bibi Ling pun datang. Begitu masuk ruangan itu, terasa ketegangan yang tercipta dapat pasangan suami istri itu rasakan. Meski mereka berbicara dengan nada rendah sekali pun.

__ADS_1


“A...aku.”


Seketika ruangan itu berubah senyap. Pak Martin dan Galih pun memandang tak percaya kearah Ello. Bu Murni yang tadinya menangis pun langsung buru-buru menyeka air matanya dan menajamkan indra pendengaran di balik tirai yang memisahkan mereka.


Sedangkan Paman Coco dan Bibi Ling nampak biasa saja, karena mereka sudah mengetahui sedikit tentang hubungan Ello bersama Gaby dari Ismi karyawan restorannya.


Lalu Galih pun meringsek maju dan mencengkram kuat-kuat kerah baju Ello.


“Jangan main-main dengan kita brengs*k! Katakan yang sebenarnya!” gertak Galih penuh emosi.


“Aku tidak bohong Lih! Tanyakan saja sendiri kepada Gaby jika ia sudah sadar nanti.”


Pak Martin nampak memegangngi sebelah dadanya yang terasa sesak. Pria paruh baya itu merasa shock dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut Ello.


“Bohong! Jangan jadikan Gaby korban demi memenuhi ambisimu untuk mendekati Ganes lagi Ello!” Cengkraman Galih semakin kuat, namun Ello tetap berusaha tenang untuk menghadapi amarah keluarga Ello.


Semua keluarga Ganes juga sudah tahu mengenai perasaan Ello terhadap Ganes. Jadi Galih pun tidak sungkan untuk mengungkitnya di hadapan sang ayah mertua.


Ganes yang juga mendengarnya pun ikut merasa shock hebat. Karena ia tahu betul seperti apa Ello dan seperti apa adiknya. Bagaimana bisa seseorang yang tak memiliki hubungan apa pun, tiba-tiba melakukan hubungan suami istri? Meski itu bisa saja, namun Ganes sangat mengenal betul kedua orang terdekatnya itu.


“Ello! Apa yang kamu katakan itu benar?” sela Bu Murni yang sedari tadi mencoba menahan diri agar tak terbawa emosi.


Ello pun mengangguk lemah. Sudah pasti wanita paruh baya, yang sudah ia anggap seperti ibu sendiri itu merasa kecewa berat kepadanya. Namun bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Bahkan Ello sendiri tak menyangka akan memiliki hubungan bersama Gaby.


“Kalau begitu nikahi Gaby!” pinta Bu Murni seraya menatap Ello penuh harap.


“Tapi buk...” protes Ganes yang sebenarnya tidak setuju karena itu bisa mengancam perasaannya sendiri terhadap Ello.

__ADS_1


“Saya tidak setuju!”


Bersambung...


__ADS_2