
“Siapa dia dokter Edwin?”
“Tuan muda Seanor.”
“Apa?!”
Apa?! Jadi Sean itu memiliki darah Rh-null itu? Ini tidak mungkin, bagaimana bocah brengsek itu memiliki darah selangka itu? Dan setelah barusan terjadi, mana mungkin Sean memberikan darahnya untukku? Aissh...karena serumit ini!
Ello pun mengacak-ngacak surainya karena frustasi. Bagaimana mungkin Sean akan sudi memberikannya bantuan setelah Ello membuat wajah pemuda itu hampir hancur. Sudah pasti pemuda itu bakal menuntut balas kepadanya.
Namun bagaimana lagi, semua itu Ello lakukan untuk melindungi Gaby. Pria mana pun pasti tidak akan membiarkan wanitanya di sentuh oleh pria lain. Aish!! Membayangkan Sean sempat memagut bibir Gaby, membuat Ello kembali ingin memukuli wajah pemuda itu.
Ello baru mengingat, Sean merupakan keturunan dari persilangan darah Australia dengan Singapore. Sedangkan Rh-null sendiri, menurut sejarah dunia medis golongan darah ini pertama kali ditemukan pada suku Aborigin di Australia. Golongan darah emas diyakini hanya dimiliki oleh kurang dari 50 orang di dunia.
Tapi yang masih membuat Ello berfikir keras, kenapa Gaby juga bisa memiliki darah langka itu? Apakah Gaby juga memiliki persilangan darah sama seperti adik sepupunya Sean? Memikirkannya saja sudah membuat kepala Ello berdenyut nyeri, lebih baik ia memikirkan cara bagaimana untuk bisa mendapatkan pendonor untuk Gaby.
“Baik dok, saya akan bayar berapa pun nominalnya jika ia berkenan mendonorkan darahnya untuk tunangan saya ini,” final Ello.
Bagi Ello tidak masalah jika ia harus menggelontorkan dana yang tidak sedikit, ini semua ia lakukan demi wanita yang sudah ia cap sebagai calon istri apalagi wanita itu sedang mengandung benih calon anaknya.
“Baik dokter Ello, akan saya usahakan untuk membujuk beliau. Semoga beliau berkenan mendonorkan darahnya untuk menyelamatkan nona Gaby, baik saya permisi.”
__ADS_1
“Oiya.. Tolong segera hubungi keluarga nona Gaby dokter El, sebagai orang tua mereka juga berhak tahu mengenai kondisi putrinya saat ini.”
Selain menjadi dokter spesialias kandungan dan organ dalam, dokter Edwin juga merangkap sebagai dokter pribadi keluarga Seanor keluarga dari Sean Seanor sepupu dari Ello sendiri.
“Suster, tolong pindahkan nona Gaby ke dalam ruangannya,” perintah dokter Edwin ke seorang perawat yang sedari tadi mencuri pandang kearah Ello.
Namun yang di titah malah hanya diam sambil tersenyum memandang ke arah Ello. Dan dokter Edwin pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Memang pesona seorang Ello sulit di bantah menurut sudut pandang dokter Edwin. Tanpa dokter senior itu tahu, bahwa Ello berulang kali di tolak oleh gadis yang tengah terbaring lemah di atas brankar rumah sakit itu.
Sedangkan Ello merasa gelisah dan bimbang, haruskah ia memberi tahu keluarga Gaby yang ada di tanah air? Jika mereka sampai tahu kondisi Gaby sakit itu karenanya, Ello tak bisa membayangkan kemungkinan hal yang akan terjadi nanti seperti apa.
Ello pun kembali mengacak-ngacak surainya frustasi, tanpa Ello sadari beberapa perawat di ruangan itu masih menatap kearahnya penuh damba.
*
*
“Kau tahu, aku sedang tidak ingin di ganggu oleh siapa pun itu aku tak peduli! Katakan saja! Aku sakit! Aww..” balas Sean ketus seraya menyentuh ujung bibirnya yang terasa perih akibat luka robekan.
“Tapi tuan muda, ini dokter pribadi tuan yaitu dokter Edwin,” imbuh maid itu sambil menundukkan kepalanya.
“Cih! Ada apa tua bangka itu bertandang ke mansionku lagi? Apa uang yang ku berikan tidak cukup? Cih! Suruh dia masuk!” gerutu Sean yang sebenarnya sangat malas bertemu dengan orang lain dalam keadaan wajah yang babak belur itu.
__ADS_1
Sean pun meraih nikotin yang tergeletak di atas meja kaca yang ada di depannya. Lalu menyulutnya dengan pematik api. Dan menghisap kuat-kuat asap nikotin itu, lalu menghembuskannya ke udara.
Rasa kesal akibat di permalukan oleh Ello begitu mencongkol di hati pemuda berdarah blasteran Australia-Singapore itu. Sedari awal pemuda itu memang tak menyukai sepupunya Ello, karena sang kakek Mahesa selalu menganak emaskan seorang Ello yang terkenal lebih pintar di antara para sepupu-sepupunya.
“Katakan, ada apa?! Apa uang yang ku berikan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan anak istrimu?” tanya Sean dengan pongah begitu dokter Edwin sudah nampak di hadapannya. Sambil menghisap nikotin yang terjepit dia antara sela-sela jarinya.
Dokter Edwin pun masih menatap sekeliling Sean yang di penuhi oleh beberapa jenis minuman berakohol tinggi. Padahal ia sudah memperingatkan kepada Sean, bahwa alkohol itu sangat mempengaruhi kesehatannya. Mengingat Sean memiliki golongan darah Rh-null yang membuat pemuda itu mudah jatuh sakit jika melakukan hal yang berlebihan.
Apalagi Sean merupakan calon pendonor untuk pasien daruratnya? Bagaimana mungkin ia mendonorkan darah seorang peminum kepada wanita hamil? Sedangkan untuk mencari pendonor lain itu tidaklah mudah. Ia harus berkunjung ke setiap negara demi mencari data pemilik golongan darah istimewa itu. Dan itu tidak ada waktu, pasiennya butuh pendonor sekarang.
“Katakan brengsek! Ada apa?!” sentak Sean yang mulai kesal yang sedari tadi hanya di pandangi oleh dokter Edwin.
Selain seorang cassanova dan pemabuk, Sean juga pemuda yang tak memiliki rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Ini akibat didikan orang tuanya yang terlalu memanjakan seorang Sean.
“Tuan..tuan muda, maaf sebelumnya. Ada pasien saya yang memiliki darah langka yang sama seperti tuan muda. Apakah tuan muda Sean berkenan mendonorkan darah anda untuk pasien saya? Keluarganya bersedia membayar mahal atas kebaikan tuan Sean,” jelas dokter Edwin yang sedikit gugup akan tatapan dari mata elang milik Sean.
**Bersambung...
Apakah Sean bersedia mendonorkan darahnya untuk Gaby?
Tinggalkan komentar kalian ya reders, biar otor semangat lagi. (◍•ᴗ•◍)❤**
__ADS_1