
Setelah berhasil menyakinkan Gaby, Ello memutuskan untuk mengantar wanita itu pulang ke apartemennya kembali. Karena malam semakin larut, dan udara malam yang dingin begitu menusuk tulang. Sementara Ello tahu, itu tidak baik bagi ibu hamil muda seperti Gaby.
“Pakailah, setelah ini aku mengantarmu pulang ya.” Ucap Ello sambil mengalungkan jasnya yang ternyata nampak kebesaram ke dalam tubuh Gaby.
Gaby pun mengangguk sebagai tanda ucapan mengiyakan ucapan Ello.
“Ello,” panggil Gaby saat pemuda itu hendak beranjak dari kursinya.
“Iya?”
“Terima kasih.”
Senyum mengembang dari wajah cantik Gaby. Pipinya yang memang sudah chubby, membuat bongkahan pipi itu semakin menggemaskan saat ia tersenyum merekah. Membuat Ello dalam hati ingin sekali menggigit bongkahan menggemaskan itu. Namun ia justru melemparkan pandangannya ke arah lain.
“Sama-sama Gaby. Seharusnya, aku yang harus bilang terima kasih kepadamu. Karena kamu sudah mau menerima kehadiranku,” balas Ello.
“Tidak! Seharusnya aku yang bilang terima kasih. Karenamu, aku merasa percaya diri kembali. Sebelumnya kamu sudah tahu seperti apa aku, ya begitu deh mencintai suami kakak sendiri yang sudah menjadi kakak iparku. Itu sangat terdengar konyol!” Gaby pun tergelak akan ucapannya sendiri.
“Bukan hanya kamu saja, aku pun sama. Pernah menyukai istri orang.”
“Jadi? Sampai sekarang bagaimana? Apa kamu masih menyimpan perasaan itu untuk kakakku? Jika itu masih, lebih baik kita sudahi saja hubungan ini,” tegas Gaby.
“Hei! Jangan lah! Kita baru saja memulainya. Di hatiku sudah ada nama wanita lain. Untuk apa memikirkan istri orang lagi,” sanggah Ello.
“Gaby, semua itu hanya masa lalu. Perasaan bisa berubah sewaktu-waktu. Aku berjanji akan membuatmu menghapus nama Galih di hatimu, dan aku juga akan menjadikanmu satu-satunya wanita dalam hidupku,” yakin Ello kepada Gaby sambil menggenggam kedua telapak tangan gadis itu.
“Baik lah, aku pegang ucapanmu Ello.”
“Gadis pintar!” Ello pun mengacak puncak surai Gaby dengan gemas.
“Hei.. Aku bukan gadis lagi!” protes Gaby kemudian.
“Benarkah? Kalau begitu bumil pintar!” Ello mengacak puncak surai Gaby lagi hingga membuat Gaby kesal.
“Ello! Hentikan!”
“Okay...okay, sudah malam ayo kita pulang ya.”
__ADS_1
Gaby kembali mengangguk, lalu langkahnya mengikuti Ello yang kini menggiringnya menuju ke mobil pemuda itu.
*
*
Sepanjang di dalam mobil, baik Gaby mau pun Ello saling berdiam diri karena canggung. Hingga tanpa sadar, merek saling memanggil nama bersamaan.
“Ello.”
“Gaby.”
“Ah...lebih baik kamu saja El,” tunjuk Gaby kearah Ello.
“Jadi, hubungan kita sekarang apa?” tanya Ello hati-hati sambil sesekali memperhatikan kearah jalan yang ada di depannya.
“Ya begitu,” jawab Gaby ambigu.
“Begitu?”
“Ya gimana sih kalau, orang sudah di tembak terus di terima selanjutnya ngapain sih ah!”
“Hahaa..iya..iya, jangan ngambek gitu ih. Gemes tahu,” goda Ello.
“Kalau gemes ya gigit!” ketus Gaby.
“Beneran?”
Tanpa aba-aba Ello pun memiringkan tubuhnya dan bersiap untuk menggigit bongkahan pipi Gaby yang nampak menggemaskan.
Gaby yang tidak menyadari akan gerakan Ello yng tiba-tiba sudah berada di dekatnya pun, hanya memejam kan mata tanpa bisa menghindar.
Lalu sebuah sapuan lembut mendarat cepat pada bongkahan pipi chubby gadis itu.
Cup!
Kecupan singkat dari Ello seketika membuat wajah Gaby merona bagaikan buah chery yang masak. Meski singkat, namun Ello berhasil melakukannya dengan lembut dan penuh perasaan. Hingga membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
__ADS_1
“Aku akan menggigitnya jika nanti hubungan kita sudah sah, jadi jangan ngarep ya,” goda Ello lagi.
“Ih..siapa juga yang ngarep, situ kali yang ngarep wew..”
Bukannya marah, Gaby malah senyum-senyum seperti orang yang tengah jatuh cinta. Ya mungkin Gaby tengah merasakan indahnya bunga sakura yang baru mekar di hatinya. Siapa lagi kalau bukan dengan Ello, ayah dari jabang bayi yang ia kandung saat ini.
“Besok, kita periksa ke dokter ya. Aku ingin lihat perkembangannya,” pinta Ello kepad Gaby.
“Iya.” Sahut Gaby sambil memperhatikan kearah luar dari kaca mobilnya.
“Loh El, dari tadi kita berenti ya? Kok aku nggak ngerasa ya?” Gaby menggaruk-garuk hidungnya yang tidak gatal.
“Iya, masa sih nggak ngerasa?” goda Ello.
“Huft! El..aku haus nih beliin es yang itu ya,” rengek Gaby sambil menunjuk ke arah depot jajanan yang ada di seberang jalan dekat sebuah hotel.
“Baiklah, tunggu sebentarnya. Kamu di sini saja jangan kemana-kemana, terus jangan lupa kunci mobilnya. Takut kenapa-kenapa,” pesan Ello.
“Siapp!”
Sebelum keluar mobil, Ello pun menyempatkan diri mengacak puncak surai sang wanitanya. Dan membuat Gaby mengerucutkan bibirnya beberapa senti.
“Ello! Yang full cream!” teriak Gaby kearah Ello. Dan Ello pun membalas dua jempol kearah sang wanitanya.
Saat Ello tengah membeli es yang mirip sekali dengan es boba pesanan Gaby, tiba-tiba netranya menangkap bayangan seseorang yang sangat ia kenal.
Rahang Ello pun mengeras dan gigi pemuda itu saling menggerutuk menahan amarah yang bergejolak. Saat melihat dua sejoli tengah bergandengan tangan dengan manja. Dan Ello pun memutuskan untuk mengikuti dua sejoli tidak tahu malu itu.
“Mas, saya nitip pesanan saya di sini dulu ya. Saya ada perlu sebentar, ini saya bayar. Sisanya buat ongkos jagain.”
“Wahh, mas ini mah kebanyakan. Tapi terima kasih,” balas si penjual es.
“Sama-sama.”
Ello pun segera bergegas mengejar dua sejoli itu. Langkah pemuda beralis tebal itu semakin di perlebar seiring pandangannya yang hampir kehilangan jejak dua sejoli beda generasi itu.
Kira-kira siapa yang sedang Ello kejar? Jangan lupa tinggalkan jejak petilasan kalian ya..
__ADS_1
Hihi..🤭😆