Cinta Untuk Gaby

Cinta Untuk Gaby
Sah


__ADS_3

Untuk beberapa saat usai suara tembakan memekakkan telinga itu, terdengar dengungan-degungan yang menulikan indera pendengaran bagi siapa saja yang mendengarkan.m bunyi letusan senjata api itu. Hingga sebuah suara menyadarkan pria itu.


“Sean! Sean! Bangunlah Sean!” teriak suara itu.


Gung....ngung...Byuuur!


Sayup-sayup terdengar suara deburan ombak dari jauh. Lama kelamaan suara itu mulai mendekat, hingga sangat terdengar jelas oleh daun telinga. Pria yang sempat pingsan itu pun membuka kelopak matanya.


“Syukurlah kau sadar Sean! Aku sangat mengkhawatirkanmu. Lukamu cukup serius. Tembakannya mengenai pembuluh darahmu hingga kau kehabisan banyak darah. Bertahanlah, sebentar lagi petugas kesehatan angkatan laut akan datang. Mereka berada 2 kilo meter dari tempat kita.”


“El dimana wanita gila itu?” tanya Sean lemah.


“Dia sudah mati.”


“Apa?! Mati!” pekik Sean.


“Iya, memangnya kenapa? Apa kau sedih di tinggal teman ranjangmu itu?”


“Sialan! Bukan itu maksudku, bukankah kau bilang jangan sampai membunuhnya? Tahu begitu dari awal ku bunuh saja wanita jal*ng itu. Dan aku tidak perlu korban kaki seperti ini!” sungut Sean kesal.


“Kukira Gloria nggak bakal senekat itu Sean. Maaf..Kamu tenang saja Sean, aku akan mengusahakan kesembuhanmu hingga benar-benar sembuh total seperti sedia kala.”


“Terserahmu lah, aku hanya ingin tidur.”

__ADS_1


“Sean! Sean! Jangan tidur lagi!”


“Berisik kau! Biarkan aku memejamkan mataku sebentar, aku sangat lelah.”


Sebelum Sean benar-benar memejamkan matanya, ia melirik sekilas Ello yang berlari dan memeluk tubuh wanita cantik itu. Tercentak jelas rona bahagia dari bingkai wajah keduanya. Seperti itukah gambaran kebahagiaan di mata Sean. Rasa-rasanya ia begitu iri dengan Ello, bisa memiliki wanita yang bisa ia mencintainya sepenuh hati.


“Sepertinya aku harus mencari wanita lain yang bisa menggetarkan hatiku ini selain Gaby,” lirih Sean seraya tersenyum.


*


*


Seminggu setelah kejadian itu..


Baik keluarga Ello mau pun keluarga Gaby berkumpul di mansion keluarga Ello. Ternyata ada sebuah acara sakral yang tengah berlangsung. Tak banyak yang hadir, karena hanya keluarga inti yang di undang di acara penuh kidmat itu.


Dari pengeras suara, terdengar suara seorang penghulu yang sengaja di datangkan dari Indonesia ke Singapura untuk membacakan kalimat sakral untuk pasangan calon pengantin yang sebentar lagi akan menikah. Dan dengan tegas sang pengantin pria pun menjawabnya, dengan jelas dan lantang tanpa ada satu pun yang salah.


“Saya terima nikah dan kawinnya. Gaby Martin binti Martin dengan mas kawin berlian seberat 20 gram di bayar tunai!”


“Bagaimana para saksi?”


“Sah!”

__ADS_1


“Sah! Alhamdulillah.”


Semua yang hadir pun ikut bahagia menatap kedua pasangan pengantin baru itu yang masih malu-malu mau. Gaby yang hanya tersenyum malu, sedangkan Ello nampak seperti anak kecil yang baru saja dapat permen kesukaanya.


Pria beralis tebal itu nampak terlonjak kegirangan. Dengan konyolnya, Ello menaiki meja lalu mengambil micropone untuk menyuarakan kebahagiaannya.


“Yes! Aku nikah permisa! Aku sudah menikah!” teriak Ello dengan riangnya.


Terdengar gelak tawa di seluruh ruangan itu. Siapa yang tak bahagia, setelah melalui proses yang rumit dan di penuhi drama yang alot. Serta Kenangan yang lumayan pahit. Akhirnya Gracello Sanders bisa menikahi Gaby Martin.


“Ello! Sudah turun! Malu tahu ih!” rengek Gaby sambil menahan malu. Wajahnya yang cantik,putih mulus, nampak merona membuat gadis yang bukan gadis lagi itu semakin cantik.


Dari seberang nampak seseorang tengah menatap kebahagiaan itu dengan tersenyum. Pria itu duduk di kursi roda sambil meminum wine yang sudah tersedia.


“Dasar alis sichan! Memalukan sekali!” lirihnya. Pria itu pun meneguk wine-nya kembali hingga tandas.


“Leo, antar aku ke bar seperti biasa. Rasanya dada ini begitu sesak melihat pasangan pengantin baru itu,” celoteh pria itu ke anak buahnya yang baru.


“Baik tuan!hmmm.. Apakah tuan ingin menikah seperti tuan Ello?” tanya Leo dengan berani.


“Bagiku semua rasa wanita itu sama Le, aku belum bisa menemukan wanita yang bisa benar-benar bisa menggetarkanku. Sudahlah jangan banyak bertanya, jalankan saja apa yang aku perintahkan!”


“Baik tuan.”

__ADS_1


Pria muda bernama Leo itu mendorong kursi roda tuannya meninggalkan mansion keluarga Sanders. Sesuai permintaan tuannya, Leo membawa tuannya ke sebuah bar ternama di kota itu.


Bersambung..


__ADS_2