
“Eh..berhenti! Berhenti! Itu dia pacarku!” seru Gaby begitu ia melihat punggung Galih dari kejauhan.
Ello pun menghentikan aksi mendorong kursi roda Gaby. Dan menatap kearah yang gadis itu maksud.
Itukan Ganes dan juga Galih? Apa maksud Gaby, bilang pria itu pacarnya? Bukannya, terakhir yang gue denger dia itu baru saja menikah dengan Ganes?
Ello merupakan sahabat lama Ganes dan cukup mengenal siapa Galih. Ganes dan Ello sudah bersahabat semenjak duduk di bangku sekolah dan harus berpisah karena Ello yang melanjutkan kuliah ke luar negeri.
Dan baru kemarin pemuda itu pindah tugas di rumah sakit yang ada di kampung halamannya.
“Kak Galih!” teriak Gaby yang seketika mengalihkan kedua anak adam dan hawa yang terlibat obrolan serius.
“Gaby! Mas Gaby mas...mas Galih jangan dekat-dekat seperti ini nanti Gaby bisa curiga!” ujar Ganes dengan panik.
Ganes dan Galih pun dengan cepat mengubah posisi duduk dan membuat jarak diantara mereka berdua. Kedua pasangan suami istri itu tampak merasa salah tingkah seperti tengah kepergok selingkuh oleh Gaby, padahal mereka adalah pasangan sebenarnya yang sudah sah secara agama dan hukum negara.
“Hei! Cepat antar aku ke pacarku jangan bengong aja!” titah Gaby dengan ketus kearah Ello.
“Ah! Baiklah tuan putri, hamba akan laksanakan perintah tuan putri,” balas Ello dengan sedikit merundukkan badannya seolah menganggap Gaby itu seorang tuan putri sungguhan.
“Cckk! Lebay banget sih!” gerutu Gaby lirih namun masih terdengar di telinga Ello. Dan Ello pun hanya menanggapi gerutuan Gaby dengan senyuman.
“Kak Galih!” teriak Gaby lagi.
“Ayo dong yang cepat Mr. Cupid, kerahkan seluruh tenagamu! Masa dorong gini aja susah!”
__ADS_1
“Hei! Kau lihat, jalanan ini menanjak. Dan asal kamu tahu saja ya, kamu itu berat!” ujar Ello keceplosan dan reflek menutup mulutnya dengan sebelah tangan saat sudah berhasil melewati jalan menanjak itu.
“Apa kau bilang?! Aku berat!” Hidung Gaby sudah kembang kempis bagaikan banteng yang siap bertarung. Jika saja gadis itu sedang tidak sakit, pasti ia akan berlari untuk menerkam Ello yang mulutnya bagaikan knalpot bocor.
Ello sendiri hampir lupa, perempuan itu terlalu sensitif jika sudah di singgung masalah berat badan. Mau gadis, ibu muda sampai ibu-ibu yang sudah jadi nenek pun masih suka sensitif.
“Maaf, tuan putri hamba mengaku salah,” ujar Ello masih dengan gaya konyolnya memperlakukan Gaby seperti putri.
“Haissh!.. Sudahlah, ayo kita samperin kak Galih dan juga siapa ya wanita itu?” gumam Gaby sambil mencermati wanita yang tertutupi oleh bahu Galih yang bidang.
Ello tampak mengeryitkan dahinya, bagaimana bisa Gaby melupakan kakak kandungnya sendiri. Dari balik pungging Galih saja, Ello bisa melihat jika itu Ganes sahabatnya dulu. Oiya...lupa, Ello kan berdiri sedangkan Gaby duduk di kursi roda 🤭
“Kak Galih malah disini, kak Galih nggak jadi ke toiletnya?” tanya Gaby seraya menatap kearah Ganes dan Galih bergantian.
Yang di tatap oleh Gaby pun jadi merasa salah tingkah, padahal pertemuan mereka memang tidak salah. Hanya momentnya yang kurang pas, sedangkan mereka saat ini sedang berpura-pura tak punya hubungan demi mengembalikan ingatan Gaby.
“Ganes, Galih apakabar?” sapa Ello dengan tersenyum.
“Ello! Kamu kapan balik?” seru balik Ganes yang baru sadar jika pria yang mendorong kursi roda adiknya adalah Ello sahabat lamanya.
Ganes pun meringsekkan tubuh rampingnya ke dalam pelukan Ello yang sudah sangat lama tidak bertemu.
“Baru kemarin.”
“Aku kangen sama kamu El!” gumam Ganes yang benar-benar merasa rindu dengan sahabat lamanya itu.
__ADS_1
Melihat itu Galih pun bermuka masam. Galih pun tak menyahuti sapaan Ello, bukan karena tak kenal hanya saja pemuda itu tak menyukai akan kehadiran Ello yang merupakan sahabat sang istri. Orang yang dulu sulit membuat Ganes melihat kearahnya.
Dengan posesif Galih pun menarik pinggang sang istri yang memeluk tubuh Ello. Menariknya menjauh dari pria yang ia anggap sebagai rival beratnya.
“Ops! Ada yang marah ini, oke Nes. Kamu perlu jelasin sama aku. Karena sepertinya ada yang tidak aku mengerti disini?” ungkap Ello yang sedari tadi ingin sekali menanyakan perihal Gaby yang sama sekali tak mengingatnya. Ello pun menatap kearah Gaby dan menatap kembali kearah Ganes.
Galih mengetatkan rahangnya mendengar kalimat sindiran dari Ello yang mulutnya emang lemes.
Sedangkan Gaby sedari tadi memperhatikan interaksi seorang wanita yang mengaku kakaknya dan pria berpakaian serba putih itu.
“Kak Galih! Temani Gaby ke kamar kak, kepala Gaby pusing!” pinta Gaby sedikit merengek.
Padahal Galih sedang mode siaga, karena kedatangan Ello yang tiba-tiba kembali ke kehidupannya. Galih takut, jika perhatian Ganes akan teralihkan oleh pemuda itu. Mengingat bagaimana Ganes begitu menyayangi sahabat laki-lakinya itu.
Tentu saja Galih tidak ingin beranjak, ia ingin menjaga istrinya dari para pebinor yang ingin mendekati istrinya termasuk dari Ello sahabat istrinya sendiri.
Tapi Galih terlanjur sudah terjerat perjanjian hubungan palsu dengan Gaby demi mengembalikan ingatan gadis itu. Mau tak mau Galih menurutinya.
“Baiklah! Kakak antar kamu istirahat di kamar inapmu,” balas Galih tanpa semangat.
“Lebih baik kita mengantar Gaby ke kamarnya El, nanti aku jelasin di sana,” ajak Ganes yang bisa menangkap aura kemarahan dari sang suami.
Tapi mau gimana lagi, Ganes memang merindukan sahabatnya itu. Dan hampir melupakan keberadaan suaminya Galih.
Kini Ganes dan juga Ello mengikuti Galih yang mendorong kursi roda Gaby dari belakang menuju kamar inap gadis itu.
__ADS_1
To be continue....