Cinta Untuk Gaby

Cinta Untuk Gaby
Mencari Gaby


__ADS_3

“Tidak salah lagi, aku mengenal siapa wanita itu,” gumam Sean dengan yakin.


“Siapa wanita yang kamu maksud itu Sean? Cepat beritahu aku!” desak Ello tak sabaran.


“Sabarlah!” tukas Sean seraya memainkan benda persegi miliknya lalu melakukan gerakan seperti tengah memanggil seseorang.


Sean memang sedang melakukan panggilan pada seseorang yang di kenalnya. Namun panggilan itu nampak tidak tersambung. Sehingga membuat Sean merasa geram.


“Sial! Sepertinya memang jal*ng itu yang melakukakannya! Buktinya nomor ponselnya sudah tidak aktif!”


“Apa maksudmu Sean? Nomor siapa yang sudah tidak aktif?! Tolong bicaralah secara gamblang!” pinta Ello.


Sean memijat pelipisnya untuk menghilangkan rasa penat pada area kepalanya. Ya berbicara dengan Ello yang sedikit loading lama menurut Sean memang harus lebih mempunyai kesabaran extra.


“Gloria, wanita itu Gloria El.”


“Apa?! Gloria kau bilang?” pekik Ello setengah tak percaya.


“Apa kau yakin? Bagaimana bisa kau mengenal wanita itu padahal wanita memakai masker dengan riasan yang berbeda?” sanggah Ello yang belum percaya akan ucapan Sean.


Sean pun nampak terkekeh sambil melemparkan tatapan dengan raut wajah mengejek ke arah Ello. Ello memang kekasih Gloria, namun Ello tak mengenal sepenuhnya siapa Gloria itu sebenarnya.

__ADS_1


“Kau ini mantannya tapi kau tak mengenal sepenuhnya siapa Gloria. Dasar bod*h! Gloria itu gundik-ku tentu saja aku tahu. Setiap lekuk tubuh wanita itu, aku mengenalnya . Bahkan tatoo di bawah telinganya pun, aku sangat hafal,” tutur Sean dengan pongah.


Ello pun mencibir, tentu saja ia hampir lupa bahwa Sean itu termasuk selingkuhan Gloria. Pria cassanova seperti Sean pasti sudah pernah mencicipi tubuh mantan kekasihnya itu. Ello pun menjadi kesal kembali jika mengingatnya, bagaimana tidak? Gloria berselingkuh bersama Sean di saat mereka masih menjadi sepasang kekasih.


“Jadi cassanova aja bangga, lebih hebat lagi aku yang hanya meniduri satu wanita selama hidupku yaitu Gaby tidak sepertimu air bekas cucian pun kau minum,” balas Ello setengah mengejek.


Beruntung Ello tidak tergoda setiap bujuk rayu Gloria kala itu, jika sampai itu terjadi berarti ia tidak beda jauh dengan pria-pria bejat lainnya. Seperti halnya sang ayah dan juga Sean.


Deretan pria yang sudah pernah memetik manisnya sang mantan kekasih. Ello sendiri tak habis fikir, bagaimana bisa Gloria mengencani lebih dari satu wanita dalam satu waktu? Seolah wanita itu tidak puas jika hanya berkencan dengan satu pria saja dalam hidupnya.


“Kau menghinaku? Cassanova adalah jalan hidupku!Bisa meniduri banyak wanita itu tandanya aku perkasa. Tidak usah kau banggakan kehidupan jonesmu itu El! Menyedihkan!” cibir Sean balik.


“Maaf tuan Sean dan juga tuan muda Ello menyela waktunya sebentar, lalu habis ini apa yang akan kita lakukan selanjutnya tuan?” sela Jay yang berusaha melerai perdebatan tak berarti antara Ello dengan Sean.


“Ikut aku! Aku tahu dimana wanita jal*ng itu berada!” instruksi Sean kepada Jay dan anak buahnya.


Sean berlalu lebih dulu mendahului Ello yang masih tak terima akan ucapan Sean. Ya kini kedua calon penerus keluarga besar itu nampak seperti anak kecil. Saling mencemooh kelemahan satu satu sama lain.


“Hei! Jay adalah asistenku, kenapa kau memerintahnya juga?!” protes Ello.


“Diamlah alis Sichan! Pilih ikut kami atau tidur saja di rumah sambil nangis-nangis,”sahut Sean.

__ADS_1


“Sialan!”


Lalu kedua pria tampan dengan karakter masing-masing itu mulai mencari jejak penculikan Gaby. Tentu saja Ello menurut dan mengikuti saran dari Sean, karena pria itu tahu dimana kini Gloria membawa Gaby pergi.


Di tempat lain.


Panas matahari nampak sangat terik. Namun semilir angin nampak membelai lembut kulit seseorang. Samar-samar terdengar deburan ombak saling bersahutan. Sepertinya kini ia tengah berada di tepi laut atau bahkan di tengah lautan.


“Hah! Hah!”


Gaby memaksa membelalakan kedua kelopak matanya, saat sadar kini ia tidak lagi berada di rumah sakit. Sebelumnya, saat Ello sudah pergi Gaby sadar dari pingsan dan mendapati diri berada di ruangan rumah sakit. Tidak ada satu pun keluarganya yang hadir. Dan Gaby baru mengingat, jika keluarganya masih di sekap oleh Sean.


Ingin menghubungi seseorang, namun tidak ada pesawat telepon di dalam ruangan itu. Gaby jadi bingung harus bagaimana. Lalu tiba-tiba saja, seorang suster masuk. Kata suster itu, waktunya ia mengganti infus injeksi miliknya.


Kemudian suster itu pun nampak menyuntikkan sesuatu ke dalam kantong infus milik Gaby. Anehnya setelah menyuntikkan itu sang suster tidak langsung pergi, ia justru menatap Gaby dengan tatapan kosong seolah menunggunya mati. Dan benar saja, lambat laun kelopak matanya terasa berat. Kantuk mulai menyerang secara tiba-tiba, Gaby pun tak tahu apa yang tengah terjadi sebenarnya. Yang jelas kini saat ia terbangun sudah berada di tengah lautan di sebuah kapal.


“Eng...di mana aku?” lirih Gaby sambil menahan rasa nyeri di kepala serta seluruh badannya.


“Kau sudah bangun nona kecil?”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2