
Seorang pemuda berkacamata tebal dengan pakaian serba putih kebesarannya tengah berhadapan dengan direktur dan wakil direktur di sebuah rumah sakit umum.
“Mister yakin akan memperkerjakan si culun, eh maksud saya dia untuk bagian divisi baru kita bagian pelayanan anak dan ibu hamil menggantikan Ningrum yang sedang cuti hamil?” tunjuk wakil kepala direktur rumah sakit kearah pemuda berkacamata itu.
“Saya yakin pak wakil, karena saya sendiri sudah melihat bagaimana kinerja maaf tadi nama ananda siapa?” tanya mister Direktur yang ternyata lupa dengan nama calon karyawan barunya.
Kepala Direktur Rumah Sakit itu merupakan teman baik daripada Tuan Mahesa. Tentu saja ia sudah tahu siapa sebenarnya dokter muda yang ada di hapadannya saat ini. Karena sebelumnya tuan Mahesa sudah menjelaskan semuanya secara detail.
“Emon mister.”
“Oke Emon, kamu bisa ikut pak wakil ini. Pak wakil akan menunjukkan dimana ruangan bekerjamu nanti.”
“Baik mister, Terima kasih bantuannya.”
Mister Direktur pun mengangguk mengiyakan. Lalu mister direktur berlalu dari hadapan Emon. Kini di ruangan itu tinggallah Emon dan wakil direktur rumah sakit.
“Sekarang ikut aku, Emon! Akan ku tunjukkan dimana ruanganmu,” tegas pak wakil dengan nada seperti tengah menahan geli setiap mengucapkan kata 'Emon’ di mulutnya.
Bagaimana tidak geli, dokter muda di hadapannya nampak berpenampilan sangat culun. Rambut klimis belah tengah, kaca mata kuda super tebal yang entah minus berapa. Gigi dan bibir yang hampir balapan. Orang biasa menyebutnya dengan 'Bimoli' (Bibir monyong lima senti). Serta tompel yang tertancapkan satu bulu. Entah bulu apa itu. Yang jelas penampilan dokter muda itu nampak kampungan di mata wakil direktur rumah sakit.
“Baik pak wakil direktur.”
Pemuda bernama Emon itu berjalan mengekori dari belakang bapak wakil rumah sakit yang berjalan lebih dulu di depannya. Langkahnya nampak menelusuri sekitar tempat itu.
Ruang-ruangan serta tatanan desain rumah sakit banyak yang sudah berubah dari terakhir ia memasuki tempat itu saat menjenguk Gaby kala kekasihnya itu mengalami koma.
Ya Emon atau lebih tepatnya Ello, mulai hari ini resmi menjalankan pekerjaanya yang sempat vakum beberapa waktu lalu. Beruntung, Ello membekali STR (Surat Tanda Registrasi) berkat lisensi yang di berikan oleh mister Direktur, yang merupakan teman daripada kakek Ello Tuan Mahesa.
__ADS_1
Dan kini ia di tempatkan di divisi baru bagian pelayanan anak dan ibu hamil. Baginya tidaklah sulit menjalani bidang barunya itu, karena Emon/Ello sebenarnya menyukai anak kecil dan Ello sudah mengantongi STR sebagai syarat untuk menjalani praktik.
“Ini ruanganmu Emon, aku harap kamu bisa bekerja dengan sungguh-sungguh karena kinerjamu menyakut nama baik rumah sakit besar ini,” ucap wakil direktur dengan pongah seolah-olah rumah sakit itu miliknya seorang.
“Baik pak wakil direktur, saya sudah tahu apa yang harus saya lakukan. Terima kasih untuk waktunya,” ucap Emon berterima kasih meski wakil rumah sakit tersebut tidak menanggapi dan pergi begitu saja.
Emon pun menghela nafasny pelan. Apakah penampilannya nampak meragukan? Karena sepertinya wakil direktur tadi nampak sekali meremehkan kinerjanya.
“Sepertinya kamu meragukanku wakil direktur? Kita lihat saja nanti, apa saja yang bisa aku lakukan nanti,” gumam Emon setelah kepergian wakil direktur.
Emon pun mulai menata perlengkapan kedokterannya di atas meja. Meja yang tidak begitu luas seperti di tempat praktik pribadinya, namun masih mampu menampung barang-barang yang ia butuhkan. Seperti, dokumen, journal, tempat atk, stetoskop serta kalendar meja yang sudah ada di tempatnya.
Emon pun mulai mempelajari beberapa dokumen dari dokter sebelumnya. Dan kebetulan sekali, ia menemukan data daripada Gaby. Dengan gembira Emon membacanya.
“Kontrol selanjutnya hari senin tanggal 1 agustus....berarti hari ini ya kan?!” seru Emon bagaikan orang yang baru saja menang togel.
Tak lama terdengar pintu di ketuk.
Tok! Tok!
“Masuk!” seru Emon dari dalam.
Dan masuklah seorang gadis belia ke dalam ruangan Emon.
“Dengan dokter Emon? Perkenalkan saya Miwon asisten baru anda dok,” ungkap sang gadis dengan penuh percaya diri.
Emon pun hanya melongo mendengarkan sang gadis memperkenalkan diri di hadapannya. Bukannya terpana, melainkan gagal fokus karena nama sang gadis lebih absur lagi daripada dirinya.
__ADS_1
“Kamu temannya Sasa? Masako apa Royco?” celetuk Emon asal.
“Eh...emang dokter kira saya ini teman micin apa! Nama saya tu Miwon Saori. Nama terlangka sepanjang zaman hehe..," tutur Miwon dengan riang menjelaskan nama panjangnya.
“Fix! Aku yakin kamu temannya Sasa apa Bio! Ya sudah, siapa pun kamu saya tidak peduli tolong bantu saya jadwalkan pasien yang harus saya tangani hari ini. Mengerti?”
“Oke, siap dokter Emon!"
Miwon termasuk perawat baru yang juga baru saja menggantikan perawat lainnya yang pindah divisi.
“Namanya lucu Emon, selucu wajahnya,” gumam Miwon sambil cekikikan.
Emon yang mendengarnya pun hanya memasang wajah masam. Maklum asisten barunya itu sepertinya masih bocah ingusan.
Sesuai permintaan dokter Emon, Miwon pun mendata seluruh pasien yang sudah di jadwalkan oleh dokter sebelumnya. Satu persatu pasien masuk dan langsung di tangani oleh dokter Emon alias Ello.
Sesuai divisi yang Emon isi, kebanyakan pasien adalan anak-anak dan ibu hamil. Kini tibalah giliran sebuah nama yang mampu membuat hati Emon berdebar-debar.
“Nyonya Gaby, silahkan masuk!” panggil Miwon.
“Yang lain sabar dulu ya pak buk, ngopi-ngopi dulu juga nggak papa."
Dan kini dokter Emon lah yang merasa panas dingin. Sudah sangat lama ia tak menjumpai Gaby dengan jarak sedekat ini. Bahkan baru berdiri di ambang pintu saja, Ello/Emon sudah mambu mencium harum sakura dan bayi bercampur jadi satu.
Jantung Emon berdetak semakin tak karuhan saat Gaby mulai duduk di hadapannya.
“Gaby.”
__ADS_1
Bersambung..