Cinta Untuk Gaby

Cinta Untuk Gaby
Rasa Kecewa Galih


__ADS_3

“Sebentar, kak Galih! Apa kakak sudah lama mengenal keluargaku? Lihat foto kaka ada disini!” seru Gaby begitu mendapati bayangan Galih ada pada bingkai foto keluarganya.


“Sebenarnya mereka ini keluarga kak Galih, atau keluarga Gaby sih? Masa di foto ini tidak ada muka Gaby?” ujar Gaby dengan gamblang sambil membolak balik bingkai foto yang terletak pada ruang keluarga yang menuju kearah kamarnya.


Ya dalam foto itu terdapat Galih dan juga Ganes yang nampak tersenyum bahagia beserta kedua orang tua Gaby. Foto itu diambil saat Ganes dan Galih melangsungkan lamaran, dan kala itu Gaby memilih pergi dari rumah.


Dengan cepat Ganes mengambil alih bingkai foto yang terlewatkan olehnya itu dan menyembunyikan ke dalam laci lemari pajangan lalu menguncinya.


“Oh! Ini waktu acara syukuran kelulusan kakak By.Waktu itu kamu sedang liburan di rumah bibi. Masa kamu tak ingat? Galih dan kakak kan sudah berteman semenjak sekolah menengah,” kilah Ganes dengan kebohongannya.


Maafkan kakak Gaby, kakak terpaksa membohongimu terus menerus.


Seperti halnya hutang, bukan hanya hutang yang bisa beranak pinakan kebohongan pun juga sama. Dimana kita menanam suatu kebohongan, maka akan lahir kebohongan yang lainnya.


Ganes pun melirik kearah Galih dan kedua orang tuanya untuk meminta bantuan menyakinkan adiknya Gaby.


“Ah..iya Nes, foto itu sudah lama sekali waktu kakakmu lulus beberapa tahun silam iya kan buk?” sahut pak Martin turut meminta bantuan sang istri.


“Iya ayah dan kakakmu Ganes benar Gaby. Iya kan Galih? Galih juga sudah ayah ibu anggap seperti anak sendiri,” seloroh bu Murni sambil tertawa kikuk.

__ADS_1


“Hem...baiklah, Gaby percaya. Tuh kan kak, calon mertuamu sudah memberi kita lampu ijo? Jadi kapan kakak akan menikahi Gaby?” tanya Gaby yang seketika membuat lutut semua orang yang ada di dekatnya melemas.


Apalagi Ganes, wajahnya sudah pucat pasi mendengar Gaby sang adik meminta suaminya Galih untuk menikahi gadis itu.


“Tidak!!” teriak Ganes.


Gaby pun mengernyitkan dahinya bingung. Kenapa ia dan Galih tidak boleh menikah? Sedangkan Gaby dan Galih itu kan sepasang kekasih.


“Kenapa tidak?”


“Karena...karena kamu masih terlalu kecil untuk membina rumah tangga Gab, kamu harus banyak belajar,” tutur Ganes gugup.


“Haha! Kakak lucu, memang kakak sudah menikah?” serang balik Gaby.


“Oh...Be...lum.” jawab Ganes terbata. Karena untuk saat ini ia tidak mungkin membuka hubungannya bersama Galih di depan Gaby, karena Gaby belum ingat seluruhnya.


Galih hanya menatap kecewa kearah sang istri. Pemuda itu harap, istrinya Ganes segera berkata jujur tentang hubungan mereka.


Galih sudah tidak tahan untuk terus berpura-pura. Apalagi kini rival beratnya kembali lagi ke dalam hubungan mereka. Galih tak rela laki-laki beralis angri bird itu mencuri kesempatan dengan sang istri.

__ADS_1


“Om...tante, Galih pulang dulu ya. Karena ada sesuatu yang ingin Galih kerjakan,” pamit Galih kepada kedua orang tua Gaby dan Ganes.


“Kak Galih! Sun dulu!” pinta Gaby dengan manja.


Sedangkan Ganes dan kedua orang tuanya hanya terperangah melihat keberanian Gaby. Galih pun jadi tidak enak hati dengan istri dan juga kedua mertuanya.


“Kakak belum sikat gigi, kapan-kapan saja ya.” ucap Galih terdengar ambigu.


Ganes pun semakin melotot mendengar respon suaminya. Apa maksudnya minta sun terus belum sikat gigi? Oh...tidak!


“Yah, buk Ganes keluar dulu ya. Mau cari angin dulu, Gaby kakak tinggal dulu ya. Baik-baik di rumah,” pamit Ganes yang ingin segera menyusul sang suami yang sudah melenggang lebih dulu menuju mobil pemuda itu.


”Hati-hati di jalan Ya Nes."


Hanya itu yang bu Murni bisa ucapkan. Karena bu Murni tak ingin berbicara lebih takut keceplosan soal status Ganes dan Galih yang sudah menikah.


“Yah, Buk mereka itu kenapa sih kompak banget. Sekali pergi pergi semua, kayak tinggal seatap aja,” seloroh Gaby yang menatap kepergian wanita yang mengaku kakaknya itu.


Mereka itu memang pasangan suami istri nak. Hanya demi mengembalikan ingatanmu. Mereka harus berpura-pura.

__ADS_1


“Lebih baik Gaby masuk ke kamar Gaby dulu ya, pasti Gaby suka sama desain kamar Gaby sekarang,” tutur Bu Murni mengalihkan rasa kecurigaan Gaby.


Gaby menuruti apa yang diarahkan wanita paruh baya itu. Mengubur dalam-dalam rasa curiga yang sempat muncul pada kakak dan juga kekasihnya.


__ADS_2