Cinta Untuk Gaby

Cinta Untuk Gaby
Serpihan ingatan


__ADS_3

“Apa menikah itu bisa membuat kita merasa bahagia?"


”Eh? Anu itu...”


Dokter Emon nampak salah tingkah dan tergagap. Bagaimana caranya menjelaskannya, sedangkan ia sendiri belum pernah menikah dan berumah tangga. Kalau ber‘anu’ iya, dan itu hanya dengan wanita yang ada di hadapannya saat ini.


“Dok, kenapa malah diam saja?!” tegur Gaby seketika membuyarkan lamunan dokter Emon.


“Eh..itu kalau soal itu maaf saya tidak tahu. Setahu saya menikah itu adalah ibadah kepada Tuhan. Dan menggabungkan dua perasaan yang berbeda juga tidaklah mudah. Memangnya kenapa?” tanya dokter Emon balik.


Gaby pun menghela nafas beratnya. Rasanya begitu sulit menceritakan suasana hati dan perasaannya saat ini kepada orang lain. Tapi itu harus Gaby lakukan, karena ia tidak bisa memendam rasa itu sendirian. Ia butuh nasihat untuk memutuskan tindakannya selanjutnya.


Karena dengan keluarganya pun tidak mungkin, apalagi hubungannya dengan sang kakak juga tidak baik. Itu karena kesalahannya di masa lalu. Gaby masih ingat betul bagaimana ia mencintai suami dari kakaknya sendiri.


Namun Gaby merasa perlu mengingat sepotong ingatan yang terhapus saat ini. Ia butuh seseorang untuk membantunya.


“Lusa kami akan menikah dok, tapi anehnya aku tak merasa bahagia. Aku merasa tak mengenal siapa calon suamiku kak Sean itu.”


Sean itu orang badj*ngan Gab, asal kamu tahu..


Timpal dokter Emon dalam hati. Tentu saja ucapan itu hanya tercetus dalam hati, jika tidak Gaby pasti akan tahu siapa dirinya sebenarnya.


“Apa kau mengenal pria ini?” sahut dokter Emon seraya mengulurkan sebuah foto berukuran 4R kepada Gaby.


“Ah! Saya ingat! Ini pria gila yang mengaku ayah dari anakku ini. Tapi kenapa dia bisa ada di foto bersamaku dok?” tanya Gaby keheranan.


“Mungkin dia puzzle ingatanmu yang sudah hilang.”


“Apa?! Itu tidak mungkin, lalu kenapa aku harus melupakannya? Dan kak Sean yang malah menjadi calon suamiku?” tanya Gaby bertubi-tubi.


Dokter Emon bingung untuk menjelaskannya. Pasalnya di peran ini ia hanya sebagai orang lain yang membantu Gaby mengingat serpihan ingatannya yang telah hilang.


“Namanya Gracello Sanders, panggilannya Ello. Ia adalah putra pewaris dari keluarga Sanders, seorang dokter dan pengusaha muda ternama di negeri ini,” ucap dokter Emon dengan pongah.


Pemuda itu hanya ingin menunjukkan kepada Gaby, bahwa Gracello Sanders bukanlah orang biasa. Ia adalah orang yang berpengaruh pula di negeri Singapore ini selain Sean Seanor.

__ADS_1


“Gracello Sanders...Gracello Sanders...Gracello Sanders, nama yang tidak asing lagi. Tapi kenapa aku tidak bisa mengingat begitu ..aaakkhh! Kepalaku!” rintih Gaby seraya memegangi kepalanya yang berdenyut.


“Gaby! Apa yang terjadi denganmu?!”


Dokter Emon begitu khawatir, pemuda itu nampak merogoh-rogoh isi tasnya untuk mencari sesuatu yang di butuhkan oleh Gaby.


Sial! Obat Gaby ketinggalan! Umpat dokter Emon di hati.


Di sela-sela rintihannya, Gaby mengigau mengucapkan nama Ello terus menerus.


“Ello...Ello...Ello.”


“Gaby! Jika kamu tidak bisa mengingatnya jangan di paksakan. Lupakan saja ucapanku tadi!” ucap dokter Emon dengan panik.


Namun sayang, Gaby sudah terlanjur memikirkan nama itu. Karena sebenarnya dari awal Gaby penasaran terhadap pria yang pernah mengaku-ngaku sebagai ayah dari anaknya.


Sudah lama Gaby ingin tahu nama pria itu, tapi satu pun keluarganya tidak ada yang memberitahu dan bersikap acuh tak acuh kepadanya. Seolah semua informasi tentang pria yang bernama Gracello Sanders itu tertutup rapat untuknya.


“Gaby! Bertahan lah, aku akan memanggil petugas kesehatan untuk membawamu ke rumah sakit!"


Gaby terus merintih menahan sakit yang terus menusuk-nusuk di tempurung kepalanya. Seperti ribuan jarum tengah menancam di ubun-ubun. Itu semua karena Gaby terlalu memaksakan untuk mengingat serpihan ingatannya yang telah hilang.


Tiba-tiba sebuah pukulan hampir membuyarkan kesadaran dokter Emon. Lalu sepasang tangan merebut tubuh Gaby dari pangkuannya.


“Sudah ku duga! Kau itu dokter brengsek! Berani-beraninya kau mendekati calon istriku dan membuatnya sakit? Kalian berdua! Habisi dia!” perintah pria tampan bertato itu.


“Siap bos Sean!”


Rupa-rupanya Sean dan anak buahnya datang menghampiri tempat dokter Emon dan Gaby berada.


Sementara Sean membawa tubuh Gaby ke rumah sakit. Sedangkan kedua anak buahnya hendak membereskan dokter Emon.


“Berani-beraninya kau mengganggu calon nyonya kami hai manusia cupu! Terimalah ini!”


Jika tadi dokter Emon alias Ello tidak bisa menghindari layangan pukulan dari Sean, namun sekarang Ello menampakkan wajah seriusnya untuk bersiap melawan anak buah Sean.

__ADS_1


Di buangnya kacamata kuda yang ia kenakan, lalu di longgarkannya kancing lengan beserta kerah kemeja yang melekat pada tubuhnya.


“Kalian tikus curut! Majulah!”


“Brengsek! Kau belum tahu siapa kami?! Rasakan ini!”


Salah seorang pengawal Sean pun melayangkan tinjunya kembali namun Ello berhasil mengelak. Dan justru membalaskan sebuah tinju kepada pria botak itu.


Bugh!


“Itu untuk balasan yang tadi!” ucap Ello setengah meledek.


Saat pengawal Sean yang lain hendak memukulkan balok dari belakang, tiba-tiba seseorang muncul dari arah samping dan menendang dengan kuat pria itu hingga tersungkur di tanah.


“Tuan muda! Anda baik-baik saja! Anda tidak apa-apa?!”


“Jay! Kenapa sekarang kau cerewet sekali? Cepat habisi mereka!” titah Ello kepada orang yang ternyata adalah asistennya Jay.


“Baik Tuan!”


Dengan gerakan gesit, Jay mampu melumpuhkan kedua anak buah Sean itu hingga lari terbirit-birit.


“Ampun! Lepaskan kami, kami hanya menjalankan tugas tuan Sean. Kami masih punya istri dan anak yang harus di nafkahi,” ucap para pria botak itu sambil mengiba.


“Baik, tapi tolong ucapkan kepada Sean bahwa kalian sudah menghabisi pria yang bernama dokter Emon itu. Kalian mengerti? Kalau tidak, jika kami bertemu kalian kembali, kami tidak segan untuk menghabisi kalian atau keluarga kalian! Paham!” ancam Ello seraya memelototkan kedua bola matanya.


“Paham! Kami paham tuan.”


“Jay! Lepaskan mereka!”


Jay pun melepaskan kedua pria botak itu dan membiarkan mereka pergi sambil berlari terbirit-birit.


“Tuan muda, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?” tanya Jay seraya memunguti barang-barang Ello yang berantakan.


“Persiapkan anak buahmu, Jika sewaktu-waktu Sean dan anak buahnya menyerang kita. Aku pastikan tidak lama lagi Sean akan tahu, siapa sebenarnya dokter Emon itu.”

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupakan like, koment dan favoritkan ya. Authornya akan usahakan up di sela-sela kesibukan author. 🙏 Dan jika berkenan giftnya y..🤭


__ADS_2