
Sean pun turut masuk ke dalam mobil dan duduk di samping gadis itu. Memasang sabuk pengaman pada tubuh Gaby agar gadis itu tidak terjatuh dari duduknya.
Lalu Sean pun menyibak anak rambut Gaby yang menutupi wajah cantik gadis itu. Entah kenapa baru kali ini hati Sean bergetar saat berhadapan dengan seorang perempuan. Padahal sebelumnya ia terbiasa meniduri para gadis, yang bersedia menyerahkan mahkotanya tanpa hati.
Ya hubungan yang Sean lakukan hanya untuk mencari kesenangan dan kepuasan nafsu belaka. Dan itu pun mereka lakukan atas dasar keinginan bersama demi mendapatkan puncak kepuasan yang mereka inginkan.
Namun berbeda jika Sean berhadapan dengan Gaby. Hati Sean bergetar tidak jelas saat bersentuhan kulit dengan gadis chubby itu. Semenjak hari itu, saat Sean menolong Gaby yang hampir tenggelam, lekuk tubuh Gaby tampak begitu menantang ingin di jamah oleh tangan nakalnya. Namun Sean berusaha menahan mati-matian rasa itu.
Sean pun menyentuh wajah mulus Gaby dan membelainya penuh nafsu
“Entah karena apa , aku tidak paham apa yang aku rasakan. Hasratku memuncak saat bersentuhan kulit denganmu seperti ini Gaby.”
Sean pun meraih tengkuk Gaby, dan tangannya yang lain mengusap-ngusap lembut bibir mungil Gaby yang sedikit terbuka namun nampak begitu sensual di mata Sean.
Hanya hitungan detik, Sean sudah berhasil menyesap manis madu yang sedari kemarin ia bayangkan. Wangi tubuh Gaby terasa berbeda jika di bandingkan wanita-wanita yang sudah Sean tiduri.
Namun tiba-tiba saja sebuah tangan menarik pucuk pakaian Sean dengan kasar. Dan menghadiahi Sean dengan pukulan- pukulan yang sukses membuat sudut bibirnya kembali mengucurkan darah.
“Brengs*k! Lo lagi lo lagi ! Kenapa lo gemar sekali merusak kesenangan gue. Apa masalah lo El?!” geram Sean yang tak trima akan pukulan Sean.
“Lo yang brengsek! Lo bisa mainin cewek lain tapi jangan Gaby!” gertak Ello balik.
“Kenapa? Memang ada hubungannya sama lo? Mending lo urus pernikahan lo sama Gloria, lo nggak punya hati udah gantungin anak orang! Dasar pecundang!” cemooh Sean balik.
Ello pun bingung harus menjelaskan bagaimana. Tidak mungkin ia menjelaskan sekarang jika Gaby adalah wanitanya kepada Sean. Karena Sean pandai memanipulatif suatu informasi.
“Lo nggak bisa jawab kan? Mending lo pergi deh jangan ganggu urusan gue!” usir Sean sambil mendorong tubuh Ello hingga tersungkur.
“Gue bilang jangan ganggu dia!” Ello pun melayangkan tinjunya kembali namun kali ini Sean berhasil menangkisnya.
Dan kini baik Sean mau pun Ello memasang kuda-kuda untuk bersiap berkelahi satu sama lain. Sean pun melayangkan pukulan crossnya yang sukses mengenai bahu Ello. Dan memukul wajah pemuda yang sama tampan dengannya itu hingga sudut bibir pemuda itu robek seperti dirinya.
“Brengsek!” Ello pun menyeka cairan merah kental yang mengalir dari sudut bibirnya sambil menatap nyalang kearah Sean.
__ADS_1
Sean pun tersenyum miring sambil membenarkan hodienya yang rusak akibat cengkaram dari tangan Ello.
“Mending lo urus wanita jal*ng lo itu! Dasar bapak sama anak sama saja. Sama-sama bodoh bin bahlul!” ejek Sean kearah Ello.
Deg!
Apa maksud ucapan Sean? Apa Sean sudah mengetahui bahwa Gloria adalah simpanan ayah?
“Gue nggak mengerti maksud lo Sean.”
Elak Ello dengan santai. Pemuda beralis tebal itu berusaha mengatur emosinya agar tidak sampai orang lain tahu begitu jauh tentang perpisahan kedua orang tuanya.
“Sepertinya lo pura-pura bodoh apa memang benaran bodoh? Semua orang tahu, calon tunangan lo itu adalah simpanan ayah lo! Sepertinya kalian itu memang dari keluarga bodoh, nggak bapak nggak anak sama saja, bodoh!” cibir Sean lagi.
Seketika amarah Ello pun memuncak mendengar kalimat bernada ejekan dari adik sepupunya Sean. Lalu Ello dengan cepat meraih kerah baju Sean dan memukulinya kembali dengan membabi buta.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Ismi yang sedang membersihkan meja makan pun menatap heran kearah huru-hara di seberang.
“Itu kan apartemen Gaby? Memangnya apa yang terjadi? Apa ada maling yang ketangkap basah ya?” gumam Ismi yang masih menatap keluar keramaian itu.
“Ada apa honey? Apanya yang ketangkap basah? Jangan main basah-basahan di sini lah. Gimana kalau kita...”
Pletak!
“Aish! Kau ini Edo pikiranmu ngeres sekali kayak jalan yang belum di aspal! Noh lihat di depan ada yang berkelahi, aku mau lihat kesana! aku nitip ini ya?”
Ismi pun melemparkan lap kotor tepat di wajah Edo yang pas-pas.
__ADS_1
“Dasar cewek! Untung cantik, kalau nggak aku balas kamu!” umpat Edo yang segera menyusul Ismi yang lebih dulu keluar restauran.
Sampainya di luar Ismi gadis cantik berumur tiga puluh tahun itu berteriak histeris bagaikan orang kesurupan.
“Huaaa! Araarrgh! Tolongin aku, eh salah tolongi mereka Edo. Haduh...bambang crazy rich ku kenapa malah berkelahi di sini sih kenapa tidak di atas ring saja!” celoteh Ismi yang panik karena melihat Sean dan Ello tengah beradu pukul.
“Ada apa honey? Kenapa kamu berteriak seperti wanita di malam pertama saja,” sahut Edo spontan.
“Kau lihat saja sendiri!” ketus Ismi.
“Cepat panggil bibi Ling dan juga paman Coco, cepat!” titah Edo.
“I..iya.” Ismi pun berlari namun langkahnya terhenti karena teringat sesuatu.
“Aish! Kenapa kau malah menyuruhku Edo! Kamu saja yang panggil sana!”
Karena tak ingin banyak perdebatan, akhirnya Edo mengalah dan bergegas memanggil Paman Coco selaku pemilik apartemen itu.
*
*
Kini Ello dan Sean tengah berhadapan dengan Paman Coco dan juga Bibi Ling. Bibi Ling pun menatap antara kagum dan juga bingung. Kenapa bisa tuan-tuan muda crazy rich itu ada di tempatnya seperti ini?
“Katakan, apa yang sebenarnya terjadi?” ucap Paman Coco memecah kesunyian sambil bersidekap tangan.
“Maaf uncle, Gaby sedang tidak baik-baik saja. Saya harus segera membawanya ke rumah sakit. Setelah usai dari rumah sakit nanti. Saya akan jelaskan semua, Permisi,” potong Ello.
Paman Coco dan Bibi Ling pun membiarkan Ello pergi. Pemuda beralis tebal itu pun mengbopong tubuh Gaby yang sempat di keluarkan dari mobil Sean ala bridal style.
“Kamu temannya Gaby kan? Tolong urus dia!” pinta Ello ke Ismi sambil menunjuk kearah Sean.
“Ba...baik.”
__ADS_1
Sedangkan Sean, pemuda tampan berambut agak pirang itu meringis tertahan. Lagi-lagi sudut bibirnya robek karena pukulan Ello. Bahkan kali ini lukanya lebih parah daripada sebelumnya. Sean pun menggeram pelan sambil menatap nyalang kearah kepergian Ello.
Bersambung...