
Sebulan berlalu.
Hari ini Alden dan Annabelle diminta datang untuk menjadi saksi sekaligus korban dalam sidang perkara untuk Sarah.
Kali ini kehadiran keduanya tidak bisa diwakilkan oleh kuasa hukum hingga dengan sedikit terpaksa Alden membawa istrinya hadir di persidangan.
“Jangan khawatir, kamu nggak sendirian karena kita akan menghadapinya sama-sama.”
“Aku hanya masih merasa ngeri dengan tatapan Sarah. Mata itu penuh kebencian setiap kali menatapku.”
Alden menggenggam jemari Annabelle. Hari ini ia masih menggunakan kursi roda, bukan untuk mendapat simpati di persidangan namun hasil pemeriksaan dokter menyatakan kalau akan lebih baik Alden tidak memaksakan diri beraktivitas yang membebani kakinya.
“Sayang, jangan pernah lagi berpikir bahwa semua yang terjadi pada Sarah adalah kesalahanmu. Masalah tentang perbuatan Sarah pada Om Peter juga tidak ada hubungannya denganmu dan video rekaman atau foto-foto itu cepat atau lambat pasti akan diketahui oleh Reyhan.
Kamu hanya mempercepat waktunya dan bukan menjadi penyebabnya.”
Annabelle menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia mencoba membalas senyuman Alden yang begitu tulus memberinya dukungan.
“Jangan fokus pada Sarah saat kamu duduk di kursi saksi, ingatlah bagaimana perbuatannya sudah melukai aku dan membuat kita harus menunda malam pertama,” ujar Alden berusaha memancing tawa Annabelle.
“Kalau kaki kamu normal belum tentu kita menikah secepat ini,” sahut Annabelle dengan wajah masam.
Alden tertawa dan mengusap pipi istrinya.
“Akunya yang udah nggak sabar,” ledek Alden.
“Dasar !” gerutu Annabelle sambil memukul bahu suaminya.
Alden meringis lalu tertawa, sedikit lega karena Annabelle sudah tidak terlalu tegang.
Keduanya masuk ke dalam ruang sidang bersama dengan tim penasehat hukum.
Ternyata kedua orangtua mereka juga hadir di sana bersama Yudha, Om Juan. Raka dan Reno mengurus pekerjaan kantor sementara Lusia tidak ada hubungannya dengan kasus ini.
“Jangan terlalu jadi beban, Belle. Ingat sejak awal sumber masalahnya adalah Sarah bukan kamu.”
“Memberi semangat boleh, tangan dikondisikan !” omel Alden dengan tatapan galak.
“Mana ada psikiater pegang-pegang pasien seenaknya begitu !”
__ADS_1
“Mulai berasa capek nggak punya suami yang pencemburu begitu ?” ledek Yudha sambil terkekeh menatap Annabelle.
“Nggak !” sahut Annabelle sambil menggeleng. “Malah makin cinta tiap harinya.”
“Terima kasih, Sayang,” Alden menepis tangan Yudha yang hampir saja merangkul bahu istrinya dan sebagai gantinya tangan Alden yang merangkul bahu Annabelle lalu mencium pipi wanita itu.
“Apa kabar cantik ?” suara Reyhan menyapa dari barisan kursi belakang membuat ketiga orang itu menoleh dan lagi-lagi Alden mengerutkan dahinya.
“Ingat status Annabelle sekarang sudah istriku,” tegas Alden dengan ketus
“Karena Belle sudah menikah memangnya gue nggak boleh panggil dia dengan Cantik lagi ? Kan namanya Belle, dalam bahasa Perancis artinya cantik.”
“Sejak kapan kita sedekat itu sampai pakai gue elo ?” gerutu Alden.
Yudha dan Annabelle tertawa pelan. Setiap kali Alden menunjukkan rasa cemburunya, Annabelle justru makin merasakan cintanya bertambah.
Perbincangan mereka terputus saat hakim masuk ke dalam ruang sidang dan tidak lama Sarah pun masuk ke dalam ruangan didampingi penasehat hukumnya.
Reyhan menghela nafas sambil menatap wanita yang pernah singgah di hatinya dan dicintainya dengan segenap jiwa.
Kalau saja Sarah mau melupakan dendam dan kebenciannya serta belajar memperbaiki diri, mungkin cinta Reyhan yang sangat besar padanya bisa membuat hubungan mereka terjalin kembali.
Alden menggenggam jemari Annabelle saat istrinya dipanggil. Pria itu tersenyum dan mengangguk mengisyaratkan kalau semuanya akan baik-baik saja.
Sidang berjalan dengan baik bahkan Yudha yang dipanggil sebagai saksi ahli juga bisa menjelaskan dengan lancar masalah penyangkalan Sarah soal keputusannya menyerahkan rekaman video dan foto pada keluarga Peter Gilang.
“Setelah mengalami benturan yang cukup keras saat kecelakaan terjadi, Nona Sarah sempat mengalami trauma tapi bukan gangguan mental atau kepribadian. Rasa bingung dan lupa dengan apa yang dilakukannya sebelum atau pasca kecelakaan tidak bisa dikategorikan sebagai gangguan serius karena semua itu bisa terjadi pada siapa saja yang menjadi korban kecelakaan. Hasil CT Scan dan MRI yang sudah dilampirkan sebagai bukti tidak menunjukkan ada luka serius dalam tubuh Nona Sarah termasuk bagian kepalanya.”
Sidang yang berlangsung selama hampir 3 jam itu akhirnya berakhir dengan keputusan hukuman penjara 2 tahun dan dicabutnya Surat Ijin Mengemudi milik Sarah dan larangan mengemudi sendiri selama 5 tahun.
Pihak keluarga Narendra tidak berbicara banyak bahkan permintaan Sarah untuk banding akan dipertimbangkan kembali.
Keputusan hakim lebih ringan dari tuntutan Jaksa yang meminta Sarah dihukum selama 5 tahun dan mencabut ijin mengemudi selama 10 tahun.
Tepat di hari Alden menjalankan operasi, melalui pertemuan singkat di kantor Hutama Grup, dengan alasan kemanusiaan akhirnya Daddy Wira setuju untuk meringankan hukuman Sarah.
“Terima kasih kamu sudah berani menghadapinya,” ujar Alden sambil memeluk Annabelle yang duduk di sampingnya.
Kedua orangtua mereka sudah lebih dulu meninggalkan ruang sidang.
__ADS_1
“Aku hanya mengingat kondisimu, Den. Bagaimana kamu kesulitan melakukan aktivitas selama 2 bulan terakhir ini.”
“Semua kejadian dalam hidup pasti memiliki sisi baik dan buruknya. Kalau aku tidak begini, mungkin masih setahun lagi baru bisa menikahimu. Biar baru sebatas tidur seranjang dan ciuman, tapi rasanya bahagia banget melihatmu setiap mau tidur dan membuka mata di pagi hari.”
“Aku juga bahagia bisa bersamamu setiap hari, Den.” sahut Annabelle sambil tertawa pelan.
“Aku juga mau dipeluk dong, Belle,” Yudha sudah merentangkan tangannya saat Annabelle sudah lepas dari pelukan Alden.
“Habis Yudha, aku juga mau dipeluk, untuk menenangkan hati yang kusut kayak benang.”
Alden langsung melotot dan menghalangi Annabelle yang masih duduk di sampingnya dengan rentangan tangan.
“Jangan pelit dong, Al, kan kita cuma mau kasih selamat sama Belle yang pastinya udah lega dengan keputusan sidang,” ujar Yudha dengan wajah dibuat serius. Ia meliirk Reyhan dan memberi kode supaya mendukung iucaoannya.
“Iya Al, cuma pelukan sahabat doang,” timpal Reyhan sambil senyum-senyum.
“Nggak ada ! Istri orang pantang disentuh !” tegas Aldn dengan wajah masam.
“Tenang aja, Sayang, aku juga nggak mau dipeluk-peluk sama mereka,” bisik Annabelle lalu mencium pipi Alden, membuat pria itu langsung sumringah.
”Duh pasangan bucin susah dilawan,” cebik Yudha.
Alden tertawa mengejek dan Annabelle bangun dari kursinya untuk mendorong Alden meninggalkan ruang sidang.
“Jadi gimana perkembangannya, Yud ?” tanya Annabelle saat merek sudah berada di dalam lift.
“Sudah ada kemajuan. Mama sudah mengijinkan Lusia dan Yudis datang bahkan diajak makan malam di rumah.”
“Syukurlah kalau semakin baik.”
“Aku nggak ditanyain, Belle ,” ledek Reyhan sambil tertawa.
“Mau ditanyain apa ? Dicariin jodoh ?” Alden yang menyahut.
“Kalau ada teman yang mencari suami, dengan senang hati aku mau dikenalin.”
“Yakin ?” Annabelle melirik. “Berhenti dulu dari kebiasaan burukmu. Tidak perlu menyamakan score dengan Sarah. Dia sudah berulang kali menegaskan kalau hanya 2 sementara kamu sudah lebih dari 3.”
“Iya, aku udah sadar, kok,” Reyhan mengangguk-angguk sambil tertawa.
__ADS_1
Sampai di lobby, kedua orangtua Alden dan Annabelle sudah menunggu dan mengajak Yudha serta Reyhan untuk makan siang bersama.
Kedua pria itu menolak dengan sopan karena alasan pekerjaan. Mereka pun berpisah di parkiran mobil, pergi ke tujuan masing-masing.