Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Keras Hati Annabelle


__ADS_3

Sambil berlari kecil, Annabelle masuk ke dalam rumah sakit langsung menuju lift karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan papa Rano yang sudah kembali sadar.


Mama Mira mengirim pesan saat Annabelle masih di kampus, memberi kabar kalau papa Rano sudah sadar kembali dan akan dipindahkan ke kamar rawat biasa.


Kak, langsung ke kamar 515. Papa sudah di sini.


Annabelle melebarkan senyumannya saat membaca pesan yang dikirim oleh Ray. Tangannya langsung menekan angka 5.


Matanya membola saat membaca petunjuk yang ada di atas lift karena lantai 5 adalah area kamar VIP dan VVIP. Annabelle menarik nafas dan menghelanya perlahan. Tidak mungkin menolak karena ini semua pasti permintaan Daddy Wira.


Annabelle mempercepat langkahnya saat pintu lift terbuka di lantai 5. Hatinya sudah tidak sabar ingin bertemu Papa Rano.


“Papa,” dengan senyuman bahagia Annabelle langsung menyapa begitu pintu kamar terbuka.


Gadis itu tidk bisa menutupi rasa lega dan terharu setelah seminggu kemarin dipenuhi dengan kecemasan, takut Papa Rano tidak bisa membuka mata kembali.


Sekarang melihat Papa Rano sudah bisa setengah berbaring di atas ranjang dan sedang disuapi Mama Mira, Annabelle tidak mampu menahan air mata kebahagiaannya.


“Belle, kok nangis ?” Papa Rano menepuk-nepuk punggung Annabelle yang langsung memeluknya.


“Bahagia karena bisa melihat Papa sehat kembali.”


Annabelle melepaskan pelukannya dan menatap Papa Rano sambil tersenyum bahagia.


“Tentu saja Papa harus sehat kembali karena masih ada tugas dan keinginan Papa yang belum tuntas,” sahut Papa Rano sambil tertawa pelan.


“Papa masih ingin melihatmu dan Ray lulus kuliah dan diwisuda, kalau diberi kesempatan ingin mengantarmu dan Ray ke pelaminan,” lanjut papa Rano sambil tertawa.


“Pasti bisa, Pa. Kita semua selalu berdoa yang terbaik untuk Papa,” ujar Annabelle sambil tersenyum.


“Bagaimana kondisi Alden ?”


Annabelle menautkan alisnya saat mendengar Papa Rano malah menanyakan Alden.


“Papa, kenapa harus memikirkan Alden lagi ?” tanya Annabelle dengan wajah cemberut. “Bahkan dia hanya mengirimkan dokter untuk orang yang telah menyelamatkannya.”


“Maksud kamu apa, Belle ?”


“Papa nggak usah pusing soal Alden. Aku sudah membuatnya kapok mendekati kita lagi. Kali ini kalau Alden tidak menjauh dari kita, aku yang akan membawa Papa, Mama dan Ray menjauh dari keluarga Hutama. Kalau perlu kita pindah ke luar kota dan Papa nggak usah bekerja lagi sama Daddy… maksudku Om Wira.”


“Belle, bukan Papa yang menyelamatkan Alden tapi sebaliknya, Alden lah yang menyelamatkan Papa. Alden melindungi Papa dari perusuh yang hampir saja menusuk Papa.”

__ADS_1


“Pa, Papa tidak usah terlalu membela Kak Alden sampai sejauh itu. Bagaimana mungkin dia melindungi Papa dari luka tusuk sementara Papa tetap tertusuk juga,” ujar Ray ikut buka suara dengan nada kesal seperti Annabelle.


“Periksa CCTV yang ada di lokasi kejadian kalau kalian berdua tidak percaya,” tegas Papa Rano dengan dahi berkerut, sedikit kesal karena anak-anaknya tidak mempercayainya.


”Alden sempat dirawat di rumah sakit ini juga karena luka di perutnya infeksi. Tapi sekarang sudah keluar dari rumah sakit,” ujar Mama Mira.


“Syukurlah kalau Alden juga sudah baik-baik saja,” Papa Rano menarik nafas lega.


Annabelle terdiam, ia teringat ucapannya yang menganggap Alden tidak peduli dengan papanya karena tidak pernah datang membesuk, ternyata buka.kan tidak peduli tapi Alden sendiri terluka dan harus dirawat juga di rumah sakit ini.


Annabelle teringat saat mereka bertengkar di depan ruang ICU dan Alden sempat meringis saat Annabelle mendoronh tubuhnya. Ternyata itu semua bukan sandiwara, tapi kondisi Alden benar-benar sakit.


“Kalian berdua,” Papa Rano menatap Annabelle dan Ray bergantian.


“Papa dan Mama tidak pernah mengajarkan untuk menjadi orang pendendam. Setiap orang tidak lepas dari kelemahan dan kekurangan. Berikan maaf pada orang-orang yang menyakit kalian apalagi saat mereka sudah minta maaf dengan tulus dan menunjukkan penyesalannya,” tegas Papa Rano memberi nasehat.


Annabelle dan Ray hanya diam, tidak menyahut atau menyangkal ucapan papa Rano. Bagi mereka tidak semudah itu memaafkan Alden, apalagi tahu kalau kedua orangtua mereka pernah sampai bersimpuh memohon pada Alden.


***


3 hari sesudah sadar dari koma, Papa Rano diperbolehkan pulang ke rumah.


Selama di rumah sakit, bukan hanya Tuan dan Nyonya Hutama yang membesuk, tapi Om Juan dan timnya, beberapa karyawan Hutama Grup juga datang membesuk.


“Hari ini nggak kuliah, Belle ?” Papa menghampiri Annabelle yang sedang sibuk dengan adonan kue.


“Hari ini hanya ada kelas pagi dan selesai sebelum jemput Papa di rumah sakit.”


Papa Rano menarik kursi meja makan dan memperhatikan putrinya yang sibuk membuat kue.


“Apa kamu masih membenci Alden, Belle ?”


“Papa pasti sudah tahu jawabannya,” sahut Annabelle sambil tersenyum tipis.


“Apa hatimu merasa bahagia membuat Alden terus menerus meminta maaf padamu dan mengatakan bagaimana ia menyesali perbuatannya di masa lalu ? Apa hatimu puas sudah membuat laki-laki yang kamu dekati bertahun-tahun sekarang berbalik mengejar kata maaf darimu ?”


Annabelle terdiam, mencoba menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Papa Rano.


Papa Rano pun sabar menunggu apalagi tangan Annabelle sedang menuang adonan ke dalam loyang lalu memasukkannya ke dalam open.


“Duduklah sini,” Papa meminta Annabelle duduk berhadapan dengannya. “Sudah lama kita nggak ngobrol berdua.”

__ADS_1


Annabelle menurut dan menarik kursi meja makan.


“Apa kamu sudah menemukan jawaban pertanyaan Papa ?”


“Hatiku belum bisa berdamai dengan Alden, Pa. Setiap ada masalah sedikit, hatiku langsung terpancing emosi lagi. Aku sudah memutuskan untuk menghapus jejak Alden dalam hidupku.”


“Tapi lari dari masalah tidak akan membuat hidupmu tenang, Belle. Papa tahu kalau sampai saat ini tidak mudah bagimu untuk menghapus rasa untuk Alden. Kamu boleh berkata benci padanya, tapi bukan sepenuhnya benci pada Alden, tapi pada dirimu sendiri karena semakin kamu lari, bayangan Alden justru semakin mendekat padamu.”


“Pa, aku sungguh-sungguh membenci Alden yang memperlakukan Papa dan Mama lebih buruk dari sekedar karyawannya. Sejak dulu Alden malu berteman denganku karena aku hanyalah anak sopir keluarga Hutama yang tidak sederajar dengannya.”


“Belle, apa yang pernah Alden lakukan di masa mudanya sudah dia akui sebagai satu kesalahan yang membuatnya menyesal dan dengan tulus dia menyatakan maafnya bukan hanya padamu tapi juga pada Papa dan Mama.”


“Sebelumnya, aku tidak pernah merasa semarah itu pada Alden dan selalu memaafkannya sekalipun dia menatapku penuh kebencian dan menganggapku seperti debu yang mengotori badannya.


Tapi saat melihat Alden memperlakukan Papa dan Mama tanpa rasa iba sedikit pun, hati ini rasanya langsung sakit, Pa.”


“Belle…”


“Pa, tolong berikan aku ruang dan waktu untuk semua yang Alden perbuat di masa lalu. Aku benar-benar ingin menghapus semua jejaknya dalam hatiku, pikiranku dan ingatan akan kenangan hidupku. Mungkin setelah semuanya kembali ke titik nol, aku baru bisa berdamai dengan Alden.”


Papa Rano menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan saat Annabelle bangun dan mengeluarkan adonan kue yang sudah matang.


“Aku buatkan bolu kesukaan Papa,” Annabelle membawa kue yang sudah dipindahkan ke atas piring


“Terima kasih karena kamu selalu memperhatikan dan peduli pada Papa dan Mama.”


“Tentu saja sudah kewajiban anak berbakti pada orangtuanya,” Annabelle menjawab dengan senyuman mengembang.


“Bukan sekedar kewajiban untukmu tapi karena hatimu penuh ketulusan dan melihat banyak hal dari sisi baiknya daripada buruknya.”


“Pa, aku tahu kemana tujuan ucapan Papa. Tolong jangan mengungkit masalah Alden lagi,” pinta Annabelle sambil menghela nafas panjang.


“Papa hanya tidak ingin membuat kamu menyesal,” ujar Papa Rano.


“Aku ganti baju dulu, Pa.”


Tidak ingin berdebat lebih jauh dengan Papa Rano, Annabelle memutuskan untuk menghindar.


“Belle,” panggilan Papa Rano membuat Annabelle memghentikan langkahnya dan berbalik.


“Papa sudah mendengar semua cerita tentang bagaimana kamu meminjam tubuh Sarah selama 100 hari,” Papa Rano berjalan pelan mendekati putrinya dan memegang kedua bahu Annabelle.

__ADS_1


“Papa bangga dengan semua yang kamu lakukan untuk Alden, namun satu hal yang kamu lupa adalah syarat yang diberikan untuk membuatmu bisa menjadi Annabelle kembali. Kamu lupa apa yang membuat kamu bisa menikmati kehidupan sampai detik ini sebagai Annabelle bukan Sarah.”


Annabelle terdiam melihat Papa Rano tersenyum. Pria baya itu menepuk bahu Annabelle sebelum meninggalkan putrinya yang masih merenungkan ucapan Papa Rano.


__ADS_2