
Annabelle terkejut saat melihat seorang pria berpakaian baju perawat ada di ruangan Alden.
“Sudah waktunya mandi sore, Tuan Alden,” ujarnya sopan.
“Sepertinya hari ini calon istri saya yang akan membantu mandi, Darma. Bukan begitu, Sayang ?”
Alden mendongak, menatap Annabelle yang tersenyum canggung berdiri di belakang kursi roda Alden.
“Ooo, jadi ini Nona Annabelle yang sering Tuan ceritakan ?” ujar perawat itu menganggukan kepala dengan sopan sambil tersenyum.
”Tidak salah lagi,” sahut Alden dengan wajah sumringah. “Apa sesuai dengan yang aku ceritakan padamu ?”
“Ya, cantik dan menggemaskan seperti kata Tuan Alden,” sahut Darma mengangguk dan tertawa pelan.
“Kalau begitu saya pamit keluar. Semua perlengkapan Tuan sudah saya siapkan di kamar mandi.”
“Terima kasih, Darma.”
Perawat pria itu pun meninggalkan Alden dan Annabelle berdua di kamar.
“Tolong bawa aku ke kamar mandi, Belle.”
Annabelle terlihat ragu-ragu. Apa mungkin Alden akan meminta Annabelle menggantikan tugas perawat tadi ?
“Aku tidak bisa, Alden,” tegas Annabelle saat kursi roda sudah berada di dalam kamar mandi.
“Tidak bisa apa ?” Alden mengerutkan dahinya.
“Aku tidak bisa memandikanmu,” tegas Annabelle dengan wajah yang terasa panas karena malu.
“Sepertinya aku tidak bilang kalau kamu akan memandikan aku,” ujar Alden dengan wajah pura-pura bingung padahal dalam hati Alden menertawakan Annabelle yang salah tingkah dan terlihat malu.
“Tapi aku nggak nolak kalau kamu mau memandikan aku juga. Toh saat ini statusku kan pasien dan kakiku…..”
“Aku akan membantu yang lainnya kecuali memandikanmu,” potong Annabelle cepat.
“Beneran ?” mata Alden menyipit sambil tersenyum smirk saat melihat Annabelle mengangguk.
“Tolong papah aku ke bangku itu.”
Annabelle menurut dan membiarkan Alden merangkul bahunya karena kaki kanan Alde masih bisa digunakan.
“Sekarang bantu aku melepaskan baju, termasuk pakaian dalamku.”
Mata Annabelle langsung membola sementara Alden menatapnya dengan wajah serius padahal dalam hatinya Alden tertawa karena berhasil mengerjai Annabelle.
”Celana panjangnya mudah karena hanya ditali,” tangan Alden mulai membuka ikatan tali celananya.
“Aku agak sulit melepaskan…”
“Bagaimana kalau aku panggilkan Pak Darma saja untuk membantumu ? Aku tunggu di luar.”
Wajah Annabelle semakin gugup dan tangannya menahan tangan Alden yang sudah berhasil melepaskan ikatan celana tidurnya.
“Kamu masih marah padaku ?” wajah Alden berubah sendu. “Kamu tidak mau membantuku selama kakiku masih belum bisa digerakkan ?”
“Bukan begitu,” Annabelle menggeleng. “Hanya saja….”
“Hanya apa ?”
Annabelle menggigit bibir bawahnya dan tidak berani menatap Alden.
“Aku… Aku malu.”
__ADS_1
Alden tidak bisa menahan gelak tawanya. Ia memberi isyarat supaya Annabelle mendekatinya.
“Annabelle, tatap mataku,” pinta Alden sambil menangkup wajah Annabelle yang berdiri dengan posisi sedikit membungkuk.
Alden bisa merasakan wajah Annabelle yang menghangat dan perlahan merona.
“Kamu sungguh-sungguh sudah tidak benci lagi padaku ?” Annabelle mengangguk.
“Akan menemaniku selama kaki kiriku sakit ?” Annabelle mengangguk.
“Kalau kakiku tidak bisa sembuh dan aku menjadi pria cacat gimana ?”
“Aku tetap akan bersamamu,” sahut Annabelle dengan gerakan bibir seperti ikan karena wajahnya masih ditangkup Alden membuat pria di depannya gemas dan tertawa.
“Sebagai apa ?” Annabelle bingung harus menjawab apa.
“Sebagai perawat Tuan Alden mungkin.”
“Bagaimana kalau sebagai Nyonya Alden ?”
Mata Annabelle membola, jantungnya berdebar makin tidak karuan, kakinya pun mulai lemas.
Alden menempelkan bibirnya pada bibir Annabelle yang sedikit mengerucut dan akhirnya mulai mencium bibir itu dengan lembut.
Alden semakin berani mencium Annabelle saat diintipnya gadis itu malah memejamkan mata.
“Mulai sekarang kamu hanya untukku, tidak boleh melirik pria-pria tampan yang berusaha mencari perhatianmu.”
Annabelle menjauhkan wajahnya yang masih merona dan memukul-mukul pinggangnya karena pegal.
“Sekarang calon istriku tersayang, bantu calon suamimu ini melepaskan pakaiannya dan tidak menolak kalau kamu mau memandikan juga.”
“Aku belum menjawab apa-apa,” Annabelle menggeleng.
“Aku tunggu di luar.”
Annabelle tidak menanggapi ucapan Alden karena merasa malu. Ia merutuki dirinya sendiri karena malah hanyut terbawa suasana, menikmati ciuman Alden yang membuat seluruh tubuhnya menegang dan langsung lemas begitu Alden melepaskannya.
Annabelle berdiri bersandar di luar kamar mandi sambil memegangi dadanya yang berdebar tidak karuan.
Ia pun bergegas ingin memanggil perawat pria yang bernama Darma untuk membantu Alden membersihkan tubuh.
Ternyata Darma entah kemana, tidak ada di pos perawat dan tidak bisa dihubungi handphonenya. Akhirnya Annabelle memutuskan untuk kembali ke kamar Alden.
“Alden, udah selesai ?” Annabelle mengetuk pintu kamar mandi.
“Sudah, tapi aku butuh bantuan Belle,” sahut Alden dari dalam.
Annabelle menghela nafas dan ragu-ragu membuka pintu, tapi memikirkan Alden sudah selesai mandi dan tidak ada yang membantu, Annabelle khawatir Alden malah sakit.
Akhirnya tangannya memutar pegangan pintu namun matanya tidak berani langsung melihat ke arah Alden.
“Belle, aku butuh bantuan. Bisa tolong cepetan, kaki aku mulai agak keram.”
“Eh iya,” Annabelle segera mendekati Alden dengan pandangan ke lain arah.
“Kamu takut banget melihat aku nggak pakai baju,” ledek Alden sambil tertawa.
“Padahal sudah dua kali kamu melihat aku hanya memakai boxer.”
“Waktu itu kan kita masih kecil,” protes Annabelle.
“Kamu yang masih kecil nekat masuk kamar cowok ! Yang pertama aku udah kelas 11 dan kedua kalinya aku sudah mahasiswa semester 6.”
__ADS_1
“Tetap aja masih kecil,” Annabelle masih membantah dengan bibir mengerucut membuat Alden tergelak.
“Belle, aku nggak te**jang, jadi lihat ke sini dong,” ledek Alden.
Annabbelle melirik ternyata Alden memang memakai jubah mandi yang sudah disiapkan Darma. Alden makin terbahak melihat tingkah Annabelle.
Alden memberi isyarat supaya Annabelle membantunya duduk di atas kloset yang tertutup.
“Belle aku belum memakai pakaian dalam,” bisik Alden saat wajah Annabelle berad di dekatnya.
“Aku panggilkan…” Annabelle membelalakan mata dan menjauh dari Alden namun tangan pria itu lebih sigap menahannya.
“Kenapa harus orang lain kalau ada calon istri di sini,” Alden menaik turunkan alisnya memberi kode pada Annabelle.
“Sejak kapan aku jadi calon istrimu !” gerutu Annabelle. “Aku di sini ingin berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkan aku dari tabrakan itu.”
“Yakin ?” Alden mengangkat alisnya sebelah. “Yakin nggak mau menerima cinta aku ? Sepertinya waktu koma aku mendengar ada yang bilang kalau sebenarnya ia sangat mencintai aku dan tidak pernah membenciku.”
”Bagaimana kamu bisa mendengarnya di saat koma ? Jangan bilang kalau kamu mengalami kejadian yang sama seperti yang aku alami ?” Annabelle mengerutkan dahinya.
“Jadi telingaku nggak salah dengar kan ? Ada yang ngomong begitu sambil nangis-nangis ?” ledek Alden sambil tertawa.
Annabelle terdiam dengan bibir masih mengerucut. Annabelle tersentak saat Alden menarik tangannya hingga jatuh ke atas pangkuan pria itu.
“Alden kaki kamu.”
Annabelle buru-buru ingin bangun namun Alden menahannya.
“Yang retak bagian bawah lutut, bagian ke atasnya aman,” sahut Alden sambil menepuk pahanya sendiri.
Annabelle menarik nafas lega, ia hanya khawatir kalau akan menyakiti Alden.
“Belle, sama seperti dirimu, aku tidak benar-benar bisa membencimu sekalipun mulutku sering melontarkan kata-kata yang pasti menyakitimu. Aku baru menyadarinya saat kamu koma dan akhirnya hadir di dalam tubuh Sarah.
Meski awalnya aku tidak tahu kalau jiwamu menempati tubuh Sarah, namun semua yang dilakukan oleh Sarah setelah kecelakaan itu bukanlah dirinya melainkan kebiasaanmu.
Kita tumbuh bersama, Belle. Meskipun aku sering menghindarimu tapi ada banyak kebiasaanmu yang melekat dalam ingatanku.”
“Di saat itulah aku merasa benar-benar nyaman berada di dekat Sarah, tapi bukan karena Sarah melainkan terbiasa denganmu, Belle.”
“Maafkan aku yang banyak menyakitimu dan kalau boleh aku mendapat kesempatan kedua, akan aku gantikan semua rasa sakit hatimu dengan cinta yang tidak akan berkesudahan.”
Alden tersenyum dan tangannya mengusap pipi Annabelle yang merona dan tersipu malu.
“Belle, aku minta maaf dan tetaplah berada di sampingku bukan karena aku telah menggantikanmu dalam kecelakaan itu tapi karena kamu sungguh-sungguh mencintai aku seperti yang kamu ucapkan saat aku masih terbaring di ruang ICU.”
“Bagaimana kamu mendenganrya saat itu ?”
“Sebetulnya aku mulai sedikit sadar sebelum kamu datang, tapi belum bisa membuka mataku. Sepertinya memang menunggu kedatanganmu.”
“Aku kira kamu mengalami kejadian seperti aku lagi,” gumam Annabelle.
“Belle..”
Alden terkejut saat Annabelle malah memeluknya dengan erat.
“Aku mencintaimu, Belle,” bisik Alden sambil balas memeluk erat tubuh Annabelle.
“Mau ya jadi Nyonya Alden ?” Annabelle menganggukan kepalanya yang bersandar di bahu Alden.
“I love you, Belle,” bisik Alden kembali.
“Aku mencintaimu juga Alden,” Annabelle menyahut pelan.
__ADS_1
Keduanya tersenyum meski tidak saling memandang namun hati keduanya sama-sama merasakan hal yang sama.