Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Penculik yang Baik Hati


__ADS_3

Annabelle meregangkan tubuhnya di balik selimut. Sebetulnya ada rasa tidak nyaman karena tidak mandi meskipun kamar ini terasa dingin tanpa menggunakan pendingin ruangan.


Dilihatnya Sisi masih tertidur pulas. Semalam selesai bebersih, Sisi kembali menangis memikirkan mama dan adiknya yang ada di rumah.


Sisi sendiri sudah tidak memiliki papa sejak kelas 2 SMP dan selama ini urusan pendidikan, mereka dibantu oleh adik dari papanya.


Dengan gerakan pelan Annabelle menyibakkan selimut dan turun dari ranjang, tenggorokannya terasa kering. Diliriknya jam dinding yang ada di kamar itu, jam 6.10 pagi. Semalam Annabelle baru bisa tidur jam 3 pagi karena beberapa kali Sisi sempat mengigau.


Ada rasa menyesal di hati Annabelle karena melibatkan sahabatnya saat ia menjadi Sarah Belle.


Baru saja Annabelle keluar dari kamar mandi setelah selesai membasuh wajah dan sikat gigi, terdengar suara pintu kamar dibuka.


Annabelle berjalan mendekat dan terlihat seorang pria bertubuh tinggi besar masuk membawa nampan.


“Sarapan kalian,” ujarnya dengan suara berat.


Annabelle menerima satu nampan yang berisi dua piring nasi goreng. Belum juga Annabelle melangkah, terlihat seorang pelayan wanita paruh baya mengantarkan satu kantong kertas.


“Pakaian untuk mereka,” ujar pelayan wanita tadi pada pria bertubuh besar yang masih berdiri di pintu.


Annabelle langsung tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Hatinya semakin tenang karena ia yakin kalau para penculik itu benar-benar mengurungnya untuk mendapatkan informasi soal foto-foto Sarah dan Tuan Gilang, bukan yang lain.


Tidak tega membangunkan Sisi, akhirnya Annabelle mengeluarkan isi kantong yang dibawa si pelayan wanita yang dikenalnya namun pelayan itu tidak mengenalinya.


Ada 2 buah kaos oblong lengkap dengan 2 pasang pakaian dalam baru yang masih berlabel.


Annabelle pun bergegas masuk ke kamar mandi, berniat ingin membasuh diri karena terasa lengket dan tidak nyaman.


Limabelas menit kemudian Annabelle keluar dari kamar mandi dan melihat Sisi sedang duduk di atas ranjang dengan mata sembab dan terdengar kembali isak tangisnya meskipun pelan


“Si, jangan nangis lagi, dong,” Annabelle mengambil tisu dan membersihkan wajah Sisi. “Gue percaya kalau penculikan ini bukan karena ingin minta uang tebusan. Kalau sampai ada apa-apa pun, gue akan minta elo supaya dilepaskan asal elo berjanji memenuhi permintaan mereka.”


“Gue masih takut banget, Belle. Membayangkan…”


“Jangan membayangkan yang nggak-nggak, Si. Gue yakin kalau hari ini kita akan dipertemukan dengan boss orang-orang yang membawa kita,” Annabelle tersenyum dan menggenggam kedua jemari Sisi.


“Lebih baik sekarang elo mandi dulu. Meskipun kita hanya dikasih kaos dan pakaian dalam untuk ganti, minimal kita bisa bersih-bersih. Nih gue udah selesai mandi.”


Annabelle merentangkan tangannya sambil tersenyum, memperlihatkan wajahnya yang lebih segar dan sebagian rambutnya yang masih basah.


Annabelle mengambilkan dua lembar tisu lagi untuk Sisi. Sahabatnya itu tersenyum dan kagum akan keberanian dan sikap tenang Annabelle dalam situasi seperti ini.


“Nah gitu dong,” Annabelle tertawa pelan. “Kalau elo nggak nethink minimal kita bisa berpikir untuk mencari jalan keluar menghadapi masalah ini.”


“Gue makin kagum sama elo, Belle. Pantas aja elo bisa tetap bertahan ngadepin Alden meskipun udah diabaikan bertahun-tahun. Hidup elo penuh dengan optimisme dan pikiran positif.” Annabelle hanya tertawa pelan.


“Mau makan dulu atau mandi dulu ?” tanya Annabelle.


“Makan dulu aja, perut gue kok berasa lapar banget,” Sisi mengusap-usap perutnya.


Annabelle kembali tertawa dan mengangguk-angguk. Ia pun berjalan ke sofa mendahului Sisi kaena nampan yang berisi makanan diletakkan di atas meja dekat sofa.


Keduanya menikmati sarapan pagi sambil berbincang tentang banyak hal yang pernah mereka lewati sebagai sahabat. Perjalanan mereka selama sekolah, kuliah dan banyak lain yang membuatnya tertawa dan bersyukur karena semuanya bisa mereka lalui.


Annabelle bisa sedikit lega saat meihat Sisi semakin tenang dan menyuruh sahabatnya mandi untuk menyegarkan diri.


Annabelle sendiri berdri di jendela dengan tirai yang terbuka. Ia tersenyum sendiri, memastikan kalau tempat ini adalah villa milik keluarga Gilang dan ia pernah kemari saat menjadi Sarah Belle.


Keduanya kembali berbincang untuk menghabiskan waktu dan melupakan kecemasan mereka hingga akhirnya pintu kamar kembali dibuka dan terlihat salah satu pria berbadan tegap berdiri di pintu.

__ADS_1


“Sepertinya mereka juga tidak mandi semalam,” bisik Annabelle sambil cekikikan. “Atau mereka membeli pakaian langsung selusin biar lebih murah.”


“Memangnya kenapa ?” Sisi menautkan alis bingung sambil bergantian melirik Annabelle dan pria yang berdiri di pintu.


“Sejak kemarin baju mereka hanya setelan hitam,” ujar Annabelle sambil menarik tangan Sisi supaya berpegangan pada lengannya.


“Boss kami ingin bertemu kalian,” suara tegas dan galak itu langsung bicara tanpa basa basi.


“Dengan senang hati,” Annabelle malah tersenyum sambil melangkah mendekati pintu.


Pria itu bergeser untuk memberikan jalan pada Annabelle dan Sisi.


“Jangan coba-coba untuk melarikan diri,” tegas pria itu saat Annabelle dan Sisi sudah melewatinya.


“Tidak akan,” Annabelle berbalik sambil tersenyum bahkan ia memberikan tanda ok dengan menyatukan ibu jari dan telunjuk kanannya.


“Dimana kami harus menemui Tuan Reyhan ?”


Pria itu mengerutkan dahi saat Annabelle menyebut nama itu.


“Aku tahu kalau Tuan Reyhan lah yang menyuruh kalian membawa kami ke sini. Aku ingat namamu Samson. Kamu lah yang membawa Sarah kemari beberapa waktu lalu setelah membius kedua pengawalnya.”


Pria yang disebut namanya itu semakin bingung karena merasa belum pernah bertemu apalagi mengenal Annabelle. Bagaimana gadis ini bisa tahu soal kejadian Sarah bahkan namanya ?”


“Dimana aku bisa menemui Tuan Reyhan ?” Annabelle kembali mengulang pertanyaannya sambil tersenyum.


“Di teras belakang. Akan ada yang mengantar anda di lantai bawah.”


“Terima kasih,” Annabelle mengangguk sambil tersenyum.


Sisi juga ikut menautkan alisnya mendengar percakapan Annabelle dengan pria itu seolah mengenalnya. Belum sempat Sisi bertanya, ia baru sadar kalau Annabelle sudah hampir di lantai 1. Bergegas Sisi menyusulnya.


Pria tampan itu berbalik badan dan tampak menautkan alisnya, mencoba mengenali gadis yang menyapanya sambil tersenyum.


Annabelle mendekat dan langsung mengulurkan tangannya.


“Apa kabar Reyhan ? Kenalkan namaku Annabelelle.”


Reyhan bergeming masih dengan alis yang menaut karena tidak mengenali sosok wanita yang berdiri di depannya dengan penuh percaya diri.


“Aku Annabelle, perempuan yang telah menggagalkan Sarah untuk menjebak Alden.”


Annabelle masih mengulurkan tangannya namun saat dilihatnya Reyhan enggan membalas uluran tangannya, Annabelle menariknya kembali.


Reyhan mengernyit, mencondongkan badannya berusaha melihat wajah Annabelle lebih dekat.


“Kemana kacamata tebalmu ? Apa kecelakaan itu mendadak membuatmu bisa melihat lebih jelas ?” Reyhan tertawa dengan sinis.


“Sepertinya begitu,” Annabelle menjawab dengan santai sambil ikut tertawa pelan. “Dan sepertinya aku harus berterima kasih pada Sarah yang bisa merubah penampilanku.”


“Jadi seperti ini tampang si culun toxic-nya Alden ?” Reyhan kembali mencondongkan badannya dan menyipitkan matanya, memperhatikan wajah Annabelle lebih dekat.


Cantik, batin Reyhan. Bagaimana Alden bisa menolak perempuan secantik ini dan keberaniannya membuat aku jadi penasaran.


“Jangan terlalu memandangku dengan posisi sedekat ini,” Annabelle terkekeh sambil mundur beberapa langkah. “Nanti jatuh cinta padaku.”


Reyhan berdecih lalu tersenyum sinis, meskipun dalam hati sedikit tertarik dengan kepribadian Annabelle.


“Aku tahu apa tujuanmu membawaku dan sahabatku kemari,” ujar Annabelle dengan santai.

__ADS_1


“Tentu saja tahu karena temanmu sudah tahu alasan orang-orangku mencarinya,” sahut Reyhan dengan senyuman sinis.


“Aku bukan orang yang suka dengan basa basi,” ujar Annabelle. “Lagipula kita bukanlah partner bisnis yang perlu bernegosiasi untuk mencapai kesepkatan bisnis.”


“Bagus kalau kamu sudah paham.”


“Reyhan, aku tidak akan lupa dengan janjiku untuk memberikan diska lepas itu padamu dan maaf aku telah melewati batas waktu yang dijanjikan. Namun sebelum memberikannya padamu, aku punya satu syarat,” Annabelle melipat kedua tangannya di depan dada.


“Bukankah kamu bilang kalau kita bukanlah partner bisnis yang perlu melakukan negosiasi untuk mencapai kesepakatan.”


“Ya dan itu sebelum kamu melibatkan sahabatku.”


“Karena dialah orang yang ditemui Sarah malam itu. Perempuan yang kamu bilang sahabat itu yang membawa amplop berisi foto-foto laknat itu.”


“Aku tahu karena aku yang menyuruhnya,” sahut Annabelle sambil mengangguk. “Dan aku akan memberikan diska lepas itu setelah kamu membebaskan Sisi dan mengantarnya kembali ke rumahnya.”


“Apa jaminannnya kamu akan memberikan diska lepas itu setelah aku membebaskannya ? Bagaimana kalau ia melapor pada polisi dan akhirnya malah menjebakku pada masalah hukum.”


“Tidak perlu Sisi dibebaskan, kalau kamu masih menahanku 24 jam lebih lama lagi sudah pasti polisi akan menangkapmu karena kasus penculikkan. Dan sebelum batas waktu 2x24 jam itu berakhir, tolong lepaskan temanku dan aku tetap akan bersamamu. Aku menjamin dengan nyawaku kalau Sisi tidak akan melaporkan kejadian ini sebagai penculikan. Aku sudah memintanya untuk mengarang cerita soal menginap di tempat teman dan handphone yang rusak.


Masalah diska lepas itu ada di rumahku, tersimpan dengan rapi dan sesuai janjiku saat kita bertemu di Bogor, aku akan memberikan diska lepas yang asli agar masalah Sarah dengan keluarga Tuan Gilang akan berakhir.”


“Aku tidak merasa pernah bertemu denganmu di Bogor.”


“Sedikit panjang menjelaskannya. Kalau kamu masih ingat aku memintamu untuk menemui Yudha, psikiater yang membantu Sarah setelah ia mengalami kecelakaan. Namun aku yakin kalau Yudha sama seperti aku, lupa kalau hanya 2 minggu yang kami minta.”


“Jangan berbicara putar sana sini, aku lebih suka orang yang tegas dan to the point.”


“Bebaskan Sisi dan kembalikan pada keluarganya lalu bawa aku ke rumah untuk mengambil diska lepas itu dan luangan sedikit waktu supaya aku bisa mengelaskan semuanya.”


“Jangan mencoba bernegosiasi apalagi mengaturku supaya menuruti semua keinginanmu,” tegas Reyhan dengan rahang mengeras.


“Kamu pria yang baik, Rey. Aku bisa merasakannya selama bersamamu. Itu sebabnya aku sudah memutuskan untuk memberikan file asli yang selama ini disimpan oleh Sarah dan digunakan untuk mengancam papamu.


Masih ingat dengan ucapan itu saat kita bertemu di Bogor tempo hari ?”


“Jangan bermain kata !” bentak Reyhan. “Aku tidak pernah ingat bertemu denganmu. Aku tidak lupa dengan kalimat itu, tapi aku benar-benar tidak ingat bertemu denganmu sebelum ini.”


“Inilah yang ingin aku jelaskan lewat Yudha, psikiater yang mendampingi Sarah setelah kecelakaan. Tolong antarkan Sisi pulang ke rumahnya hari ini juga dan aku tetap akan di sini. Berikan aku handphone milikku untuk menghubungi Yudha beberapa menit dan setelah itu kamu boleh menyitanya kembali.”


Reyhan terihat ragu dan menatap Annabelle dengan mata yang sesekali menyipit, menelisik kejujuran ucapan Annabelle.


“Tolong percaya padaku,” pinta Annabelle.


“Dan Sisi, “ Annabelle berbalik dan meminta Sisi mendekat. “Tolong bantu aku dengan menjaga semua rahasia kejadian ini. Katakan pada siapapun yang memaksamu, Annabelle hanya butuh waktu tambahan 1 hari dan tolong jangan mengganggunya.”


“Tapi Belle…”


“Sisi, aku sungguh-sungguh percaya kalau Tuan Reyhan adalah pria yang sangat baik karena selama kita di sini, Tuan Reyhan menjamu kita dengan baik meskipun dikurung di kamar. Tolong bantu aku sekali lagi, Sisi. Tolong percaya padaku dan Tuan Reyhan,” pinta Annabelle sambil menggenggam kedua jemari Sisi, memohonnya dengan wajah memelas.


“Baiklah hanya 1 hari, berarti sampai besok. Kalau kamu tidak memberi kabar, maka aku akan menceritakan semuanya pada siapapun yang bisa membantumu.”


Annabelle mengangguk sambil tersenyum kemudian dia menoleh menatap Reyhan untuk memastikan janjinya pada pria itu.


“Baiklah, aku percaya padamu, namun jika kamu merusak kepercayaanku, bukan hanya dirimu yang akan menyesal, tapi sahabat dan keluargamu akan menyesali keputusanmu hari ini !”


“Terima kasih Reyhan,” Annabelle tersenyum lebar. “Mataku memang tidak pernah salah menilai orang. Kamu adalah pria yang sungguh-sungguh berhati baik.”


Reyhan melengos kesal dan membuang muka ke lain arah. Rasanya memang sulit menolak permintaan Annabelle yang menatapnya dengan penuh keyakinan dan kejujuran.

__ADS_1


__ADS_2