Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Bertemu Dambaan Hati


__ADS_3

“Kamu nggak salah minum obat kan, Yudha ?” dahi Annabelle berkerut memperhatikan wajah pria di sampingnya yang sejak tadi senyum-senyum sendiri.


“Atau kamu lagi tebar pesona ?” lanjut Annabelle dengan nada tidak suka.


Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka sempat memberikan tatapan aneh lalu mulai kasak kusuk membuat Annabelle bingung.


Begitu melirik Yudha ternyata psikiater itu lebih mirip orang setengah, senyum-senyum tanpa bicara seolah menyapa setiap orang tapi matanya ke lain arah.


“Yudha aku tinggal nih kalau kamu begitu terus.”


Annabelle mulai cemberut dan Yudha malah mempererat genggaman tangannya yang sejak tadi menggandeng Annabelle.


“Rasanya masih belum percaya kalau aku bisa kencan begini, sama perempuan cantik lagi.”


“Jangan ngadi-ngadi Yudha, biasa aja kenapa sih ?”


Bukannya melambung diberi gombalan pria tampan berstatus piskiater, bibir Annabelle malah mengerucut.


“Jangan ngambek begitu, sayang, bikin aku tambah gemes,” bisik Yudha sambil membawa Annabelle masuk ke area bioskop.


Annabelle tersenyum tipis. Rasanya malah aneh melihat Yudha bersikap romantis, lebih nyaman kalau pria itu bersikap biasa saja.


“Mau nonton film apa ?” tanya Yudha di saat mereka antri untuk membeli tiket.


“Aku ikut aja, yang penting jangan film horor, aku nggak bisa menikmatinya.”


“Baru aku mau ajak nonton film itu,” Yudha menunjuk satu poster film luar yang judulnya sudah bikin bulu kuduk berdiri.


“Kata orang kalau pacaran paling enak nonton film


horor. Lagi adegan seram, tinggal lari ke pelukan.”


“Pelukan siapa ? Tetangga ? Atau si mbah ?” ledek Annabelle sambil terkekeh.


“Ya ampun ke dalam pelukan pacar dong, sayang.”


“Yudha berhenti deh ngomongnya pakai sayang-sayang segala, bukannya bikin hati berdebar malah geli-geli ngeselin. Aku lebih suka dengan Yudha yang biasa-biasa aja, nggak perlu lebay.”


“Kamu tuh bisa romantisnya sama Alden doang,” cebik Yudha.


Annabelle ingin menjawab tapi sekarang giliran mereka memesan tiket. Tidak ingin berdebat dan membuat antrian bertambah panjang, Annabelle hanya bisa pasrah saat Yudha bersikeras memilih film horor.


“Film ini lagi populer banget dibicarakan di media sosial. Selain pemainnya keren, ceritanya juga bagus,” Yudha mengoceh setelah mereka selesai membeli tiket.


Annabelle hanya iya iya saja karena sedikit tidak mengerti apa yang dibicarakan Yudha. Maklum karena tidak suka dengan film bergenre horor, Annabelle tidak pernah mengikuti update beritanya.


“Kamu mau popcorn ?”


Annabelle melirik jam tangannya, masih ada waktu 30 menit sebelum pintu studio dibuka.


“Nanti aja pas mau masuk, kalau beli sekarang akhirnya habis sebelum film dimulai.”


Yudha mengangguk lalu menggandeng Annabelle mengajaknya duduk di sofa yang kosong.


Keduanya duduk di sofa tanpa perbincangan malah sibuk dengan handphone masing-masing.


Annabelle sedang mempertanyakam perasaanya sendiri, kenapa tidak ada rasa berdebar saat digandeng Yudha, dipanggil sayang dan diperlakukan begitu manis layaknya seorang kekasih ? Apa butuh waktu lama untuk mendatangkan debaran itu ?


“Yudha.”


Annabelle terputus dari lamunannya saat mendengar suara wanita menyapa teman kencannya. Kepalanya menoleh ke kiri, ternyata Yudha sudah tidak ada di sampingnya, entah sejak kapan.


Begitu kepala Annabelle berputar kembali ke arah lurus, terlihat Yudha sedang berdiri di dekat poster dan seorang wanita cantik yang tadi menyapanya berdiri tepat di depan Yudha.


Tangan keduanya berjabatan namun ada rona malu-malu tersirat di kedua wajah itu, seperti semburan asmara yang keluar dari gejolak hati yang sedang jatuh cinta.


“Apa kabarmu ?”’tanya wanita itu sambil tersenyum dan mencoba bersikap biasa saja meski wajahnya terasa menghangat.


”Baik, kamu sendiri bagaimana ?”


“Aku baik-baik juga,” wanita itu mendadak tersipu.


Annabelle menyipitkan mata, berusaha mengenal wanita yang sedang berbincang dengan Yudha. Selain itu Annabelle melihat sepertinya Yudha bertingkah sama anehnya.


Annabelle menatap ke lain arah, kembali menganalisa hatinya. Seharusnya dengan statusnya sebagai kekasih dsn teman kencan Yudha hari ini, hati Annabelle akan langsung panas melihat teman kencannya berbicara dengan wanita lain dengan gestur tubuh yang terlihat seperti pria yang sedang jaruh cinta.


Annabelle kembali menyipitkan matanya saat melihat wanita itu ternyata tidak sendirian, ada bocah berusia sekitar 4-5 tahun muncul dari sisi kirinya sekarang berdiri di tengah, di antara Yudha dan wanita itu.


Annabelle mencoba menebak siapa wanita yang tengah berbincang dengan Yudha. Sepertinya sosok itu familiar meski Annabelle belum pernah bertemu dengannya.


Annabelle menopang keningnya sambil berusaha keras mengingat wanita itu.


Saat menjadi Sarah Belle, Annabelle ingat kalau Yudha pernah bercerita tentang cintanya yang kandas karena Yudha merasa kalah sebelum berusaha.

__ADS_1


Annabelle pun beranjak dari kursinya dengan senyum cerah, melangkah pasti mendekati pasangan yang sedang lupa diri itu.


“Lusia, ya ?”


Wanita itu mengernyit saat Annabelle langsung menyapa tanpa basa-basi. Pasalnya wanita yang dipanggil Lusia itu tidak mengenal siapa Annabelle.


Yudha sendiri langsung mengutuki dirinya sambil membuang muka karena merasa kebodohan besar baru saja dilakukannya. Yudha sampai lupa kalau sedang kencan dengan Annabelle. Sepertinya Yudha harus siap siaga menerima amukan Annabelle.


“Lusia ?” Annabelle kembali mengulang sapaannya.


“Eh.. maaaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya ? Apa anda salah satu ibu pasien saya ?”


“Jadi benar anda dokter Lusia ?”


“Iya, saya dokter Lusia. Maaf kalau saya lupa pada Ibu,..”


“Apa tampang saya begitu tua sampai cocok dipanggil ibu ?” Annabelle tertawa tanpa tersinggung sedikitpun.


“Eh.. Bukan maksud saya begitu, maaf kalau saya salah.”


“Tidak apa-apa, salah saya juga belum memperkenalkan diri,”Annabelle mengulurkan tangan.


“Nama saya Annabelle, saya sepupunya Yudha.”


“Sepupu ?” Spontan Yudha tercengang, tidsk menyangka kalau Annabelle bukan menyebut dirinya kekasih Yudha.


“Lusia,” wanita itu memperkenalkan dirinya.


Annabelle berjongkok, mensejajarkan dirinya pada bocah yang berdiri memegangi celana panjang Lusia.


“Halo tampan, boleh kenalan ?” Annabelle kembali mengulurkan tangannya.


Bocah laki-laki itu tampak ragu membalas uluran tangan Annabelle. Ia mendongak menatap Lusia seolah bertanya dan minta ijin. Begitu Lusia mengangguk, tangannya langsung terulur menjabat tangan Annabelle.


“Yudis,” bocah itu memperkenalkan diri. Annabelle langsung senyum-senyum, sekarang ia yakin kalau Lusia adalah tokoh utama dari salah satu cerita yang pernah mengisi hati Yudha.


“Onti Annabelle, biasa dipanggil Belle, jadi kamu boleh panggil onti Belle.”


Annabelle tersenyum lebar sambil menggerakan pelan-pelan jabatan tangannya. Bocah itu pun ikut menarik kedua sudut bibirnya meski tidak selebar Annabelle.


“Yudis mau nonton film apa ?”


Bocah itu menunjuk poster yang terpasang di sisi krii Lusia.


“Yudis mau nonton sama onti ? Biar mama nonton sama om Yudha ?”


Bocah itu spontan mengangguk namun beberapa detik ia baru sadar kalau belum bertanya pada Lusia.


Kepalanya kembali mendongak, seperti tadi menunggu respon Lusia.


Annabelle bangun karena kakinya mulai terasa pegal. Sedikit limbung hingga Yudha memeluk pinggang Annabelle supaya tidak jatuh.


“Thanks,” Annabelle tersenyum pada Yudha lalu kembali fokus pads Yudis yang wajahnya berubah datar lagi.


“Biar saya yang menemani Yudis nonton. Kalian berdua kan udah lama nggak ketemu, jadi biar bisa ngobrol lama, kita tukeran aja.”


Lusia menautkan alis karena bingung, lalu ia menatap Yudha berharap pria itu memberi penjelasan.


“Permisi sebentar,” Yudha langsung menarik Annabelle menjauh.


“Kamu kok aneh-aneh aja ? Kita lagi kencan, kamu malah mau temani anak orang dan suruh aku nonton dengan wanita lain,” Yudha langsung cemberut karena merasa Annabelle mengambil keputusan tanpa bicara dulu padanya.


“Dikasih kesempatan sama Tuhan buat memperbaiki penyesalan jadi harapan, jangan disia-siakan.”


“Maksud kamu apa ? Jangan bilang kamu lagi cemburu ?” Yudha malah balik mengernyit sambil tertawa.


“Lusia itu dokter yang pernah kamu ceritakan, kan ? Cintamu yang tidak bisa tergapai karena kamu takut ditolak, karena secara ekonomi hidup kalian bagaikan langit dan bumi. Sekarang dia ada di depan mata setelah sekian lama pergi tanpa kabar berita. Dan Yudis, adalah anak Lusia yang kamu akui sebagai anakmu saat pertama lahir ke dunia kan ?”


“Kamu kok tahu detil ceritanya ?”


“Dasar psikiater somplak,” Annabelle mencebik dengan wajah sebal. “Tentu saja karena kamu yang menceritakannya, Yudha. Gara-gara merasakan debar yang sudah lama menghilang, otakmu mendadak kosong. Bisa-bisanya sampai kamu lupa kalau sedang mengajak kencan anak gadis orang.”


Yudha tertawa melihat Annabelle yang mengomel tapi tidak sungguh-sungguh marah.


“Jadi sekarang gimana ?”


“Aku kasih kamu kesempatan untuk mendekati Lusia lagi, jangan pikirkan soal kencan kita, fokus saja mengejar cintamu dairpada akhirnya jadi jones abadi.”


“Jangan sumpahin yang jelek-jelek,” cibir Yudha.


“Bukan disumpahin tapi diselamatkan,” Annabelle balas mencibir.


”Kita tukeran pasangan nonton, kamu sama Lusia, biar aku yang ajak Yudis. Lagipula sekalian aku bisa menghindar nonton film horor.”

__ADS_1


Annabelle meninggalkan Yudha lebih dulu karena informasi pintu studio sudah dibuka terdengar dari pengeras suara.


“Saya boleh minta tiketnya ? Biar saya yang temani Yudis nonton. Yudis mau kan nonton sama onti ?”


”Eeh nggak apa-apa, saya nggak mau mengganggu…”


“Nggak ganggu sama sekali,” Annabelle memotong ucapan Lusia sambil menggeleng.


“Saya juga terpaksa temani Yudha nonton film, kasihan kalau sendirian, apalagi film horor yang dia pilih. Jangan sampai waktu kaget yang dipeluk malah tokoh utama filmnya,” ujar Annabelle terkekeh.


Yudha melotot di belakangnya. Bisa-bisanya bocah ini mengasihani dirinya.


Lusia sempat menatap Yudha yang mengangguk memastikan kalau mereka boleh bertukar teman kencan nonton film.


“Sebetulnya…” Lusia ragu-ragu saat mengulurkan tiket yang langsung disambar Annabelle.


“Tenang aja, Yudis aman sama saya. Saya suka sama anak kecil dan biasanya mereka juga senang sama saya. Iya kan Yudis ?”


Bocah itu mengangguk sambil tersenyum dan mersih jemari Annabelle yang terulur.


“Kami masuk duluan,” Annabelle mulai berjalan menggandeng Yudis.


“Tunggu Belle,” Lusia menahan lengan Annabelle. “Coba kamu cek dulu tiketnya.”


Annabelle manautkan alis melihat tulisan di tiket dan mencocokan nomor studio yang akan dia masuki bersama Yudis.


“Benar kok.”


“Tiketnya ada 3,” ujar Lusia menjelaskan kebingungan Annabelle.


Annabelle pun membuka tiket yang terlipat dan benar ada 3 lembar.


“Memangnya satu lagi untuk siapa ? Papanya Yudis ?”


“Bukan, sebenarnya saya janjian….”


“Maaf aku terlambat.”


Tubuh Annabelle langsung menegang meski ia tidak meihat mahluk yang menyapa Lusia. Sepersekian detik Annabelle langsung mendengar gelak tawa Yudha.


Annabelle mengigit bibirnya menahan kesal karena Yudha menertawakannya. Sementara Lusia dan Alden tampak mengerutkan dahi, bingung dengan tawa Yudha.


Alden sendiri belum tahu kalau teman kencannya berubah.


“Ada apa ini ?” Alden bertanya dengan alis masih menaut.


Annabelle melotot saat melihat dua mahluk lain berjalan mendekat ke arahnya. Matanya tidak percaya saat melihat kedua mahluk itu bergandengan tangan.


“Lagi nonton juga Belle ?” sapa Sisi sambil tersenyum bahagia dan tanpa malu-malu sahabat Annabelle itu membiarkan tangannya digandeng Raka.


“Belle ?” Alden menyentuh bahu gadis itu, tidak menduga kalau Annabelle ada di situ.


“Selamat berkencan, Belle,” ledek Yudha yang malah menarik tangan Lusia.


Annabelle membalikkan badan ingin memaki Yudha dan batal bertukar tempat dengan Lusia, tapi Yudha sudah bergegas menjauh.


“Hati-hati salah pegang di dalam bioskop, Belle,” ledek Sisi sambil berbisik di telinga Annabelle.


Annabelle menghela nafas kesal dengan wajah ditekuk.


“Onti, kita masuk,” Yudis menggoyangkan tangan Annabelle yang menggandengnya.


“Eh iya, ayo,” Annabelle terpaksa tersenyum manis pada Yudis dan berjalan ke arah pintu masuk studio.


Alden mengikuti mereka dengan senyuman bahagia. Sadar kalau ia sedang dikerjai asisten sekaligus sahabatnya tapi kalau begini Alden pasti tidak akan marah, justru berterima kasih.


Yudis tidak mau duduk di antara Alden dan Annabelle hingga dengan terpaksa, Annabelle yang duduk di tengah, diapit 2 pria beda generasi.


Belum lama duduk, Alden beranjak bangun dan meninggalkan kursinya tanpa bilang apa-apa. Annabelle menghela nafas, berpikir kalau Alden pasti menyesal karena teman kencannya ganti, bukan Lusia.


Pikiran negatif langsung berganti-ganti di otaknya, membuatnya tidak fokus menanggapi celoteh Yudis yang ternyata bawel juga.


Sesaat setelah lampu dipadamkan, tahu-tahu Alden sudah kembali duduk di sampingnya membawa dua popcorn.


“Ini untuk Yudis,” Alden sengaja mencondongkan tubuhnya ke arah Yudis dan memberikan satu popcorn.


“Mama bilang Yudis boleh makan popcorn, nanti bagi onti dan uncle.” Bocah itu mengangguk sambil tersenyum.


Annabelle yang duduk menempel pada bangku sedang berusaha mengendalikan debar jantungnya. Posisi Alden begitu dekat di depannya hingga Annabelle bisa mencium wangi khas tubuh Alden.


“Dan ini untukmu, popcorn asin ekstra butter,” Alden menyerahkan satu popcorn lainnya pada Annabelle.


“Terima kaih,” Annabelle mengambilnya dari tangan Alden yang sengaja menempelkan jemari mereka.

__ADS_1


__ADS_2