
Dua hari berlalu sejak Reyhan bertemu dengan Annabelle, pria itu memutuskan untuk menemui Sarah.
Banyak hal yang dipikirkannya soal ucapan Annabelle yang akhirnya gagal diajak kencan hari itu, hanya lanjut makan dan mengobrol santai seperti yang pernah terjadi saat Annabelle menjadi Sarah Belle.
“Apa lagi yang ingin kamu bicarakan ?” Sarah dengan wajah datar menatap Reyhan yang duduk bersandar pada kursi
Keduanya sedang duduk behadapan di salah satu café yang letaknya tidak jauh dari kantor Sarah yang baru.
“Meluruskan kesalahpahaman. Bagaimana pekerjaanmu ?” sahut Reyhan sama datarnya sambil menatap Sarah.
“Jadi kamu yang mengatur supaya aku bekerja di situ ? “ Sarah tersenyum sinis. “Jangan bilang kamu masih peduli padaku tapi tidak bisa terikat denganku ?”
“Tidak perlu kebiasaan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan saat kita bertemu untuk membicarakan masalah yang ada di antara kita,” sahut Reyhan dengan senyuman tipis.
Sarah tersenyum getir sambil menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
‘Kesalahpahaman yang mana ? Bukankah terlalu banyak kesalahpahaman di antara kita?”
“Ya, sejak dari awal hubungan kita sudah dimulai dengan kesalahpahaman dan akhirnya sama-sama menghancurkan kita berdua,” sahut Reyhan lagi menjawab pertanyaan Sarah.
“Jadi ?” ejek Sarah dengan senyuman sinis.
“Kita selalu bisa mencari fakta-fakta yang tersembunyi untuk membantu klien, tapi sayangnya kita tidak cukup teliti untuk mencari fakta tentang hidup kita sendiri. Kita hanya melihat kejadian hidup dari bagian atasnya saja, tanpa mencari tahu bagaimana bagian yang terlihat itu menjadi seperti itu.”
“Aku tidak perlu mendengar nasehatmu panjang lebar, langsung ke intinya saja.”
“Berhentilah jadi wanita pendendam yang suka menyalahkan orang lain sebagai penyebab kekacauan dalam hidupmu. Entah Alden atau Annabelle, papaku dan siapapun yang masuk dalam daftar hitammu,”
“Perempuan yang sok suci itu yang memintamu ?” Sarah masih terlihat sinis.
“Annabelle maksudmu ?” Reyhan tertawa pelan. “Kamu berlagak seperti kekasih yang sedang cemburu ?”
Sarah hanya melengos kesal dan tidak menjawab, kedua tangannya dilipat di depan dada.
“Jangan lagi menyeret orang lain untuk dijadikan kambing hitam. Seharusnya mungkin kamu harus berterima kasih pada Belle yang membuatku memintamu bertemu hari ini. Berhentilah menjadi pendendam dan terimalah kenyataan kalau hubungan kita sudah tidak baik-baik saja saat ini.”
“Kalau gadis brengsek itu tidak…”
“Bukan karena Belle yang membuat kita menjadi seperti ini, tapi kita berdualah yang menjadi penyebabnya. Terlalu banyak kita berandai-andai untuk mencari pembenaran atas kesalahan yang kita perbuat, hampir mirip dengan pekerjaan kita yang kadang-kadang membela orang-orang yang membutuhkan alasan untuk membenarkan kejahatan mereka.”
“Kamu tidak percaya kalau aku sudah berniat menghancurkan file yang ada di diska lepas itu, Kalau cewek si**lan itu tidak memberikannya padamu, sudah pasti….”
“Tidak ada yang pasti dalam hidup, kamu tahu itu,” potong Reyhan. “Kalau pun aku tidak pernah menerima diska lepas itu, kamu pikir papa akan mudah memberikan restu untuk menikahimu ? Papa tidak pernah tenang selama melihatmu berada di dekatnya karena menganggap dirimu bagaikan bom nuklir yang suatu waktu bisa menghancurkannya. Akan satu titik dimana papa akan melawanmu dan membebaskan dirinya dari kecemasan karena ancamanmu. Jadi dengan atau tanpa Annabelle, apa yang kamu lakukan pada papa di masa lalu akan terkuak.”
“Aku bisa bicara dengan Tuan Peter Gilang seandainya cewek si**lan itu tidak sok kepo mengambil langkah di depanku.”
“Cukup Sarah !” bentak Reyhan dengan tegas. “Berhentilah menjadi wanita pendendam. Kalau aku mau mencari-cari alasan denganmu, saat kamu sadar setelah kecelakaan itu, aku tidak akan menerimamu kembali karena kamu tahu ? Hatiku benar-benar hancur begitu mendengar kalau calon anak kita meninggal. Saat itu aku hanya berharap bisa membeli waktu dan memaksamu untuk meninggalkan Alden sehingga kecelakaan itu tidak terjadi.”
“Saat aku sadar, kamu sedang bersama Siska di kamar kita !” Sarah tidak mau kalah menjawb dengan suara yang cukup tinggi dan senyuman getir.
“Kamu sadar jauh sebelum itu, tapi kamu hilang ingatan. Saat itu aku tidak peduli karena melihatmu bisa sadar kembali, aku cukup bahagia. Masalah diska lepas itu tidak sepenuhnya keinginan Annabelle, tapi kondisimu yang tidak tahu tentang banyak hal membuat semuanya terbongkar.”
Sarah mengerutkan dahi mencoba memastikan ucapan Reyhan. Pria itu sendiri berusaha terlihat tetap tenang supaya Sarah tidak tahu kalau dia sedang berbohong. Wanita seperti Sarah akan sulit diberi penjelasan masalah Annabelle yang meminjam tubuhnya selama 100 hari.
“Tidak mungkin !”
__ADS_1
“Sebetulnya aku bertemu denganmu bukan untuk mencari siapa yang benar atau salah karena kekacauan ini terjadi karena keegoisan kita berdua. Aku hanya ingin menegaskan kalau aku masih berharap kamu berubah. Mungkin di saat aku merasa kamu bisa melepaskan dirimu dari belenggu dendam, aku akan memikirkan apa mungkin kita masih bisa menjalani semuanya dari titik nol lagi.”
“Kamu pikir aku bersedia menerimamu yang seenaknya tidur dengan banyak wanita ?” ejek Sarah sambil tersenyum sinis.
“Kita berdua bukan orang-orang yang suci, Sarah. Bahkan membiarkan rasa benci dan dendam tumbuh subur dan mencuci otak kewarasan kita sudah membuat kita menjadi manusia yang tidak baik.”
“Kamu bukanlah hakim hidup manusia !”
“Sepertinya sulit berbicara baik-baik denganmu dan semoga saja saat kamu mau berubah, semuanya belum terlambat. Pikiranku belum berubah dan kesempatan itu belum pergi.”
Reyhan tertawa getir dan beranjak dari kursinya. Ternyata Sarah begitu mirip dengan Amora dan Riri soal dendam mendendam. Ketiganya sama-sama sulit menerima penolakan dan kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka.
“Cobalah pikiran baik-baik, Sarah. Saat kamu mengucapkan kata penyesalan, mungkin tidak akan datang lagi kesempatan lain untuk memperbaiki semuanya.”
Reyhan pun meninggalkan Sarah sendirian. Pria itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ternyata cinta tidak cukup untuk membuat Sarah membuka hati dan pikirannya.
***
“Jadi beneran itu Sarah dan Reyhan ?” tanya Sisi memastikan pada Raka yang duduk di seberangnya.
Keduanya baru saja makan siang bersama dan memilih café ini untuk bersantai sejenak sebelum kembali ke kantor.
Saat ini Sisi sudah menjadi karyawan tetap di perusahaan tempatnya magang dan Raka masih setia menjadi asisten pribadi Alden.
Sejak boss sekaligus sahabatnya itu tahu kalau Raka sudah memiliki Sisi sebagai kekasihnya, Alden mulai meringankan tugas Raka supaya asistennya itu memiliki lebih banyak waktu senggang.
“Iya beneran dan sepertinya Reyhan malas meneruskan pembicaraan mereka karena sejak tadi aku lihat Sarah masih saja keras kepala,” sahut Raka.
“Sepertinya tidak akan, selain karena posisi meja kita bukan di jalan keluar, Sarah juga sudah meninggalkan cafe,” Raka senyum-senyum melihat Sisi menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
“Huufftt lega kalau dia sudah keluar dari ini,” Sisi menarik nafas lega.
“Kenapa ? Takut Sarah menggila seperti saat melihat Annabelle ?”
Raka tertawa saat melihat Sisi mengangguk sambil menggedikan bahunya.
“Belle cerita sampai 2 kali dan yang terakhir membuat dia harus menandatangani pernyatan tidak akan ribut lagi dengan Sarah atau siapapun di tempat itu.”
Raka tertawa dan mengangguk-angguk. Dia sudah mendengar cerita itu dari Alden dan Raka lupa menanyakan darimana Alden mengetahuinya.
“Apakah Pak Alden akan berhenti menyukai dan mengejar Belle ?”
“Memangnya kenapa ?” Raka sampai menautkan alisnya, bingung dengan pertanyaan Sisi.
“Tidak apa-apa. Sejujurnya aku akan bahagia kalau Belle dan Pak Alden bisa bersatu. Semakin kemari aku melihat kalau Pak Alden memang mencintai Belle dengan tulus dan aku tahu kalau Belle tidK membenci Pak Alden seperti ucapannya selama ini.”
“Biarkan takdir mereka yang menjawabnya dan sekarang kita akhiri pembicaraan soal kedua mahluk yang sedang berjuang itu. Bagaimana kalau kita membahas soal hubungan kita saja ?”
Raka mengedipkan sebelah matanya sambil senyum-senyum.
“Hubungan kita yang bagaimana lagi ? Kan kita sudah resmi pacaran,” Sisi mengerutkan dahinya.
__ADS_1
“Apa kamu sudah siap kalau aku melamarmu dalam waktu dekat ?”
Sisi langsung tersedak minuman yang baru saja diteguknya. Raka beranjak dan menepuk-nepuk punggung Sisi lalu mengambil segelas air putih yang ada di meja.
“Sebegitu gugupnya kalau berada di dekatku dan berbicara serius soal hubungan kita ?” ledek Raka setelah Sisi sudah tenang lagi.
“Lagian pertanyaanmu membuat aku kaget,” gerutu Sisi dengan wajah cemberut. “Hubungan kita baru juga seumur jagung, kamu sudah membahas soal pernikahan.”
“Aku bukan orang yang suka lama-lama pacaran,” sahut Raka sambil tertawa.
“Kenapa ? Punya pengalaman buruk dalam percintaan ?” ejek Sisi sambil mencibir.
“Sejujurnya, iya. Aku sempat pacaran saat kuliah dulu, hampir 2 tahun. Aku bukan model orang yang menganggap pacaran sekedar untuk status dan senang-senang, sayangnya perempuan itu mempunyai pandangan yang berbeda denganku.”
“Kamu tidak pernah cerita denganku sebelumnya,” omel Sisi dengan wajah kesal.
“Tidak ada yang tahu bahkan Alden dan Yudha. Kami bertiga kuliah di tempat yang berbeda dan hanya sesekali bertemu karena sibuk dengan urusan masing-masing.
Setalah hubunganku kandas dengan perempuan itu, aku hanya menganggap semuany itu sebagai salah satu mata kuliah yang membuat aku belajar bagaimana harus menghadapi hidup ke depannya.”
“Siapa namanya ?” wajah Sisi yang cemberut menatap Raka dengan mata melotot.
“Mitha, namanya Paramitha. Kami pernah bertemu sekali saat aku baru kerja dengan Alden, dan setelah itu aku sendiri tidak tahu bagaimana kabarnya.”
“Kenapa ? Penasaran mau tahu bagaimana kondisi Mitha sekarang ? Memangnya kamu tidak ada letupan cinta lagi saat bertemu kembali dengannya ?”
Raka tertawa dan mencubit kedua pipi Sisi dengan gemas membuat bibir Sisi yang cemberut semakin mengerucut.
“Untuk apa memikirkan orang yang pernah mencampakkan kita ? Di depanku sudah ada gadis muda yang menggemaskan dan menjadikan diriku sebagai cinta pertamanya.”
“Jangan bilang begitu,” gerutu Sisi. “Kadang aku takut karena orang bilang kalau cinta petama tidak akan pernah berhasil tetapi sulit dilupakan.”
“Jangan hidup dari omongan orang lain, itu semua akan membuatmu tertekan dan akhirnya banyak melakukan kesalahan. Kita jalani saja dulu apa adanya, dan aku berharap kita perlu tidak terlalu lama pacaran, aku akan melamarmu jadi istriku.”
Sisi langsung tersipu dan wajahnya merona mendengar ucapan Raka yang secara tidak langsung memastikan hubungan mereka bukannya main-main.
“Jadi pingin cepat-cepat menikahimu dan sering melihat wajahmu yang menggemaskan begini.”
“Raka jangan sok gombal, deh,” gerutu Sisi dengan wajah yang kembali tersipu membuat Raka malah tertawa.
Raka mengerutkan dahi saat melihat nama Tami di layar handphonenya yang ada di atas meja. Tidak biasanya Tami menghubunginya apalagi tahu kalau saat ini Raka sedang keluar makan siang dengan Sisi.
Dahi Raka langsung berkerut saat mendengar ucapan Tami di handphone.
“Aku segera menyusul ke sana,” ujar Raka sambil beranjak bangun dan mengulurkan tangannya pada Sisi.
“Ada apa ?” tanya Sisi ikut mengerutkan dahi karena bingung melihat Raka terburu-buru meninggalkan café.
“Ada kericuhan di salah satu proyek kami di daerah Tangerang. Alden langsung ke sana karena mendengar kalau ada Om Rano di lokasi. Masalahnya Om Juan tidak bisa dihubungi.”
“Kalau begitu segera susul Pak Alden dan semoga semuanya baik-baik saja. Aku bisa balik sendiri ke kantor dan akan memberitahu Belle.”
“Jangan dulu,” cegah Raka. “Semuanya masih belum jelas. Jangan sampai Belle panik karena aku sendiri belum tahu keadaan di sana.”
“Baiklah,” Sisi mengangguk. “Aku menunggu kabar darimu.”
“Kamu beneran nggak masalah balik ke kantor sendirian ?” Raka terlihat ragu-ragu.
“Iya, nggak usah khawatir. Jaraknya kan juga nggak jauh dari sini. Lebih baik kamu cepat pergi.”
“Maaf Sayang,” Raka mencium kening Sisi sebelum berjalan ke parkiran.
__ADS_1
Sisi melambaikan tangan saat Raka sudah menjauh. Wajahnya kembali terasa panas mendapat ciuman dari Raka. Bukan yang pertama, tapi selalu membuat Sisi berbunga-bunga.