Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Hari ke-99


__ADS_3

Seperti seorang pesakitan yang menunggu hukuman mati, begitulah perasaan Annbelle pagi ini.


Hingga hari ke-99, Alden tidak pernah menyinggung soal Annabelle atau mengucapkan nama itu, membuat Sarah Belle yakin kalau hari ini adalah hari terakhir Annabelle menghirup nafas di dunia.


Bahkan hari ini, Alden sudah berangkat lebih pagi dari Tuan Wira dan melewatkan sarapannya bahkan menolak kopi buatan Sarah Belle.


“Maafkan semua kesalahan Belle, Tante. Apakah saya boleh minta tolong untuk memberitahukan pada papa dan mama tentang kejadian saya menempati tubuh Sarah ini ?”


“Kenapa tidak kamu ceritakan langsung pada mereka saat bertemu waktu itu ?”


“Tidak bisa, Tante. Saat mulut saya sudah mau bilang kalau saya adalah Annabelle, putri mereka, saat itu juga saya seperti orang bisu, lidah saya terasa kaku. Pernah sekali lagi saya menemui papa dan mama didampingi Yudha, tapi lagi-lagi gagal.”


Tidak lama Tuan Wira masuk ke ruang makan dan duduk di ujung meja makan sepertti biasa.


“Kalian kenapa ?” dahi Tuan Wira berkerut saat meihat mata istrinya basah dan wajah Sarah Belle berubah sendu.


“Alden buat ulah apa lagi ?” tanya Tuan Wira saat melihat kursi yang biasa ditempati Alden kosong.


“Bukan… Bukan karena Alden, Om,” sahut Sarah Belle cepat. “Semua karena saya,” lirihnya.


Dahi Tuan Wira kembali berkerut menatap Sarah Belle dengan wajah penuh tanda tanya.


“Saya mau pamit, Om,” lanjut Sarah Belle dengan senyuman yang dipaksakan. “Batas waktu yang diberikan untuk meminjam tubuh ini hanya sampai hari ini. Besok, entah jam berapa tubuh ini akan kembali menjadi Sarah dan Annabelle akan berakhir hidupnya.”


“Dan semuanya karena Alden, kan ?” Tuan Wira menghela nafas berat. “Kenapa kamu tidak bicara terus terang pada Alden ?”


“Sepertinya sudah ada aturannya, Om,” Sarah Belle tertawa sumbang. “Saya tidak bisa mengungkap identitas pada Alden dan keluarga saya sendiri. Setiap kali saya ingin menceritakannya, kalimat itu hanya berhenti di ujung lidah, semuanya tidak bisa terucap.”


Suasana berubah hening, hanya terdengar helaan nafas Tuan Wira. Nyonya Lanny hanya diam dan sudut matanya sesekali masih basah.


“Maaf saya sudah membuat suasana pagi ini jadi menyedihkan,” lirih Sarah Belle.


“Apa rencanamu hari ini. ?” tanya Nyonya Lanny dengan wajah sendu.


“Tidak ada yang ingin saya lakukan lagi, Tante. Yudha berjanji akan menemani saya hari ini dan sore nanti saya akan tinggal di rumah sakit. Saya tidak ingin jauh-jauh dari tubuh Annabelle, sama seperti pertama kali jiwa Annabelle menempati tubuh Sarah, saya pikir pertukaran kembali hanya akan rerjadi di rumah sakit juga.”


Sarah Belle tersenyum. Kali ini hatinya sudah bisa lebih tenang dan menerima kenyataan.


“Terima kasih untuk semua kebaikan Om dan Tante. Terima kasih atas semua kebaikan yang diberikan untuk keluarga saya selama ini dan maafkan saya karena sudah banyak merepotkan Om dan Tante, terutama karena suka membuat Alden kesal,” Sarah Belle tertawa pelan.


“Belle, jangan bicara begitu. Sudah berapa kali Tante bilang kalaupun kamu tidak berjodoh dengan Alden, kamu tetap putri kami. Bahkan kami mendukung kalau memang Yudha ingin memperistrimu.”


“Yudha itu suka bercanda, Tante, jadi jangan terlalu serius menanggapi ucapannya,” Sarah Belle terkekeh.


“Tapi Om tidak melihat keinginan Yudha sebagai candaan,” ucap Tuan Wira membuat Sarah Belle tersipu. “Yudha bahkan juga bicara hal yang sama pada Om. Seandainya Annabelle akan baik-baik saja tanpa campur tangan Alden, maka Yudha akan membawamu pergi jauh dari Alden.”

__ADS_1


Sarah Belle kembali tersipu mendengar ucapan Tuan Wira membuat suasana yang tadinya melow berubah lebih santai.


“Yudha juga pernah bilang begitu sama saya, Om,” sahut Sarah Belle pelan.


Pasangan suami istri Hutama itu langsung tertawa melihat wajah Sarah Belle yang merona dan tangannya cepat-cepat menyendok nasi goreng, memasukannya ke dalam mulutnya sendiri.


***


Jam 9 pagi Sarah Belle pamit meninggalkan rumah keluarga Hutama tanpa membawa apa-apa dan tidak meninggalkan catatan apapun untuk Alden.


Tujuan pertama Sarah Belle adalah kampus dan Sisi. Diantar oleh sopir keluarga Hutama, Sarah Belle langsung menuju kampusnya dan membuat janji bertemu Sisi jam 11.


Masih ada waktu satu jam limabelas menit.


Sarah Belle menyusuri lorong menuju taman kampus yang berada di belakang kampus.


Sebetulnya waktu kuliah mereka tidak sama. Sisi kuliah di pagi hari sementara Annabelle mengambil kelas karyawan di malam hari.


Mereka tidak sengaja bertemu di taman ini saat keduanya melepas kelelahan mereka setelah seharian beraktivitas.


Sama seperti Annabelle, Sisi harus bekerja setelah kuliah. Mencari tambahan untuk biaya hidup dan sebagian biaya kuliahnya.


“Belle !” pekik Sisi dengan wajah bahagia.


Beberapa mahasiswa yang ada di situ menoleh, merasa aneh karena Sisi memanggil wanita yang terlihat lebih tua seperti teman sebayanya.


Baginya Sarah adalah Annabelle, sahabatnya. Wajahnya boleh milik orang lain tapi sikap Sarah tetaplah seorang Annabelle yang menjadi sahabat Sisi selama 3 tahun ini.


“Gimana kuliah ?” Sarah Belle membiarkan Sisi menggandeng lengannya sambil berjalan menuju gerbang kampus.


“Sebentar lagi harus ambil magang, Belle terus balik kuliah dan bikin skripsi.”


“Semoga gue masih punya kesempatan merasakan semuanya. Tapi kemungkinan gue akan jadi adik kelas elo karena orangtua gue udah mengajukan cuti 1 semester.”


“Belle, elo anak pintar, pasti bisa lulus bareng gue. Lagipula masalah magang 6 bulan bisa elo skip karena saat ini kan elo kuliah kelas karyawan.”


“Semoga aja,” Sarah Belle tertawa.


“Wuuiihh keren banget nih mobilnya, pakai sopir segala lagi,” Sisi melirik seorang pria paruh baya yang duduk di kursi pengemudi mengangguk saat Sarah Belle membukakan pintu untuk Sisi.


“Udah jangan malu-malu. Hari ini kita bergaya ala orang kaya,” Sarah Belle kembali tertawa.


Sisi yang semula ragu akhirnya naik ke dalam mobil dan menikmati nyamannya mobil mewah milik keluarga Hutama.


Keduanya berbincang soal program magang yang harus dijalankan sebentar lagi.

__ADS_1


“Nggak salah kita makan di sini, Belle ?” Sisi tampak mengerutkan dahi saat mengajaknya masuk ke salah satu cafe dekat kampus yang terkenal cukup bergengsi.


Sarah Belle memang sengaja meminta sopir membawanya kemari, tempat yang pernah menjadi incarannya dan Sisi saat mereka masih kuliah semester 4.


Sarah Belle menarik lengan Sisi, mengajaknya mengikuti pelayan yang mengantar mereka ke salah satu meja.


“Tenang aja, sekali-sekali jadi orang kaya,” Sarah Belle tertawa pelan. “Pesan apa yang elo suka, jangan lihat harga khusus hari ini.”


Sisi menurut dan memesan makanan serta minuman yang sudah lama ingin dicobanya.


“Gue bisa minta bantuan elo lagi, Si ?”


Wajah Sarah Belle berubah serius setelah berbincang seputar kuliah dan rencana masa depan mereka setelah lulus.


Keduanya masih menikmati makanan dan minuman pesanan mereka.


“Elo nggak perlu minta begitu. Selama bisa gue lakukan, pasti akan gue jalani buat elo.”


“Thankyou,” Sarah Belle tersenyum.


“Gue mau minta tolong elo temuin Reyhan sekali lagi seandainya besok gue nggak bangun lagi.”


“Jangan ngomong begitu dong, Belle,” wajah Sisi berubah sedih.


“Bukan nakutin atau ngada-ngada, Si. Seperti cerita gue sebelumnya kalau gue hanya bisa meminjam tubuh Sarah sampai 100 hari. Nggak ada yang berubah dari Alden, makanya gue hanya bisa pasrah.”


“Terus gue ngapain ketemu Reyhan lagi ?”


“Gue udah minta tolong Om Juan, orang kepercayaannya Om Wira untuk menemui elo setelah lewat 100 hari. File asli rekaman video dan foto milik Sarah gue titip sama Om Juan. Gue nggak kasih Om Juan atau Yudha yang menyerahkannya sama Reyhan biar cowok itu nggak punya pikiran macam-macam, maksud gue biar Reyhan nggak akan kepikiran kalau file itu diduplikasi oleh Om Juan atau Yudha sesndainya mereka yang kasih ke Reyhan.


Gue udah melarang juga Om Juan bikin duplikasi. Kasihan kehidupan keluarga Reyhan kalau sampai video dan foto itu beredar. Gue mau memutus rencana Sarah untuk menghancurkan hidup orang lain.”


“Belle, apa nggak ada cara lain yang buat elo bangun dalam tubuh elo lagi ?” tanya Sisi dengan wajah sedih.


“Kalau gue tahu pasti udah gue lakukan,” Sarah Belle tertawa pelan. “Rasanya kok miris banget, gue harus meninggal di hari kelahiran gue.”


“Ya ampun !” Sisi menepuk jidatnya. “Terlalu fokus dengan keadaan elo sekarang, gue sampai lupa kalau besok elo ulangtahun.”


“Udah jangan lebay,” Sarah Belle tertawa sambil mencibir. “Besok gue masih punya waktu sampai jam 12 malam sebelum akhirnya lepas dari tubuh Sarah.”


“Terus ?”


“Kalau besok gue masih bangun di tubuh Sarah, elo harus bawain gue kue strawberry yang ada di kafe tempat elo kerja, sepotong aja, jangan satu loyang,” ujar Sarah Belle sambil tertawa.


“Bisa diatur, besok gue bawa kemana ?”

__ADS_1


Sarah Belle tersenyum dan wajahnya berubah sendu.


“Semuanya masih abu-abu buat gue,” lirihnya sambil menghela nafas panjang.


__ADS_2