
“Maaf aku terlambat,” Annabelle menarik kursi yang ada di hadapan Reyhan.
Tiga hari sejak kejadian di cafe dengan Sarah. Annabelle memutuskan untuk bertemu dengan Reyhan, hanya ingin memastikan soal Sarah.
Dua hari kemudian, Reyhan baru mengiyakan permintaan Annabelle dan menemuinya di tempat ini.
“Kamu tambah cantik aja,” puji Reyhan setelah Annabelle selesai memesan minuman.
“Nggak butuh gombalan dan nggak akan termakan ucapan pengacara terkenal,” sahut Annabelle sambil terkekeh.
“Ya ampun, Belle, jangan nethink, dong. Nggak selalu pengacara berbicara seperti di ruang sidang.”
Annabelle tertawa membuat Reyhan sempat terpesona.
“Maaf mengganggu waktumu. Aku nggak akan basa basi lagi, biar tidak buang-buang waktu.”
“Hari ini waktuku panjang, apalagi untuk gadis cantik sepertimu, Belle.”
“Haiisss… gombalan receh, belum juga minum kok rasanya pingin muntah, “ cibir Annabelle yang hanya ditanggapi dengan tawa Reyhan.
“Masalah apa yang mau kamu bahas ? Butuh jasaku sebagai pengacara ?”
“Ternyata kamu bukan pria yang keren-keren banget.”
“Masih tetap lebih keren dari Alden,” ledek Reyhan membuat Annabelle mencebik.
“Aku mau membicarakan Sarah,” ujar Annabelle.
Tawa Reyhan langsung terhenti dan dahinya berkerut, menatap Annabelle dengan wajah serius.
”Apa Sarah membuat masalah lagi denganmu sampai membuat Alden marah ?”
“Sepertinya aku harus mengambil langkah seribu begitu melihat Sarah ada di dekatku,” Annabelle kembali terkekeh.
“Dia kembali menjambakku, mempermalukan aku di depan kedua teman kampusku sampai akhirnya aku harus menandatangani surat pernyataan di Cafe Gema dan dilarang ke sana selama 6 bulan.”
“Serius, Belle ?” Reyhan sampai mencondongkan badannya dan menatap Annabelle dengan mata membulat.
“Sebetulnya bukan hak aku mencampuri urusan pribadimu, tapi karena Sarah selalu cari gara-gara, aku ingin minta tolong supaya menjaga kekasihmu itu dengan baik. Mungkin kalau kamu bisa memperlakukannya dengan baik, Sarah merasa lebih tenang karena posisinya sebagai kekasihmu tidak terancam.”
Reyhan terdiam dan meneguk minumannya hingga setengah.
“Rey, apa yang terjadi pada Sarah tidak bisa dihapus, tapi aku bisa melihat dan merasakan kalau cinta Sarah padamu tulus.”
“Saat mengetahui kalau Sarah hamil anak kami, aku sudah memintanya untuk meninggalkan Alden, melupakan semua dendamku dan melanjutkan hubungan kami lebih serius. Bukan hanya sekali aku memintanya, bahkan sampai 4 kali, tapj Sarah tetap bersikukuh. Aku merasa kecewa saat mengetahui Sarah kecelakaan sampai harus kehilangan calon buah hati kami.”
“Maafkan aku Rey, seandainya malam itu aku tidak mengajak Sarah pergi….”
“Kamu melakukan semua itu untuk Alden, aku justru mengagumi pengorbananmu. Kalau kamu tidak datang dan mencegah Sarah memberikan obat bius pada Alden, aku tidak yakin kalau hatiku mampu menerima dengan lapang dada tindakan Sarah yang membuat Alden berpikir telah menidurinya,” Reyhan tersenyum getir.
“Rey,” Annabelle menyentuh jemari Reyhan.”Maaf sekali lagi kalau aku mencampuri urusan pribadimu. Kamu adalah pria yang baik, hangat dan penuh cinta. Aku tahu kalau kamu tulus mencintai Sarah dan menghargainya sekalipun hatimu kecewa karena kehilangan calon anak kalian. Berhentilah hidup di atas dendam dan kebencian, Rey, karena pada akhirnya kamulah yang akan paling menderita saat dendammu terbalaskan.”
“Mungkin,” Reyhan kembali tersenyum getir. “Banyak yang sudah aku lakukan untuk melampiaskan rasa marahku pada Sarah, terutama saat tahu kalau ia rela melakukannya pada papa hanya untuk memuaskan dendamnya. Aku bukan lagi Reyhan yang sama, Belle.”
Tanpa Annabelle duga, Reyhan jusrru balas menggenggam jemarinya. Dengan wajah sendunya, Reyhan menceritakan apa yang sudah ia lakukan pada Sarah termasuk tidur dengan wanita-wanita bayaran hanya untuk menyakiti Sarah dan memuaskan hatinya yang merasa telah ditipu oleh Sarah.
__ADS_1
“Apakah semua itu bisa meredakan amarahmu, Rey ? Bisa menghapus rasa sakit hatimu dan rasa benci yang membuat nafasmu sesak ?”
Reyhan tersenyum tipis. Bukan hanya satu tangannya, namun Reyhan menggenggam jemari Annabelle dengan kedua tangannya.
“Jangan membohongi diri sendiri. Sarah juga mencintaimu, apa yang dilakukannya pada Alden karena ingin membuatmu bahagia kalau berhasil membalaskan kemarahanmu atas kematian Riri.”
Annabelle tersenyum, ia mencoba menarik jemarinya yang digenggam Reyhan karena ada rasa sungkan.
”Kenapa ? Takut ada mata-mata Alden yang melihatmu sedang berpegangan denganku ?” ledek Reyhan sambil tersenyum.
“Itu urusan Alden, aku bukan siapa-siapanya, kenapa harus takut pada Alden ?”
“Kamu menyuruhku menghapus rasa benciku pada Sarah, lalu kenapa kamu mengabaikan Alden dan masih saja berkata benci padanya ?”
“Kasus antara aku dan Alden berbeda dengan yang kamu dan Sarah alami.”
“Tapi intinya sama-sama menolak suara hati yang mencintai tapi membiarkan mulut mengucapkan kata benci.”
“Aku lebih ngeri kalau sampai Sarah melihatku sedang berduaan denganmu apalagi sampai pegangan tangan segala,” ujar Annabelle sambil mengedarkan pandangannya.
“Kenapa ?
“Bisa-bisa aku harus ke dokter untuk perawatan rambut yang terlau sering dijambak oleh Sarah,” gerutu Annabelle. Reyhan tertawa melihat ekspresi wajah gadis di depannya.
“Kalau aku tidak tahu hatimu hanya dipenuhi oleh nama Alden, sudah aku culik dan aku bawa ke negeri antah berantah supaya tidak ada yang bisa mencegahku untuk memilikimu.”
“‘Memangnya aku mau ?”Annabelle mencibir. “Aku akan kabur sebelum kamu berhasil menculikku.”
“Terima kasih, Belle. Terima kasih atas kepedulianmu , perhatianmu dan wajahmu yang menggemaskan itu.”
“Lepaskan tanganku dulu. Dan kembali ke topik kita, apa kamu masih mau mencoba berdamai dengan hatimu ? Sarah tidak akan seperti orang gila kalau tidak mencintaimu. Tidak terlihat ada obsesi dalam sikapnya, lebih kepada takut kehilangan dirimu karena rahasianya sudah terbongkar.”
“Yudha juga sedang menata hatinya karena bertemu kembali dengan cinta lamanya. Untung saja aku belum memberikan perasaanku padanya, kalau tidak…” Wajah Annabelle terlihat geram dan menyeramkan namun Reyhan malah tertawa dibuatnya.
“Bisa-bisa aku sunat habis supaya tidak bisa dengan wanita lain setelah memainkan perasaanku.”
Uhhukkk… uhuukkk…
Suara batuk dari meja lain mengundang perhatian Annabelle dan Reyhan.
Annabelle yang merasa Reyhan sedang lengah, buru-buru menarik jemarinya dari genggaman pria itu.
“Hati-hati dong kalau sedang minum,,” terdengar suara lembut seorang wanita dari meja yang sama.
Annabelle langsung bangun dan tersenyum smirk. Terlihat wanita itu sedang mengusap-usap punggung si pria yang baru saja tersedak.
“Ehheemm…”
Pasangan itu langsung menoleh saat mendengar deheman Annabelle.
“Hai Belle,” sapa Lusia sambil tersenyum ramah, tangannya masih anteng di punggung Yudha.
“Malam juga Lusia,” Annabelle balas menyapanya dengan senyuman ramah.
Yudha menelan salivanya dan nyerngir kuda saat melihat tatapan tajam Annabelle yang sedang tersenyum namun menyeramkan.
__ADS_1
“Ooo jadi ini wanita yang membuatmu patah hati karena Yudha memilih kembali pada cinta lamanya ?”
Lusia terlihat bingung dan menatap Yudha lalu Annabelle bergantian. Yudha menggeleng pada Lusia sambil tersenyum canggung.
“Bukannya Yudha bilang kalau kamu itu sukanya pada Alden sejak lama dan setelah kecelakaan itu Alden berubah, mencintaimu juga tapi kamu berbalik membencinya, jadi Yudha dan Raka mencoba menyatukan kalian kembali ?”
Annabelle mendekati meja Yudha dan memberikan senyuman devilnya.
“Ooo jadi Yudha sudah menceritakan soal masalah aku dan Alden ?” Annabelle menatap Lusia sambil tersenyum.
“Iya dan acara nonton waktu itu adalah bagian dari rencana Yudha dan Raka untuk mempersatukan kamu dan Alden.”
“Belle, teganya dia bercerita versi lain tentang hubungan kalian.”
Reyhan yang merasakan ada angin segar untuk mengerjai Yudha ikut mendukung sikap Annabelle.
“Maaf aku mulai bingung, Belle… Sebetulnya apa yang terjadi ?” Lusia menatap Annabelle dengan alis yang menaut.
“Aku sudah memutuskan untuk melepaskan Alden dan menerima Yudha yang menyatakan cintanya padaku. Malam itu adalah kencan pertama kami. Aku bisa menangkap kalau Yudha masih mencintaimu saat kalian bertemu kembali. Aku sengaja menguji Yudha dengan memintamu bertukar tempat dan ternyata Yudha tidak menolakmu.”
Entah mengapa tiba-tiba Annabelle begitu pintar mendramatisir ucapannya membuat Yudha sampai mengerutkan dahinya.
“Aku berharap Yudha menolak permintaanku malam itu , nyatanya ia malah menerimanya dengan senang hati. Malam itu aku pulang dulu bukan karena Alden tapi lebih kepada rasa kecewa atas sikap Yudha. Beberapa hari setelahnya Yudha menemuiku dan meminta maaf serta berjanji tidak akan mengulanginya kembali denganmu. Tapi nyatanya malam ini….”
Annabelle menundukkan wajah dan menutup hidung dan mulutnya seolah menahan tangis.
“Belle, kita tidak pernah bertemu lagi sejak acara nonton malam itu, Semua rencana itu…”
“Sudahlah Belle, jangan terlalu dipikirkan, setidaknya kamu diberi kesempatan untuk melihat siapa Yudha yang sebenarnya sebelum kalian bertunangan,” hibur Reyhan sambil mengusap punggung Annabelle.
Annabelle yang masih menunduk dan pura-pura sedih langsung memutar bola matanya. Bisa-bisanya Reyhan ikutan bersandiwara dengannya.
Seenaknya saja menyentuh seorang gadis, gerutu Annablle.
Ia langsung menggerakan badan dan melirik dengan tajam supaya Reyhan melepaskan tangannya.
Reyhan yang sama jahilnya dengan Annabelle malah merangkul bahu gadis itu membuat mata Yudha membola.
“Sabarlah, Belle dan terima semuanya dengan lapang dada.”
Lusia menatap pasangan yang ada di depannya dengan wajah bingung.
“Belle…” panggil Lusia pelan.
“Aku membencimu Yudha !” ujar Annabelle dengan sedikit keras. “Berani-beraninya kamu mempermainkan perasaanku.”
Lusia mengepalkan tangannya dan mengambil gelas air putih yang ada di meja lalu disiramnya ke wajah Yudha.
“Dasar pria tidak punya pendirian. Ternyata kamu sama saja.”
Lusia pun mengambil tas tangannya bergegas keluar. Yudha terkejut melihat reaksi Lusia langsung ikut beranjak ingin mengejar wanita itu.
“Urusan kita tidak selesai sampai di sini, Annabelle !” geram Yudha saat posisinya berada di depan Annabelle.
Gadis itu tertawa pelan dan menunjukkan wajah puas, namun semenit kemudian, Annabelle langsung menoleh menatap Reyhan.
__ADS_1
“Awas coba-coba mencuri kesempatan dalam kesempitan !” gertak Annabelle dengan wajah galak.
Reyhan tertawa dan mengikuti Annabelle yang berjalan kembali ke meja mereka.