Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Jangan Membohongi Diri


__ADS_3

“Cie.. cie yang habis ketemu mantan,” ledek Sisi saat berdua dengan Annabelle menyusuri trotoar menuju halte busway.


“Mantan darimana ?” gerutu Annabelle dengan bibir mengerucut, tanpa sadar tangannya menyentuh pipi yang sempat dipegang Alden.


“Masih hangat kayak kue pancong yang baru disngkat,” Sisi kembali meledek Annabelle saat dilihatnya wajah gadis itu merona.


”Diihh pipi gue nggak semanis kue pancong,” cibir Annabelle.


“Tapi menggemaskan kayak kue cubit,” ledek Sisi


Annabelle menyikut bahu Sisi yang masih tergelak.


“Udah mau pulang ?” tanya Annabelle saat mereka sudah sampai di halte busway dan melewati pintu masuknya.


“Mau ajak dating ? Kenapa bukan Pak Alden yang kamu ajak tadi ?”


“Sisi iihh… gue udah move on dari Alden. FINISH. SELESAI ! Sekarang gue lagu belajar menyukai Yudha. Kalau dilihat-lihat wajahnya nggak kalah tampan sama Alden.”


“Elo kira perasaan sama kayak mata kuliah, bisa dipelajarin ?” Sisi mencibir.


“Ketampanan Yudha dan Alden mungkin sebelas duabelas, tapi kantongnya sebelas seratus,” ujar Sisi sambil terkekeh.


“Gue bukan cewek matere ya !” Annabelle melotot. “Gue suka sama Alden bukan karena dia pewaris tunggal Hutama Grup, bukan sekedar karena dia cakepnya nggak cukup di angka 10. Gue nggak tahu alasan pastinya kenapa suka sama Alden. Beda dengan sekarang, gue tahu kenapa harus melepaskannya.” Suara Annabelle sedikit sendu di akhir kalimatnya.


Keduanya langsung masuk ke dalam busway yang tidak terlalu padat karena jam pulang kantor sudah berlalu sejak 2 jam yang lalu.


“Mau makan dulu ? Gue traktir ?” bisik Annabelle yang diangguki oleh Sisi.


Keduanya langsung turun setelah 3 halte karena ternyata letak cafe tidak jauh dari kampus mereka. Annabelle mengajak Sisi makan tidak jauh dari rumah gadis itu biar Sisi bisa lebih cepat pulang.


“Alden masih suka kirim pesan sama elo ?” tanya Sisi sambil berjalan bersisian menuju pangkalan kaki lima yang kesemuanya menawarkan makanan.


“Nggak,” Annabelle menggeleng. “Kayaknya udah sebulanan Alden nggak pernah kirim pesan lagi.”


“Sama sekali ?” Sisi mengangkat alisnya dan Annabelle mengangguk.

__ADS_1


“Coba gue lihat handphone elo,” Sisi langsung mengulurkan tangannya. Annabelle pun memberikan handphonenya pada Sisi.


“Ya ampun si dodol,” Sisi langsung mengomeli Annabelle. “Gimana dia mau kirimin pesan buat elo, nomornya aja diblokir. Nih lihat !”


“Gue nggak ingat kalau memblokir nomor Alden,” Amnabelle menautkan alisnya berusaha mengingat-ingat apa benar ia memblokir nomor Alden.


“Nih udah gue buka blokirannya,” Sisi mengembalikan handpone Annabelle.


“Eh gila, jangan dibuka blokirannya, nanti Alden salah paham. Bisa-bisa dia berpikir kalau gue udah memaafkannya dan melupakan semua kelakuannya sama orangtua gue.”


“Belajar jujur sama hati elo,” Sisi tertawa pelan.


Ia langsung berjalan menuju gerobak nasi goreng sementara Annabelle memilih menu sate ayam plus lontong.


Selesai memesan, keduanya mencari meja yang kosong.


“Mau memaafkan atau belum, satu hal yang nggak bisa elo sangkal kalau hati elo masih menyukai Alden dan belum bisa menghapus nama itu dari pikiran elo. Dan menyangkal perasaan lebih rumit dari masalah maaf memaafkan.”


“Duuhh ngomongnya bijak amat,” Annabelle mencibir sambil terkekeh.


“Bukan bijak, tapi kasihan melihat elo membohongi diri sendiri. Jangan lari dari perasaan elo sendiri, apalagi masalah Alden sudah dianggap beres oleh orangtua elo. Case Closed !”


“Kalau sampai elo tetap memaksa untuk mencintai Yudha, apa elo udah yakin ? Yudha itu sahabat baiknya Alden, akan menyakitkan kalau pada akhirnya elo tanpa sadar hanya memanfaatkan Yudha untuk menyangkal perasaan elo sendiri.”


“Kalau nggak dicoba mana bisa tahu, Sisi ? Gue yakin kok bisa mencintai Yudha juga. Kalau dipikir-pikir hidup gue lebih menyenangkan saat bersama dengan Yudha. Cowok itu selalu menanggapi omongan gue, jarang jutek dan menyenangkan. Berbeda dengan Alden yang serius, jarang bercanda dan melihat segala sesuatu dalam hidup ibarat keputusan bisnis.”


“Belle, elo tahu kan prinsip magnet ? Harus didekatkan dengan kutub yang berbeda baru bisa nempel. Gue berprinsip kalau kehidupan cinta itu seperti magnet yang mau disatukan. Mungkin apa yang dimiliki Yudha sesuai dengan kepribadian elo, itu berarti Yudha sebelas duabelas sama elo. Terus kalau kalian hampir sama di dalam banyak hal, siapa yang menutupi kekurangan kalian ? Gimana kalian menghadapi masalah kalau dua-duanya punya prinsip yang sama padahal ada keputusan lain yang harus diambil ?


Gue bisa melihat kalau cinta Alden itu benar-benar tulus sama elo. Kebodohan dia adalah mempertahankan gengsi masa mudanya dan lari dari kenyataan kalau Alden tuh sebenarnya suka sama elo.”


“Dalam mimpi,” sahut Annabelle sambil tertawa.


”Gue kok nggak melihat tanda-tanda cinta, hanya penyesalan doang yang membuat Alden ingin menebus semuanya supaya rasa bersalahnya bisa hilang juga.”


“Susah ngomong sama cewek keras kepala !” gerutu Sisi. “Dulu berharap-harap Alden membalas rasa suka elo. Sekarang saat Alden benar-benar mengejar elo, emosi dan rasa gengsi elo yang gantian menutupi perasaan itu. Jangan sampai nyesel kalau akhirnya kalian tidak bejodoh karena terlalu keras kepala !”

__ADS_1


Annabelle tergelak melihat wajah Sisi yang nampak kesal karena Annabelle selalu menyangkal ucapan Sisi.


***


Sementara di waktu yang sama, Sarah yang melihat kedatangan Alden dan Raka bergegas pergi ke kasir membayar pesanannya.


Sarah sengaja bersembunyi dan berniat meninggalkan cafe tanpa terlihat oleh Alden ataupun Raka. Sarah tidak tahu kalau keberadaanya di cafe itu sudah diketahui Alden dan wanita itulah yang membuat Alden bergegas kemari.


Alden tidak ingin Sarah menyakiti Annabelle lagi. Begitu orang-orang suruhan Raka melaporkan keberadaan Annabelle bersama Sarah, tanpa pikir panjang Alden langsung melesat dari kantor ke cafe ini sesudah rapat di kantornya.


“Aman Bro, gue lihat dia udah keluar cafe. Kayaknya Sarah takut ketemu elo, makanya dia sembunyi dulu, cari celah sampai elo lengah,” ujar Raka sambil terkekeh.


Kedua nya langsung duduk di salah satu meja yang kosong dan memesan makanan.


“Gimana rasanya bisa memegang wajah pujaan hati ?” ledek Raka setelah pelayan meninggalkan mereka.


“Senang banget pastinya, bahagianya lebih dari menang tender,” sahut Alden dengan wajah sumringah. Ia pun memegang telapak tangannya yang tadi menyentuh pipi Annabelle.


“Tempel terus Bro, jangan kasih kendor. Kelihatannya usaha elo akan membuahkan hasil.”


“Semoga,” Alden tersenyum tipis.


“Yudha bilang Annabelle mau membuka hatinya untuk Yudha, bahkan terlihat kalau mereka semakin akrab. Jadi akan lebih baik kalau elo lebih keras lagi berusaha.”


“Gue nggak mau maksa Annabelle meski kalau boleh jujur gue nggak rela dia sama Yudha tapi kalau memang Annabelle bisa bahagia dengan Yudha, gue hanya bisa ikut bahagia juga.”


“Elo kok jadi gampang menyerah begitu, Bro ? Kalau gue lihat soal kejadian tadi sepertinya Annabelle masih memiliki rasa sama elo, tapi saat ini lebih besar rasa marahnya daripada cintanya.”


“Gue udah terlalu lama menyakiti Annabelle, Ka, wajar aja kalau dia susah memaafkan gue. Sekarang gue hanya ingin dia bahagia dan cukup memaafkan tanpa menerima cinta gue.”


Alden menghela nafas dan tanpa sadar tangannya masih mengelus telapak tangannya yang lain. Telapak tangan yang tadi menyentuh pipi Annabelle.


Alden tersenyum sendiri melihat kedua telapak tangannya yang terlihat besar. Dulu di saat keduanya baru sepertiga besarnya dibandingkan sekarang, kedua telapak tangan ini pernah mendekap Annabelle dalam gendongannya.


Raka tidak ingin menganggu lamunan Alden apalagi melihat boss sekaligus sahabatnya itu senyum-senyum dengan wajah bahagia.

__ADS_1


Raka merasa kalau tugasnya sekarang adalah bicara dengan Yudha supaya tidak melangkah lebih jauh dengan Annabelle.


Bukan karena demi Alden tapi demi kedua sahabatnya. Annabelle bisa bicara kalau ia akan belajar menyukai Yudha, namun tatapan matanya tidak bisa berbohong kalau gadis itu masih mencintai Alden.


__ADS_2