Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Kecemasan Annabelle


__ADS_3

Sudah 2 hari Alden sadar dari komanya tapi Annabelle justru tidak muncul di ruang inap Alden.


Beberapa kali Papa Rano dan Mama Mira bahkan Mommy dan Daddy membujuk Annabelle, tapi gadis itu belum mau menemui Alden. Bukan karena marah, tapi malu karena pernah bersikap kasar pada Alden.


Siang ini Annabelle bergegas menuju gerbang kampus selesai kuliah terakhir di jam 10 pagi. Raka mengirim pesan padanya, memberitahu kalau ia menunggu Annabelle di depan gerbang kampus.


“Jangan bilang kalau Daddy yang menyuruh kamu datang untuk menyeretku menemui Alden ?” tanya Annabelle dengan tatapan menyelidik.


“Ge-er,” Raka mencebik. “Aku mau ajak kamu selingkuh. Udah jangan banyak tanya, naik ke mobil, nanti aku ceritakan di mobil.”


“Tapi beneran bukan ke Rumah Sakit kan ?” tatapan Annabelle masih terlihat ragu saat Raka memberi isyarat Annabelle untuk masuk ke dalam mobil.


Raka sudah membukakan pintu depan di bagian penumpang.


“Sisi tahu kamu jemput aku ?” Annabelle kembali mengajukan pertanyaan sambil memasang sabuk pengamannya.


“Kenapa ? Takut disangka merebut pacar sahabat sendiri ? Nggak cocok jadi pelakor soalnya kebanyakan tanya,” sindir Raka sambil tersenyum mengejek.


“Dih pelakor darimana ?”Annabelle mencebik. “Kayak nggak ada cowok lain aja.”


“Bucin Alden,” ledek Raka sambil tertawa.


Raka langsung meninggalkan parkiran kampus membawa Annabelle.


“Kita mau kemana Raka ?” tanya Annabelle dengan wajah kesal.


“Polisi minta kamu datang sebagai saksi. Ceritakan aja apa adanya, kamu akan didampingi pengacara yang sudah disiapkan Om Wira.”


“Apa Sarah ada di tempat yang sama ?”


“Maksudmu kamu akan dipertemukan dengan Sarah ?”


“Bukan, maksud aku, apa Sarah ditahan di kantor polisi yang sama ?”


“Sarah sudah dipindah ke tahanan khusus wanita di kawasan Tangerang. Kenapa ? Kamu ingin memukuli dia supaya merasakan apa yang Alden rasakan ?”


“Ngapain buang-buang tenaga,” Annabelle mencebik membuat Raka tertawa.


“Annabelle,” suara Raka berubah serius. “Kenapa nggak mau datang menjenguk Alden ?”


“Aku nggak enak karena aku sempat marah-marah sama Alden dan aku merasa kecelakaan kemarin…”


“Alden tidak bisa menggunakan kaki kirinya saat ini,” ujar Raka.

__ADS_1


“Maksud kamu lumpuh ?” Annabelle terbelalak saat Raka mengangguk.


“Beneran ? Kaki Alden lumpuh karena kecelakaan itu ?” Raka mengangguk lagi membuat Annabelle menutup mulutnya dan matanya berkaca-kaca.


“Kalau kamu nggak mau menjenguk, Alden akan berpikir kamu meninggalkannya dan tidak mau lagi dengan Alden karena sekarang dia laki-laki cacat.”


Annabelle terdiam, tangannya menopang pada jendela samping, mencubit bibirnya dan menahan air mata.


“Habis dari kantor polisi tolong antar aku ke rumah sakit,” pinta Annabelle tanpa menoleh ke arah Raka yang tersenyum tipis.


*****


Setelah makan siang dan menghabiskan waktu hampir 2 jam di kantor polisi, Raka mengantarkan Annabelle ke rumah sakit.


Annabelle mulai tidak tenang sejak mengetahui kondisi kaki kiri Alden yang mengalami kelumpuhan. Ia semakin merasa bersalah karena tidak datang membesuk Alden sejak sadar dari koma.


“Aku tidak bisa mengantarmu karena sudah janji mau jemput Sisi,” ujar Raka saat mobilnya sudah berhenti di lobby rumah sakit.


“Habis jemput, kalian kemari ?”


“Nggak,” Raka menggeleng. “Sisi mau ke tempat lain makanya aku jemput.”


Annabelle melihat ke layar handphonenya melihat waktu yang menunjukkan hampir jam 4 sore.


“Annabelle !” panggil Raka sebelum gadis itu menjauh. “Alden ada di taman belakang gedung karena sedang bosan sendirian. Dia baru menjawab pesanku.”


“Memangnya tidak ada yang menemani ?” Annabelle mengerutkan dahi.


“Tidak biasanya Mommy tega membiarkan orang sakit sendirian,” gumam Annabelle.


“Tante dan Om sedang mencari dokter yang bagus untuk membantu kesembuhan Alden. Semoga saja kaki kirinya bisa pulih kembali,” ujar Raka dengan wajah serius dan sedikit sedih.


“Apa separah itu sampai Alden tidak bisa sembuh ?” wajah Annabelle tambah khawatir.


“Doakan saja yang terbaik. Kami semua berharap kamu bisa tetap berada dekat Alden dan memberinya semangat. Atau kamu keberatan karena mungkin saja Alden…”


“Nggak Raka, aku nggak keberatan sama sekali. Aku menerima Alden apa adanya, bukan karena Alden kaya atau memiliki fisik yang sempurna,” potong Annabelle dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


“Kalau begitu tolong tetap berada di sampingnya selama Om dan Tante mencari pengobatan yang terbaik untuk Alden,” pinta Raka dengan wajah memohon.


Annabelle mengangguk pasti sambil tersenyum. Raka mengangguk dan melambaikan tangannya.


“Terima kasih sudah mengantarku kemari,” ujar Annabelle sambil tersenyum dan membalas lambain tangan Raka. Pria itu mengangguk lagi dan perlahan membawa mobilnya meninggalkan Annabelle.

__ADS_1


Raka tersenyum sambil membawa mobilnya keluar rumah sakit. Semoga rencana yang disusunnya bersama kedua orangtua Alden dan Annabelle bisa berjalan lancar.


Semantara itu, Annabelle memegang dadanya sambil menghela nafas beberapa kali. Debar jantungnya dua kali lebih cepat dari biasanya saat kakinya berjalan menuju halaman belakang yang menjadi tempat favoritnya berbincang dengan Yudha saat menjdi Sarah Belle.


Annabelle terpaku di tempatnya, menatap dari kejauhan sosok tampan yang sedang duduk sendirian di atas kursi rodanya sambil memainkan handphonenya.


Dalam keadaan apapun, Annabelle tidak bisa benar-benar menghapus bayangan Alden dalam hidupnya.


“Alden,” lirih Annabelle saat berdiri di samping pria itu.


“Belle ?” Alden langsung mengembangkan senyumannya. “Kamu sama siapa kemari ?”


Raka asem nih, bilangnya ada urusan penting dan maksa ketemu di sini, ternyata malah Belle yang datang, gerutu Alden dalam hati.


“Alden, maaf,” lirih Annabelle dengan mata mulai berkaca-kaca membuat Alden megerutkan dahi.


Handphone Alden bergetar, membuat perhatiannya teralihkan sebentar. Terlihat nama Raka di layar handphone sebagai pengirim pesan yang baru masuk.


RAKA : Jangan kasih kendor, Bro. Gue udah buat Anabelle datang ke dalam pelukan lo, jangan sampai lepas 💪💪💪


Alden tersenyum tipis membaca pesan dari sahabatnya itu. Memang 2 hari terakhir Alden sempat menanyakan ke banyak orang kenapa Annabelle tidak terlihat batang hidungnya.


“Alden,” Annabelle kembali memanggil pria itu karena berpikir Alden enggan berbicara dengannya.


“Maaf,” lirih Annabelle.


“Untuk apa ?” Alden mengerutkan dahi, berusaha untuk tidak tertawa. Raka memang paling pintar bikin drama.


“Raka bilang, kaki Alden…”


“Tidak bisa digerakkan,” sahut Alden cepat. “Yang sebelah kiri.”


“Maaf,” lirih Annabelle. “Kalau kamu tidak mendorongku saat itu, seharusnya aku yang duduk di situ.”


“Belle, jangan nangis,” Alden menggenggam jemari Annabelle tapi segera melepaskannya lagi, takut Annabelle marah.


“Belle, jangan nangis, nanti orang-orang berpikir aku lagi marahin kamu.”


Alden kembali menahan tawa saat melihat Annabelle menghapus air matanya sambil melirik ke kanan dan kiri, memastikan ucapan Alden.


Mata Annabelle yang masih agak basah mengerjap membuat Alden gemas dan ingin memeluknya tapi sayang kaki kirinya memang belum boleh dipergunakan karena ada tulang yang retak akibat benturan dengan mobil.


Tapi Alden tidak sampai lumpuh seperti yang disampaikan Raka pada Annabelle.

__ADS_1


Dasar lebay nih Raka, rasanya nggak tega sampai membuat Belle nangis begini, batin Alden tersenyum bahagia.


__ADS_2