
Alden senyum-senyum memandangi Annabelle yang sedang menyiapkan sarapan untuknya.
Wajah Annabelle merona dan enggan menatap Alden. Sejak Mommy memberitahu kalau Annabelle bersedia menikah dengannya, Alden tidak berhenti menggoda gadis itu dan lebih dari 5 kali mengucapkan terima kasih.
“Kalau sekali lagi bilang terima kasih bilang terima kasih bukan piring yang kamu dapat tapi pembatalan dari mulutku,” omel Annabelle sambil meletakkan nampan sarapan di meja lipat yang ditarik mendekat di depan Alden.
“Sekarang terima kasihnya bukan buat kesediaan kamu menikah denganku,” sahut Alden menggenggam jemari Annabelle yang membuka plastik penutup makanan untuk calon suamianya.
“Terima kasih karena pagi ini sudah bersedia belajar menjadi istri sejati,” ledek Alden sambil terkekeh.
Blush !
Wajah Annabelle kembali terasa panas dan merona merah seperti tomat.
Pagi ini Alden benar-benar berhasil mengerjainya. Pria itu menolak keras dibasuh tubuhnya oleh perawat bahkan Alden menolak Darma yang sudah datang khusus untuk mengurusnya.
Alden benar-benar keras kepala dan hanya mau diurus oleh Annabelle, apalagi pagi ini dokter belum mengijinkan Alden membasuh tubuh di bawah kucuran shower karena jahitan operasi di betisnya.
Alhasil Annabelle mengurus Alden dengan tubuh panas dingin karena harus membasuh tubuh pria itu dari wajah hingga ke ujung kaki.
“Berhenti tersenyum kalau nggak mau mulutmu mendadak kaku,” gerutu Annabelle.
”Suapin,” pinta Alden sambil senyum-senyum namun malah mendapat pelototan calon istrinya.
“Jangan manja ! Yang sakit itu hanya kaki kirimu, sisanya masih bisa dipergunakan dengan baik. Habiskan sarapannya, pagi ini aja kamu udah membuang banyak energi karena bawel kamu mendadak nggak ada obatnya.”
Annabelle bergerak ingin menjauh dari ranjang Alden namun tangannya ditahan.
“Morning kiss dulu, calon istri.”
Alden mencondongkan wajahnya membuat Annabelle malah menjauhkan wajahnya.
“Jangan pelit, aku cuma minta morning kiss doang bukan malam pertama,” ledek Alden sambil tertawa.
“Kamu nggak over dosis obat bius kan ? Mendadak cerewet dan manja begini,” Annabelle menautkan alisnya dan menatap Alden tanpa mau mendekatkan wajahnya.
“Memangnya nggak boleh bahagia karena permintaanku untuk menikah denganmu akhirnya diterima ? Setidaknya kecelakaan yang membuat kakiku sakit ini membawa hal baik lainnya.”
Annabelle menghela nafas. Kalau Alden sudah bicara soal kecelakaan, hati Annabelle langsung menyerah dan rasa bersalahnya yang tenggelam muncul lagi ke permukaan.
“Morning kiss doang, nggak boleh lebih !” tegas Annabelle dengan nada ketus.
Annabelle mendekatkan wajahnya membuat senyuman Alden makin melebar.
Alden mencium pipi Annabelle, itupun hanya dikasih sebelah dan Annabelle sudah ancang-ancang kembali menjauh dari Alden, tapi sakit di kaki kirinya tidak mengurangi kesigapan Alden.
Gerakan Alden masih sangat cekatan sampai Annabelle membelalakan matanya saat tangan pria itu berhasil menahan tengkuknya dan langsung mencium bibir Annabelle, bukan sekedar kecupan namun ciuman yang dalam.
“Ya ampun Alden !” pekikan Yudha membuat Alden melepaskan ciumannya sambil menggerutu.
Wajah Annabelle merona dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Begitu di dalam kamar mandi, Annabelle memukuli kepalanya, kesal pada dirinya sendiri yang sempat terlena dengan perlakuan Alden.
“Jadi udah sampai sejauh itu ? Tuh bocah nggak ngamuk lagi ?” ledek Yudha yang datang bersama Lusia membawa satu kantong kertas yang langsung diletakkan di atas meja sofa.
“Malah sudah mau disahkan dalam waktu dekat. Mommy lagi ngurus semuanya,” ujar Alden dengan wajah sumringah.
“Beneran ? Belle udah nggak ragu lagi sama kamu, Al ?” Lusia menyipitkan matanya, ingin memastikan kalau ucapan Alden bukan bohongan.
”Sedikit terpaksa kayaknya,” Alden terkekeh. ”Tapi bersedia menikah dulu secara agama dan negara, pestanya tunggu gue sembuh.”
__ADS_1
Lusia berjalan ke arah kamar mandi, berniat menyuruh Annabelle keluar namun belum sampai mengetuk, pintu kamar mandi terbuka.
“Mau ke toilet, Kak ?” tanya Annabelle dengan senyum canggung.
“Nggak, mau periksa kamu, takut pingsan di kamar mandi,” sahut Lusia sambil tertawa.
”Kamu udah yakin mau menikah sama Alden secepatnya ?” mata Yudha menyipit dan melipat tangan di depan dadanya, menelisik Annabelle yang mengangguk.
“Kamu nggak diapa-apain sama Alden sampai tiba-tiba setuju kan ?” Lusia ikut menyipitkan mata, memastikan hati Annabelle.
Baru beberapa hari lalu, gadis di depannya ini ragu-ragu meneruskan hubungannya dengan Alden.
“Dipaksa,” gumam Annabelle dengan suara pelan membuat mata Alden membola.
Yudha langsung tergelak sementara Lusia tersenyum sambil mengerutkan dahi.
“Sayang, bukan dipaksa tapi bagian dari tugas calon istri. Memangnya kamu rela aku dipegang-pegang dan diusap sama perempuan lain ?”
“Kamunya aja yang manja dan mesum. Memangnya kamu satu-satunya perjaka yang dibasuh sama perawat ? Mereka kan udah biasa pegang-pegang, nggak baper, nggak ada rasa,” Annabelle bicara panjang lebar dengan nada ketus dan wajah ditekuk.
“Kalian ngomong apaan sih ?” Yudha mengerutkan dahi dan sempat bertukar pandangan dengan Lusia.
“Jadi gara-gara urusan mandi dan basuh membasuh kamu terpaksa menerima permintaan Alden untuk menikahinya ?” Lusia yang langsung menangkap curahan hati Annabelle menatap pasangan di depannya bergantian.
”Kira-kira begitu,” gerutu Annabelle.
Yudha kembali tergelak yang langsung dipelototi oleh Lusia, memberi isyarat supaya Yudha tidak menambah kekesalan Annabelle.
“Jadi kamu dinikahi Alden hanya demi bisa merawat cowok songong ini ?” tanya Yudha di sela-sela tawanya yang langsung mendapat pukulan Lusia di bahunya.
“Papa dan Mama nggak kasih aku merawat Alden kalau statusnya belum suami istri,” gerutu Annabelle.
“Sayang, masa nggak ada sedikit pun alasan cinta yang membuat kamu bersedia menikah denganku ?” tanya Alden dengan wajah sendu.
”Tapi memang musti begitu, Belle. Alden ini terlalu bangga dengan keperjakaannya, padahal sebentar lagi kepala 3. Kelamaan dianggurin, bisa-bisa kesenggol sama perawat cantik, tuh belut yang anteng bisa nggak tenang. Memangnya kamu rela kalau belut Alden bereaksi sama cewek lain ?” ledek Yudha.
“Ya ampun Yudha, elo pikir gue cowok nggak normal ?” gerutu Alden.
“Udah deh, jangan digodain terus. Kalau Belle nangis terus kabur, Alden susah ngejarnya. Kita balik dulu, udah hampir jam 10,” ujar Lusia setelah melihat angka penunjuk waktu di layar handphonenya.
“Kita mau praktek dulu, Belle. Semoga semuanya lancar dan Alden cepat sembuh, ya,” Lusia menepuk bahu Annabelle dan memberi isyarat pada Yudha.
“Aku tunggu undangannya Belle, dan hati-hati ngurus cowok arogan satu ini,” bisik Yudha sambil merangkul bahu Annabelle.
“Yudha, itu calon bini gue, jangan asal rangkul !” tegur Alden dengan suara ketus namun diabaikan oleh Yudha.
”Tuh lihat sendiri kan ? Kalau sudah jadi istri siap-siap aja setiap hari berhadapan dengan cowok manja yang posesif dan jutek.”
Annabelle hanya tertawa dan mengangguk-angguk, mengantar Yudha dan Lusia hingga ke pintu kamar.
“Yud, lupa nanya.”
“Soal apa ?” Yudha berbalik dan menatap Annabelle.
“Masalah Sarah gimana ? Soal permintaan dia disetujui sama Daddy ?”
“Hasil pembicaraan terakhir proses hukumnya tetap dilanjutkan, Belle. Apalagi keadaan Alden harus dioperasi ulang begini, mana mungkin Om Wira bersedia melepaskan orang yang sudah mencelakai Alden.”
“Tapi beneran Sarah nggak sampai gangguan jiwa parah, kan ?”
“Nggak Belle. Kelakuan Sarah lebih condong karena sifatnya yang pendendam, susah menerima kegagalan juga.” Yudha menepuk-nepuk bahu Annabelle.
__ADS_1
“Semoga Sarah bisa berdamai dengan hatinya sendiri,” ujar Annabelle sambil menghela nafas.
“Semua tergantung pada Sarah sendiri, Belle. Jangan pernah menyalahkan dirimu untuk masalah Alden, Sarah dan Reyhan. Kalau Sarah mau, dia masih bisa merubah hidupnya, tapi dia memilih jalan lain, jalan yang masih dipenuhi rasa marah, dendam dan kebencian.”
Annabelle mengangguk dan melambaikan tangan saat Lusia dan Yudha menjauh dari kamar Alden.
“Membahas soal apa ?” tanya Alden saat Annabelle sudah kembali di samping ranjangnya.
“Soal Sarah. Lupa mau nanya hasil pembicaraan soal permintaan Sarah.”
“Belle,” Alden memberi isyarat supaya Annabelle duduk di ranjang sisi sebelah kanan.
Annabelle menurut, Alden langsung memeluk dari samping dan mengusap bahu Annabelle.
“Apa yang terjadi antara aku dan Sarah adalah masa lalu. Memilih dia menjadi kekasih dan menjalin hubungan dengannya memang pilihanku, dan aku akui kalau aku suka dengan Sarah karena saat mengenalnya bagiku Sarah adalah wanita yang cukup sempurna untuk menjadi calon istri idaman dan pendamping hidup yang hebat untukku sebagai penerus keluarga Hutama.
Kalau kamu bertanya soal cinta, aku akan menjawab rasa cinta itu berbeda dengan yang aku rasakan saat bersama denganmu.
Aku bangga memperkenalkan Sarah sebagai kekasihku karena secara fisik dia termasuk wanita cantik, memiliki karir bagus sebagai pengacara, cerdas dan pintar membawa diri saat menghadiri acara-acara resmi yang berhubungan dengan urusan bisnis.”
“Cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya, Den. Kamu hanya tinggal menunggu sedikit lagi sampai hatimu benar-benar mencintai Sarah.”
“Tidak akan begitu, Belle. Dua tahun menjalin hubungan dengan Sarah, hatiku sering merasa kosong.
Jujur kalau Sarah sering menggodaku dengan kemolekan tubuhnya saat di apaeremen, tapi aku masih ragu dan takut. Aku tidak yakin kalau Sarah tidak akan meminta imbalan dari penawarannya. Kamu tahu Belle, malah aku merasa bahagia kalau melihatmu cemberut saat aku dekat dengan Sarah. Aku sering mencari-cari cara membuatmu marah karena cemburu. Hatiku malah sedih dan kecewa saat kamu terlihat biasa-biasa saja terlebih saat aku sengaja bilang di depanmu kalau aku menerima Sarah menjadi istri meski dia sudah tidak perawan. Aku sempat senang saat melihat kekecewaan di matamu, tapi hanya sebentar, sesudah itu kamu biasa lagi.”
“Memangnya aku harus gimana ? Nangis guling-guling ? Juteknya kamu aja udah level dewa, malas aku uring-uringan di depanmu.”
“Aku malah sering cemburu banget kalau kamu dekat dengan Raka, Belle. Kamu tuh lebih banyak berduaan dengan Raka daripada membantu Tami mengurus pekerjaannya,” wajah Alden cemberut kalau mengingat bagaimana Raka benar-benar membuatnya cemburu.
“Kenyataannya kamu lebih sering marah-marah sama aku. Sebagai sahabatmu, Raka yang paling mengerti bagaimana sifat dan kebiasaanmu, jadi aku lebih sering menghabiskan waktu dengan Raka.
“Tapi nyatanya Raka tidak pernah sadar kalau aku cemburu karena dia terlalu dekat denganmu,” ketus Alden.
“Dasar cowok songong yang posesif,” ledek Annabelle sambil tergelak.
“Jangan ragukan cintaku lagi, Belle. Jangan berpikiran negatif kalau kamu penyebab batalnya pernikahanku dengan Sarah. Sudah aku tegaskan lebih dari sekali padamu kalau aku sudah tahu soal hubungan Sarah dengan Reyhan.
Malam itu aku emosi karena mendengar janin yang ada di dalam kandungan Sarah meninggal hingga aku merasa kehilangan bukti untuk mengungkap perselingkuhan Sarah. Tapi ternyata aku salah, tes DNA masih bisa dilakukan pada benih itu. Maafkan aku Belle karena sudah melukai hatimu.”
Annabelle menoleh dan menatap Alden yang tersenyum. Annabelle pun ikut tersenyum dan mengangguk.
“I love you Annabelle,” Alden menempelkan keningnya pada kening Annabelle.
“I love you too, Alden,” sahut Annabelle dengan suara pelan.
Entah siapa yang memulainya, kedua bibir mereka saling mendekat dan memberikan sentuhan cinta yang sulit ditolak.
Ciuman itu semakin dalam dan tangan Annabelle sendiri ikut memeluk pinggang Alden dan tangan satunya meremas baju Alden.
Keduanya memejamkan mata dan berbagi kehangatan cinta yang semakin membuncah.
“Alden ! Annabelle !”
Alden menghentikan pergerakan tangannya yang hampir menyentuh dada Annabelle.
Keduanya tergagap saat melepaskan ciuman mereka dan Annabelle pun turun dari ranjang Alden.
“Sepertinya pernikahan kalian nggak bisa tunggu 2 minggu lagi !” gerutu Mommy Lanny.
“Kekhawatiran Mama dan Papa terbukti kan, Belle ? Bagaimana bisa kami melepaskan kamu merawat Alden kalau di rumah sakit aja kalian sampai sejauh tadi.”
__ADS_1
Annabelle tertawa kikuk sementara Alden tersenyum canggung sambil mengusap tengkuknya.
“Dasar perjaka ketuaan, lihat perawan langsung nyosor !” omel Mommy Lanny menatap galak keduanya yang terlihat canggung karena tertangkap basah.