
Di tengah perbincangan yang menguras emosi itu, pintu ruang kerja Tuan Peter diketuk dari luar.
Tuan Peter memberi isyarat pada Reyhan, memintanya supaya membukakan pintu.
“Maaf mengganggu Tuan muda,” seorang pelayan berdiri di depan pintu. “Ada Tuan Alden mencari Tuan muda dan ingin bertemu.”
Alden ? Bagaimana Alden tahu Sarah ada di sini setelah tiga hari menghilang tanpa kabar ? Batin Annabelle.
“Aku menemui Alden dulu, Pa, Ma,” pamit Reyhan masih berdiri di pintu. Pasangan suami istri itu hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.
”Rey, bolehkan aku ikut menemui Alden ?” Sarah Belle berdiri dengan wajah terlihat senang.
Reyhan tidak menjawab bahkan tidak melirik Sarah Belle, menganggap seolah wanita itu tidak ada di dalam ruangan. Reyhan langsung keluar untuk menemui Alden.
“Maaf Om, Tahte, saya permisi hendak bertemu dengan Alden.”
Sama seperti Reyhan, pasangan suami istri Gilang ini tidak menanggapi ucapan Sarah Belle.
Setelah menghela nafas panjang akhirnya Sarah Belle tetap keluar dari ruang kerja Tuan Peter menuju ruang tamu.
“Yudha ? Om Juan ?” mata Sarah Belle membelalak saat mendapati bukan hanya Alden dan Raka, tapi dua orang yang tahu kondisi Sarah Belle ikut datang juga.
Sarah Belle langsung menarik kedua sudut bibirnya.
Sebagai Annabelle hatinya langsung senang kaena bisa keluar dari keruwetan masalah Sarah meski hanya untuk senentara.
“Alden,” desis Sarah Belle saat posisinya sudah lumayan dekat sofa.
Alden hanya meliriknya sekilas tanpa memberikan senyuman atau sapaan pada Sarah Belle.
“Aku ingin menjemput calon istriku,” ujar Alden tanpa berbasa basi pada Reyhan yang langsung tersenyum sinis.
“Calon istri ? Setelah tiga hari menghilang baru anda cari ?” sindir Reyhan dengan tatapan mengejek.
“Calon istirku bukan sembarang wanita, jadi aku yakin dia bisa menjaga dirinya. Lagipula sudah beberapa kali Sarah merengek minta diijinkan bekerja di kantornya, jadi sebagai calon suami yang pengertian, aku memenuhi permintaannya.”
“Apa perlu sampai membawa banyak orang hanya untuk menjemput calon istri ? Takut anda diapa-apakan saat masuk kemari ?” Reyhan kembali tertawa mengejek Alden, namun tidak sedikitpun Alden terpancing emosi.
Alden terlihat tenang dan santai, tidak peduli dengan tatapan pria yang menjadi rivalnya soal Sarah.
Juan sempat mengernyit melihat sikap Alden yang berbeda. Biasanya emosi pewaris Hutama Grup itu mudah tersulut, tapi malam ini terlihat dewasa dan tenang.
“Apa pekerjaanmu sudah selesai ?” tanya Alden menatap Sarah Belle dengan wajah tenang.
Sarah Belle yang tidak fokus dengan pertanyaan Alden hanya diam dengan wajah tertunduk. Posisi duduknya berseberangan dengan Juan dan Yudha sementara kedua pria pecinta Sarah masing-masing duduk di sofa single yang berada di kedua sisi meja, saling berhadapan.
“Sarah,” panggil Alden dengan suara lebih keras.
__ADS_1
“Eeehh iya Alden,” dengan sedikit gelagapan, Sarah Belle menoleh ke arah Alden.
Ditatapnya pria kesayangan Annabelle itu dengan wajah sedih. Annabelle yakin kalau cinta Alden yang liar biasa pada Sarah membuat pria itu menemukan calon istrinya di sini.
“Apa pekerjaanmu dengan Reyhan sudah selesai ?” Alden kembali mengulang pertanyaannya.
“Sudah.”
“Belum.”
Sarah Belle dan Reyhan menjawab secara bersamaan membuat keduanya saling bertatapan.
Alden fokus menatap Sarah yang langsung menoleh menatap Reyhan dengan dahi berkerut, bingung kenapa Reyhan memintanya tetap tinggal.
“Urusanmu dengan keluarga ini belum selesai !” tegas Reyhan dengan rahang mengeras.
“Mana bisa kamu pergi begitu saja setelah melemparkan lumpur ke wajah orangtuaku !” suara Reyhan semakin meninggi membuat Sarah Belle sedikit ciut.
“Biarkan aku pulang dulu malam ini Rey, kepalaku benar-benar sakit . Aku tidak akan menghilang dan akan kembali menemuimu setelah kondisi fisikku lebih baik,” pinta Sarah Belle dengan wajah memelas.
Kepalanya memang masih sedikit sakit meski saat ini Annabelle lah yang duduk di hadapan mereka.
“Kamu pikir hanya kamu yang merasakan sakit ?” Reyhan tersenyum sinis. “Tidak kamu pikirkan bagaimana tergoncangnya mamaku dengan semua perbuatanmu itu ?”
Sarah Belle terdiam, sebetulnya masalah foto itu memang bagian rencana Annabelle yang sudah terdesak menghadapi sikap Reyhan terhadap Sarah.
Masalah Nyonya Sisilia yang melihat foto-foto itu untuk pertama kalinya sungguh di luar rencana dan entah bagaimana situasi itu memancing emosi dan perasaan Sarah untuk menguasai kembali tubuhnya malam ini.
“Aku tidak akan membiarkan dirimu menyentuh apalagi menghancurkan keluargaku !” tegas Reyhan masih dengan tatapan yang menusuk.
Ucapan Reyhan tidak menjawab pertanyaan Alden dan fokus menatap Sarah yang menghela nafas berkali-kali.
“Kalau sampai itu terjadi, bukan hanya dirimu yang akan aku seret untuk hancur bersama kami, tapi keluarga Hutama menjadi taruhannya. Jangan kamu berpikir kalau aku tidak memiliki celah untuk memporak porandakan keluarga Hutama. Seperti katamu selalu ada celah dalam setiap kehidupan sekali pun hanya 1% peluangnya.”
“Jangan ganggu keluarga Hutama !” Sarah Belle menjawab dengan nada yang sama kerasnya.
Sebagai Annabelle, dia tidak rela kalau urusan Sarah harus menyeret Tuan dan Nyonya Hutama.
“Bukankah Tuan Peter sudah bilang dan memintamu untuk berhenti menjadi manusia pendendam ? Tidak cukupkah kamu melihat dan merasakan kalau perasaan dendam yang Sarah limpahkan kepadamu membuat hidup kalian sama-sama hancur bahkan sampai harus kehilangan anak kalian ?”
Annabelle memberanikan diri membalas tatapan Reyhan sama tajamnya.
“Dan Annabelle tidak akan membiarkan siapapun menyakiti keluarga Hutama,” tegas Annabelle dengan penuh keyakinan.
Reyhan mengernyit sementara Alden menautkan kedua alisnya. Keduanya sama-sama melihat keanehan sikap Sarah yang berbicara seolah-olah bukan untuk dirinya sendiri.
Juan dan Yudha saling menatap namun tidak berkomentar apa-apa. Mereka melihat kalau Alden dan Reyhan dibuat bingung dengan sikap Sarah Belle.
__ADS_1
“Kenapa melihatku begitu ? Aku pastikan kalau Sarah tidak akan berbuat macam-macam sampai waktu 100 hariku berakhir.
Tolong ijinkan aku pulang dulu untuk menenangkan pikiran, setidaknya aku membutuhkan psikiaterku untuk meneruskan pengobatanku ini,” ujar Annabelle sambil melirik ke arah Yudha yang hanya menganggukan kepalanya.
“Enak benar dengan alasan pengobatan kamu meninggalkan kedua orangtuaku yang sudah kamu sakiti dengan foto-foto gilamu itu,” sinis Reyhan.
“Foto apa ?” Alden memajukan posisi duduknya.
“Bukan apa-apa,” sahut Sarah Belle cepat tanpa menoleh ke arah Alden.
“Sudah aku katakan kalau Sarah tidak akan kemana-mana sampai masa 100 hari berakhir. Tolong beri aku kesempatan untuk mengobati diriku. Aku tidak akan membiarkan Sarah melepaskan diri dari tanggungjawabnya.”
“Apa dia sungguh-sungguh amnesia, dokter ?” Reyhan menatap tajam ke arah Yudha yang langsung gelapan karena tidak menyangka kalau Reyhan akan bertanya padanya.
“Eh iya.. ,” jawab Yudha sedikit gagap karena terkejut. “Sarah Belle… ngggg… maksud saya Sarah memang menderita amnesia sementara. Anda pasti melihat kalau sikapnya bisa berubah-ubah dalam sekejap, seolah ada dua pribadi yang berbeda. Tapi itulah yang dialami Sarah saat ini .”
“Lalu apa hubungannya dengan 100 hari ? Apa dokter bisa memastikan kalau Sarah akan kembali normal setelah melewati pengobatan 100 hari ?” Reyhan mengernyit, menatap Yudha seolah ingin memastikan kalau tidak ada kebohongan dalam setiap kalimat yang diucapkan Yudha.
Raka dan Juan hanya menjadi penonton, bahkan diam-diam Raka merekam semua pembicaraan mereka malam ini.
“Masalah angka 100 hari bukan dari saya sebagai piskiaternya, karena secara medis , pengobatan untuk Sarah tidak bisa ditentukan dengan angka pasti. Sarah sendiri yang menetukan angka itu bahkan sebelum bertemu saya.”
“Rey,” panggil Sarah Belle dengan suara memelas. “Aku minta maaf karena masalah foto tadi sampai melibatkan mamamu. Sungguh, bukan ini tujuanku membuka masalah Sarah dan Tuan Peter.
Aku benar-benar minta maaf, Rey,” Sarah Belle menangkup kedua tangan di depan wajahnya.
“Tolong beri aku ruang untuk menyelesaikan semuanya. Hanya tinggal 45 hari lagi Rey. Aku pasti akan memikirkan jalan yang terbaik untuk semua masalah ini Rey, meski aku tidak bisa menuntaskannya sampai akhir. Aku tidak bisa menjelaskan kenapa menyebut angka 100 hari pada kalian.”
“Aku benar-benar salut dengan akting sandiwaramu, Sarah,” Reyhan tersenyum sinis. “Aku benar-benar tertipu olehmu. Bahkan aku yakin kalau kamu tidak pernah mencintaiku sedikitpun meski kamu bersedia memberikan dirimu untukku.”
Alden tersenyum sinis mendengar ungkapan hati Reyhan. Secara tidak langsung, putra Peter Gilang itu mengakui kalau ia diam-diam menjalin hubungan dengan Sarah meski wanita itu adalah kekasih Alden.
“Jangan jadi pria cengeng, Reyhan !” suara tegas Nyonya Sisilia terdengar di dekat pintu ruang tamu dari arah dalam rumah.
“Biarkan wanita itu pergi. Jangan libatkan lagi dia dalam kehidupan keluarga kita.”
Reyhan menoleh, menatap Nyonya Sisilia di kursi roda yang didorong oleh Tuan Peter, bergabung dengan mereka di ruang tamu.
“Terima kasih atas pengertiannya, Nyonya,” lirih Sarah Belle dengan suara pelan.
Sakit kepalanya mendadak datang lagi membuat Annabelle buru-buru bangun untuk mencegah Sarah berulah lagi
Entah apa pemicunya. Apakah kehadiran Nyonya Sisilia atau Tuan Peter membuat rasa benci, marah dan keinginan balas dendam Sarah mencuat kembali.
“Saya pamit dulu.”
Sarah Belle membungkukan badan dan meraih tasnya karena tidak ingin memperpanjang urusan dengan emosi Sarah lagi.
__ADS_1
Yudha yang melihat reaksi Sarah Belle ikut bergegas setelah pamit pada tuan rumah.
Belum juga mencapai pintu keluar, Sarah Belle yang memegang kepalanya karena rasa sakit semakin menjadi, jatuh pingsan dalam pelukan Yudha yang sudah mengantisipasi kejadian ini.