
Suasana makin bertambah panas, saat Reyhan langsung memegang lengan Annabelle tanpa mengetahui kalau Sarah sedang berdiri dengan wajah garang.
“Annabelle,” panggil Reyhan.
Annabelle bergeming lalu menghela nafas saat melihat raut wajah Sarah berubah.
“Annabelle ?” Sarah mengulangi panggilan Reyhan.
“Kamu ngapain di sini ?” Reyhan langsung memasang wajah tidak suka saat melihat Sarah berdiri dengan muka galaknya menatap Annabelle.
Annabelle pun melepaskan tangan Reyhan dan melanjutkan langkahnya melewati Sarah, membuat wanita itu tambah naik darah karena menganggap Annabelle sangat sombong.
Bagi Annabelle sendiri bagaimana kelanjutannya adalah urusan antara Reyhan dan Sarah sebagai sepasang kekasih yang hubungannya masih belum jelas.
“Jadi nggak cukup Siska yang jadi selingkuhanmu ? Sekarang wanita si**lan itu berhasil mendekatimu juga ? Tidak ingatkah kalau su **dal itu yang membuat kita kehilangan anak ?”
Suara Sarah yang tinggi menarik perhatian pengunjung kafe. Reyhan menarik nafas kesal, meninggalkan Sarah dan tidak berminat menanggapi semua ucapan wanita itu.
Annabelle sendiri tidak langsung duduk tapi berdiri di dekat Yudha, sedang berbincang soal pesan yang dikirim Raka pada Yudha, menanyakan soal keberadaan Annabelle yang dilaporkan sedang bersamanya.
“Jangan bilang kalau kamu ini Annabelle toxicnya Alden !” Sarah yang merasa sakit hati diabaikan oleh Reyhan langsung berbalik dan mendekati Annabelle.
Tanpa menunggu jawaban, Sarah langsung menarik rambut Annabelle yang diikat satu seperti ekor kuda.
“Aduh !”
Pekikan Annabelle membuat Yudha dan Reyhan terkejut apalagi melihat Sarah sedang menjambak rambut Annabelle dengan gerakan membabi buta.
“Tidak cukup merebut Alden dariku, sekarang berusaha merebut Reyhan juga ! Dasar perempuan sun**al, tidak tahu diri, beraninya mengambil milik orang lain !”
Sarah terus berteriak sambil menjambak rambut Annabelle bahkan mencakar wajah gadis itu.
Reyhan dan Yudha mencoba memisahkan keduanya, tapi baik menarik Sarah atau Annabelle sama-sama semakin menyakiti Annabelle karena cengkraman Sarah semakin kuat.
“Lepaskan Annabelle, Sarah, atau aku benar-benar akan membencimu seumur hidupku,” perintah Reyhan.
“Aku tidak percaya dengan ucapanmu !” sahut Sarah dengan suara yang tinggi, tangannya terus bergerak. Kukunya yang runcing mulai melukai wajah Annabelle.
“Bahkan kalau aku tidak melakukan ini kamu tetap mengabaikan aku, hubungan kita sudah kamu akhiri !” pekik Sarah.
Perbuatan Sarah benar-benar mengundang perhatian para pengunjung cafe. Seorang pelayan langsung memanggil petugaas keamanan cafe. Namun melihat Reyhan dan Yudha masih mencoba melerai, petugas itu hanya bicara, minta supaya Sarah melepaskan tangannya namun wanita itu tidak peduli.
“Sarah hentikan !” gelegar suara bariton itu akhirnya menghentikan pergerakan Sarah.
Melihat itu Yudha buru-buru menarik Annabelle untuk menjauhi Sarah.
Sekarang fokus banyak orang beralih pada pria tampan yang baru saja masuk ke dalam cafe. Hanya Yudha dan Annabelle yang sibuk sendiri. Yudha membantu merapikan rambut Annabelle dan memeriksa wajah Annabelle yang lecet akibat cakaran.
Plak !
Alden, pria yang baru sampai itu langsung menampar wajah Sarah cukup keras hingga wanita itu sedikit terhuyung dan menabrak Reyhan yang berdiri di belakangnya.
“Ini balasan untuk perbuatanmu menyakiti Annabelle,” tegas Alden. “Urusanmu dengan Reyhan bukan dengan Annabelle. Berhentilah mencari kambing hitam atas semua perbuatanmu.”
__ADS_1
Alden menghela nafas dan tatapannya beralih pada Annabelle yang berhadapan dengan Yudha, mengabaikan kedatangan Alden yang baru saja menolongnya.
“Belle, kamu nggak apa-apa ?” tanya Alden mendekati Annabelle tapi gadis itu bergeming membelakangi Alden.
“Bawa aku pergi dari sini,” lirih Annabelle menatap Yudha.
“Tapi Belle…”
Annabelle meraih tas selempangnya dan dengan wajah memohon, meminta Yudha membawanya meninggalkan tempat ini secepatnya.
Bukan hanya karena rasa malu dengan tatapan orang-orang yang pasti menganggapnya pelakor, tapi kehadiran Alden yang tiba-tiba datang seolah menjadi dewa penolongnya sangat tidak diharapkan Annabelle.
Yudha menatap Alden yang langsung memberi isyarat dengan gerakan matanya, meminta Yudha menuruti permintaan Annabelle.
Yudha pun bergerak, membiarkan Annabelle memegang lengannya, berjalan meninggalkan meja.
“Belle,” tangan Alden menahan lengannya.
Annabelle tidak menjawab, tidak menatap Alden bahkan membuang muka dan dengan sekali sentakan ia melepaskan tangan Alden yang memegangnya.
”Bawa aku pergi dari sini, Yudha.”
Yudha menghela nafas, posisinya serba sulit, tapi perasaan Annabelle lah yang harus menjadi prioritasnya saat ini.
Yudha hanya menganggukan kepala pada Alden dan Reyhan. Dua orang petugas sudah memegangi Sarah, mencegah wanita itu kembali menyerang Annabelle.
Tidak jauh dari Alden keduanya berpapasan dengan Reno. Hanya Yudha yang menganggukan kepala sementara Annabelle masih menunduk sambil memegang lengan Yudha.
”Belle !” panggilan Alden membuat Yudha menghentikan langkah saat mereka baru saja keluar dari cafe.
Alden tidak memaksa dan hanya menatap kepergian Yudha dan Annabelle menuju parkiran.
“Belle jangan menghindar dari perasaanmu lagi,” ujar Yudha berdiri di samping mobil sebelum membukakan pintu untuk Annabelle.
“Aku bukan menghindari perasaan cintaku pada Alden, justru rasa benciku. Apa yang diucapkan dan dilakukan Sarah membuat aku sadar kalau ternyata selama ini aku terlalu kepo mengurusi hidup Alden, bahkan mungkin aku yang mengacaukan hidup banyak orang bukan hanya Alden. Aku sudah menyakiti hati orangtuaku juga. Aku benci Yudha ! Aku benci !”
Annabelle meluapkan isi hatinya tanpa berteriak-teriak seperti Sarah. Gadis itu menangis karena rasa emosi yang ditahannya selama ini.
“Bawa aku pergi, Yudha. Bawa aku pergi sejauh mungkin hingga aku tidak akan pernah melihat Alden lagi. Semakin ia bersikap baik dan mengucapkan kata maaf, aku semakin membencinya !”
Yudha masih menjadi pendengar, membiarkan Annabelle mengungkapkan seluruh isi hatinya. Namun yang tidak terduga oleh Yudha, Annabelle langsung memeluknya.
Bukan hanya Yudha yang kaget, Alden pun yang masih berdiri dekat pintu masuk cafe tampak tercengang apalagi melihat pergerakan bahu Annabelle yang berguncang.
Rasanya ingin Alden berlari, menarik Annabelle dan memeluknya erat-erat, berbagi kesedihan yang dirasakan gadis itu. Tapi semuanya hanya sebatas keinginan di hati, Alden tidak berniat melakukannya karena tahu kalau dirinya lah penyebab kesakitan yang dirasakan oleh Annabelle.
Alden mengepalkan kedua tangannya saat melihat Yudha balas memeluk Annabelle, bahkan mengecup kening gadis itu sebelum membawanya masuk ke dalam mobil.
Alden membuang muka ke lain arah, tidak ingin pemandangan barusan tertanam di otaknya.
“Sebaiknya kita pulang dulu, Tuan Alden,” Reno ternyata sudah keluar cafe diikuti oleh Reyhan yang sudah menyandang tas laptopnya.
”Al,” panggil Reyhan lalu berdiri berhadapan dengan Alden sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
“Gue minta maaf, bukan untuk perbuatan Sarah pada Annabelle barusan, tapi untuk kesalahapahaman gue selama ini.”
Alden mengernyit, tidak mengerti apa maksud ucapan Reyhan.
“Elo pasti ingat dengan Riri, adik tiri gue yang pernah dikenalkan sama elo.”
Alden mengerutkan dahi, mencoba mengingat wajah pemilik nama yang disebutkan oleh Reyhan. Matanya sempat melirik mobil Yudha yang sudah keluar meninggalkan cafe.
Reyhan mengeluarkan handphonenya dan memperlihatkan foto Riri.
“Dia adik tiri gue, Al, dia bunuh diri di usia yang terbilang muda. Awalnya gue kira Riri bunuh diri karena patah hati ditolak cintanya sama elo karena cukup lama Riri sering cerita kalau dia suka sama elo. Ternyata bukan karena itu dia bunuh diri. Sorry Al, gue udah salah paham sama elo cukup lama dan kesalahpahaman itu yang membuat Sarah mendekati elo, untuk membantu gue membalaskan dendam gue.
Sekarang waktunya gue menebus kesalahan itu. Kalau memang elo mau menuntut Sarah soal penyerangan terhadap Annabelle, gue akan mengurusnya dan akan menjadi pengacara elo tanpa bayaran.
Sama seperti elo, gue ingin Sarah berhenti dari semua kebencian dan keinginan balas dendamnya. Tapi sepertinya keinginan gue nggak sejalan dengan keinginan Sarah.”
Sarah yang baru saja keluar dari cafe berhenti, mendekati Alden dan Reyhan.
“Jadi kalian sekarang partner kerja ?” sindir Sarah dengan senyuman sinis.
Alden hanya diam saja, enggan berbalik menatap Sarah.
“Berhenti dengan semua perasaan negatifmu selagi kamu bisa, Sarah !” tegas Reyhan dengan rahang mengeras.
“Berhenti ? Bahkan kamu tidak membelaku saat mereka memintaku menandatangani surat perjanjian untuk tidak mengulang kejadian tadi,” suara Sarah yang langsung tinggi kembali menarik perhatian orang-orang yang ada di luar cafe.
“Bukan hanya mengulang kejadian tadi, ke depannya, kalau sampai kamu berani menyakiti Annabelle lagi, akan aku buat kamu menderita dan menyesal telah dilahirkan sampai rasanya ingin mati !”
Alden berbalik, mencengkram lengan Sarah membuat wanita itu terkejut melihat tatapan Alden yang penuh kebencian.
“Kamu bisa berkelit saat hukum menjeratmu, tapi aku akan membuatmu tidak bisa berkutik bahkan menarik nafas pun kamu harus mendapatkan ijin dariku !” tegas Alden kembali penuh penekanan.
Sarah tidak membantah malah sedikit ketakutan karena belum pernah melihat Alden semarah ini pada siapapun juga.
“Aku balik dulu,” pamit Alden pada Reyhan yang hanya mengangguk karena Alden langsung jalan diikuti oleh Reno.
“Ingat kataku Sarah, berhentilah selagi kamu bisa berhenti dan sadarlah jangan sampai dendam dan kebencian membuat kamu justru kehilangan segalanya,” tegas Reyhan sebelum meninggalkan Sarah sendirian.
Reyhan menghela nafas, berharap kali ini Sarah benar-benar mendengarkan ucapannya. Mungkin saja dengan begitu, Reyhan masih bisa membuka hatinya untuk menerima Sarah kembali dan memulainya dari titik nol.
Sementara di mobil, Alden duduk bersandar di kursi penumpang belakang. Reno duduk di sebelahnya dan seorang sopir yang membawa mobil.
“Kita kemana Tuan Alden ?”
“Antarkan aku pulang ke rumah, Ren. Aku perlu mandi untuk menyegarkan badan dan pikiran.”
Reno langsung menyuruh sopir membawa mereka ke rumah keluarga Hutama dan membiarkan Alden memejamkan matanya.
Alden baru saja tiba di Indonesia sekitar 2 jam yang lalu dan Reno-lah yang menjemputnya di bandara. Begitu mendapat laporan kalau Annabelle ada di Cafe Rosemary bersama Yudha dan sebelumnya sempat pulang ke rumah, Alden meminta Reno untuk langsung membawanya menemui Annabelle.
Rasanya Alden ingin langsung memeluk gadis itu saat bertemu dan mengungkapkan betapa bahagianya Alden mendapati Annabelle baik-baik saja setelah menghilang lebih dari 24 jam.
Tapi bukan tatapan teduh yang didapatkan Alden seperti biasanya, bukan ucapan terima kasih karena Alden bisa membuat Sarah melepaskan Annabelle dari amukan dan cakarannya, Annabelle justru menatap Alden dengan sinar kebencian.
__ADS_1
Alden menghela nafas panjang meski matanya terpejam. Hatinya terasa sakit karena Annabelle memilih lari ke dalam pelukan Yudha, menangis di sana bahkan membiarkan Yudha mencium keningnya.
Sepertinya karma sedang berjalan balik ke arah Alden. Apa yang dilihatnya sekarang adalah semua yang pernah ia lalukan di depan Annabelle saat bersama dengan Sarah.