Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Istana Pasir


__ADS_3

“Kita ke pantai mana ? Kenapa harus menginap segala ? Kamu yakin kuat setir sendiri ke sana karena selama ini kan Alden tahunya duduk manis di belakang dan menyuruh sopir mengantarnya kemanapun dia mau.”


Serentetan pertanyaan Sarah Belle dan ocehannya hanya ditanggapi senyuman tipis Alden yang mulai menyusuri jalan di jam 6 pagi ini.


“Den, kita mau ke pantai mana ?” Sarah Belle mengulang pertanyaannya.


“Bali,” sahut Alden singkat.


“Bohong banget,” Sarah Belle mencebik. “Mana mungkin ke Bali naik mobil dan bawa bekal segala.”


“Nah itu sudah tahu jawabannya,” Alden tertawa.


Sarah Belle mendadak diam dan mengalihkan pandangannya keluar jendela. Hatinya merasa sakit setiap kali melihat sikap Alden yang romantis, memanjakan Sarah bahkan bisa tertawa lepas begitu.


Pikiran Annabelle langsung berandai-andai, berharap semua itu Alden lakukan karena Sarah yang di depannya ini berbeda, karena saat ini Annabelle-lah yang terlihat di mata Alden.


“Kok tiba-tiba diam ?” tanya Alden sambil menyentuh kepala Sarah Belle.


”Alden !” Sarah Belle menggerakan kepalanya, enggan disentuh Alden di saat suasana hatinya sedang sedih sekaligus kesal.


“Sudah aku bilang tidak ada kontak atau sentuhan fisik sampai 100 hari berakhir. Bersabarlah sedikit lagi, tinggal 39 hari lagi,” ujar Sarah Belle dengan nada ketus.


Alden hanya tersenyum tipis dan membiarkan Sarah menyandarkan kepalanya pada pintu.


Hingga 3 jam berlalu, Alden masuk ke area resort di pinggir pantai di kawasan Carita.


“Aku tahu kamu tidak tidur. Mau turun atau di mobil ?” tanya Alden sambil melepas sabuk pengamannya.


Sarah Belle cepat-cepat membuka mata dan melepas sabuk pengaman lalu turun dari mobil tanpa bicara apa-apa.


Alden tertawa pelan dan membuka bagasi untuk mengambil bawaan mereka. Terlihat seorang pegawai hotel menghampiri mereka.


“Selamat datang Tuan Alden,” sapa seorang pria muda dengan seragam hotel. Alden hanya menganggukan kepala dan menyerahkan bawaannya pada pria itu.


“Kita pisah kamar kan ?” tanya Sarah Belle mengikuti langkah Alden menuju lobby hotel.


“Satu.”


“Kalau begitu minta yang dua tempat tidur.”


“Kenapa mendadak jadi banyak aturan begini ?” Alden berhenti mendadak membuat Sarah Belle menabrak pria itu.


“Kenapa berhenti mendadak ?” Sarah Belle mengomel sambil mengusap keningnya.


“Siapa suruh jalannya melamun ?” Alden mengangkat kedua alisnya.


Sarah Belle hanya mengomel sendiri masih sambil mengusap keningnya.


“Aku tanya kenapa sekarang kamu banyak aturan ? Bukannya biasa kamu yang menggoda aku ? Membujukku untuk tidur satu kamar bahkan seranjang ?”


Sarah Belle mundur 2 langkah saat Alden mencondongkan badannya hingga posisi mereka cukup dekat.


“Itu sebelum aku kecelakaan,” sahut Sarah Belle cepat. “Dan sekarang aku tidak ingat kalau dulu aku begitu.”


Alden hanya tertawa dan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam mengurus pemesanan kamarnya.

__ADS_1


Tidak lama keduanya sampai di depan pintu kamar di lantai 3. Sarah Belle mengikuti Alden yang duluan masuk ke dalam kamar dan langsung bernafas lega saat melihat 2 ranjang terpisah.


Sarah Belle membuka pintu balkon yang menghadap langsung ke pantai.


“Senang ?” tanya Alden yang sudah berdiri di sampingnya.


“Pakai banget,” sahut Sarah Belle dengan wajah sumringah. “Apa kamu dulu sering membawa Sarah ke tempat ini ?”


Alden diam saja dengan alis menaut menatap Sarah Belle yang masih tersenyum menatap pemandangan laut.


Merasa lawan bicaranya diam saja, Sarah Belle menoleh dan membalas tatapan Alden yang masih menautkan alisnya.


“Apa ada yang aneh dengan wajahku ?” Sarah Belle memegang wajahnya sendiri.


“Tidak… tidak ada. Aku hanya tidak menyangka kalau kamu akan sebahagia ini dibawa ke pantai.”


“Aku sangat menyukai pantai sejak kecil dan membuat istana pasir bersama A… maksudku dengan teman kecilku,” Sarah Belle tertawa dengan wajah bahagia membayangkan kenangan masa kecilnya.


“Hanya teman kecil ? Nggak pernah berhubungan lagi ?”


“Iya hanya teman kecil dan dia sudah jadi orang sukses sekarang,” Sarah Belle tersenyum getir.


“Bukankah kamu juga pengacara sukses yang cukup terkenal juga. Kenapa nggak ketemuin aja dan bilang…”


“Udah deh,” Sarah Belle mengangkat tangannya memberi isyarat pada Alden untuk tidak melanjutkan kalimatnya. “Kamu ajak aku kemari untuk liburan dan senang-senang, jadi kita nikmati aja waktu dua hari ini.”


Alden mengangguk dan tersenyum tipis. Tidak lama terdengar perut Sarah Belle berbunyi. Alden tertawa pelan melihat wajah Sarah Belle tersipu.


“Ayo makan, aku yakin kamu tidak akan menolak.”


“Mau makan apa ?” tanya Alden.


“Apa saja asal jangan oyster. Aku alergi berat,” sahut Sarah Belle sambil membolak balik buku menu.


“Alergi ?”


“Ya saat kecil aku sampai di bawah ke rumah sakit karena sesak nafas dan timbul ruam di sekujur tubuh. Kalau saat itu aku telat dibawa, mungkin saja aku tidak bisa duduk di sini bersamamu,” sahut Sarah Belle sambil terkekeh dan mendongak menatap Alden.


”Tapi selama ini oyster adalah makanan favoritmu. Sejak kapan kamu alergi ?” Alden mengerutkan dahi.


“Yang aku ingat sejak kecil, Den. Kalau sebelum kecelakaan ternyata oyster adalah makanan kesukaan Sarah, aku tidak ingat.”


Sarah Belle yang sadar kalau saat ini dia sedang membicarakan dirinya sebagai Annabelle berusaha tetap tenang dan menjawab pertanyaan Alden dengan sikap biasa saja, padahal jantungnya berdebar karena sadar akan kesalahannya.


Alden hanya mengangguk-angguk dan memesan makanan untuk mereka berdua tanpa menu oyster.


Sepanjang makan siang hari itu Alden hanya menjadi pendengar Sarah Belle. Wanita jelmaan Annabelle iti berceloteh banyak hal namun tidak membuat Alden bosan, bahkan sesekali tertawa melihat eskpresi wajah Sarah Belle yang lucu dan apa adanya.


“Den, sore nanti aku mau main di pantai. Tidak masalah sendirian, aku ingin membuat istana pasir seperti waktu kecil.”


Alden hanya diam dan mengikuti Sarah Belle yang sempat menyusuri jalan menikmati udara laut meski posisinya jauh dari pantai.


Sekitar jam setengah lima sore, Sarah Belle sedang asyik membangun istana pasir sendirian.


Niatnya ingin ditemani Alden, tetapi pria itu tertidur pulas di ranjangnya hingga Sarah Belle tidak tega membangunkannya.

__ADS_1


Baru saja Sarah Belle memasangkan ujung menara istana pasirnya, sebuah tendangan memporakporandakan sebagian istana pasir yang susah payah dibangunnya.


“Alden !” pekik Sarah Belle dengan wajah marah. “Kenapa dirusak ? Kamu pikir gampang membangunnya ?”


“Kenapa kamu berani keluar kamar sendirian ? Kenapa tidak membangunkan aku ?” suara Alden tidak kalah galaknya menatap Sarah Belle dengan mata melotot.


“Aku tidak tega membangunkanmu karena tidurmu nyenyak banget. Dan aku yakin kamu akan tahu kemana mencariku, aku sudah meninggalkan pesan di nakas samping ranjangmu.”


Alden diam dengan tatapan emosi yang tidak bisa terbantahkan membuat Sarah Belle menghela nafas panjang.


Dalam hati Alden mengutuki dirinya yang langsung panik saat tidak mendapati Sarah di kamar hingga tidak memeriksa lagi kalau wanita itu sudah meninggalkan pesan.


Masih merasakan emosi karena cemas, kaki Alden kembali menendang sebagian istana pasir Sarah Belle yang belum roboh.


“Alden !” pekik Sarah Belle reflek mendorong tubuh Alden cukup keras namun tidak sampai terjatuh.


“Kenapa kamu hancurkan lagi istana pasirku ? Kenapa kamu rusak lagi kebahagiaanku ? Aku tidak pernah berusaha menempel padamu tapi situasi lah yang membuat aku sering berada di dekatmu. Dulu kamu hancurkan istana pasir yang susah payah kita bangun hanya karena Tante Lanny memberitahu kalau aku akan masuk sekolah yang sama denganmu.


Aku tahu kamu malu dengan ejekan teman-temanmu karena bergaul denganku, si anak sopir.


Kalau aku bisa mengulang waktu, aku akan menolak permintaan orangtuamu untuk sekolah di tempat yang sama. Kalau aku bisa mengulang waktu, akan aku biarkan kamu dipukuli dan dilecehkan oleh teman-temanmu dan yang pasti kalau aku bisa mengulang waktu, akan aku hapuskan perasaanku sampai tidak bersisa untukmu !


Aku membencimu. Den ! Sangat membencimu ! Aku tidak ingin hidup lagi karena cintamu !”


Sarah Belle berteriak histeris di akhir kalimatnya dengan air mata yang terus mengalir dari kedua sudut matanya.


Sarah Belle berlari meninggalkan Alden, mengurai rasa sakit hatinya akan perlakuan Alden yang tidak berubah pada Annabelle. Dia lupa kalau Alden melihatnya sebagai Sarah saat ini bukan Annabelle.


Alden sendiri masih terpaku di temparnya. Seperti de javu kejadian 15 tahun yang lalu terulang kembali.


Alden baru saja selesai membantu Annabelle mendirikan istana pasir waktu mereka liburan bersama di villa milik keluarga Hutama.


Mommy Lani dan mama Mira menghampiri mereka untuk menjemput Ray sekaligus mengajak Alden dsn Annabelle menikmati cemilan sore


Mommy Lanny dengan antusiasnya memberitahu pada putra tunggalnya tentang Annabelle yang baru saja masuk SD akan satu sekolah dengan Alden yang saat itu baru kelas 7.


“Kenapa istananya dirusak, Den ? Kita sudah buatnya jauh-jauh supaya nggak kena air laut.”


Air mata Belle kecil itu mulai bercucuran membuat Alden sedikit iba saat itu.


“Supaya kamu berhenti bermimpi menjadi putri cantik yang mendapatkan pangeran yang kaya raya.”


Saat itu Belle kecil terduduk di pasir dan menangis di antara kedua kakinya yang ditekuk.


Alden meninggalkan Annabelle yang menanngis sendirian dengan perasaan benci dan marah karena Annabelle akan satu sekolah dengannya.


Alden yang baru saja tumbuh menjadi remaja merasa malu karena pernah diolok-olok mendapat jodoh anak kecil, anak sopir, culun pula.


Alden kembali tersadar dari ingatan masa lalunya, menatap ke depan, mencari-cari sosok Sarah Belle yang sudah tidak lagi tertangkap netra.


Hati Alden mendadak tidak tenang, apalagi menngingat kalimat terakhir Sarah Belle, selain itu Alden ingin memperbaiki rasa bersalahnya 15 tahun yang lalu. Meski saat ini Sarah lah yang dilihatnya menangis karena kecewa, marah dan sakit hati, Alden tidak ingin menjadi pria yang sama seperti 15 tahun lalu.


Alden pun melangkah ke arah Sarah Belle berlari dan mulai mencari wanita itu dengan perasaan yang campur aduk.


Niatnya ingin mengajak Sarah Belle melihat matahari terbenam jadi berantakan karena rasa khawatir yang tiba-tiba muncul secara berlebihan saat tidak mendapati Sarah Belle di kamar.

__ADS_1


Alden sendri bergumul dengan batinnya. Entah siapa yang dia khawatirkan. Apa Sarah, wanita yang sudah menjadi kekasihnya selama 2 tahun atau Sarah Belle, wanita yang mendadak muncul setelah kecelakaan itu terjadi ?


__ADS_2