Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Masih Hari Ke-99


__ADS_3

Selesai makan, Sarah Belle mengantar Sisi kembali ke kampus untuk masuk kelas berikutnya.


“Belle, semangat,” Sisi mengangkat tangannya yang terkepal memberikan semangat pada Sarah Belle.


“Apa wajah gue kurang bersemangat,” Sarah Belle tertawa meski hatinya menangis.


Debaran jantungnya tidak karuan. Rasanya sekarang ia paham bagaimana seorang terpidana menghitung waktu, menantikan hukuman matinya.


Sisi yang tadinya sudah sedikit menjauh tiba-tiba memeluk tubuh Sarah Belle dengan begitu erat, airmatanya pun mulai keluar dari kedua sudut matanya.


“Sarah mungkin bisa berpura-pura tegar karena terbiasa berdebat di ruang pengadilan, tapi sahabat gue Annabelle selalu jujur sama perasaannya. Mata elo nggak bisa bohong, Belle.”


Sarah Belle pun balas memeluk Sisi. Adegan keduanya sempat menarik perhatian dan kasak kusuk mahasisw yang lewat atau berada dekat situ.


“Si, sepertinya orang bisa menyangka elo sugar baby-nya gue,” bisik Sarah Belle sambil tertawa.


“Biarin aja. Kebanyakan orang hanya menilai dari apa yang mereka lihat padahal mereka belum tentu kenal sama kita,” sahut Sisi sambil melepas pelukannya.


Wajahnya terlihat galak membalas tatapan orang-orang yang melirik mereka.


“Gue jalan dulu,” Sarah Belle menepuk bahu Sisi. “Gue mau ke tempat Yudha, terus minta anterin dia ke rumah sakit.”


Sisi mengangguk dan menyuruh Sarah Belle masuk ke dalam mobil.


“Belle, kalau memang Alden menolak, kenapa nggak sama Yudha aja ? Gue lihat dia cowok yang baik dan matanya menunjukkan kalau dia ada hati sama elo.”


Sarah Belle sudah duduk di mobil dan membuka jendela di sampingnya.


“Sepertinya Tuhan lebih tahu hati gue, Si dan Yudha datang sesudah Alden. Lagipula aturannya hanya Alden yang bisa membuat gue hidup lagi, bukan cowok lain,” ujar Sarah Belle sambil tertawa.


“Kalau Alden nggak cinta tapi elo tetap kembali ke raga Annabelle, biarkan cowok lain mengisi hati elo, terutama Yudha.”


Sarah Belle hanya mengangguk-angguk sambil tertawa.


“Jangan lupa cake strawberrynya,” ujar Sarah Belle.


“Iya… iya. Dasar putri strawberry,” cibir Sisi membuat Sarah Belle tertawa dan melambaikan tangannya.


Sisi menghela nafas panjang menatap mobil yang ditumpangi Sarah Belle menjauh. Hatinya berharap masih bisa melihat dan merasakan keceriaan Annabelle, sahabatnya.


🍀🍀🍀


Sarah Belle turun di depan tempat praktek Yudha dan meminta sopir keluarga Hutama meninggalkannya. Ia pun langsung menghampiri seorang wanita dan pria muda yang berjaga sebagai resepsionis.


“Nona Annabelle ?” sapa si wanita dengan senyuman ramah. Sarah Belle mengerutkan dahinya.


“Dokter sudah berpesan kalau akan ada tamu spesialnya siang ini.”


Sarah Belle tersenyum dan mengangguk. Belum sempat Sarah Belle duduk di sofa, pintu ruangan Yudha terbuka. Terlihat pria itu mengantar keluar seorang wanita muda yang cantik namun tatapan matanya kosong.


Yudha pun langsung memberi isyarat pada Sarah Belle supaya masuk ke dalam ruangannya.


Yudha berjalan ke mejanya untuk merapikan laptop dan berkas-berkasnya. Wanita tadi adalah pasien terakhirnya karena sengaja Yudha mengosongkan jadwalnya hari ini setelah jam makan siang.


Bukan hanya Annabelle yang merasa cemas memasuki hari ke-100 nya sebagai Sarah Belle, Yudha pun sama. Psikiater itu tidak ingin kehilangan pasien yang membuat hatinya merasakan debaran hati orang jatuh cinta.


“Pantas betah jadi psikiater di daerah ini, ya,” ledek Sarah Belle sambil duduk di sofa, menunggu Yudha merapikan mejanya.


“Pasiennya pasti cantik-cantik dan menarik. Biasanya dari teman curhat jadi teman hidup,” ujar Sarah Belle terkekeh.

__ADS_1


“Cemburu ?” sahut Yudha sambil tertawa.


“Jangan lebay deh,” Sarah Belle mencibir. “Waktuku sudah tidak lama lagi, jadi jangan berkhayal macam-macam. Lagipula dengan wajah tampanmu, bohong aja kalau perempuan cantik tidak ada yang melirik.”


“Ada, tapi biasanya wanita dengan kecantikan tingkat dewi melirik kantong cowok yang mendekatinya. Mereka butuh suntikan dana yang tidak sedikit untuk melestarikan kecantikan mereka. Mana mau sama pria tampan tapi kantongnya pas pas an, lebih baik dengan pria buncit yang uangnya tumbuh sendiri di halaman.”


“Kamu kira para wanita itu cagar budaya hingga perlu dilestarikan,” Sarah Belle tertawa.


“Itu kenyataan. Banyak pasien wanita yang mengaku menyesal memilih pasangan tampan tapi dompetnya pas-pasan. Sama-sama high maintenance, akibatnya para wanita yang menjadi penyokong si pria tampan.”


Yudha sudah selesai membereskan laptop dan berkasnya.


“Langsung ke rumah sakit ?” tanya Yudha.


“Boleh keliling dulu ? Aku mau melewati rumah papa dan mama dulu sebelum ke rumah sakit.”


“Apapun permintaanmu, sayang,” ledek Yudha sambil mengedipkan sebelah matanya. Sarah Belle mencebik sambil tertawa.


Keduanya sudah berada di dalam mobil yang disetiri Yudha. Tempat praktek Yudha pun sudah tutup dan kedua karyawan tadi diperbolehkan pulang.


Sekitar 45 menit kemudian, mobil Yudha berhenti di seberang jalan rumah yang biasa ditempati Annabelle dan keluarganya.


Yudha masih mendiamkan Annabelle yang sejak tadi memilih diam, bahkan sekarang kedua pipinya sudah basah.


“Ini apa ?” Yudha mengernyit saat Sarah Belle menyodorkan sebuah amplop putih kepadanya.


“Banyak permintaanku kalau sampai besok adalah hari terakhirku. Tidak wajib dipenuhi semuanya, sebisamu saja.”


Tangan Yudha bergerak ingin membuka amplop namun dicegah oleh Sarah Belle.


“Tolong dibukanya setelah jiwaku benar-benar tidak bisa kembali ke ragaku.”


“Mau makan es krim ?” tanya Yudha.


Sarah Belle meminta Yudha menjalankan kembali mobilnya, meninggalkan rumah masa kecil Annabelle.


Sudah jam setengah empat saat Sarah Belle melihat layar handphonenya. Ia tidak ingin terlalu malam sampai di rumah sakit.


“Langsung ke rumah sakit aja, ya,” pinta Sarah Belle yang diangguki oleh Yudha.


Suasana kembali hening, hanya terdengar alunan lagu yang sengaja diputar oleh Yudha.


Sampai di rumah sakit, keduanya turun di parkiran dan berjalan beriringan menuju rumah sakit.


“Yudha,” Sarah Belle menahan lengan Yudha sebelum mereka naik lift. “Rasanya aku tidak akan sanggup melihat papa dan mama hari ini.”


“Jangan khawatir, bersikaplah seperti biasa. Mereka akan melihatmu sebagai Sarah bukan Annnabelle. Lagipula bukankah ini kesempatan baik untuk menatap langsung wajah orangtuamu saat semuanya masih belum jelas ?”


Sarah Belle menghela nafas dan memegang dadanya yang bergemuruh.


“Berpeganganlah pada tanganku,” Yudha mengulurkan telapak tangannya. “Setidaknya kamu akan merasa lebih hangat untuk mengurangi debar jantungmu karena gugup.”


Sarah Belle menurut dan menautkan jemarinya pada jemari Yudha. Telapak tangannya yang mulai dingin kembali menghangat dalam genggaman Yudha hingga debar jantungnya memang lebih baik dari sebelummya.


Sampai di lantai 2, Sarah Belle celingukan karena tidak mendapati orangtuanya duduk di ruang tunggu depan ICU.


Yudha yang mengerti tatapan Sarah Belle pun mendekati pos perawat dan bertanya tapi sayangnya mereka juga tidak tahu dan terakhir melihat kedua orangtua Annabelle di jam 10 pagi.


“Aneh,” gumam Sarah Belle saat Yudha kembali menggenggam jemarinya, hendak membawa Sarah Belle masuk melihat tubuh Annabelle.

__ADS_1


Perasaan Sarah Belle makin tidak karuan karena takut akan merasakan sakit kepala yang luar biasa lagi saat masuk ke dalam ruang ICU.


Ternyata dalam genggaman Yudha, tidak ada yang berubah pada diri Sarah bahkan hingga mereka berdiri di samping tubuh Annabelle yang masih memejamkan matanya, tubuh Sarah tidak bereaksi apa-apa.


Sarah Belle melirik 3 tangkai mawar seperti yang diceritakan oleh Yudha. Ketiga bunga itu masih terlijat segar, seperti habis diganti.


“Kamu lihat dirimu, Belle. Kecantikanmu langsung memancar saat kacamatamu dilepas. Bahkan di saat dirimu koma, aku masih bisa melihat kecantikanmu,” puji Yudha membuat Sarah Belle langsung mencebik.


“Dasar laki-laki penggombal, bisanya memuji wanita yang sedang koma.”


“Aku nggak sedang menggombal, Belle.”


“Sayangnya Alden tetap menganggap aku si culun pengganggu hidupnya,” Sarah Belle tertawa pelan dan sumbang.


“Belle…”


“Yudha, misiku adalah membuat Alden jatuh cinta tapi aku menerimanya karena ingin membuat Alden terhindar dari bahaya rencana Sarah.


Malam itu aku mendatangi apartemen Sarah karena mendengar ia sedang merencanakan sesuatu yang buruk pada Alden. Aku tidak tahu apa untuk itulah aku nekat berbohong pada Alden soal dokumen yang perlu ditandatanganinya hingga dengan alasan itu pula aku berhasil dibukakan pintu oleh Sarah.


Aku curiga saat melihat 2 minuman sudah Sarah siapkan sebelum Alden datang. Satu gelas wine dan satu gelas air putih. Aku tidak mau mengambil resiko Alden meminum salah satunya, akhirnya aku meminum keduanya saat Sarah masuk ke kamar untuk berganti baju.


Malam itu aku memperdengarkan rekaman pembicaraan Sarah yang ternyata dengan Reyhan. Aku bilang itu hanya sebagian dan aku masih punya versi lengkapnya. Aku tidak ingin Alden menemui Sarah malam itu apalagi setelah beberapa menit aku mulai merasa pusing dan mual. Aku pikir itu hanya efek samping minuman anggurnya karena aku adalah si culun yang tidak pernah mencicipi alkohol atau anggur.


Aku dan Sarah sempat bertengkar di mobil dan saat Sarah sadar kalau ada kamera di spion depan, ia segera mencabutnya dan membuangnya ke jalan. Untung saja Om Juan berhasil menemukannya.


Sekarang tujuanku untuk menghentikan Sarah berbuat jahat hampri berhasil. Bukti asli kejadian Peter Gilang dan Sarah sudah ada di tanganku dan aku juga sudah meminta Tuan Peter untuk memastikan kalau Sarah tidak membuat copy-nya di server kantor mereka.


Aku mungkin tidak bisa membuat Alden mencintaiku, tapi aku berhasil membuka kesalahpahaman Reyhan pada Alden dan menghentikan aksi balas dendamnya.”


“Aku tidak bisa bilang apa-apa kalau sudah bicara hati, perasaan dan cinta,” ujar Yudha mengangkat kedua telapak tangannya sebatas dada seperti orang menyerah.


“Kita keluar, siapa tahu papa dan mama sudah ada di luar,” ajak Sarah Belle.


Ternyata sampai di luar, Sarah Belle masih belum mendapati kedua orangtuanya.


“Apa mereka akhirnya menyerah dan merelakan aku meninggalkan mereka selamanya ?” lirih Sarah Belle dengan wajah sedih.


“Jangan beripikiran negatif dulu. Kita cari makan ya, biar bagaimana tubuh fana Sarah ini masih membutuhkan asupan.”


Keduanya turun ke bawah dan mencari rumah makan terdekat.


Lagi-lagi suasana tampak menyedihkan dan sendu apalagi Sarah Belle tidak banyak bicara. Nasi padang yang jadi menu sore itu terasa susah ditelan baik oleh Yudha maupun Sarah Belle.


“Kamu langsung pulang aja,” pinta Sarah Belle saat keduanya sudah kembali berasa di depan lobby rumah sakit.


“Aku tidak masalah menemanimu malam ini. Aku akan menjadi orang pertama yang akan memberikan ucapan selamat pada Annabelle,” ledek Yudha.


“Aku lagi mau sendiri,” sahut Sarah Belle sambil tersenyum tipis.


“Baiklah,” Yudha menghela nafas sambil mengangguk. “Kabari aku kalau ada apa-apa.”


Sarah Belle hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Keduanya langsung berpisah dan Sarah Belle naik lift ke lantai 2.


Sarah Belle pun memutuskan untuk ke kamar kecil dulu sebelum menunggu di depan ruang ICU sekalian mencuci muka.


Begitu selesai dengan ritualnya, tanpa didiga, seseorang merangkul lehernya dan membekap mulutnya dengan saputangan yang berbau.


Hanya hitungan detik, Sarah Belle tidak sadarkan diri. Ternyata dua orang lainnya berpakaian perawat sudah menunggu dengan sebuah brankar.

__ADS_1


__ADS_2