Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Jiwa yang Kembali


__ADS_3

Annabelle merasa kaget saat jiwanya melayang terlepas dari tubuh Sarah. Ia bisa melihat tubuh yang dipinjamnya itu didorong di atas brankar tapi anehnya, Annabelle tidak bisa melihat siapa yang mendorongnya.


Annabelle melihat sekelilingnya. Masih di rumah sakit, tapi kenapa tidak ada seorang pun yang terlihat oleh netranya.


Apa ini artinya kematian sudah menjemputnya ?


Annabelle merasakan hawa dingin menerpa seluruh tubuhnya yang menyusuri lantai rumah sakit tanpa mengenakan alas kaki. Benar-benar sepi, tidak ada seorang pun yang terlihat di setiap sudut yang dilewatinya.


Ingatannya masih belum hilang. Saat keluar dari lift, Annabelle melihat banyak orang duduk bahkan menggelar tikar di ruang tunggu khusus pasien ICU. Ada beberapa orang perawat duduk di staisun perawat juga.


Di saat seperti ini, Annabelle berharap bisa bertemu dengan wanita yang tidak pernah ia ketahui wajahnya. Sama seperti 99 hari yang lalu, ia ingin bertanya apa yang akan terjadi selanjutnya ?


Annabelle meneruskan langkahnya, mencoba mendekati pintu ICU namun tidak juga ditemukannya, bahkan sekarang ia merasa berjalan di tengah labirin yang tidak tahu dimana ujungnya.


Annabelle berjongkok dan menundukkan kepala di antara kedua kakinya yang ditekuk. Rasanya ingin menangis karena berada di alam yang tidak jelas seperti ini.


Semangat Annabelle ! Semangat ! Sarah baru saja pingsan, jadi tidak mungkin waktu di dunia nyata sudah berganti hari.


Annabelle pun bangkit kembali dan menyusuri jalan dengan cahaya putih terang benderang dan semilir angin yang menerpa wajahnya, mengibaskan rambutnya yang sebahu.


Hingga akhirnya Annabelle berhenti di satu pintu yang tertutup. Tangannya memegang handel, tapi hatinya ragu membuka pintu itu.


Mungkinkah pintu itu adalah batas dunia dan alam baka ? Annabelle terus bergumul dengan pilihan yang membingungkan.


Suasana mendadak hening dan suara angin tiba-tiba menghilang namun di sekelilingnya cahaya terang masih mendominasi.


Annabelle masih berdiri di depan pintu dengan tangan yang masih memegang handel pintu. Tiba-tiba terdengar detak jarum jam yang bergerak setiap detiknya.


Annabelle menoleh ke kanan, ke arah suara itu berasal. Jam 11.15. Apa waktu begitu cepat berlalu di dunia yang tidak jelas ini ? Rasanya baru beberapa menit yang lalu Annabelle melihat tubuh Sarah tertidur di atas brankar.


Akhirnya dengan segenap keberanian, tangannya bergerak dan mendorong pintu ke arah dalam.


Annabelle tercengang saat melihat tubuhnya terbaring di atas ranjang dengan mata terpejam dan seluruh alat masih terpasang di tubuhnya.


Annabelle hanya sendirian, tidak ada siapapun di sekitarnya.


Ingatan Annabelle masih cukup baik. Saat masuk ke dalam ruang ICU bersama Yudha, Annabelle tidak sendirian, ada 3 pasien lainnya yang juga terbaring di ruangan itu.


Tiba-tiba terdengar suara tidak beraturan dari monitor pasien namun jiwanya tidak bisa melihat ada seseorang yang menolong tubuhnya.


Apakah ini waktunya ? Hanya sampai di sini saja hidup seorang Annabelle.


Jiwa Annabelle merasa ditarik ke dalam satu pusaran yang tidak terlihat olehnya. Suaranya tercekat hingga tidak bisa berteriak minta tolong. Annabelle merasakan seluruh tubuhnya ditarik semakin dalam hingga akhirnya ia hanya sanggup memejamkan mata sambil berdoa semoga jiwanya tidak terperangkap di dunia yang tidak jelas.

__ADS_1


🍀🍀🍀


Annabelle mengerjapkan matanya. Lagi-lagi cahaya silau membuat matanya menyipit lalu mengerjap untuk menyesuaikan pengelihatannya dengan ruangan di sekelilingnya.


Annabelle mencoba mengangkat tangannya, namun tangan kirinya tidak bisa bergerak. Sebuah benda menindihnya. Entah apa namun terasa hangat.


“Akhirnya kamu sadar, Belle.”


Suara itu membuat Annabelle mengerutkan dahinya. Tidak berani menoleh karena yakin kalau ini semua halusinasi atau mungkin dirinya sudah berpindah dunia, masuk ke alam kematian.


“Aku senang karena akhirnya kamu sadar, Belle,” suara itu sedikit tercekat, seolah menahan rasa sesak hatinya.


Tangannya menyentuh pipi Annabelle. Hangat. Annabelle kembali mengerutkan dahi sambil memejamkan mata. Tidak mungkin di alam kematian masih bisa merasakan kehangatan yang begitu nyata.


Perlahan Annabelle memberanikan diri membuka mata kembali dan melihat wajah itu sedang memandangnya sambil tersenyum.


“Aku senang kamu sadar kembali, Belle,” ujarnya kembali dengan suara serak.


“Alden,”’desis Annabelle.


“Iya aku Alden, Belle. Aku khawatir banget karena kondisimu sempat drop. Dan sekarang rasanya hatiku sudah lega melihatmu membuka mata kembali.”


“Selamat ulangtahun, Belle,” Alden langsung mencium kening Annabelle membuat seluruh tubuh Belle menegang.


Kepala Annabelle mendadak sakit hingga is mengerang sambil memegang kedua ujung pelipisnya.


Alden membiarkan para dokter memeriksa Annabelle. Ia sendiri langsung mengambil handphone sambil keluar kamar dan menghubungi seseorang.


“Sudah elo pastikan kalau dia berada di apartemen itu ?”


“…”


“Belle udah sadar. Gue bersyukur banget dia bisa melewati masa kritisnya semalam.”


“….”


“Iya, thankyou Bro. Tolong kasih kabar kalau ada sesuatu.”


“…”


Selesai menutup satu panggilan, Alden melakukan dua panggilan lainnya mengabarkan kalau Annabelle sudah sadar.


“Tuan Alden,” seorang perawat memanggilnya dari dalam kamar rawat Annabelle. “Dokter ingin berbicara dengan anda.”

__ADS_1


Alden mengangguk dan masuk ke dalam kamar menemui dokter senior yang mendekatinya supaya sedikit jauh dari ranjang Annabelle.


“Secara keseluruhan kondisi tubuhnya sudah baik, hanya saja Nona Annabelle perlu menjalani fisioterapi karena sudah cukup lama terbaring dalam keadaan koma. Bagian tubuhnya pasti akan terasa kaku dan perlu terapi untuk melancarkan peredaran darahnya kembali.”


“Terima kasih, dokter,” Alden menyalami dokter itu dengan wajah sumringah. Bahagia mendengar keadaan Annabelle baik-baik saja.


Sesuai permintaan Annabelle, Alden diminta keluar karena para perawat akan membantu Annabelle membersihkan diri.


Sekitar 30 menit dua orang perawat keluar dari kamar Annabelle dan menganggukan kepala pada Alden dan 4 orang lain yang baru saja tiba.


Alden membuka pintu dan tersenyum saat melihat Annabelle terlihat lebih segar dengan posisi setenhah berbaring di atas ranjang.


”Papa, mama,” wajah Annabelle langsung berbinar. “Om, Tante ?”


Keempat orangtua itu mendekati Annabelle dengan raut wajah bahagia.


“Akhirnya kamu sadar, sayang,” mama Mira menangis sambil memeluk Annabelle. “Selamat ulang tahun, Belle.”


Annabelle pun ikut menangis karena bisa kembali merasakan kehangatan pelukan mamanya.


“Selamat ulangtahun, sayang. Senang rasanya melihat kamu sadar kembali. Papa sudah kangen kebawelanmu,” Papa Rano pun gantian memeluk Annabelle dan meneteskan air mata bahagia.


Begitu juga dengan Tante Lanny dan Om Wira merasa bahagia dan terharu karena Annabelle bisa kembali ke tubuhnya sendiri.


Suasana bahagia dikelilingi sepasang orangtua yang menyayanginya membuat Annabelle lupa pada Alden hingga pria itu masuk kembali ke dalam kamar membawa sebuah kue ulangtahun lengkap dengan lilin yang menyala.


Tanpa malu, Alden menyayikan lagu selamat ulangtahun untuk Annabelle.


“Tiuplah lilinnya, jangan lupa membuat permohonan sebelumnya,” Alden tersenyum sambil mendekatkan kue itu pada Annabelle yang langsung menampiknya hingga kue itu terjatuh dan berantakan di lantai.


“Belle !” pekik mama Mira yang ada di sampingnya.


“Kamu pikir setelah kamu memaki orangtuaku dan membuat mereka sujud di kakimu, hatiku akan mudah melupakannya !” geram Annabelle yang membuat kedua orangtua Belle dan Alden terkejut.


“Aku memang pernah menyukaimu Alden Hutama, tapi aku tidak pernah memaksakan perasaanku padamu, aku tidak pernah memintamu membalas cintaku. Tapi apa yang kamu lakukan pada orangtuaku ? Kamu boleh bersumpah serapah atas diriku dan mengharapkan kematianku, tapi tidak akan pernah aku biarkan orang lain merendahkan orangtuaku. Aku membencimu Alden ! Sangat membencimu !” Annabelle setengah berteriak di akhir kalimatnya.


Alden mundur beberapa langkah, tidak menyangka kalau Annabelle akan mengucapkan kata kebencian seperti itu.


“Orangtuaku akan menepati janji mereka untuk membawaku pergi jauh dari hidupmu setelah aku sadar Jadi jangan khawatir toxic ini akan mengganggu hidupmu, Tuan Alden,” lanjut Annabelle dengan suara penuh penekanan.


Papa Rano dan mama Mira saling bertukar pandang karena tidak mengerti dengan sikap Annabelle. Bagaimana putrinya yang saat itu dinyatakan koma bisa mengetahui kejadian malam itu ? Belum ada orang lain yang ditemui Annabelle selain Alden.


Tidak mungkin Alden lah yang menceritakan semuanya itu pada Annabelle.

__ADS_1


“Maafkan aku, Belle. Maafkan aku. Tolong jangan pergi menjauh dariku,” lirih Alden dengan wajah memohon.


Annabelle menghela nafas sambil membuang muka. Yang ada dalam ingatannya saat ini hanya rasa marah yang berubah menjadi benci saat melihat kedua orangtuanya berlutut di hadapan Alden sementara pria itu malah mengutuki Annabelle, berharap semoga kematian menjemputnya.


__ADS_2