
Setalah membayar tagihan di mejanya dan pesanan Yudha, Reyhan langsung menggandeng tangan Annabelle keluar dari cafe.
“Apaan-apaan sih, Rey,” geram Annabelle sambil berusaha melepaskan genggaman Reyhan.
“Tidak ada yang gratis Nona,” Reyhan tersenyum smirk. “Sesudah aku membantu menyempurnakan sandiwaramu di depan Yudha dan wanita itu, kamu harus membayarnya.”
“Jangan macam-macam, Rey !” ancam Annabelle dengan suara galak.
Hatinya langsung ciut, apalagi mengingat kalau Reyhan bisa tidur dengan wanita manapun selain Sarah.
“Dasar bocah,” Reyhan tertawa dan menyentil kening Annabelle. “Terlalu memikirkan Alden, otakmu perlu dicuci sejenak.”
“Kita mau kemana ?” tanya Annabelle dengan wajah khawatir saat Reyhan memaksanya masuk ke dalam mobil pria itu.
“Check in,” bisik Reyhan yang langsung membuat bulu kuduk Annabelle meremang.
Annabelle bergidik ngeri, wajahnya yang tadi galak berubah cemas membuat Reyhan langsung tergelak.
“Dasar bocah mesum !” Reyhan kembali menyentil kening Annabelle, membuat gadis itu meringis dan mengusap keningnya.
“Aku ngeri setelah mendengar ceritamu tadi,” gerutu Annabelle.
“Temani aku nonton dan kamu tidak perlu menyuruh Yudha mengganti biaya makannya.”
“Kenapa harus aku ?”
“Mendengar kamu pergi nonton bioskop dengan Alden, entah kenapa hatiku tiba-tiba ingin tahu seberapa agresifnya dirimu dalam ruangan gelap.”
Reyhan mencondongkan badannya hingga wajahnya begitu dekat dengan wajah Annabelle membuat mata gadis itu membelalak. Masalahnya Annabelle tidak bisa mundur karena posisinya sudah bersandar di pintu mobil.
“Sudah masuk cepetan !” Reyhan mendorong bahu Annabelle supaya segera masuk ke kursi depan.
Annabelle menghela nafas. Bisa-bisanya Reyhan memaksanya seperti ini.
Dari kejauhan, Sarah yang kebetulan lewat dan melihat mobil Reyhan bergegas memutar mobil dan masuk ke area parkiran cafe.
Tangannya memukul setir saat melihat Reyhan tertawa bahagia dengan Annabelle di dekatnya.
****
“Jangan salah paham dulu, Lusia,” ujar Yudha saat berhasil membujuk Lusia untuk masuk ke dalam mobilnya.
Keduanya sudah lebih dulu meninggalkan cafe sebelum Reyhan dan Annabelle.
“Aku tidak salah paham, hanya saja aku kecewa karena ternyata semua laki-laki sama saja. Kenapa kamu bisa menduakan aku dan Annabelle, padahal kondisi kami berdua sama-sama wanita terluka.”
“Apa yang dikatakan Annabelle tadi tidak benar,” tegas Yudha. “Setelah acara nonton malam itu, aku belum pernah bertemu dengan Annabelle lagi, baru malam ini, tadi saat di cafe.”
“Jangan berbohong, Yud. Aku sudah pernah dibohongi oleh pria dan jangan pikir aku adalah wanita yang mudah percaya.”
Yudha menepikan mobilnya di dekat taman yang tidak jauh dari situ.
“Aku tidak berbohong, Lus. Aku belum bertemu Annabelle lagi setelah malam itu. Buat apa aku bohong, lagipula aku juga tidak mengerti kenapa Annabbelle bersikap seperti tadi.”
“Apa tadi kamu tidak mendengarnya , Yudha ?” Lusia menatap pria di sebelahnya dengan wajah kesal.
”Annabelle bersikap begitu karena ia menyukaimu, hatinya mulai beralih padamu dan kamu sudah membuatnya kecewa.”
“Lusia,” Yudha meraih jemari Lusia dan menggenggamnya erat, tidak membiarkannya lepas.
__ADS_1
”Aku dan Annabelle tidak pernah sungguh-sungguh menyukai apalagi cinta. Kami sudah mencoba bersikap layaknya sepasang kekasih tapi nyatanya hati kami biasa-biasa saja. Aku yakin kalau malam itu Annabelle tulus memberikan kesempatan pada kita, bukan untuk menguji perasaanku seperti ucapannya tadi.”
“Jangan menjadikan orang lain sebagai pembohong, Yudha !” ketus Lusia.
“Aku akan membuktikan kalau semua yang diucapkan Annabelle hanyalah pura-pura. Kami tidak pernah bisa saling mencintai karena hati kami sudah dipenuhi cinta untuk orang lain !” tegas Yudha sengan suara yang mulai meninggi.
“Ooo jadi wanita yang kamu cintai bukan Annabelle tapi orang lain lagi. Lalu apa bedanya Yudha, kamu hanya mempermainkan aku !” Lusia membalas tatapan Yudha dengan perasaan kecewa.
“Bukan orang lain, Lusia, tapi kamu,” lirih Yudha.
“Bohong !” tegas Lusia.
“Kalau saja aku bisa berbohong dan berpura-pura berhenti mencintaimu, aku tidak akan sebahagia ini. Aku tidak tahu yang dirasakan Annabelle, tapi aku tahu kalau dia melihat aku masih mencintaimu dan sangat senang bisa bertemu denganmu lagi termasuk bertemu Yudis. Bayi yang aku gendong saat baru lahir di dunia sekarang sudah pintar berbicara dan berceloteh.
Aku pernah merasa kalau aku menyukai Annabelle tapi temanku bilang itu semua hanya ilusi. Selama ini aku adalah copycat Alden. Apa yang dianggap baik oleh Alden, maka baik juga untukku termasuk soal wanita.
Annabelle adalah perempuan kedua yang ingin aku rebut dari Alden, tapi perasaan itu menghilang begitu saja saat aku melihatmu dan Yudis.
Setelah malam itu aku sadar kalau kamu adalah cintaku yang sesungguhnya karena debaran hatiku tidak pernah berubah entah dulu, setelah kamu pergi dan akhirnya kita bertemu kembali.
Aku mencintaimu Lusia, sangat mencintaimu. Rasa itu belum berubah dan tidak pernah berkurang sedikit pun.”
Ragu-ragu 'Yudha kembali meraih jemari Lusia dan ia pun tersenyum saat wanita itu tidak menolaknya.
“Aku masih belum terlalu percaya.”
“Berikan aku kesempatan untuk membuktikannya Lusia. Aku mencintaimu.”
“Lalu Annabelle ?”
“Akan aku urus. Percayalah padaku, cukup menyodorkan Alden padanya, gadis bawel itu akan berhenti berkicau,” geram Yudha dengan wajah kesal.
“Aku tidak mau memulai hubungan di atas sakit hati wanita lain. Aku tahu bagaimana rasanya.”
Tidak lama Lusia menautkan alisnya saat mendengar bunyi dari perut Yudha.
”Aku masih lapar,” Yudha tersenyum kikuk. “Gara-gara cewek penggila Alden itu, aku tidak sempat menghabiskan makananku.”
“Jangan menjelek-jelekkan wanita yang pernah dekat denganmu,” tegur Lusia dengan wajah galak.
“Maaf,” Yudha kembali nyengir kuda. “Kita cari tempat makan yang lain, ya ?”
“Ya,” sahut Lusia singkat.
“Jadi kamu mau memberikan aku ruang dan waktu u tuk membuktikan cintaku kan, Lus ?”
Yudha sudah kembali melajukan mobilnya mencari rumah makan yang cocok untuk tempat kencan.
“Akan aku pikirkan,” sahut Lusia dengan wajah datar.
Yudha hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum dan pandangannya fokus ke jalanan yang sedikit ramai di malam Sabru ini.
Lusia mengeluarkan handphone dari dalam tasnya dan membuka aplikasi pesan.
Lusia
Terima kasih bantuannya Belle, akhirnya pria agak lemot ini menyatakan juga cintanya padaku.
Annabelle
__ADS_1
Akhirnya 😘😘Dasar psikiater somplak. Bisa-bisany a membantu menyembuhkan orang lain tapi tidak punya keberanian untuk hidupnya sendiri.
Lusia
Dokter manusia juga Belle, tidak berarti seorang dokter bisa menyembuhkan dirinya sendiri.
Annabelle
Cie.. cie yang baru ditembak. Semua celaan berarti genderang perang 😂😄
Lusia
Jadi itu yang namanya Reyhan ? Pengacara yang kamu ceritakan ? Kenapa nggak coba sama dia aja kalau memang sudah tidak mau dengan Alden.
Annabelle
Ogah karena terbukti dia bukan pria setia dan mentalnya tidak kuat. Baru merasa kecewa dengan mantan pacarnya, udah lari ke ayam-ayam nakal.
Lusia
Ayam ?
Annabelle
hahahahah tidak usah dipikirkan soal Reyhan. Fokus saja pada Yudha, dan buat dia terus mengatakan cinta padamu. Semoga Yudis merasa bahagia punya calon papa 😊
Lusia
Sepertinya Yudis tertarik menjadikan Alden sebagai calon papanya 😛😛
Annabelle
Silakan aja, terserah mamanya Yudis. Sudah biasa, manusia jadi bingung kalau dikasih pilihan, cenderung derung mau semuanya.
Lusia
Cemhuru, Belle ? 🤣🤣
Annabelle
Nggak ! Cuma kesal banget sama Yudha. Demi membantu dia mengungkapkan cinta dan tagihan makan yang lupa dia bayar, aku diculik Reyhan dan dipaksa suruh berkencan dengannya. 😖😖
Lusia
Kalau begitu selamat berkencan, Belle 🥰🥰
Annabelle
😡😡 Jangan lupa kalian masih berhutang bon makan tadi. Plus denda dan korban perasaanku, tagihannya jadi 5x lipat.
Lusia senyum-senyum membaca pesan Annabelle membuat Yudha mengerutkan dahinya.
“Kamu lagi chat sama siapa, Lus ? Cowok apa cewek ?”
“Kenapa ? Penting banget kamu tahu ? Status kita belum pacaran jadi tidak usah kepo,” ketus Lusia.
Yudha hanya tersenyum tipis dan tetap fokus menyetir. Hatinya mendadak panas karena cemburu. Biasanya wanita kalau membaca pesan sambil senyum-senyum dan malu-malu begitu, kemungkinan besar pesan itu dikirim dari pria.
Lusia menoleh ke luar jendela sambil menutup mulutnya yang tersenyum.
__ADS_1
Yudha tidak tahu saja kalau kejadian di cafe adalah bagian sandiwara yang disiapkan Annabelle untuk membuat Yudha yang sering ragu dengan perasaannya, mengungkapkan cintanya pada Lusia.
Dasar Yudha ! Psikiater yang pintar membantu orang tapi tidak bisa menolong dirinya sendiri. Bukan karena tidak peka, tapi seperti yang dialami banyak orang kalau cinta itu membuat orang buta dan mabuk kepayang. Yudha adalah salah satu contoh nyatanya😄😄