Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

“Sedang sibuk Annabelle ? Bisa kita ngobrol sebentar ?”


Annabelle sempat merasa ragu karena rencananya ia ingin cepat-cepat pulang, tapi teringat kalau ini adalah momen yang tepat untuk membantu sahabat Alden, Annabelle memutuskan untuk mengiyakan.


”Kalau begitu gue pulang duluan, Belle,” pamit Sisi saat melihat Annabelle mengangguk.


“Sampai ketemu lusa ya, Si. Nggak ada alasan nggak bisa datang,” tegas Annabelle.


“Masa gue melewati momen penting bestie gue,” Sisi mengangguk sambil tertawa.


Setelah Sisi pulang, Annabelle dan Tante Yulia pun pergi ke cafe yang ada dekat situ.


“Kenapa kamu udah lama nggak ke rumah ?” tanya Tante Yulia membuka obrolan setelah memesan minuman.


”Saya kembali kuliah, Tante.”


“Apa karena wanita lain kamu memutuskan hubunganmu dengan Yudha ?”


“Hubungan saya dengan Yudha baik-baik saja sampai saat ini, Tante. Kami masih sering bertemu terutama saat Alden dirawat di rumah sakit.”


“Jadi kamu sudah tahu kalau Yudha berselingkuh di belakangmu dengan perempuan bernama Lusia itu ?”


Annabelle tersenyum tipis, teringat akan cerita Yudha kalau mamanya menaruh harapan tentang Annabelle untuk menjadi menantunya.


“Maaf sebelumnya atas semua kesalahpahaman ini, Tante. Sebetulnya sejak awal hubungan saya dengan Yudha tidak lebih dari pasien dan psikiater. Mommy Lanny, mamanya Alden yang meminta bantuan Yudha untuk mendampingi saya saat menghadapi satu masalah beberapa bulan yang lalu.”


“Tapi kamu adalah perempuan pertama yang dibawa Yudha ke rumah dan Tante bisa melihat kalau hubungan kalian lebih dari sekedar pasien dan dokter.”


“Yudha membawa saya karena hubungan kami memang cukup dekat, itu pun karena masalah yang saya hadapi ada kaitannya dengan Alden, sahabat baik Yudha. Tante masih ingat Alden, kan ?”


Tante Yulia mengangguk dan menatap Annabelle dengan wajah sedikit kecewa.


“Jangan bilang kamu adalah kekasih Alden ?”


“Saat ini bukan hanya sekedar kekasih, tapi lusa saya akan menjadi istri Alden, Tante. Saya harap Tante dan Om bisa hadir juga, undangannya sudah saya titip pada Yudha.”


Tante Yulia agak terkejut dan sangat kecewa hingga akhirnya beliau mengambil gelas lemon tea hangat pesanannya dan meneguknya perlahan.


“Tante, soal Lusia…”


“Kamu tahu kan Belle kalau Yudha adalah anak lelaki kami satu-satunya. Tidak mudah mengantar Yudha untuk menjadi dokter seperti sekarang ini. Kami menaruh harapan besar padanya, bukan dari sisi materi tapi sebagai penerus di keluarga.”


“Tante, Yudha masih bisa mewujudkan harapan Om dan Tante meskipun menikah dengan Lusia.


Lusia adalah wanita yang baik dan bertanggungjawab hingga ia memutuskan untuk mempertahankan anaknya sekalipun pria yang menghamilinya menyangkal dan ia dibuang oleh keluarganya. Lusia membesarkan Yudis dengan baik meski banyak orang mencemooh dia dan hanya bisa mengatakan kasihan dengan nasib buruk yang menimpanya.”


“Tapi kami sangat berharap Yudha mendapatkan calon istri yang masih sama-sama single, bukan janda.”

__ADS_1


“Secara status hukum Lusia bukanlah janda karena ia tidak pernah tercatat sudah menikah.”


“Apa selama ini tidak ada wanita lain yang bisa mengisi hati Yudha ?”


“Kebahagiaan Yudha ada pada Lusia, Tante. Yudha pernah mencoba menyukai wanita lain, tapi tidak pernah berhasil karena cintanya hanya ada pada Lusia.”


“Dasar pria bodoh ! Matanya sudah dibutakan oleh cinta yang salah,” gerutu Tante Yulia dengan wajah emosi.


“Cinta tidak pernah salah, Tante,”Annabelle tersenyum tipis sambil menatap Tante Yulia.


“Satu hal yang seharusnya bisa membuat Tante tenang kalau Yudha memilih Lusia adalah soal kesetiaan dan ketulusan.


Lusia telah belajar dari kesalahannya dan saat ini ia sedang menjalankan semua konsekuensinya. Belajar dari kepahitannya, saya percaya kalau Lusia akan menjadi wanita yang setia dan menghargai cinta yang Yudha berikan untuknya.”


“Bagaimana kalau sampai ayah kandung anak itu memintanya kembali dan menikahinya. Biar bagaimana wanita itu pasti lebih cinta dengan pria itu sampai rela hamil anaknya.”


“Itu sudah terjadi, Tante. Tapi Gerry, nama pria yang menghamili Lusia, hanya ingin mendapatkan Yudis bukan Lusia karena saat ini Gerry divonis tidak bisa memiliki keturunan meski ia sudah menikah dengan wanita lain.


Lusia sedang berjuang untuk mempertahankan putranya dan sudah pasti Yudha akan berdiri di sampingnya untuk menghadapi semua ini.


Mereka akan sangat bahagia kalau Om dan Tante ikut mendukung segala bentuk cinta mereka.”


Tante Yulia menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Suasana hening beberapa saat karena Annabelle ingin memberikan waktu untuk mama Yudha memikirkan ucapan Annabbelle.


Handphone Annabelle bergetar dan terlihat nama Alden di layar dengan notifikasi panggilan video call.


“Tante, maaf sebelumnya kalau saya harus pamit pulang. Seharusnya saya sudah masuk masa piingitan, tapi hari ini harus ke kampus.”


“Tidak masalah, Belle. Terima kasih kamu sudah mau meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesah Tante,” Tante Yulia tersenyum dan menggenggam satu tangan Annabelle.


“Saya mengerti perasaan Om dan Tante soal Yudha dan Lusia. Saya pun akan melakukan hal yang sama seperti yang Tante lakukan saat ini karena melihat calon istri Yudha sudah memiliki anak.


Tapi percayalah Tante kalau Lusia mampu membahagiakan Yudha karena baginya Yudha adalah kesempatan kedua untuk memperbaiki hidupnya yang telah salah jalan. Cinta Yudha membuat Lusia yakin kalau ia pasti bisa menjadi lebih baik dari dirinya yang dulu.”


“Terima kasih atas semuanya, Belle, semoga pernikahanmu dengan Alden bisa berjalan dengan lancar.”


Annabelle mengangguk dan memeluk Tante Yulia sebelum bergegas pulang ke rumah.


*****


“Kenapa nggak boleh video call ?” tanya Alden dengan nada sedikit ketus saat Annabelle menghubunginya setelah sampai di rumah dan selesai mandi.


“Kan lagi pingitan, Alden. Sama juga bohong kalau nggak boleh ketemu tapi video call lama-lama. Lagipula tinggal besok kita nggak ketemunya. Lusa kan kita sudah menikah.”


Alden terdiam hanya hembusan nafasnya yang sedikit terengah terdengar di handphone Annabelle membuat hati gadis itu sedikit berdebar.


“Alden, kamu nggak apa-apa ?” Alden masih diam dan tidak menjawab

__ADS_1


“Alden, kamu nggak pingsan kan ?” suara Annabelle makin terdengar khawatir mencoba memanggil Alden.


“Hampir pingsan karena terlalu bahagia mendengar kamu bilang kita akan segera menikah. Annabelle calon istriku.”


“Alden jangan lebay, geli dengarnya,” Annabelle menggedikan bahunya dengan wajah mengernyit mendengar ucapan Alden meski pria itu tidak bisa melihat wajahnya.


“Terus kalau bukan calon istriku, calon istri siapa ? Yudha ? Mentang-mentang baru ketemu Tante Yulia,” gerutu Alden. Annabelle langsung tergelak


“Haiiss calon suami yang posesif dan pencemburu, justru tadi aku sudah memberitahu pada Tante Yulia kalau aku bukan pacarnya Yudha tapi calon istrinya Alden Hutama.”


“Dasar Yudha kurang ajar, belum jadi pacar udah dibawa-bawa ke rumah, dikenalin sama orangtuanya segala,” omel Alden.


“Sayang, jangan ngomel melulu, nanti muka kamu jadi jelek pas jadi pengantin.”


“Mau ditinggalin kalau mendadak jelek ?” ketus Alden. Annabelle kembali tergelak.


“Kalau hatiku bisa berpaling dari kamu sejak dulu mungkin nggak akan ada kejadian Sarah Belle dan kita nggak akan menikah secepat ini,” sahut Annabelle di sela-sela tawanya.


“Mulai pintar gombal.”


“Sejak dulu aku udah pintar menggombal dan sering merayu, kamu nya aja yang suka jaim dan menolak aku mentah- mentah.”


Alden terdiam dan kembali menghela nafas.


“Maaf ya, aku sudah menciptakan kenangan buruk sama kamu,” lirih Alden.


“Calon suamiku yang tampan, jangan kebanyakan ngomel terus sekarang sedih, nanti beneran jelek aura mukanya. Yang penting akhirnya kita bisa bersatu dan aku berterima kasih karena kamu ternyata mencintai aku juga.”


“Belle, I love you,” ungkapan Alden membuat Annabelle langsung tersenyum.


“Love you too Alden Hutama.”


“Seandainya waktu bisa dibuat kurang dari 24 jam, rasanya aku pingin membuatnya berganti lebih cepat.”


“Sabar, kan udah tinggal 48 jam lagi. Kamu dari tadi kenapa sih emosian terus ? Kesal karena aku pergi ke mal sama Sisi hingga akhirnya ketemu sama Tante Yulia ? Paling tidak aku sudah menjelaskan sama mamanya Yudha supaya beliau nggak menaruh harapan lagi sama aku.”


“Bukan,” gerutu Alden.


“Terus kenapa ?”


“Aku nggak tahan lihat wajah Darma yang gantiin perban. Udah coba membayangkan Darma sebagai kamu tapi tetap nggak bisa !”


“Memangnya kenapa ?”


“Bagaimana bisa meihat Darma jadi teringat kamu, lah mukanya Darma lebar dan bibirnya kumisan begitu, masa aku samain sama calon istriku yang mulus dan menggemaskan dengan wajah kasar dan berkumis tebal gitu.”


Annabelle tergelak mendengar kalimat Alden sambil membayangkan wajah pria kesayangannya itu cemberut seperti biasanya kalau sedang marah.

__ADS_1


__ADS_2