Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Wanita-wanita Galau


__ADS_3

Operasi Alden masih berlangsung saat Yudha dan Lusia datang menemui Annabelle, Daddy Wira dan Raka yang menunggu di depan ruang operasi.


Om Juan sudah pergi meninggalkan rumah sakit beberapa saat setelah Alden masuk kamar operasi.


Kedua dokter spesialis yang berbeda bidang ini memang bekerja di rumah sakit milik keluarga Pratama ini, mendengar kabar Alden dari Raka.


“Semoga semuanya lancar, Belle,” Lusia langsung memeluk Annabelle yang masih dalam posisi berdiri sedangkan Daddy Wira dan Raka duduk dekat situ.


”Sepertinya sudah waktunya kamu menemani Alden setiap hari, Belle. Biar ada yang mengurusnya karena Alden memang pria pemilih dan keras kepala.”


Annabelle hanya tersenyum tipis. Bayang-bayang Sarah tidak mudah dilupakannya karena begitu serupa dengan sikap Alden saat jiwa Annabelle terpisah dari raganya.


“Kenapa ragu ?” tanya Lusia saat melihat wajah Annabelle yang kurang bersemangat.


“Jangan terlalu memikirkan ucapan Sarah,” Yudha langsung menimpali.


Alden sudah bercerita padanya soal perubahan sikap Annabelelle sejak kembali bertemu dengan Sarah di lapas.


“Hati Sarah memang dipenuhi dengan kebencian dan dendam, Belle. Dia selalu mencari kambing hitam untuk melepaskan dirinya dari rasa bersalah. Apa yang terjadi padanya bukan karena kesalahanmu, Belle.”


“Sikap Sarah kemarin ini mengingatkan aku pada Alden saat pertama kali ia datang ke rumah sakit dan mendapati calon istrinya mengalami kecelakaan dengan wanita yang dibencinya,” ujar Annabelle sambil tersenyum getir.


“Belle, jangan terlalu diambil hati. Alden sudah pernah bilang padamu, dia memang marah saat kamu dan Sarah kecelakaan, tapi bukan karena kecewa dengan pernikahannya yang tertunda, tapi marah karena ia kehilangan bukti perselingkuhan Sarah yang kehilangan calon bayinya malam itu.”


“Kamu tidak merasakannya, Yudha,” tukas Annabelle.


”Tatapan Alden yang penuh kebencian dan ucapannya yang mengharapkan aku benar-benar mati persis sama dengan yang aku lihat pada diri Sarah. Selama aku mengenal Alden, belum pernah aku melihatnya begitu marah sampai mengabaikan orangtuaku yang berlutut memohon padanya.”


“Belle, apa yang kamu alami saat itu menyebabkan trauma dan masih bisa kamu hilangkan dalam pikiranmu. Aku mengerti saat itu kamu syok karena sebelumnya Alden tidak pernah bersikap sekeras itu, tapi belajarlah menerima kalau setiap manusia memiliki sisi yang tersembunyi dan akan muncul saat hidupnya terbentur dengan situasi tertentu.”


“Iya Belle, aku pun bisa melihat betapa Alden mencintaimu saat pertama kali kita bertemu di bioskop.”


“Tatapannya sama seperti milik Yudha yang sudah bucin sama Kak Lusia, ya ?” Annabelle masih sempat-sempatnya meledek Lusia dan Yudha.


“Hais Belle, jangan mengalihkan isu. Kita sedang membahas kamu dan Alden,” protes Yudha dengan wajah masam.

__ADS_1


“Jadi nggak terima kalau dibilang kamu bucinnya Kak Lusia ?” ledek Annabelle sambil mencibir.


“Susah bicara sama bocil,” Yudha menghela nafas dan meninggalkan kedua wanita itu, bergabung dengan Daddy Wira dan Raka.


Annabelle tertawa dan Lusia geleng-geleng kepala.


“Belle, kembali soal Alden,” ujar Lusia saat Yudha sudah menjauh.


“Yakinlah pada cinta kalian berdua, Belle, jangan goyah hanya karena ucapan Sarah. Mungkin Alden pernah melakukan intermezzo soal hatinya padamu, tapi aku yakin kalau Alden tidak benar-benar mencintai Sarah seperti dia mencintaimu, Belle. Mulut bisa berbicara kata-kata manis, tapi tatapan mata adalah jendela hati tidak akan pernah bisa berbohong soal perasaanmu yang sebenarnya.”


Annabelle hanya tersenyum tipis dan mengajak Lusia duduk di kursi yang persis berada di depan ruang operasi.


“Yudha sudah bercerita soal kamu yang pernah menjadi Sarah Belle dan bagaimana kamu bisa kembali menjadi Annabelle yang sekarang.


Fakta berbicara kalau hidupmu telah dikembalikan oleh cinta Alden, cinta yang tulus dari dalam hatinya. Apa kamu pikir pemilik hidup suka bermain dengan kata-kata ? Jangan ragu lagi Belle. Setiap hubungan pasti punya ujiannya sendiri”


“Pengalaman pribadi nih ceritanya,” ledek Annabelle sambil terkekeh.


“Apa yang aku alami lebih buruk, Belle. Terlalu banyak penyesalan yang bikin aku malu sendiri,” sahut Lusia sambil tertawa pelan.


“Pada awalnya akulah yang tergila-gila pada Gerry dan mengabaikan Yudha yang sejak dulu menyukai aku. Hidupku berkelimpahan Belle, hingga aku enggan menerima Yudha yang saat itu perlu berjuang untuk sampai di posisinya sekarang.


Sementara Gerry dari segi penampilan jauh lebih menjanjikan dan memang begitulah kenyataannya sampai sekarang. Keluarganya berkelimpahan dan Gerry hidup dalam bayang-bayang orangtuanya.


Saat aku ditinggalkan bahkan dihina oleh keluarga Gerry, mataku baru terbuka kalau kelimpahan harta tidak menjamin hidup lebih baik dan bahagia.


Aku bahkan diusir oleh papaku, Belle, dan yang memalukan adalah kedatangan Yudha yang masih peduli padaku. Tidak ada kata cemoohan apalagi hinaan keluar dari mulut Yudha. Ia justru menguatkan aku, mencegah saat aku ingin menggugurkan janin di dalam rahimku.


Yudha membuat cara pandangku atas hidup ini sungguh berubah. Yudha mengajarkan aku tentang ketulusan dan perjuangan hidup.”


“Dan Kak Lusia akan menunggu Yudha berjuang mendapatkan restu dari orangtuanya, kan ? Yudha juga sudah cerita soal Gerry yang ingin mengambil Yudis.”


“Sebetulnya aku sudah meminta Yudha untuk mencari wanita lain dan menuruti permintaan orangtuanya. Aku paham akan penolakan keluarga Yudha karena statusku bukan janda tapi sudah punya anak yang tidak diakui oleh ayah kandungnya.”


“Jadi Kak Lusia akan kembali pada Gerry ?”

__ADS_1


“Sepertinya keputusan itu tidak bisa dimasukkan dalam pilihan, Belle,” Lusia tertawa pelan.


”Aku hafal sifat Gerry. Begitu banyak perempuan yang menjadi teman tidurnya dan dia tidak pernah peduli dengan perasaan mereka yang tulus memberikan dirinya untuk Gerry.


Aku dengar sih Gerry sudah menikah dengan perempuan pilihan orangtuanya, lalu sekarang tiba-tiba dia datang menunjukkan kepeduliannya pada Yudis ? Hanya ada satu alasannya Belle, dia tidak bisa memiliki keturunan dengan istrinya yang sekarang, namun siapa yang menjadi masalahnya aku tidak tahu.”


“Kemungkinan masalahnya ada pada Gerry,” ujar Annabelle.


“Dari cerita Kakak, aku mendapat gambaran seperti apa orangtua Gerry. Kalau masalah sulit mendapat keturunan karena istrinya, sudah pasti Gerry akan diminta mencari istri baru yang bisa memberinya keturunan, bukan memaksa ingin merampas anak yang pernah diabaikannya.”


“Betul juga pemikiranmu, Belle,” Lusia tersenyum sambil mengangguk-angguk.


“Masalah Yudha, aku yakin Yudha mencintai Kakak dengan tulus. Bahkan saat mendampingi aku sebagai Sarah Belle, Yudha sering bercerita soal Kakak sampai aku protes kenapa aku yang jadi pendengarnya sementara Mommy membayarnya sebagai pendamping Sarah Belle,” gerutu Annabelle dengan wajah cemberut. Lusia tertawa melihat wajah Annabelle.


”Kamu sendiri harus percaya pada Alden, Belle. Pertama kali aku bertemu Alden ya di bioskop itu. Raka berhasil membujukku untuk mencoba mulai berkencan dengan pria lain.”


“Kakak kenal Raka darimana ?”


“Sepertinya dia sudah mencari tahu tentang aku. Raka pernah membawa keponakannya datang berobat padaku dan akhirnya obrolan kami berlanjut jadi pertemanan. Setelah 3 bulan, ia menawarkan aku untuk melakukan kencan buta dengan pria yang disebut sebagai boss sekaligus sahabatnya.


Tetapi selama kami berteman, Raka tidak pernah bilang kalau dia kenal dengan Yudha malah bersahabat.”


“Benar-benar pasangan pemain sandiwara ulung,” gerutu Annabelle.


“Sisi, sahabatku yang sekarang jadi pacar Raka sama pintarnya menutupi semua itu dari aku. Bahkan aku tidak tahu kapan mereka jadian.”


“Tidak penting, Belle, yang penting niat mereka sungguh-sungguh tulus untuk menyatukan cinta kamu dan Alden.”


Lusia tertawa sambil menepuk tangan Annabelle.


“Kakak juga harus berjanji untuk sabar menunggu Yudha yang terus berusaha mendapatkan restu,” pinta Annabelle dengan wajah serius.


”Iya aku akan sabar, Belle dan berharap Yudha tidak akan menyesali keputusannya untuk menjadikan aku istrinya.”


“Yudha akan jadi bujang lapuk kalau sampai gagal menikahi Kakak,” ujar Annabelle sambil terkekeh.

__ADS_1


“Kita sama-sama belajar yakin dengan hati kita dan cinta pria-pria bucin itu ya, Belle,” sahut Lusia sambil tertawa. Annabelle mengangguk-anggukan kepalanya sambil tertawa.


__ADS_2